<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hidup ini untuk disyukuri...</title>
	<atom:link href="http://dyahpuspita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dyahpuspita.wordpress.com</link>
	<description>dunia ita, dunia ikhsan, dunia kami</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Nov 2011 12:47:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dyahpuspita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hidup ini untuk disyukuri...</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dyahpuspita.wordpress.com/osd.xml" title="Hidup ini untuk disyukuri..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://dyahpuspita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Don&#8217;t quit</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/09/11/dont-quit/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/09/11/dont-quit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 14:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Autis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini luar biasa bermakna bagi ku. Dipercaya oleh sekumpulan orangtua untuk akhirnya bepergian ke beberapa daerah bahkan ke luar negeri demi berbagi ilmu dan pengalaman, berhasil tiba di tanah suci dengan susah payah, berhasil menyelenggarakan acara-acara spektakuler di tengah komunitas keluarga dengan individu autistik&#8230;sampai bergabung di sebuah organisasi/lembaga baru untuk berkarya, dan membuka sekolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=791&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini luar biasa bermakna bagi ku.</p>
<p>Dipercaya oleh sekumpulan orangtua untuk akhirnya bepergian ke beberapa daerah bahkan ke luar negeri demi berbagi ilmu dan pengalaman, berhasil tiba di tanah suci dengan susah payah, berhasil menyelenggarakan acara-acara spektakuler di tengah komunitas keluarga dengan individu autistik&#8230;sampai bergabung di sebuah organisasi/lembaga baru untuk berkarya, dan membuka sekolah baru untuk Ikhsan dan teman-temannya.</p>
<p>Luar biasa.</p>
<p>Apakah selalu mulus? Tentu tidak.<br />
Setiapkali kita berusaha mewujudkan satu tujuan bersama lebih dari 5 orang yang berbeda, sudah jelas kita harus beradaptasi dengan pola pikir, gaya kerja, tujuan hidup, yang jelas berbeda dengan diri kita. Tentu saja tidak mudah.</p>
<p>Lebih dari sekali terbersit pikiran untuk berhenti dari kegiatan yang sedang berlangsung. Apakah itu menyelenggarakan kegiatan spektakuler, atau mengupayakan visa umroh, atau ketika berusaha bekerja keras mewujudkan impian orang lain&#8230;.</p>
<p>Pada saat genting itu, entah karena apa, aku temukan naskah buku kedua yang aku tulis, dan pada salah satu lembar, tercantum puisi ini.<br />
Puisi yang diberikan seorang dosen universitas Maranatha mungkin satu dekade lalu ini, sungguh-sungguh sangat berarti, karena aku tahu ia persembahkan khusus untukku, yang pada waktu itu sudah terbenam di lingkungan perjuangan komunitas autistik yang setiap hari hidup seperti angin puting beliung…</p>
<p><strong>DON’T QUIT</strong></p>
<p>When things go wrong, as they sometimes will<br />
when the road you’re tugging seems uphill<br />
when the funds are low and the debts are high<br />
and you want to smile but you have to sigh<br />
when care is pressing you down a bit<br />
rest if you must, but <strong>don’t you quit </strong></p>
<p>Life is queer with its twists and turns<br />
as every one of us sometimes learns<br />
and many a fellow turns about<br />
when he might have won, had he stuck it out<br />
don’t give up though the pace seems slow<br />
you may succeed with another blow<br />
often the goal is nearer than it seems…</p>
<p>To a faint and faltering man<br />
often the struggler has given up<br />
when he might have captured the victor’s cup<br />
and he learned too late when the night came down<br />
how close he was to the golden crown</p>
<p>Success is a failure turned inside out<br />
the silver tint of clouds of doubt<br />
and you never can tell how close you are<br />
it may be near when it seems afar<br />
<strong>So stick to the fight when you’re hardest hit<br />
It’s when things seem worst that you mustn’t quit</strong></p>
<p><em>Ya. Aku setuju sekali. Kita tidak pernah boleh menyerah. Terus harus berusaha, terus harus berupaya. Karena kita semua ini harus melihat hidup sebagai sebuah tantangan, bukan beban….. </p>
<p>Dan bila rasanya tekanan tersebut begitu mendalam sehingga kita ingin berhenti, ingatlah bahwa Tuhan selalu mengawasi. Ia akan membantu, tapi kita semua harus mulai dengan membantu diri kita sendiri.  Satu hal tertanam dalam benak. Aku ikhlas berusaha keras memberikan kehidupan yang terbaik bagi ciptaanNya, tentu DIA akan membantu bila aku mengalami kesulitan saat berusaha.<br />
Insya Allah. </em></p>
<p>====</p>
<p>Luar biasa.<br />
Bahkan beberapa tahun sesudahnya, puisi ini begitu mengena, begitu menghujam dalam dada.</p>
<p>Aku yakin, bukan kebetulan aku temukan naskah buku tersebut di kala aku sedang berbenah kamar. Allah memang tidak pernah tidur. DikirimkanNya naskah itu agar aku tegar berdiri di tengah badai.</p>
<p>Terima kasih, Ya Allah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/791/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=791&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/09/11/dont-quit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman luar biasa (6)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-6/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 15:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[Doa anak untuk orangtuanya, terbukti sangat lah penting dan bermakna. Terima kasih, Ikhsan, anakku. Berkat sikap mu yang IKHLAS, maka terjadilah yang dikehendaki olehNya. *terharu&#8230; Ketika sedang melaksanakan workshop pertama dari rangkaian 3 workshop dalam dua hari, ketua PSG setempat mendatangi aku dan menyampaikan bahwa ‘visa umroh belum bisa diperoleh karena kedubes Saudi masih tutup”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=786&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dyahpuspita.files.wordpress.com/2011/02/sdc10211.jpg"><img src="http://dyahpuspita.files.wordpress.com/2011/02/sdc10211.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="VLUU L100, M100  / Samsung L100, M100" width="225" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-788" /></a><strong>Doa anak untuk orangtuanya</strong>, terbukti sangat lah penting dan bermakna.<br />
