Menata hati

Orangtua yang memiliki anak autistik atau masalah perkembangan lain, biasanya fokus pada mengejar ketertinggalan (apapun itu) ketika anak masih balita dan masih usia sekolah.

Sejalan dengan waktu, fokus penanganan berpindah ke masalah akademis. Akan bersekolah dimana, bagaimana kemampuannya, sudah bisa keterampilan apa, bisa ikuti pelajaran atau tidak … sampai ke … bakatnya apa ya..

Sudah sejak lama sekali, fokus penanganan buah hatiku, adalah pada, bagaimana ia kelak ketika aku sudah tidak berada dalam satu dimensi waktu dengannya… Ia harus bisa nyaman dan senang. Entah dengan siapa nanti ia tinggal. Biarpun sudah direncanakan secara matang pun, Allah biasanya punya rencana yang masih kita rasakan sebagai misteri .. Maka aku fokus pada, bagaimana ia bisa mengurus keperluannya sendiri, sesuai standard yang kami ajarkan, kami contohkan, kami perjuangkan dari hari ke hari.

Yang menarik, sesama orangtua kadang ada yang berpikiran seperti aku, seringkali juga tidak.

Beberapa waktu lalu, salah satu klien ku bercerita, betapa selama ini rasa galau dan sesak bergelayut di dada setiap membaca cerita orang yang anaknya sebaya. Ada yang bercerita sudah berkuliah di sana, sudah mencapai kemampuan anu, bahkan ada yang sudah akan menikahkan anaknya. “Sementara saya? Aduh. Rasanya ….. ”

Ketika ia berkata begitu, istrinya diam dan menatap. Wajahnya juga sayu. Putra mereka baru berusia menjelang 15 tahun, tapi sepertinya mereka berdua berusia nyaris sebaya dengan aku. Maka tentunya, teman-teman mereka ya kurang lebih seperti teman-teman saya: anaknya berkuliah, lulus, masuk S2, menikah, bahkan sudah memberikan cucu.  Aku tidak bisa berkata-kata ketika sang bapak mengatakan itu. Aku tahu, apapun yang aku katakan, tidak akan dapat mengurangi kekecewaan dan sesak di dadanya ….

Sesudah mereka pulang, aku mau tidak mau ya merenung juga.

Susah jadi orangtua dengan anak autistik. Apalagi kalau anaknya cuma satu, anak tunggal. Seringkali, kita dihadapkan pada situasi canggung ketika orang lain dengan gegap gempita menceritakan keberadaan anaknya, keberhasilan, pencapaian dan apalagi lah namanya. Seringkali juga, kita terpaksa menyaksikan kegembiraan keluarga lain yang sedang menikmati hidup, sementara kita para keluarga dengan anak berkebutuhan khusus ini, setiap hari masih juga berkutat dengan ‘besok gimana’…

Maka, keterampilan ‘menata hati’ menjadi sesuatu yang mutlak dipelajari.

Bagaimana tidak.

Bisa babak belur kita kalau terus menerus ‘ba-per’ setiap melihat keberhasilan orang lain. Lha gimana? Takdir dan rezeki kan sudah diatur dari sananya … Sang Maha kan serba tahu mana yang terbaik untuk kita. Mosok terus kita selalu galau, sesak, stres dan tertekan melihat keberhasilan orang lain. Kalau itu yang kita lakukan, kita gak akan bersyukur dong atas apapun yang Allah berikan kepada kita?

Ish.

Dosa itu !

 

 

Mana?

Bulan puasa, seperti biasa, kadang ada kesempatan untuk kumpul bersama teman dekat… buk-ber, lah, istilahnya.

Kemarin juga demikian.
Teman-teman SMA, mengajak buka bareng. Lumayan jauh, di Sentul. Sudah bilang bapak, sudah atur supaya mbak Indri standby sampai bapak datang….
Pamit berangkat, persis ketika Ikhsan baru tiba dari Cibubur bersama teman-temannya. Sepertinya ia belum sepenuhnya ‘ngeh’ bahwa ibu pamit berangkat.. Aku pergi dijemput dua teman, Ikhsan sedang beranjak akan mandi dan teman-temannya satu bis sekolah bahkan ada yang belum dijemput.

Pertemuan berlangsung seru seperti biasa. Sampai sudah pukul 21, kami masih di lokasi.
Lalu ada WA dari bapak “anaknya mau telpon nih”.
Lah, kok tumben?
Lalu bapak telpon aku, dan terdengar suara Ikhsan yang nada tinggi. Duh, ada yang bete.

