Hidup ini untuk disyukuri…

Latar belakang ‘the big day’

Posted by: dyah puspita on: July 20, 2009

Mau cerita sedikit nih….
Kan emang dari tahun 2007 sok tahu sekolah lagi. Duh, kayak kurang kerjaan aja, ya? Lha wong jumpalitan cari duit, ngurusin anak sendiri dan anak2 orang yang semua gak normal, dan sibuk wara-wiri kayak kitiran….eeehhhh kok ya sok tahu ambil S2. Hehehe…

Nah, dari Januari 2009, udah nyusun tugas akhir. Biasa lah, topik tentang komunitas autism, tapi kali ini, niatnya bikin penelitian sebagai landasan nyusun ‘buku panduan’ buat keluarga yang punya anak autis remaja.
Kalo pengalaman gw sih, keluarga yang anak autisnya udah remaja, stresnya berlipet-lipet tapi teteup survive karena punya teknik coping yang unik dan khas. Nah, gw (sekali lagi, sok tahu) mau ngebuktiin itu, dan sukur2 di kemudian hari, bikin buku (lagi) buat panduan orangtua yang belum sampai ke masa ini. Boleh dong, idealis…

Udah jadi nih, akhirnya itu tesis. Segepok lah…penuh perjuangan lah… Kalau diceritain, bisa2 kalian belekan bacanya.
Jumat kemarin (10 Juli) jadwal ujian sidangnya.

Norak deh. (Kalau kata temen SMA-ku = njelehi… itu bahasa India, ya. Hahaha).
Konyol banget.
Belajar tentang stres, baca tentang stres, nulis tentang stres dan coping, tapi giliran ngalamin stres…gw sendiri gak bisa coping, euy! Semua hal yang berkaitan dengan stres, terjadi: mens maju 10 hari, jerawatan dimana-mana, pening berhari-hari, maag kumat, dan paling pol = diare berat pagi2 menjelang sidang. Gak bisa berhenti, cin! Gw bengong aja kayak orang bego.
Goblog banget nih psikolog satu. Hahahaaa…

Anyway by the way busway….thanks to Ikhsan and his spirit…. gw bisa mempertahankan isi hati dan kepala gw di depan penguji (yang ternyata gak terlalu ada ‘feel’ tentang autism sehingga baru ngeh pas lihat film yang gw puter)… Beruntung gw, pembimbing gw punya fb dan cukup rajin baca notes gw tentang ikhsan, teman2nya, dan kehidupan gw bersama mereka (dari sms yang lucu2, bis mogok, sampai pemilu) sehingga bisa ikutan bantuin gw nerangin seperti apa ’sintingnya’ keluarga yang punya anak autis dalam keluarga… Duh, i love my pembimbing, dah!

Masih ada perbaikan, tapi minimalis sifatnya…sepertinya within the next week sudah dibungkus… dijilid.. .disetor. ..dan Agustus akhir termasuk di antara yang wisuda … (eh, di balik toga, kan gak harus pakai kebaya toh?? pake tank-top berenda asalkan matching colors, mustinya boleh dong? emang ada yang tau??)
Berhubung gw berrambut putih dan tidak berniat mewarnai, alhmadulillah aja ntar kalau gw dianggap terlalu tua berada di sekitar lulusan S2 dan dipindahkan ke gerombolan S3. Hohohoh.o.. Gw berarti, untung dong… sekian puluh juta, plus sekian tahun bimbingan dan penelitian. Ih, gw pinter. Gak ngira deh, gw pinter! (hihihi…maap ya, temen2 3B1, gw sih, nyasar masuk situh!).

Am so happy.
Not just because I’ve finished my studies (shingga gak perlu nyumbang lagi buat UI), but mostly, because I’ve so many good friends…. Makasi, ya, semuanya….

Berhubung memang niat sekolah adalah untuk menimba ilmu karena ingin dibagikan lagi… Insya Allah doa kalian semua bisa terealisasi. .. yaitu… makin mengamalkan ilmu untuk bisa membantu orang yang membutuhkan.