Terima kasih, Ikhsan, anakku.<br />
Berkat sikap mu yang IKHLAS, maka terjadilah yang dikehendaki olehNya. *terharu&#8230;</p>
<p>Ketika sedang melaksanakan workshop pertama dari rangkaian 3 workshop dalam dua hari, ketua PSG setempat mendatangi aku dan menyampaikan bahwa ‘visa umroh belum bisa diperoleh karena kedubes Saudi masih tutup”. Waduh. Berarti, makin lama dong urusnya? Makin gak pasti, dong??<br />
Aduh, perasaan ku tidak karuan&#8230; Tapi mau berbuat apa lagi?? Lebih baik aku fokus mengajar, kan? *hiks</p>
<p>Lalu, malamnya ada yang menelpon dan menyampaikan: kalau bu Ita ikut hamlah, maka pasti akan berangkat tapi tanggal 23 Februari dan naik bis. Bagaimana?<br />
Aku bilang, “itu terlalu lama. Kasihan ikhsan”… meski sambil nangis..</p>
<p>Muncul usulan baru. Ibu Ita pergi dengan keluarga ibu Eli saja ya? Dengan santai aku menjawab, “selama keluarga ibu Eli tidak keberatan, saya tidak masalah”.<br />
Lalu bagaimana dengan masalah mahram?</p>
<p>Sudah menjadi pengetahuan umum, wanita tidak bisa bepergian sendiri di Saudi. Harus dengan muhrim. Meski usiaku sudah melampaui batas “harus pakai muhrim” (kata Fitri si kotem cantik, mungkin dianggap sudah tidak menarik…haiyaaaaa), tetap saja aku tidak mungkin keluyuran sendirian ke sana. Maka, diurus lah visa dari Saudi, dimana ditetapkan “siapa mahram” ku.</p>
<p>Tanpa tahu detil pengurusan, aku sibuk memohon kepadaNya agar diizinkan berkunjung ke Baitullah. Rasanya ini adalah kesempatan langka bagiku. Bagaimana tidak. Kalaupun aku menabung dengan gencar, masih lama lagi lah kemungkinannya aku akan berangkat. Lagipula, aku sudah di Qatar ! Di peta, itu sama dengan “satu lemparan tisu” (bukan batu! Saking dekatnya gituuuu).</p>
<p>Tugas konseling 18 orang dari hari Senin, selesai di hari Kamis. Jumat aku mengajar workshop dua topik, dan Sabtu aku memimpin seminar dan satu workshop. Minggu, aku menerima klien di hotel tempat aku menginap, Senin aku check-out sambil lalu berjalan-jalan untuk beli oleh-oleh. Sesudah check-out, aku diantar menginap di rumah Fajri lagi, sambil menunggu nasib visa aku dari Kedubes Saudi.</p>
<p>Selasa berhandai-handai sambil terima klien lagi, Rabu pagi aku chat dengan Ikhsan seperti biasa. Kali ini ia memulai percakapan dengan kalimat “Ibu boleh umroh. Ikhsan akan tunggu sabar. Ikhsan sudah dewasa”. Dengan linangan air mata, aku jawab “terima kasih banyak Ikhsan. Ibu rindu Ikhsan.”. Lalu  Ikhsan jawab “ibu doa untuk Ikhsan”…<br />
Dua jam sesudah itu, datang teman Fajri membawa paspor ku, dengan visa dari Saudi. Aku bisa pergi umroh. Dengan berperan sebagai “mother in law” dari pak Ari, suami dari ibu Eli. What? Mother in law dari seorang bapak 4 anak? Hadoh… Ya sudah lah ! Yang penting berangkat…<br />
Ikhsan, terima kasih sudah menyampaikan keikhlasanmu, ya, nak&#8230;</p>
<p>Ketika visa dan paspor sudah di tangan dan pengertian bahwa Ikhsan sudah ikhlas memenuhi kepala dan hatiku….datang kabar lain yang luar biasa maknanya.</p>
<p>Fajri duduk di depan ku di lantai, dan dengan lirih menyampaikan “Mbak, gak usah sungkan ya nanti.. Semua perjalanan umroh ini dibiayai oleh PSG. Mbak Ita fokus aja ke ibadah”… Aku sungguh-sungguh tidak bisa berkata-kata apapun. Lenyap sudah kata-kata dari kepalaku. Aku hanya bisa berlinang air mata….dan mengucap Alhamdulillah, ya Allah… (terjawab sudah. Sejak beberapa minggu sebelumnya, aku sudah pusing memikirkan bagaimana mengatur segala sesuatunya… Akhirnya aku menyampaikan kepada Eli, aku akan bayar dengan honor konseling selama di Qatar…tapi kalau kurang, tolong kasih tahu supaya aku bawa d dari Jakarta…. Sesudah menyampaikan itu, aku hanya dijawab ringan oleh Eli “Mbak Ita tenang aja.. Itu gampang!”… Alhasil aku hanya berserah dan menunggu)…<br />
Luar biasa.<br />
Allah itu memang serba MAHA. !<br />
Satu demi satu hambatan untuk pergi umroh diambil oleh Nya, dan aku bahkan mendapatkan rezeki luarbiasa!  Ya Allah, terima kasih…</p>
<p>Maka tiba lah hari perpisahan dengan PSG, dimana  kami semua duduk bersama untuk makan malam dan tukar pikiran sekaligus evaluasi berbagai kegiatan. Alhamdulillah kiprah ku cukup mendapatkan penghargaan, meski tentu ada beberapa ibu yang tidak suka dengan gaya ku yang terbuka dan ‘jutek’ (senyum manis). Beberapa orang secara spontan menyampaikan bahwa kegiatan ini harus dievaluasi, sehingga aku diharapkan kembali tahun depan. Sesuatu yang seringkali terjadi, tapi belum tentu terlaksana, karena segala sesuatunya harus dengan izin Allah.</p>
<p>Yang pasti, semua mengucapkan “selamat jalan, semoga mabrur” ketika tahu aku akan berangkat umroh lusa-nya. Dan salah satu bapak membuat aku tercengang dengan ucapan “ibu pergi haji, kapan? Dua tahun lagi?” &#8212;Waduh, pak!  Situ sih, bisa setiap saat yak…situ uangnya seperti kumis, siiih… Kalau saya, musti nabung dulu sampai mencret, dan sesudah diare berkepanjangan juga masih belum tahu kapan berangkat karena kan quota berangkat terbatas…belum lagi repotnya ninggalin Ikhsan untuk waktu yang lebih lama lagi… Duh, pak!</p>
<p>Sesudah semua berlalu, perjalanan umroh berlangsung dengan aman, lancar, dan selamat….kembali lah aku ke tanah air. Di bandara ku disambut si laki dewasa, yang langsung tidak menjadi dewasa ketika melompat-lompat kegirangan melihat ibunya…</p>
<p>What ever I do, wherever I go, HOME is always the final destination for me.</p>
<p>Terima kasih untuk semua keluarga, kerabat, teman, sahabat, yang sudah begitu peduli kepada kami berdua. Hanya Allah yang dapat memberikan ganjaran setimpal bagi perbuatan baik kalian kepada kami. Amin, amin, amin..</p>
<p>*masih berlinang air mata mengingat semua perjuangan untuk mencapai tanah suci&#8230; </p>
<p>Alhamdulillah, Ya Allah.<br />