Lalu bapak cerita di WA, Ikhsan sudah sekitar 20-30 menit berteriak-teriak, marah-marah … sampai akhirnya bapak ambil kertas dan pinsil, lalu bilang ke Ikhsan, “Ikhsan mau apa? Tulis”…
IMG_20160613_220024

Sesudah itu, Bapak suruh Ikhsan baca, tulisan-tulisan ku di WA…
Lalu ajak dia duduk di depan, menunggu… *angry, euy* kata bapak…

IMG-20160613-WA0029

Karena aku masih jauh … ya eyalah, dari sentul ! … Ikhsan diajak ke warung, beli sesuatu, dan diajak duduk di dalam, mengunyah dengan takzim…
Tidak lama, aku tiba, dan dia sambut aku …

Sebentar saja dia sambut aku. Ketika aku dan bapak sibuk mengobrol di meja makan, dia malahan berangkat tidur.
Dia sepertinya hanya ingin melihat kami berada di rumah semua, seperti biasanya …mengobrol, makan, menonton televisi, berbincang…seperti biasanya…

Ikhsan, ibu bangga sama kamu…

Respek

Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna kata ‘respek’ adalah rasa hormat, menaruh kehormatan.
Sementara menurut Merriam-Webster Dictionary, respect, dijabarkan dengan
: a feeling of admiring someone or something that is good, valuable, important, etc.
: a feeling or understanding that someone or something is important, serious, etc., and should be treated in an appropriate way
: a particular way of thinking about or looking at something

Nah, kalau menurut pemahamanku, jadinya, ya…respek bisa dianggap berkaitan dengan ‘menghargai’ dan memperlakukan sesuatu serta seseorang dengan sepantasnya. Kalau tidak bersikap sepantasnya, jadi ya, bisa diartikan, tidak menghargai. Bisa juga dianggap, merendahkan.

Kenapa kok tiba-tiba angkat topik ini?

Tergugah (dan terganggu, sebenarnya) oleh beberapa kejadian di sekitar akhir-akhir ini. Bahkan ada yang sudah lama terjadi, berulang, berkali-kali, tetapi tidak ada perubahan.

Kejadian yang terjadi langsung padaku, misal…ketika aku mengadakan seminar, presentasi, pertemuan atau apa lah namanya. Lalu, yang hadir, sibuk bicara sendiri. Benar-benar sibuk (baca = berulangkali, terus menerus) bicara sendiri, sehingga kadang, seperti ada lebih dari satu pembicara pada menit yang sama.
Bagian yang bikin kkkeeezzaaalll adalah: kalau kita bahas kasus ‘bicara’ pada individu autistik, ya beneran bicara sendiri. Tapi kalau bukan individu autistik, kasus ‘bicara’ pastinya kan ajak orang lain untuk bicara. Jadi, ada dua hadirin pada acara saya (saya yang undang, dia yang datang, statusnya adalah tamu) heboh berbicara pada saat saya (yang undang karena ada yang perlu disampaikan) justru sedang membahas sesuatu dan hadirin lain menyimak.

Kemarin, di meja makan, topik ini jadi materi diskusi mendalam antara aku dan Sam.
Apa ya yang menyebabkan orang ini terus menerus melakukan hal ini …. berkali-kali….hampir di setiap kesempatan.

Bolehkah aku, pak, melakukan ini dan itu? Aku menahan diri banget nih, pak, untuk tidak berdiri lalu menunjuk muka orang itu dan berkata “kamu sepertinya mau mengatakan sesuatu, bagaimana kalau kamu berdiri di depan dan gantikan saya”. Gak boleh, kan? Kasar, kan??
Lalu bapak usul, “bagaimana kalau kamu tengok ke arah orang itu dan bilang apakah ada yang ingin disampaikan kepada hadirin, bu … contoh di rumah, mungkin” … Ah, bapak. Saya akan dicap ‘kasar’ pula.
Lalu bapak diam. Berpikir.