Wish me luck, everybody!

Hajatan Negara (finale)

Posted by: dyah puspita on: July 8, 2009

Pagi jam 6kurang udah dibangunin sama anak yang sibuk nunjuk2 lemarinya minta dikasih izin pake baju bagus. Yeeee… situ mandi aja belom! (sambil teteup ngotot merem dong, ibunya).
Jam 6:30 kedengeran berisik di meja makan, ibu ku, keponakan ku, anak ku…semua sibuk mengunyah. Ah, artinya aku juga musti melek nih (*gak rela dot com*).
Jam 7-an akhirnya ikhsan mandi, tapi teteup dengan baju rumah. Sibuk cuci rambut, keringin rambut, dan ibunya berhasil bilang “gosok gigi yang bersih, kalau tidak, ibu tidak mau pemilu” (hahahaaa…).

Jam 8 lewat, bangunin ibu, “yok, pergi sekarang aja lah”.
Keputusan kurang bijak ketika jam 8:45 sampai di TPS. Panitia error sampe ibu DP ngomel panjang pendek. Kenapa?
Gini.
Datang, ceritanya kan mendaftar. Bawa formulir. Kasih. Diterima. Udah. Lho? Kok gitu aja??
Sementara di sebelah nona manis yang menerima formulir, ada seorang lelaki muda pegang nomer.
Sesudah berdiri berpanas2 sekitar 10 menit (sambil ngliatin ibu ku, 84 tahun dengan walker) yang duduk di lapangan basket…aku tanya dong, “itu nomer dikasihnya kapan??”… dijawab oleh lelaki itu “nanti dipanggil”. Ha?
Ajegile buset dah.
Sementara dari dalem, orang manggil nama untuk masuk nyontreng, dan di pintu hansip manggil nama untuk ambil nomer. Abis ambil nomer, silakan bengong lagi sampe dipanggil lagi. Begok, kan??
Sebelum DP ngomel, ada bapak2 ngomel: ‘kalau panggil, sebutin nomer dong! supaya kita tahu!!’. Rasain.

Sesudah beberapa lama (20menit kayaknya) nunggu di lapangan basket, baru deh, si lelaki pemegang nomer itu ngedatengin kita (karena ada yang negor mengkale, kok ibu ku yang jelas setengah mati gak diduluin) untuk suruh duluan. Baru nomer 140-an, tapi ibuku yang nomer 166 disuruh duluan. Tau gak, tadinya aku gak otomatis dipanggil juga. Aku kan nomer 167. Ibu ku sampe cemas, “kamu, gak dipanggil juga??”…baru aku bersuara (dengan keras, khas DPA) “ya harus dong, nanti mamah gimana di dalem??”. Begok, kwadrat dong.
Sambil ngawasin ibuku, aku cepet2 nyontreng juga. Sempet nyaris lupa nyelupin jari ke tinta tuh, aku.. saking sibuk jadi ‘chaperone’ ngurusin ibu.

Pulang.
Begitu ibu ku sudah turun di rumah, lagi aku awasin untuk jalan ke teras dengan aman, eh, ada remaja udah siap mau naik mobil. Buset deh. Udah semangat 45, bok!

Ya sudah, here we go.
Sepanjang jalan kasih petuah, “sabar tunggu, ya”. “tidak berisik, ya”… Does that work? Ya jelas enggak dong! Gilak apa. Huh. Ya gak sabar, dong. Ya nyanyi2 happy birthday to you, dong. Gimana sih? (hiks). Terus? Dilihatin orang? Ya iya laaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh. (Duuuhhh…. siapa sih yang nanya tuh?).

Gimana prosesnya?
Sukses dong.
Kan udah latihan.
Kan bawa icon dan visualisasi.
Ibunya tapi sempet tolol. Bawa handycam, ceritanya mau nyorot. Eh, sempet lupa neken ‘record’…jadi ada bagian yang gak kerekam. Yakh, maap lahir batin aja lah. (hihihi)…

Yang mau lihat fotonya, lihat di fb aja ya. hihihihi….