Terima kasih atas nikmatMu ini..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/786/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=786&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dyahpuspita.files.wordpress.com/2011/02/sdc10211.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">VLUU L100, M100  / Samsung L100, M100</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman luar biasa (5)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-5/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 15:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[agaimanapun, sesudah hidup di negara orang beberapa waktu lamanya, hidup di negara sendiri rasanya tetap memberikan kenikmatan luar biasa. Meski negara ku &#8216;tidak aman&#8217;, kota ku sarat macet dan penuh ancaman banjir, pemadaman listrik terjadi nyaris setiap minggu, harga melambung tinggi&#8230;setidaknya, aku tahu aku adalah warganegara disini yang punya hak sama dengan orang lain. Psssttt, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=783&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>agaimanapun, sesudah hidup di negara orang beberapa waktu lamanya, hidup di negara sendiri rasanya tetap memberikan kenikmatan luar biasa. Meski negara ku &#8216;tidak aman&#8217;, kota ku sarat macet dan penuh ancaman banjir, pemadaman listrik terjadi nyaris setiap minggu, harga melambung tinggi&#8230;setidaknya, aku tahu aku adalah warganegara disini yang punya hak sama dengan orang lain. </p>
<p>Psssttt, aku merasa diriku menjadi orang pandai lho, di Qatar. Soalnya, kalau mereka mati airnya, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Kalau aku? Ya eelllaaahhh, kan tinggal telpon Kiki si tukang pompa air! Kalau bola lampu mati? Duh, di tiptop juga ada, naik angkot aja bayar 2000, bentar juga sampai. Kalau gak ada makanan? Buset. Jangan kayak orang susah! Masak, buuuu&#8230; masaaakkkk  *senyum simpul</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/783/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=783&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman luar biasa (4)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-4/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 15:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Harus YAKIN .. HARUS. Masalah exit permit dengan ikhsan dan masalah domestik lainnya mulai tertangani, muncul masalah baru dari Qatar. Rencana umroh mengalami kendala. Ada keinginan Eli untuk mengajak aku sebagai kerabat, bepergian bersama. Maka mereka mulai mengurus ‘visa family’ dari kedubes Saudi. Tidak bisa. Harus sudah tinggal di Qatar sebulan, sebelum visa family bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=781&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harus YAKIN .. HARUS.</p>
<p>Masalah exit permit dengan ikhsan dan masalah domestik lainnya mulai tertangani, muncul masalah baru dari Qatar.</p>
<p>Rencana umroh mengalami kendala.</p>
<p>Ada keinginan Eli untuk mengajak aku sebagai kerabat, bepergian bersama. Maka mereka mulai mengurus ‘visa family’ dari kedubes Saudi. Tidak bisa. Harus sudah tinggal di Qatar sebulan, sebelum visa family bisa keluar…  Astaganagaaaaa….<br />
Muncul kabar baru.. Kali ini dari Fajri. “Mbak, kalau ikut rombongan hamlah dari sini, mbak Ita berkenan, gak?”. Berkat didikan ayahku yang keras, aku terbiasa untuk menyesuaikan diri dengan segala keadaan.. Maka aku menjawab “mau ikut rombongan sirkus, rombongan tanjidor, pokoknya bisa sampai ke sana… aku Alhamdulillah banget”… Rupanya kawan-kawanku di Doha berusaha terus, mencari berbagai celah. Aku bingung harus bersikap bagaimana. </p>
<p>Sempat aku menyimpulkan bahwa, memang aku tidak diperkenankan untuk pergi beribadah sekarang. Rasanya putus asa mengikuti perubahan demi perubahan. Rasanya, kok, susaaaahhhh beeettutuulll.. Tapi ketika aku menyampaikan itu kepada salah satu orang terpenting dalam hidupku, jawabannya membuatku terkesiap, “Tah, ini belum titik. Ini masih koma. Kenapa gak coba urus visa dari sini?”… Pernyataan yang membuatku menarikan jari lagi mencari informasi visa dari Indonesia.. Aduh, fakta berbicara ‘kecut’. Di Indonesia, sebagian besar perjalanan umroh baru dibuka/dimulai di akhir Februari dan bahkan ada yang baru awal Maret!  Bingung.. aku bingung..</p>
<p>Belum juga ada kepastian apakah aku bisa umroh atau tidak, sementara jadwal keberangkatan ke Doha makin mendekat. Masalahnya, kalau memang akan umroh, aku harus suntik meningitis (biaya tidak sedikit) dan aku harus menghadap beberapa dokter ku untuk ‘clearance’ (yang berarti, waktu dan biaya juga). Apa boleh buat. Meski belum ada kejelasan, aku putuskan untuk menghadap tim dokter ku. Anggap saja sebagai ‘laporan berkala’. Dokter mata, dokter penyakit dalam, dokter kebidanan…semua aku kunjungi untuk meminta ‘clearance’. Alhamdulillah satu per satu urusan beres….<br />
Aku atur waktu untuk ke Halim, suntik meningitis. Aku atur diri untuk foto menggunakan hisab, karena panitia Qatar meminta untuk mengurus visa. Aku persiapkan diri dengan download berbagai informasi mengenai tata-cara umroh. Aku luangkan waktu khusus untuk belanja berbagai keperluan perlengkapan umroh, dengan tekad “anggap saja PASTI bisa”..</p>
<p>Aku fokus serahterima berbagai kewajiban dan tanggung jawab kepada orang lain di sekitar ku, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan Ikhsan. Aku fokus meluangkan waktu dengan Ikhsan, agar ia tidak merasa terabaikan. Mulanya semua seakan lancar, sampai Ikhsan beberapa kali melihat aku membongkar-pasang berbagai barang yang akan aku bawa dalam koper. Hampir 4x aku membongkar susunan barang yang akan aku bawa, karena memang banyak sekali. Aku akan tugas di Qatar selama nyaris 9 hari (mungkin lebih) dengan konteks menemui klien dan audiens (seminar, workshop) dalam suhu 10-14derajat celcius. Aku yang sangat tidak tahan dingin, tentu menyiapkan segala perlengkapan perang melawan dingin (yang berarti, berat dan tebal) dengan pemikiran: belum tentu bisa cuci atau kering seketika… selain itu, aku  harus siapkan perlengkapan umroh di negara dengan cuaca biasa-biasa saja (tapi ada yang bilang juga, dingin karena masih musim dingin tanpa salju) dengan konteks harus semua tertutup dan bersih untuk beribadah. Tidak ada kejelasan dimana aku akan tinggal dan bagaimana jadwalnya, sehingga tentu sulit bagiku mengira-ngira jumlah baju yang harus aku bawa. Aku juga tidak tahu dimana aku akan tinggal dan apakah aku bisa mencuci… Banyak betul yang aku tidak tahu..</p>