Kalau dulu, ya, pak. Ketika aku ngajar anak SMP/SMA, aku bisa datangi anak itu dan bilang “maybe it is better that you move to that chair” (sambil nunjuk kursi yang jauuhhhh dari teman-temannya). Lalu kalau anak itu gak mau, aku tinggal tunjuk kursi itu dan pintu sambil bilang “i give you two choices, move to that chair or go out through that door”….
SUKSES untuk membuat siswa yang bicara pada saat aku mengajar, untuk diam dan menyimak.
Tapi, pak… Ini kan bukan murid. Bukan anak SMP atau SMA. Ini kan, katanya, manusia dewasa! Udah punya anak pula. Duh….
Gimana anaknya akan bersikap respek kepada orang lain kalau orangtuanya tidak memberikan contoh bagaimana harus bersikap respek?? *Bapak mukanya berkerut tanda pusing*

Bolehkah aku, pak, panggil dia secara pribadi dan bilang terus terang bahwa, aku gak suka itu terjadi berulangkali. Kalau gak dikasih tahu secara langsung, bisa jadi orang itu memang tidak paham bahwa itu sangat mengganggu. SANGAT MENGGANGGU.
Bapak diam. Mikir.
Lalu bapak bilang, “memang mengganggu, apalagi satu ruangan benar-benar memerlukan untuk datang menyimak, benar-benar meluangkan waktu untuk mendengar dan mencerna apapun yang kamu mau sampaikan. Dan materi yang kamu sampaikan, itu sangat tepat dan perlu” …. Ah, si bapak. Masih gak kasih solusi.
Terus bapak ngeluh, “jadi pelik, ya”. Iya, PELIK banget, karena aku MENAHAN DIRI banget …. Aku tahu aku BENAR, tapi aku harus menahan diri untuk tidak mempertahankan yang benar.

Tahu gak, pak.
Kalau dulu, kemungkinan untuk aku panggil orang dan aku kasih tahu itu, besar. Karena aku hasratnya masih besar untuk membantu orang agar lebih baik.
Sekarang? Aku udah males.
Dulu, kalau ada kasir atau resepsionis, atau pekerja kurang pas kerjanya, aku akan luangkan waktu untuk kasih tahu baik-baik. Supaya dia menjadi lebih baik di kemudian hari. Demi dia. Kalau perlu, saya kasih tahu bossnya supaya tahu, apa yang harus diperbaiki. Kan kita pengguna jasa. Free of charge consultation, ibaratnya. Demi mereka.

Tapi sesudah reaksi ‘boss’ ke aku malahan kayak ‘upset’ dan ‘annoyed’ …. aku memutuskan untuk berhenti melakukannya. Apalagi ada kalimat dari keluarga si boss yang bilang “ya jangan pakai jasa kami kalau gak suka”. Waks. Gitu, toh?
Makanya aku gak pernah pakai jasa mereka lagi, kan? Aku beralih ke tempat lain.
Judulnya, aku abaikan saja lah … Bodo amat kalau pada akhirnya mereka tidak menjadi lebih baik dan yang error masih tetap error…. Auk ah lap.

Kembali ke ‘hadirin’ yang bicara ramai di saat aku sedang mengadakan pertemuan, seminar dan lainnya … menurut aku, itu sih dimaknai dengan tidak menghormati atau tidak respek. Bukan hanya kepada pengundang yang sedang menyampaikan informasi, tetapi juga kepada orang lain yang hadir di tempat yang sama !

Dulu, karena aku cukup peduli, aku mungkin akan memberitahu dia dari hati ke hati bahwa apa yang dilakukannya, membuat dia dicap tidak respek. Sekarang, aku sudah tidak mau buang energi.

Jadi …gimana?
Apakah next time dia aku undang lagi, sesudah ada peristiwa tidak menyenangkan berulangkali dan aku tidak boleh melakukan apa-apa meski aku sangat terganggu?
Masuk akal, gak?
Kita undang orang ke rumah kita, dengan aturan kita …. lalu orang itu semena-mena. Kita undang lagi, gak?? Hayo. Coba dipikir??

Apakah dia, aku perbolehkan berada di rumah aku di kemudian hari??? Hehe, di dunia ini tidak ada yang otomatis lho !