Duh, I am a proud citizen of Indonesia, deh!
SDC10336

Hajatan Negara (2)

Posted by: dyah puspita on: July 4, 2009

Sms2 ini masuk tg. 2 Juli 2009, waktu Ikhsan lagi belajar sama gurunya dan aku lagi di luar rumah.

“Ikhsan mau ikut pemilu 8 Juli 2009″ —- aku jawab “boleh, nanti ibu ajari”
“ikhsan mau pilih no. 2″ — wah, mau dijawab apa ini???

penasaran, aku tanya, “alasan memilih no. 2?”
Jawaban Ikhsan: “karena visi dan misinya bagus, pintar”

sebelum aku jawab, dia nerusin lagi,
“presiden harus pintar”
“indonesia lebih baik”

Ta’elaaaaa….aku tanya lagi dong: “visi dan misi yang bagus, seperti apa?”
Dia jawab, “bagus, mau maju, tidak banyak janji”

Waduh!

Aku jawab, “ikhsan memang pintar”… jawaban dia? Lempeng: ‘karena belajar’…

hehehe…
remaja autis 18 tahun, biarpun gak bisa bicara, ternyata sangat mengamati sekitarnya.
Darimana dia menyimpulkan yang bagus seperti apa?? Kenapa kok dia memilih no.2 ??

Oh iya, dari sederetan pilihan jawbaan yang dikasih gurunya di soal itu (ada di notes sebelum ini), dia pilih:
a. karena visi dan misinya bagus
b. karena pintar
c. karena baik
d. karena merupakan figur yang tepat untuk memimpin bangsa ini

Andai, andai dia bisa mengekspresikan isi pikirannya secara bebas dan tidak dibatasi oleh gangguan autismenya, apa pula ya yang akan ia ungkapkan secara blak-blakan?? Hm. I wonder..

Anyway, back to reality, berarti, aku punya tugas nih. Bikin “social story” dan “visual schedule” untuk dipakai pada hari H. Itu juga kalau dapat undangan untuk milih (sigh).
Bagian terberat nantinya adalah: meminta pihak TPS untuk mengerti bahwa anak remaja yang tinggi besar dengan perilaku acak adut dan warakadah ini, sudah menetapkan memilih apa, dan dia berhak untuk memilih… meski….dia adalah individu autistik dengan kebutuhan khususnya.

Aduh, kalau mikir musti ngadepin orang2 di TPS, males euy!! Tapi musti ya? Autism Awareness, ya? Kampanye Peduli Autis ya? Pake kaos Peduli Autis, dong? Yang mana? Yang merah biar ada matching shoes-nya? Belum beli redbelt! Halah.

*geleng-geleng mikirin, ini remaja autis ada-ada aja deh tiap hari*

Hajatan Negara (1)

Posted by: dyah puspita on: July 4, 2009

Kamis minggu lalu, ngobrol sama gurunya Ikhsan, tgl. 8 nanti aku gak masuk toh, mbak.
Ya iya laaahhhh…. Buat aku gak masalah… Tapi, hm..pasti buat Ikhsan jadi masalah. Ya udah, sosialisasikan aja, Da (gitu aku minta sama gurunya).

Maka, gurunya membuat sebuah cerita untuk Ikhsan di bukunya.

HAJATAN NEGARA

Bangsa kita yaitu Indonesia, sekarang ini sedang ramai dan sibuk menjelang ‘hajatan besar’ yaitu pemilihan umum atau pemilu pada tanggal 8 juli 2009 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden periode 2009-2014.
Kita sebagai warga negara yang baik, harus ikut serta memilih calon pemimpin kita. Pilihlah calon pemimpin yang memiliki visi dan misi yang bagus, yang bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Ada 3 pasang Capres dan Cawapres yang akan bertarung pada pemilu nanti yaitu:
1. Megawati Soekarnoputri – Prabowo Subianto dengan slogannya “Mega Pro Rakyat”
2. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Boediono dengan slogannya “Lanjutkan”
3. Jusuf Kalla (JK) – Wiranto (Win) dnegan slogannya “Lebih Cepat Lebih Baik”