<p>Karena sering melihat aku bongkar pasang koper dan melihat banyaknya barang yang aku siapkan, Ikhsan gelisah dan marah justru satu hari sebelum aku harus berangkat. Ia menuntut menyiapkan koper juga. Ia mau ikut!<br />
Alamaaakkkk, bagaimana ini? </p>
<p>Menenangkan seseorang yang sedang terguncang dan marah, tidak bijak bila dilaksanakan ketika ia masih emosi. Tidak ada hasil yang dicapai, bahkan kita pun bisa terpancing emosi. Aku tahu itu. Tapi, ketika ia marah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatinya dan berbincang dengannya. Aku hanya mendapatkan ledakan amarahnya dalam bentuk teriakan dan jari yang terus menunjuk kea rah lemari pakaiannya karena ia minta aku membereskan pakaiannya. Pada akhirnya aku hanya bisa menangis tersedu-sedu, putus asa, dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku keluar dari kamar Ikhsan, dan duduk di depan televisi  sambil terus menangis tersedu-sedu…</p>
<p>Sekitar 10menit kemudian, Ikhsan mendatangi ku, dan tiba-tiba memeluk pundak ku dan mencium keningku. Tentu saja aku makin menangis. Tapi aku lihat ekspresi wajahnya jauh lebih tenang dan ia tidak marah lagi. Ternyata tangisan ku membuatnya tersadar bahwa sikapnya sudah membuatku sangat sedih, dan hal ini membuatnya berhenti marah. Ia tidak suka aku sedih. Pada saat itu lah aku menjelaskan lagi bahwa “Ibu harus berangkat, ya, San.. Ibu kerja, dan juga Insya Allah bisa ibadah”. Dia hanya senyum…. Tapi itu sudah cukup bagiku.</p>
<p>Pada malam aku harus berangkat, aku ke bandara sekitar jam 21. Aku lalu shalat di bandara, dengan tekad untuk menitipkan Ikhsan dan ibuku pada Sang Pencipta.  Alhamdulillah, shalat di tempat sepi di malam seperti itu, memberikan kekhidmatan tersendiri, dan aku melangkah masuk ke  dalam bandara dengan kepala lebih tegak, meski tetap dengan kecemasan luar biasa dan mata sembab…<br />
<em>Ya Allah, aku titipkan anakku dan ibuku kepada Mu, karena hanya Engkau yang bisa menjaga mereka dari berbagai marabahaya… </em></p>
<p>-to be continued-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/781/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/781/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=781&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman luar biasa (3)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-3/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 15:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[PERSIAPAN adalah segalanya&#8230; Terutama, bila kita adalah orangtua dengan anak berkebutuhan khusus. Persiapan adalah WAJIB hukumnya&#8230; Berarti aku berangkat tanggal 7 Februari tengah malam, dengan tujuan bekerja, tetapi membawa perlengkapan untuk negara bermusim dingin (suhu 10-15 derajat) di Qatar…dan perlengkapan untuk rencana ibadah umroh di negara bermusim panas di Mekkah dan Madinah. Aku sama sekali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=779&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERSIAPAN adalah segalanya&#8230;<br />
Terutama, bila kita adalah orangtua dengan anak berkebutuhan khusus.<br />
Persiapan adalah WAJIB hukumnya&#8230;</p>
<p>Berarti aku berangkat tanggal 7 Februari tengah malam, dengan tujuan bekerja, tetapi membawa perlengkapan untuk negara bermusim dingin (suhu 10-15 derajat) di Qatar…dan perlengkapan untuk rencana ibadah umroh di negara bermusim panas di Mekkah dan Madinah. Aku sama sekali tidak punya perlengkapan untuk umroh. Busana muslim ku terbatas, apalagi hisab, pakaian wajib di sana. </p>
<p>Baru aku ancang-ancang untuk belanja, sahabatku terkasih yang dimuliakan hatinya sudah menyiapkan satu koper sarat perlengkapan umroh dan diantarkannya sendiri ke Mandiga. Luar biasa berkah Allah… Fitri ku tercinta nan cantik juga menyiapkan sejuta kisi-kisi untuk aku jalankan selama beribadah… Semua tentu kucatat dengan seksama, karena ia sudah berkali-kali menjalankan ritual ibadah-ibadah tersebut. Bahkan detil kecil seperti ‘krim muka apa yang harus kamu beli’ aku catat dengan teliti.. Mulai lah aku mengumpulkan pakaian dingin, pakaian umroh, materi mengajar, alat peraga, buku-buku untuk aku sumbangkan…..<br />
Masalah terbesar adalah ketika kami mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk Ikhsan. Langkah pertama tentu saja menjelaskan kepadanya bahwa ibu akan pergi bekerja. Dan bahwa ibu ada rencana beribadah. Mulanya ia tenang.</p>
<p>Keadaan berubah ketika ia menatap kalender dan memperhatikan penjelasan gurunya dengan lebih seksama. Raut mukanya berubah ketika ia berhasil mencerna makna “berangkat tanggal 7, pulang mungkin tanggal 24”.  LAMA !  Maka ia segera sms aku, “ibu tidak boleh pergi, ikhsan akan sepi hati”. Hancur hati ku.<br />
Aduh, bagaimana ini??</p>
<p>Tujuan hidup ku selalu kan hanya satu: senyum Ikhsan.<br />
Bagaimana pula tujuan hidup ku itu akan tercapai bila ia bahkan tidak merasa nyaman ditinggal dalam waktu lama? Bagaimana ia mengurus dirinya sendiri tanpa pengawasanku? Lalu, bagaimana pula dengan kegiatan ia les piano yang biasanya harus aku antar? Kalau yang lain kan memang dilaksanakan di rumah, tetapi kalau les piano dan bepergian, kan selalu dengan aku. Masa semua terhenti selama aku pergi? Masa ia tidak pernah pergi? Masa ia harus bosan di rumah?  Lalu bagaimana dengan keperluannya yang biasanya menjadi tanggung jawab ku untuk menyediakan? Semua hal berkecamuk dalam benak, ketika aku menatap kalender. .. Hm. Banyak yang harus dipersiapkan nih?!</p>
<p> Maka, aku mulai menyusun daftar, apa saja yang biasanya menjadi tanggung jawabku, dan siapa yang bisa menggantikan peran serta tugas ku selama aku tidak ada. Ah, ternyata tidak serumit itu!<br />
1)      Belanja.  Aku luangkan satu jam untuk mengajari si mbak-ku yang baru untuk belajar naik angkot ke tiptop, lalu aku ajari belanja di sana. Paham? Good. Berarti, dia bisa mengambil alih tugas ku bila pada suatu ketika bahan baku di rumah sudah berkurang dan tidak tersedia di tukang sayur keliling.  Sip. Done!</p>
<p>2)      Mengantar Ikhsan les. Hm. Diskusi dengan guru yang biasa datang ke rumah. Bisa kah datang satu hari tambahan, tetapi tidak untuk mengajar melainkan untuk menemani les dan mengajarkan ikhsan mengatur pengeluaran (bayar taksi, jajan, lihat kembalian, bayar uang sekolah les). Bisa? Alhamdulillah… Done!</p>