Itu, kasus satu.
Lalu, kasus-kasus lain, ada kah? Ya ada lah.
Saya gak tahu orang lain, tapi rasanya saya dibesarkan dengan instruksi ketat untuk ‘menghormati yang lebih tua’, ‘menghormati orang lain’ siapapun itu.
Seringkali aku seakan melanggar itu ketika aku merasa harus menyampaikan apa yang aku rasa dan aku lihat. ‘Rem’ku blong, kata Papah dulu. Prosesnya terus menerus aku usahakan membaik ….
Sekarang, ‘rem’ aku pasang ganda bahkan triple. Kemarin juga aku bilang ke bapak, sekarang ‘rem’ ku untuk membantu orang lain lebih baik, berlipat ganda, pak. Aku gak mau lagi kasih tahu orang, apa yang terjadi. Hanya orang-orang khusus, orang-orang tertentu, inner circle, yang masih aku colek terus terang dari hati ke hati aku kasih tahu untuk begini or begitu. Tetap dengan satu keyakinan, aku harus bilang tapi kalau dia gak mau dibilangin maka next time aku gak bilangin lagi ….aku bilang karena aku peduli …
Eh, si bapak, as usual, komentar (yang bikin aku mikir): tapi, kamu kepikiran gak? nanti terus, serangannya ke dalam …berlarut-larut, lalu kamu sakit?
Maka diskusi mendalam terjadi lagi. “aku berhenti koreksi orang-orang yang aku temui, bapak ngeh, nggak?”
‘Lha ini, kejadian yang terjadi baru aja, dalem banget kayaknya kena ke kamu? Kamu bisa let go, gak’.
“Kalau yang ini, kan masih materi diskusi…tapi, kalau yang kemarin-kemarin udah kejadian, bapak gak tahu, kan?”

Bapak diem, mikir. Terus ngangguk. “Iya, aku gak tahu”.

Yowis, jadi, ketika ada orang-orang yang aku pikir adalah ‘teman’ lalu melakukan hal yang sangat tidak pantas atau tidak sesuai tapi berbalik marah-marah ketika kelakuannya mendapatkan masukan, ya langsung aku anggap ‘bukan teman’. Apalagi kalau terus, menyerang aku dalam tulisan atau perkataan. Sikap manis, tapi nyerang, ngatain. Waduh. Jelas dia gak respek aku. Lah masak aku musti respek dia?? *geleng-geleng*

Respek, sifatnya jadi mutual. Timbal-balik.
Seperti kata-kata bagus yang pernah aku temui di salah satu prof-pic teman. “Do good then good things come to you”.
Bener banget.
Kita berbuat baik, maka, Insya Allah, hal baik akan menghampiri.
Respek juga gitu. Hargai, dan hormati orang lain, maka, Insya Allah, hal sama akan kembali kepada kita.
Tapi, kan, mbak … ‘do good’ bisa juga berarti ‘memberitahu atau memberi masukan kepada orang yang sudah salah’. Iya, benar. Tujuannya kan ya ‘good’. Masalahnya, kalau terus ganjarannya adalah kita dikatain, gimana? Habis itu malah terjadi lagi, terjadi lagi, diulang perilaku ‘merendahkan orang lain’ …yang bikin kita bacanya geleng-geleng bahkan masuk ke kategori “malu banget” atas perilaku itu …. Mendingan kita diam dong.

Ibaratnya…kalau kita sudah jelas-jelas gak dihargai dan diperlakukan sepantasnya, ya gak berarti kita harus diam saja, kan?

Saya gak cari ribut. Tapi kalau situ jual, saya beli *ada yang inget, omongan siapa iniiiiii?*

Keputusanku tentang orang yang bicara terus ketika diundang ke pertemuan ku, apa?
Kita lihat saja.
Terjadi lagi?
Ya, pasti ada konsekuensi lah … Emangnya aku apaan, diinjak-injak kayak keset.

*ya, saya masih geram*

Bisa masuk kategori ‘kurang ajar’ soalnya, selain dianggap ‘tidak respek’.

Oh ya, double kezzel, ketika udah mau bubaran, orang itu datang ke kita dan nanya hal-hal yang tadi sudah disampaikan. Kalau anak kecil udah aku jewer dan aku bilang “makanya jangan ngobrol kalau lagi diterangin!”.

Ketika ia punya mau (2)

Kejadian minggu lalu, berulang kemarin.

Kami menikmati hari libur nasional, bersantai di rumah sambil tetap bekerja. Ikhsan sudah sejak siang gelisah dan menunjuk lemari, dengan ekspresi bertanya. Cara khasnya mengajak kami bepergian, dengan memberitahu “aku ganti baju, ya?”. Akhirnya ketika hari sudah sore, pergilah kami bertiga ke mal terdekat.