–lalu di bawahnya ada pertanyaan2 yang dijawab ikhsan–

- Siapakah yang akan kamu pilih menjadi presiden periode mendatang?
- Kenapa kamu pilih dia? (jawaban boleh lebih dari 1)
a. karena visi dan misinya bagus
b. karena pintar
c. karena baik
d. karena merupakan figur tepat untuk memimpin bangsa ini
e. karena terkenal
f. karena mantan tentara
g. karena banyak memberikan janji

—lalu..sesudah Ikhsan menyelesaikan dengan gurunya, dia mengambil hapenya dan sms aku.
Apa smsnya?

Hahhaa….pingin tahu ya?

(to be continued)

ENGLISH??

Posted by: dyah puspita on: May 23, 2009

Ini anak remaja blagu, makin hari makin blagu *senyum bangga mode on*

Pikir-pikir, apa dia mau nandingin emaknya ya? LIhat aja. Beberapa minggu ini, udah mulai belajar piano dan komputer biar bisa ketik 10 jari. Yang paling ‘hip’ sekarang…belajar bahasa Inggris. Emaknya banget ‘kan?

Tadi, selagi aku workshop (sigh) di UPH Karawaci … ada sms dari dia.

“friday 22 mei 2009 eat bakso shopping” — aku tanya, ’sama siapa?’
“ibu ida like bakso?” —-tsah, udah pake tanda tanya…. aku bilang, ‘ikhsan ask’..

“ibu ida silent” —-ta’elaaaaa….. blagu banget yak….

beberapa menit kemudian: “ibu ida angry ikhsan lari lari tertawa” — duh, ikhsan banget.
Aku jawab, “ikhsan no run, no tertawa” (duh, bahasa inggrisnya DP kacau balau…hahaha… )

“help ikhsan” —- lho?
“ibu ida angry” —- SUKURIN ! bandel sih.
“nanti ibu ida mau pergi?” —- pertanyaan anak cemas mode on…. hahahahaaaaa…. aku jawab “kalau angry mungkin tidak mau. ikhsan say sorry”

“ikhsan mau ibu ida smile” —- sms ini aku forward ke gurunya, dan gurunya (dengan tetep muka datar karena lagi sebel sama anak ku) sms aku “hahaha…dari tadi bandel, ida marahin aja terus ida diemin… ida ancem aja kalo gak mau pergi.. terus dia langsung diem dan ngajak becanda supaya ida ketawa… hm..pingin smile? hayo, traktir!” —- dan aku jawab sms ibu ida gini “bilang aja ke dia, pingin tau reaksinya”

beberapa menit kemudian, ini yang aku terima dari Ikhsan: Ibu ida mau 1 mangkuk bakso dan 1 gelas es teler bagaimana?

Hahahaaaaa…. aku jawab, “uang ikhsan berapa? cukup?”
Dia jawab ‘1 mangkuk bakso saja tidak 1 gelas es teler minum sosro saja’

(kata gurunya, ikhsan lihat2 dompet dulu sebelum jawab sambil berpikir…terus dia tanya jawab sama gurunya, dan jawab ‘ya’ untuk pertanyaan “ibu ida 1 mangkuk bakso?”…dan jawab ‘tidak’ untuk “1 gelas es teler”….terus waktu ibu ida tanya, “ibu ida minum apa dong?”…dia jawab ’sosro’..)

SMS terakhir yang membuat aku senyum sampai sekarang: ibu ida smile ikhsan happy..

Duh, indahnya komunikasi bagi kami orangtua anak autistik. Alhamdulillah Allah, atas berkat Mu ini.

*terharu*

what’s in a name?

Posted by: dyah puspita on: May 17, 2009

Kata-kata tersebut terlintas aja di benak sesudah denger orang manggil aku dengan istilah yang tidak lazim.
Huh?