<p>3)      Kegiatan Ikhsan di luar waktu belajar. Biasanya, ia pergi denganku sesekali. Bosan, kan, di rumah terus. Ah! Ternyata ada yang mau datang secara berkala untuk menemani ikhsan dan sesekali mengajaknya pergi ke mal atau toko buku atau supermarket. Atau, sekedar menemani Ikhsan di rumah. Alhamdulillah…. Done!</p>
<p>4)      Kesibukan Ikhsan di rumah selagi tidak ada teman… Seperti individu autistic lainnya, Ikhsan suka uring-uringan bila tidak ada hal apapun untuk dikerjakan. Biasanya aku yang mengatur agar ia selalu ada sesuatu yang menarik..misal majalah, tugas bahasa Inggris, film baru, kertas kerja, dan sebagainya. Maka aku segera ke toko buku dan koleksi 5 film Jalan Sesama terbaru, 4 buku exercises in English, beberapa coloring assignments…dan kesemuanya aku serahkan ke gurunya untuk diberikan satu per satu ke Ikhsan melalui mbak di rumah. Jadi, ia selalu ada kesibukan baru dan tidak mudah bosan. Done!</p>
<p>5)      Membuat daftar tugas dan telpon penting, aku cetak, lalu tempelkan di dinding di rumahku.. Aku jelaskan kepada dua orang staf di rumah: suster ibuku, dan pembantuku, mana yang harus diperhatikan (telpon mana kalau gas habis, sms ke mana kalau ada masalah dengan ibu sepuh, kasih tahu siapa kalau Ikhsan ada permasalahan, kalau ada masalah di rumah seperti air mati atau telpon mati…..). Dua staf tersebut aku belikan pulsa, langsung aku transfer ke HP mereka, sehingga bilamana perlu, mereka bisa menghubungi kakak ku ataupun guru Ikhsan untuk memberitahu berbagai hal yang terjadi di rumah.  Done!</p>
<p>6)      Menyerahkan daftar nomer telpon penting bagi Ikhsan dan jadwal kegiatannya kepada beberapa orang yang akan ikut memantau kelancaran kegiatan ikhsan. Done!<br />
7)      Mencari guru pengganti di tempat aku mengajar bahasa Inggris. Done!  Rapat dengan guru-guru di Mandiga, membuat sistim komunikasi menggunakan BB atau YM atau imel … Diskusi mengenai jadwal kerja dan serah terima pertanggung-jawaban dengan kordinator senior di Mandiga… Done!</p>
<p> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' />      Memberi tahu organisasi tempat aku berkiprah, bahwa aku akan ‘hilang’ selama sekitar 3 minggu dan menunjuk dua orang teman baik untuk menggantikan peran-ku dalam berhubungan dengan banyak orang di Indonesia serta peran-ku dalam korespondensi. Done!</p>
<p>9)      Memberitahu ibu dan semua kakak-ku bahwa aku akan pergi… Hiks… DONE!</p>
<p>Ah…ternyata…hidup ini tidak seberat dan serumit itu kalau kita terus menggalang kerja sama dan hubungan baik dengan keluarga, kerabat, teman, sahabat, dan lingkungan kerja.<br />
Pada akhirnya, komunikasi terbuka dengan guru-nya Ikhsan juga amat sangat membantu, karena melalui beliau lah aku bisa YM dengan Ikhsan hampir setiap  ada kesempatan.. Guru ini juga melaporkan perkembangan2 peristiwa, seperti, bahwa Ikhsan ada undangan ulangtahun dan belum ada kado, bahwa di rumah cipinang katanya air mati, bahwa si mbak uangnya sudah habis, bahwa ikhsan bête karena mas Wisnu tidak jadi datang……dan berjuta ‘bahwa’ lainnya… LUAR BIASA !</p>
<p>Maka, Ikhsan hanya 1x marah selama aku pergi dari tanggal 7 Februari sampai 25 Februari. Marah karena apa? Karena dipaksa mandi oleh pembantu, sementara dia sedang malas, dan maunya dirayu oleh guru tercintanya. Astaganagaaaaaa …. Bagaimana selebihnya? Semua orang bilang, ia baik-baik saja, karena memang tampak tenang, tersenyum, makan dan tidur lancer, dan belajar dengan baik. </p>
<p>Tapi setiap ia YM atau chatting dengan ku, selalu terselip kata-kata “Ibu dimana? Ikhsan rindu”.  *terharu</p>
<p>&#8211;to be continued—</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/779/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=779&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman luar biasa (2)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-2/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 14:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Autis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[SABAR itu, ikhlas dan pasrah. Pertama, visa. Sejak awal, visa kedatangan diatur agar aku datang sebagai tamu undangan KBRI Qatar. Suatu kehormatan, karena tidak semua orang datang sebagai undangan. Belakangan aku baru tahu, mendapatkan visa sebagai undangan pun bukan hal mudah. Teman-temanku di Doha harus berulangkali mencari ‘jalur’ agar pada akhirnya mendapatkan kertas pernyataan mengundang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=776&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SABAR itu, ikhlas dan pasrah.</p>
<p>Pertama, visa.<br />
Sejak awal, visa kedatangan diatur agar aku datang sebagai tamu undangan KBRI Qatar. Suatu kehormatan, karena tidak semua orang datang sebagai undangan. Belakangan aku baru tahu, mendapatkan visa sebagai undangan pun bukan hal mudah.  Teman-temanku di Doha harus berulangkali mencari ‘jalur’ agar pada akhirnya mendapatkan kertas pernyataan mengundang, yang kemudian menjadi  bekal mengurus visa kedatangan. Visa sudah oke. Tiket dan jadwal sudah oke. Lalu?</p>
<p>Keinginan untuk umroh…. Visa ternyata harus yang berlaku untuk ‘re-entry’ karena kan kalau umroh berarti aku keluar negara itu, untuk lalu masuk lagi. Masalah baru. Untuk mengurus visa re-entry, bisa perlu waktu sampai satu minggu…jadi kalau mau berangkat umroh tanggal 15-16 Februari (sesudah tugas konsul 18 klien, 1 seminar dan 3 workshop selesai) maka harus datang sejak tanggal 8 Februari ! Sementara itu, jadwal umroh, sedikitnya 6-8 hari. Jadi? Aku harus meninggalkan ikhsan dari tanggal 7 dan kembali tanggal 24 Februari ?? Hampir sebulan ?? Lalu bagaimana pekerjaan ku? Ibu ku? Rumah? Adduuhhhhh…kepala mau meledak rasanya! </p>
<p>Fakta baru ini, aku terima justru selagi aku berjalan masuk ke dalam kelas untuk mengajar. Alhasil, sambil memberikan instruksi kepada siswa2ku untuk begini dan begitu…aku sibuk YM dengan Eli.. Ia minta aku memberikan jawaban saat itu juga, karena tiket yang sudah OK untuk 10-15 akan segera diubah menjadi    7-15Februari. </p>
<p>Tidak ada waktu untuk panik. Dengan segera aku membuat satu sms yang aku kirim ke tiga orang kunci: atasan ku di Mandiga, kakak ku, dan pendamping Ikhsan. Atasan ku, penting…kalau tidak ada izin, bagaimana pula aku meninggalkan pekerjaan dan anak2 yang menjadi tanggung jawabku?? Kakak ku, penting…bagaimana nasib ibu ku kalau kakak ku juga punya jadwal kerja keluar kota atau keluar negeri? Pendamping Ikhsan, lebih penting lagi…bagaimana pula anak ku kalau ia tidak ada yang menemani? Aduh, rasanya jantung berdegup tidak ada jeda…</p>
<p>Alhamdulillah, tiga sms jawaban sangat positif. Semua mendukung langkah ku. Sehingga dalam waktu singkat aku segera menjawab Eli “GO”…dan tiket diubah.<br />
Masalah selesai? Tentu tidak..<br />
Malam itu juga aku menghadap atasan ku (yang lain lagi) di tempat mengajar, dan menyampaikan bahwa aku akan absen setidaknya 5x. BIla tidak diizinkan, maka aku harus ‘drop’ kelas-kelas ku, tetapi bila diizinkan, aku harus cari guru pengganti. Alhamdulillah, izin dengan segera keluar, asalkan aku cari guru pengganti… Kembali jari menari, dan dalam waktu singkat kuperoleh dua guru menggantikan aku. Malam itu juga aku sampaikan ke dua kelas ku bahwa aku akan absen setidaknya tiga minggu untuk tugas dan rencana ibadah. Alhamdulillah, mereka ikhlas melepas meski dengan embel-embel “oleh-oleh, ya, Mam…”..</p>
<p>Masalah selesai? Belum….</p>
<p>-to be continued-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=776&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman luar biasa! (1)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-1/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 14:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=773</guid>
		<description><![CDATA[SABAR, artinya, ikhlas dan pasrah. Sedari pertama ide ini muncul, aku sudah ‘excited’. Bagaimana tidak. Diminta untuk berbagi ilmu dan pengalaman, diundang oleh dua orang ibu yang sudah lama aku kenal… Eli dan Fajri. Bahkan Fajri, belakangan baru kutahu ternyata satu angkatan dengan keponakan ku. Haduh, muda sekali, yak? *senyum… Ya, berbagi ilmu, dimanapun itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=773&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SABAR, artinya, ikhlas dan pasrah.</p>
<p>Sedari pertama ide ini muncul, aku sudah ‘excited’. Bagaimana tidak. </p>
<p>Diminta untuk berbagi ilmu dan pengalaman, diundang oleh dua orang ibu yang sudah lama aku kenal… Eli dan Fajri. Bahkan Fajri, belakangan baru kutahu ternyata satu angkatan dengan keponakan ku. Haduh, muda sekali, yak? *senyum…</p>
<p>Ya, berbagi ilmu, dimanapun itu, selalu sesuatu yang menarik bagiku. Tapi kali ini, menjadi luar biasa, karena undangan berbagi ilmu datang dari Qatar. Negara yang bahkan namanya pun jarang kita dengar.  Bahkan ketika akan menjelaskan kepada Ikhsan-pun, aku dan Ida (gurunya) sempat mendelik mencari di bola dunia. Maka sejak ide itu muncul, aku sudah menanamkan dalam hati, aku akan pastikan ini menjadi pengalaman mengesankan…. Harus.</p>
<p>Pada akhirnya, awal tahun 2011, dicanangkan tanggal 10-15 Februari 2011 sebagai tanggal keberadaan ku di Doha, Qatar. Seminar dan Workshop, plus klien. Berapa orang? Mungkin 18. Waduh…kerja rodi! Ah, tidak mengapa. “Hanya” 5 hari pergi, Ikhsan pasti akan baik-baik saja, meski kali ini aku harus menggunakan paspor dan visa…</p>
<p>Kehebohan mulai muncul ketika dalam salah satu percakapan melalui Yahoo Messenger dengan Eli (ibu dari anak autistik usia 15 th yang sudah berkali-kali menghadiri seminar dan workshopku), muncul ide lain “Mbak, kalau sesudah disini disambung umroh, mau mbak?”…. Begitu aku membaca kalimat itu di pesawat telpon ku, tanganku bergetar dan jariku segera mengetik ‘maaaauuuuuuuu’ sembari mataku langsung berkaca-kaca. Aduh, apa ini??  Oh…ternyata di hati kecilku yang terdalam, keinginan untuk bertandang ke tanah suci sudah tertanam sejak lama. Namun kehidupan sehari-hari yang selalu mengutamakan kepentingan Ikhsan, baik waktu maupun dana, tidak memungkinkan ku untuk merealisasikan impian itu… Aku hanya bisa terus menerus berharap, berkeinginan, sambil menatap kepergian kakak-kakak ku satu per satu dengan rindu, disusul oleh para sahabatku, para teman ku, dan kerinduan itu aku tekan dalam-dalam agar tidak mengganggu kehidupan kami… Entah apa maksudnya ketika justru pada saat tidak memikirkannya, tiba-tiba ada yang “mengajak” untuk umroh…  Aku hanya menjalani saja semua proses. Mudah kah? Tentu saja tidak…</p>
<p>Masalah demi masalah bermunculan…</p>
<p>&#8211;to be continued –</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/773/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/773/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=773&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2011/02/27/pengalaman-luar-biasa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perasaan (2)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/09/30/perasaan-2/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/09/30/perasaan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 10:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=769</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian di hari sebelumnya, ternyata berbekas pada anakku. Hari ini, Kamis 30 September 2010, pagi-pagi aku sudah pergi. Mau membereskan STNK yang sudah kadaluwarsa. Lalu ambil tiket Garuda karena mau ke Pekanbaru. Lalu melakukan beberapa transaksi di ATM terdekat, dan belanja keperluan rumah. Sebelum sampai di SamSat, aku sudah sms Ida, &#8220;Ix belum bangun waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=769&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian di hari sebelumnya, ternyata berbekas pada anakku.</p>
<p>Hari ini, Kamis 30 September 2010, pagi-pagi aku sudah pergi. Mau membereskan STNK yang sudah kadaluwarsa. Lalu ambil tiket Garuda karena mau ke Pekanbaru. Lalu melakukan beberapa transaksi di ATM terdekat, dan belanja keperluan rumah.</p>
<p>Sebelum sampai di SamSat, aku sudah sms Ida, &#8220;Ix belum bangun waktu aku pergi. Kalau malas mandi, maap lahir batin aja deh&#8221; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Maka, ketika mendadak ada sms dari Ikhsan, aku cukup kaget.<br />
&#8220;Ibu ita dimana&#8221; &#8212; rupanya, bu Ida bertanya kepada Ikhsan &#8220;San, Ibu ke Mandiga? Kok gak ada? Biasanya Kamis ada di rumah&#8221;.<br />
Pertanyaan Ibu Ida sepertinya membuat Ikhsan juga bertanya-tanya, eh, ibuku, kemana ya??</p>