Iya.

Dari lahir, kami-kami 5 bersaudara selalu dapat nama lengkap dari papahku, dan nama panggilan dari ibuku. Nama lengkapku dirancang penuh perasaan oleh papahku: Dyah Puspita Asih … Dyah – anak perempuan, Puspita – bunga, Asih -kasih sayang.
Ceritanya, aku kan produk orangtua karena terpisah jarak akibat tugas. Lha wong rencananya kakak ku lah si bungsu, eh, mbrojol lagi satu perempuan ini…
Belakangan nama Asih jarang aku pakai, alasan kepraktisan aja. Jadi kalau ada yang nyebut namaku DPA atau Dyah Puspita Asih, pasti mereka berasal dari lingkungan ja-dul deh (zaman sebelum aku masuk UI dulu)….

Nah, mustinya kan jadinya aku dipanggilnya Ita, dong?
Kan mamah kasi nama panggilannya itu. Ah, sapa bilang. Ngayal. Nih, panggilanku macem2.

diahpus = SD
Lho? iya. Di kelas ku dulu, di SD Perguruan Cikini, ada 2 Dyah dan 2 Ita. Dyah Irawati, anak satunya, anak menteri (Ir. Sutami) jaman itu..jadi dia yang berhak dipanggil Dyah. (Hahaha). Ita yang satunya, Ita Laksmini, udah masuk SD itu dari kelas 1, sementara aku, masuk dari kelas 3…. Jadi yaaaaa… aku dipanggil DiahPus. Maka, kalau jaman sekarang ada yang manggil DiahPus, berarti, dia berasal dari aku jaman jahiliyah, eh, salah, jaman SD.

Nama lain yang te-o-pe adalah Ita “bulu”.
Kenapa? Haiya…karena tanganku berbulu.
Ini sih, dari SMP udah lancar. Kan banyak yang namanya Ita. Ita sapa? gitu orang nanya. Ita ‘bulu’…pasti orang tau yang mana.
Julukan ini terusnya disingkat jadi Ta’Be *ta-bulu–tepatnya*

Kadang (karena iseng) orang mengasosiasikan aku dengan ‘pasangan’ (cinta monyet) waktu SMP-SMA. Gak usah disebutin namanya ya. Ntar orangnya pada ge-er. Hehe.. Yang jelas, pas reuni, kalo tuker2an nomer telpon, ada aja yang iseng masukin nama ku dengan “Ita-Y” atau “Ita-D” seperti jaman dulu. Cape deeee…

Nah, akhir2 ini, berkembang lagi panggilan lain, Ita-autis.
Buset.
Ini sih jelas karena aku bergelut dibidang itu. Jadi kalo di lingkungan psikologi, bingung mencirikan aku, biasanya pada nyebutnya begitu. Soalnya kalo disebutnya Dyah Puspita belum tentu pada tahu. Gak segitu ngetopnya sih dulu. :p

Di rumah, semenjak ada keponakan pada lahir dan susah nyebut nama sesungguhnya, muncul sebutan baru: Tatah = tante Ita.
Ini panggilan udah bertahan selama 33 tahunan lah…sejak keponakan pertama lahir. Alhasil suami para keponakan juga panggilnya sama, dan anak-anak keponakan (cucu, ya?) panggilnya jadi “eyang Tatah”. Hahahaaa…

Selain nama-nama itu, ada lagi sebutan untuk aku: DePe. Dari Dyah Puspita, inisialnya.
Sebenernya aku suka dengan sebutan ini, tapi akhir2 ini lumayan bete. Lah suka diasosiasikan sama Dewi Persik. Males dong!! :p

Sesudah aku kuliah lagi di tahun 2007 dan ternyata termasuk yang ter-sepuh di dalem kelas/angkatan, maka muncul panggilan, “Mbah”, atau “Eyang”.
Itu juga dipakai oleh para rekan sesama orangtua yang ngeledekin…bayangin, apa gak jatoh merek nih, dari jauh diteriakin, “eyaaaannggggg”. Tsah.