<p><em>&#8220;Ibu di kantor pesawat Garuda, ambil tiket. Sekarang mau beli sayur untuk Ikhsan dan Uti. Ikhsan mau oleh-oleh?&#8221; </em><br />
&#8220;Mau lay kue enak&#8221;<br />
 <em>&#8220;Lays? Boleh. Ibu belikan ya. Ikhsan belajar baik sama ibu Ida ya&#8221;</em><br />
&#8220;Ibu Ida baik kasih lays juga&#8221; &#8212; hahaha&#8230; mau kasi reward buat gurunya ya?<br />
<em>Oke. Ibu masih di Bank</em><br />
SMS berikut membuat aku langsung tercekat: &#8220;Ikhsan love ibu&#8221;<br />
Aduh, anakku&#8230; <em>ALhamdulillah. Ibu Ita love Ikhsan</em><br />
&#8220;Love selamanya&#8221;<br />
<em>&#8220;Iya. Betul. Ibu love Ikhsan selamanya&#8221;</em> &#8212;kalau gak inget ada di tempat umum, aku udah duduk di lantai dan menangis tersengguk-sengguk&#8230;<br />
&#8220;Ikhsan bahagia&#8221;<br />
<em>&#8220;Ikhsan bahagia, ibu bahagia juga&#8221;</em> &#8212;- nangis deh. Peduli amat dilihatin orang!<br />
&#8220;Ya&#8221; &#8212; hahaha, lempeng dot com&#8230; namanya juga autistik <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sambil antri di kasir, aku lalu merenung&#8230; apa ya, yang membuat ia berujar seperti itu. Ujarannya tidak lazim. Ujarannya, mewakili perasaannya yang terdalam. Sesuatu yang sangat sulit dicapai individu autistik. Jangankan berujar, mengenali perasaannya sendiri saja, sering sangat-sangat sulit. Ikhsan mampu mengenali perasaannya, dan mampu mengungkapkannya secara tepat, dengan kata-kata yang pas&#8230;meski tata bahasanya tidak lah rumit atau kompleks.</p>
<p>Aku lalu berpikir, apakah ini semua berakar dari perasaan senangnya dengan reaksi aku terhadap kejadian kemarin? apakah ia merasa senang karena merasa dipahami?</p>
<p>Aku tidak tahu.<br />
Aku juga tidak perlu tahu, rasanya.<br />
Yang jelas, aku akan mengulangi lagi kelak, ketika ia memiliki masalah. Aku tidak akan menghakimi, tetapi mencari akar permasalahannya dulu, baru bertindak seobyektif mungkin tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa &#8216;pasti&#8217; dia lah yang keliru.<br />
Kejadian kemarin mengajarkan kami semua sebuah pembelajaran sederhana tapi sangat mendalam: individu autistik memiliki perasaan&#8230; sama seperti kita, mereka ingin dihargai kemampuannya, tidak ingin diremehkan.</p>
<p>Aduh, anakku. Pepatah &#8220;don&#8217;t judge the book by its cover&#8221; sangat tepat menggambarkan dirimu.</p>
<p>Ibu Ita loves Ikhsan, selamanya&#8230;</p>
<p>*nangisssssssss tapi sangat bahagia  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/769/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/769/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=769&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/09/30/perasaan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perasaan &#8230; (1)</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/09/30/perasaan-1/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/09/30/perasaan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 09:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa hari ini Ikhsan berulah. Tidak mau koperatif belajar. Ada saja alasannya. Yang menolak teman baru lah, yang mau belajar sendiri saja lah, yang sudah pintar lah, sudah ini sudah itu&#8230;.dan selalu diawali dengan proses bangun tidur dan mandi yang sangat lama. Bagi aku pribadi sih, menghadapi remaja usia 19 tahun yang malas mandi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=765&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah beberapa hari ini Ikhsan berulah. Tidak mau koperatif belajar. Ada saja alasannya. Yang menolak teman baru lah, yang mau belajar sendiri saja lah, yang sudah pintar lah, sudah ini sudah itu&#8230;.dan selalu diawali dengan proses bangun tidur dan mandi yang sangat lama.</p>
<p>Bagi aku pribadi sih, menghadapi remaja usia 19 tahun yang malas mandi, rasanya hal yang lumrah. Kalau diingat-ingat sih, waktu aku umur segitu, temen-temenku juga pada gak rajin mandi. Kan waktu itu aku udah kuliah tingkat 2, teman-teman (Eridanus, Yosi penceng, apalagi Erlangga&#8230;) rasanya tidak tampil bersih-wangi-berbajurapi. Enggak. Modelnya yang, kalau inget gw mandi kalau enggak yaaaa maap lahir batin lah yaw <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Maka ketika Ikhsan makin hari makin ogah-ogahan bangun pagi, makin masa bodo atau lama banget kalau mandi, tidak menjadi beban pikiranku sama sekali.<br />
Lain halnya dengan ibuku (8 Oktober yad akan menjadi 85 tahun). Beliau maunya semua serba &#8216;sempurna&#8217;, sehingga menghadapi cucu yang ogah mandi rasanya dunia sudah berhenti berputar&#8230;</p>
<p>Hampir setiap hari terdengar pertanyaan &#8220;Ikhsan sudah mandi?&#8221; dari meja makan, dimana Uti duduk (eyang putri). Atau, ada sms dari ibu Ida (guru Ikhsan) yang berbunyi &#8220;sampai cip abg itu belum mandi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  &#8220;. Aku sih, nyengir aja. Abis mau gimana lagi&#8230;</p>
<p>Tapi ternyata, ada yang memendam perasaan.<br />
Mau tahu? Simak ya, baik-baik.</p>
<p>Rabu, 29 September 2010.<br />
SMS dari Ikhsan: &#8220;ibu ida marah sebab ikhsan cubit&#8221;<br />
(pada saat yang sama ada sms dari ibu Ida:&#8221;Laki dws tiba2 marah2, teriak, nangis lalu nyubit aku. Huhuhuhuhu&#8230;.sakitttt). ADDUHH!<br />
Aku jawab Ikhsan: <em> &#8220;alasan ikhsan cubit?&#8221; </em><br />
&#8220;Kesal hati&#8221;<br />
<em>&#8220;Kesal hati pada siapa?&#8221; </em><br />
&#8220;Uti&#8221;<br />
<em>Alasan kesal hati?&#8221;</em><br />
&#8220;Tidak percaya Ikhsan dewasa bisa&#8221;<br />
<em>&#8220;Uti memang salah. Tapi Ikhsan kalau kesal kepada Uti, tidak cubit Ibu Ida. Ikhsan harus minta maaf kepada ibu Ida&#8221;</em><br />
&#8220;Ya Ikhsan salah&#8221;<br />
<em>&#8220;Kalau kesal sama Uti, Ikhsan sms Ibu. Kan Ibu Ida tidak salah. Kasihan ibu Ida&#8221;</em><br />
&#8220;Ikhsan sudah maaf&#8221;<br />
<em>&#8220;Supaya Uti tidak bikin kesal, Ikhsan mandi tidak lama&#8221;</em><br />
Tidak atur.<br />
 <em>&#8220;Nanti ibu bicara dengan Uti supaya tidak atur laki dewasa. Oke?&#8221; </em><br />
Ya.</p>
<p>(sigh, beres)&#8230;<br />