Selain itu, di LIA, temen2 dengan bebas merdeka kasih panggilan macem2.
Ada yang EmDi (dari Mbak Di), atau malahan sering dipendekin aja: em. Haiya.
Yang tahu nama kecilku, bakalan bilang, “mbak it”, atau, dipendekin juga dengan “mbak I”.

Ada juga terapis yang manggil aku dengan “bu it”.
oia ada istri sepupu yang manggil aku “bude”, “bude it”, “mbak it”

Nah.
Bener kan, cocok kalo aku sering inget kalimat “what’s in a name?” ……

Ita, Dyah, Diahpus, Bulu, Ta’be, Tatah, Eyang Tatah, Bude It, Mbak It, Mbak I, Emdi, Mbak Dy….

Tauk ah.
Yang penting, si Ikhsan anakku tahu, bahwa aku, selalu akan menjadi “ibu Ita”nya tersayang.

:)

Rahasia Hidup?

Posted by: dyah puspita on: May 2, 2009

Beberapa kali dalam beberapa tahun ini, banyak sekali kejadian-kejadian yang bikin aku pusing tujuh keliling…
Gak bisa dijabarkan satu per satu, tapi kalau kilas balik, rasanya semua memang harus terjadi. Atau sebetulnya, aku yang berusaha mencari hal positif dari semua peristiwa ya?

Ah.
Gak tahu.

Nah, sekarang ini, mulai lagi terjadi beberapa peristiwa yang, tetap sebuah tanda tanya.
Cuma bisa berharap dan berdoa, semoga semua ini ada hikmahnya di kemudian hari. Apapun itu…

Kalau sudah remaja…

Posted by: dyah puspita on: April 15, 2009

“cinta apa?”

seperti biasa…sms ikhsan hampir selalu membuat aku terbelalak.

Tsk. Darimanaaaaa coba?
Ternyata itu ‘hp nyanyi’ yang dia peroleh dari ayahnya, membuat dia ter-expose pada berbagai lagu masa kini yang sungguh2 sarat dengan kata2 cinta.
Gak tau bener atau enggak, aku jawab gini, “cinta itu perasaan sayang”.
“ikhsan boleh cinta?” ———- boleh tapi tidak paksa.
“ikhsan sudah besar” ——– iya.
“sudah besar boleh cinta” —- boleh tapi tidak paksa (haiya)

Aku tanya aja (iseng) — Ikhsan cinta siapa?
BINGUNG, BINGUNG, BINGUNG …. dia kasi hapenya ke gurunya. Gurunya terus nerangin panajng pendek.

Ikhsan sms aku lagi, “ikhsan cantik pintar cinta”
“Ikhsan cari”
“ibu Ita cari” ——– tidak bisa, susah
“tolong” ——- oh, NOOO

Alhasil, kini kami (ibu Ita dan ibu Ida) harus berputar akal mensiasati kalimat-kalimat “cantik pintar cinta cewe cari” ….

halah.

Hikmah dari ‘makanyaaaaa…. ‘ :)

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Sesudah kejadian yang aku bertengkar abis2an sama remajaku di tengah malam dan berakhir dengan cara yang sangat sensasional *rahasia*, aku beberapa kali ngurut dada aja ngadepin dia.
Sudut pandang rada berubah.
Yang tadinya “he is a fine young man” menjadi “alamaaaakkkk… he is still a handful”

Sudah selesai?

Pret.

Hari ini, kejadian lagi, membuat sudut pandang aku berbalik lagi.

1) ada temen belajar juga kan. Perempuan, 27 tahun, bicara, autistik. Sukses?
Ya enggak lah.
Lha secara dia ini senang dapat perhatian, jadi maunya ganggu ikhsan dengan cara-cara yang brutal = pukul, sobek soal (dan Ikhsan sangat sedih melihat soal nya disobek-sobek), coret kerjaan Ikhsan, hapus kerjaan Ikhsan, kasih tipp ex di lengan Ikhsan… dan yang paling “gubrak” : nyerang gurunya Ikhsan, tarik jilbab, cubit, dan lalu, pukul kepala Ikhsan.

Laporan guru itu tentu aku catat dong.
Alhamdulillah aku lagi di rumah. Bingung lihat ada sesosok ‘Monas’ di pintu kamar padahal he is supposed to study di depan. Aku ke depan. Ada gurunya, ada temannya, tapi Ikhsan mondar-mandir. Maka, melaporlah sang guru.
Lalu, aku tanya ke temannya, apa yang dia mau? Ini kehadiran ke dua. Masih ‘trial’ session.
Eeehhh…ini anak gak bisa dibilangin, sampe dorong2an karena gak mau duduk dan maunya ngedatengin ikhsan (God knows what for). Saking hebohnya dorong2an, tau2 bunyi PRAANNNGGGG (kaca jendela gw pecah kena kursi dia).

Ikhsan mukanya bingung. Senyum. Tapi bingung. Ya iya lah. Dia kan hatinya lembut (seperti ibunya… hey, kalo situ gak setuju, diem aja ngapah), jadi tidak suka kekerasan (nah, ini bener, persis seperti ibunya). Maka Ikhsan senang sekali ketika dengar penjelasan ibunya bahwa anak ini ditelponkan taxi, lalu tidak boleh lagi belajar sama ikhsan karena kerjanya menyakiti orang lain. Ibunya juga ngomong ke pengasuh anak ini di depan Ikhsan. jadi Ikhsan tahu, bahwa ibu sungguh-sungguh.

Duh.
Sudah?
Pret!

2) Masalah hape.
Malem2 sms-an sama gurunya, bisa gak ya, si Ikhsan diajarin pake hp biasa. Kalo dia mau dan bisa, mau dibeliin aja hp esia lah, atau apa lah… jadi gak tergantung yang QWERTY gitu (Dit, elo lihat deh keyboard laptop atawa komputer eloh…deretan paling atas, kan QWERTY susunannya? payah dah, preman serpong).

Ehhh…tau2, tadi, ada sms masuk ke hp aku dari hp gurunya (hp dia kan masih rusak).
“ikhsan mau hp esia”
Yiiiipppeeee….. rupanya dia merasa sudah paham meski masih diingatkan. Dan dia bilang “susah, tapi mau belajar”.

Sudut pandang berubah lagi.
He is not that handful.
He is full of promises.
And…. he is a very kind young man.
Bahkan ketika diserang oleh teman itu, dia hanya mengeluh sakit dan menghindar tetapi tidak memukul kembali. Bahkan ketika ia sedang sangat marah kepada aku, dia tidak memukul sama sekali.

Love you. Muah, muah, muah…

Makanyaaaa….. *huh*

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Aku lagi ‘nulis’ buat tugas kuliah. Ceritanya, topik utama adalah ya si remaja-remaja autistik ini. Kok?
Ya kan lihat sehari-hari betapa makin bikin keriting bikin ubanan deh urusan sama mereka.
Jadinya bertebaran buku-buku di kamarku, bacaan-bacaan, semua tentang ‘mereka’…dan jelas, pikiran aku penuh sama permasalahan remaja. Selagi ngetik ngebut nulis itu, aku sempet mikir “aduh, syukur ya, remaja aku gak segitu repotnya”.

Benarkah?
Huh. Sok tahu.

1) Sabtu kemarin kan kuliah, terus pergi. Kemana? Hidih, mau tahu aja. :)
2) Pulang minggu, masih usaha nulis. Gak kelar. Dadakan ditelpon temen yang anaknya (autis) dirawat karena DB. Udah nangis-nangis. Aku berusaha menenangkan, sambil janji besok pasti dateng.
3) Bangun senin pagi, ada yang ‘nagih’ ajak jalan2. Oke deh. Pergi jalan2 bentar. Pulang, dilempar daster dan handuk sama si remaja itu tadi (disuruh ganti baju cuci muka, dengan perkataan lain: STAY AT HOME!). Gak berapa lama ditelpon sama temen yang anaknya dirawat itu. Yo wis, aku ke rumkit di kelapagading… disana sampe sore. Sampe rumah, cuwapek, tapi berusaha nulis terus. Teteup topik sama. Remaja autistik yang membingungkan (!). Kecapekan, tidur.