Sorenya, ketika aku sudah sampai di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah menghampiri ibu ku yang sudah renta. Dan dengan suara yang (harus) keras supaya terdengar baik oleh ibu ku, Ikhsan dan semua orang di rumah, aku mengatakan &#8220;Mah, Ikhsan tadi marah&#8221;&#8230; Ketika aku sudah peroleh perhatian penuh dari ibuku, aku menceritakan rentetan sms Ikhsan kepada aku tadi siang. Aku lihat dengan ekor mataku, ikhsan mondar-mandir tetapi menyimak. Otaknya tampak menyerap semua informasi. Dan matanya berbinar ketika ibuku berseru &#8220;Ikhsan, Uti minta maaf ya&#8221; (dengan suaranya yang sudah bergetar). Dan Ikhsan mendatangi Uti-nya, lalu mencium ubun-ubun Uti.<br />
Perdamaian sudah diperoleh&#8230;</p>
<p>Sudah selesaikah cerita?<br />
Ternyata, belum&#8230; </p>
<p>*kenapa ya ada air mata menggenang di pelupuk mata ku?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/765/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/765/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=765&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/09/30/perasaan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyongsong kedewasaan.</title>
		<link>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/08/17/menyongsong-kedewasaan/</link>
		<comments>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/08/17/menyongsong-kedewasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 10:26:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyah puspita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Autis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dyahpuspita.wordpress.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Ikhsan-ku, sudah 19 tahun 6 bulan usianya. Sudah dewasa. Anak lain seusianya, pasti sedang berjibaku di bangku kuliah, mencoba meraih masa depan. Dia, tidak. Meski kadang ada kegalauan membayangkan masa depannya, hati lega dan bahagia melihat perkembangannya. Allah itu, memang Maha Baik. Dalam keterbatasannya, Ikhsan tumbuh dewasa secara menyenangkan&#8230; &#8220;sahabat itu teman tapi teman tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=754&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ikhsan-ku, sudah 19 tahun 6 bulan usianya. Sudah dewasa.<br />
Anak lain seusianya, pasti sedang berjibaku di bangku kuliah, mencoba meraih masa depan. Dia, tidak. Meski kadang ada kegalauan membayangkan masa depannya, hati lega dan bahagia melihat perkembangannya. Allah itu, memang Maha Baik. Dalam keterbatasannya, Ikhsan tumbuh dewasa secara menyenangkan&#8230;</p>
<p>&#8220;sahabat itu teman tapi teman tidak harus sabahat. alit sahabat baik&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Ikhsan sms ini. Lho?<br />
Tidak perlu banyak analisa, langsung saja jawab dengan pertanyaan yang menyambut baik pernyataan dari nya (pelajaran penting untuk sesama orangtua anak autistik: SELALU berusaha melanjutkan komunikasi yang sudah dimulai oleh anak kita&#8230; ).</p>
<p>DP: Ikhsan pintar sekali. Ikhsan sahabat baik juga?<br />
IP: ya.<br />
Ibu Ida ajak obrol arti sahabat<br />
DP: ibu ida baik.</p>
<p>Ibu Ida sahabat?<br />
Kristov sahabat?<br />
Pascal sahabat?</p>
<p>IP: ibu ida guru sahabat teman obrol. pascal kiritop teman (AH, belagu! Mentang2 Kristov dan Pascal bedanya banyak sama Ikhsan&#8230; sok tahu ah! hihihihi)</p>
<p>DP: *sambil senyum &#8212; ikhsan harus baik ke ibu ida.<br />
ibu ita teman?<br />
atau sahabat?<br />
Ibu ita teman obrol ?</p>
<p>IP: ibu ita ibu ikhsan baik pintar sayang love<br />
DP: *lompat-lompat gembira jingkrak-jingkrak serasa dapat 10% uangnya Gayus &#8212;tapi teteup harus jawab sms dong: ibu Ita sayang love Ikhsan</p>
<p>IP: boleh sms ibu ida?</p>
<p>DP: boleh<br />
Ikhsan mau bilang apa?</p>
<p>IP: rahasia</p>
<p>DP: *terguling-guling ketawa ngakak &#8230;. tapi teteup harus jawab sms: ada apa ibu ita tidak boleh tahu?</p>
<p>IP: ibu ida teman obrol.<br />
DP: ibu tidak boleh tahu?<br />
IP: tidak<br />
DP: ya sudah lah kalau begitu</p>
<p>Apakah ibu ita diam saja?<br />
TENTU TIDDAAAAKKKKK&#8230;jempol menari dan sms ibu Ida dong: WOY, anak gw tuuhhh, masa sms bilang mau sms rahasia? Dan ibu Ida dengan kurang ajarnya: &#8220;ibu ita bukan teman obrol&#8221;&#8230; hahahaaaaa</p>
<p>Sesudah ibu Ida selesai mengajar dan Ikhsan selesai belajar, ibu Ida forward sms &#8216;rahasia&#8217; dari IP:<br />
&#8220;ikhsan alit boleh main rumah ibu ida lagi? main berdua laki dewasa tidak ibu antar&#8221;</p>
<p>HALAH! Gitu aja kok rahasia.<br />
Ibu Ita juga kapok kok, san, antar&#8230; lha wong rumahnya ibu ida jaauuuhhhhh banget !! Besok-besok, ibu antar sampai depan MargoCity aja deh! Terus kamu naik taxi ya? Kan laki dewasa&#8230; *hahaha</p>
<p>Menjelang siang, ada lagi sms forward dari ibu Ida.<br />
&#8220;ibu ida tahu arti cinta? kapan ikhsan boleh punya cinta?&#8221; (sms pertama)<br />
&#8220;tidak bilang ibu&#8221; (sms ke dua).</p>
<p>Kata Ida: &#8220;dan lalu menunggu balasan sms dari ibu ida dengan sabar. Begitu dapat balasana, langsung senyum. Pppssttt, ini rahasia <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8220;</p>
<p>HUHUHUHUHUHU&#8230;. gw sebel !</p>
<p>*sori yeeee, si ibu ita udah lihat kok jawaban ibu Ida di hape Ikhsan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://dyahpuspita.files.wordpress.com/2010/08/makan-kentang-bareng.jpg"><img src="http://dyahpuspita.files.wordpress.com/2010/08/makan-kentang-bareng.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="makan kentang bareng" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-755" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dyahpuspita.wordpress.com/754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dyahpuspita.wordpress.com/754/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dyahpuspita.wordpress.com&amp;blog=1526569&amp;post=754&amp;subd=dyahpuspita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyahpuspita.wordpress.com/2010/08/17/menyongsong-kedewasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3c7a456620f116ab5d5e84ef93cb7f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dyah puspita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dyahpuspita.files.wordpress.com/2010/08/makan-kentang-bareng.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">makan kentang bareng</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