4) Selasa seharian ke mandiga, dilanjutkan mengajar sampe jam 9 malam.

Sampai rumah, langsung berusaha memperbaiki hape yang kata gurunya “memorynya penuh”.
Selagi berusaha keras, ada remaja heboh buka2 mulut lihat sariawan, diobatin gak mau.

Tiba-tiba….melolong-lolong lah anakku. Ha? Ada apa? Diajak komunikasi gak mau, ditanya biasa gak mau, disuruh diam gak mau… huhuhuhuhu…. maka, terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi *sensor*…. (dan ibunya sangat menyesal).

Sesudah akhirnya lolongan berhenti (dilarang bertanya the how) jam 1 pagi, tidurlah semua.

5) Rabu bangun pagi2 banget. Dibangunin sama remaja yang ketawa-ketawa (duh, kenapa elo melolong sih taddiiiiii???), dan minta dicium. Ya udah. Baikan.
Cepet2 buka laptop. Ngetik lagi. Ambisi = nyerahin perbaikan hari ini di depok.

Di mandiga, kerja sambil ngantuk, dapet laporan: “Ikhsan males belajar” (yang sms gurunya). Lho, kok gak sms sendiri? Telpon gurunya dong… Aaarrrggghhhh….”hape gak bisa sms nih, mbak. Gak tahu kenapa.”
Ibu berusaha memandu guru supaya memperbaiki. Ikhsan tidak sabar. Ikhsan ambil alih hape lalu dimatikan. Lho?
Guru bertanya dengan tanya jawab tertulis, seperti ini:

Ibu Ida: “ikhsan mau sms ibu?” —— tidak
Ibu Ida: “lho, tadi mau sms kok gak jadi?” —- hp rusak
Ibu Ida: “ibu ida pinjam sebentar ya, dilihat?” — tidak
Ibu Ida: “nanti tidak bisa sms ibu?” —- BELI
Ibu Ida: “ikhsan mau beli hp baru?” —- YA.

Ibu Ida: “siapa yang beli hp baru?” —- dan dia pilih AYAH (dari pilihan ayah, ibu ita, ikhsan)
Ibu Ida: “untuk siapa?” —– IKHSAN.
*HAIYAAAA… hp dia kan komunikator! mosok minta hape baru, sih? buset, buset, buset… emaknya aja gak beli blackberry! (lho, apa hubungannya yak)*

Hhhuuu…
Jadi what’s the moral of the story?

Jangan soktahu gak punya masalah deh.
Jangan pernah berpikir “aduh, untung ya gw” tapi selalu bersabda “ya Tuhan, jauhkanlah saya dari masalah seperti mereka. Lindungi kami. “

Kalo lagi CUWAPEK kayak aku semalem, jangan ngurusin anak yang lagi marah-marah deh. Diemin aja. Pasang kapas aja lah di kuping. Atau, pergi ke rumah orang lain untuk numpang tidur. Atau, check in di grand melia (*ngarep mode on*).

Jangan juga soktahu utak-atik hape kalo pengetahuan terbatas dan duit terbatas untuk beli yang baru. Jadinya kan seperti sekarang. Hp rusak, duit gak ada, anak ngambeg gak mau komunikasi.

*kalo ada yang punya hp bekas dengan keypad QWERTY, jangan ragu-ragu lho… terutama yang belum kasih hadiah Ikhsan ultah ke 18….atau, kasih hadiah ibunya juga boleh sih…bentar lagi kok* (LHO?)

-udah baikan sama anak remaja tapi teteup aja pusing tujuh keliling ngurusin hape-