Seperti biasa, kami mengikuti kemana langkah Ikhsan menuju. Bila kami bepergian tanpa agenda seperti hari ini, semua mengikuti saja kemana ia akan melangkah. Berbeda bila memang sudah ada agenda mencari sesuatu, maka ia harus mengikuti agenda tersebut.

Pertama masuk mal, Ikhsan melangkah ke sana kemari, dan kami segera tahu, ia mencari toilet. Aku yang melihat ATM, segera berhenti karena ada yang perlu dilakukan. Maka terpisahlah kami. Ketika terpisah itu, ternyata sesudah dari toilet, bapak melihat ada outlet menjual sandal jepit berukuran besar. Peristiwa langka. Maka bapak segera membeli, dan ketika kami bertemu, bilang “buat dia berenang…jarang kan yang ukuran besar”. Bilangnya ke aku. Tapi ada sepasang telinga yang menyimak (rupanya).

Sesudah pergi ke Gramedia dan makan malam, kami menuju mobil, tapi aku mampir Ace Hardware. Mendadak Ikhsan menghilang. Kemana? Bapak sudah mengeluh. Aduh, kemana sih, dia…. Beberapa menit kemudian, Ikhsan muncul, dan di tangannya sudah memegang sesuatu. Apa? Oh, ternyata, kacamata renang!  Oooooo, dia minta dibelikan! *dan bapak complain lagi “kenapa dia gak tulis atau ketik sih, kalau minta”  … hehee..

Di Ace, kacamata yang dijual, hanya untuk anak-anak. Di Karfur juga begitu. Ya sudah, terpaksa kami naik lagi, cari toko khusus peralatan sport. Maka ia dibelikan kacamata renang dewasa, dan topi renang  (Bapak bilang, pak Yatno gurunya kan pakai kacamata dan topi renang).

Wow, mukanya cerah sekali. Langkahnya khas, menunjukkan ia senang dapat kacamata baru dan topi renang…

Dalam pembahasan Bapak dan aku malamnya, sepertinya ia teringat akan kebutuhannya ketika bapak bahas sandal jepit berukuran besar untuk berenang. Bisa jadi ia ingat dan berpikir, ih, aku kan perlu kacamata renang. Bagian yang membuat aku senang luar biasa adalah, ia tahu, dimana ia bisa mendapatkannya. Kalau ada mau, kaaannnn……

 

Hari Kamis, keesokan harinya, ia sudah sibuk ambil celana renang dan kasih ke bapak. Padahal renangnya hari Jumat. Woy, salah hari!

Ah, rupanya ia sudah tidak sabar ingin mencoba peralatan renangnya… Malamnya pun ia sulit tidur, bisa jadi karena terbayang-bayang akan berenang keesokan harinya.

 

 

IMG-20160311-WA0000

 

Meski belum terbiasa dan berulangkali dilepasnya, hari itu ia berenang dengan peralatan lengkap seperti pak guru. Ih, Ikhsan. Kamu keren.

#proudofyoualways

 

Ketika ia punya mau … (1)

Memiliki anak autis, hampir selalu masalah terbesar setiap hari adalah komunikasi. Kalaupun anak sudah mampu berkomunikasi, dengan cara apapun, pada akhirnya keinginan untuk berkomunikasi menjadi kendala. Bila ia tidak merasa perlu, maka ia juga tidak berusaha berkomunikasi.

Ikhsan juga begitu. Susah payah diajarkan berkomunikasi melalui sistem pertukaran gambar, mengetik, memilih jawaban, menulis kata, sampai sistem chatting segala cara mulai dari Yahoo Messenger, sms sampai Whatsapp…. Ia bisa semua. Tapi, apakah ia berinisiatif berkomunikasi? Belum tentu….

Dugaanku, memang ia (atau mereka) aktif berinisiatif berkomunikasi, hanya bila ia merasa perlu.

Seperti pada hari itu.

Kami bertiga pergi ke Mangga Dua. Maksudnya mau cari kantor service merk tertentu, untuk perbaiki tablet ku … Info dari web, tempatnya di Mangga Dua Mal. Maka kami ke sana. Sampai sana, Ikhsan langsung sibuk ke Indo Maret, belanja. Sibuk. Kan ada mau. Sambil ia belanja, aku tanya-tanya ke sana kemari, ternyata kantor service yang aku cari sudah pindah ke Mangga Dua Square. Beda tempat. Beda beberapa kilometer… Aku lapor ke Bapak, tapi bapak mengingatkan, ke toilet dulu nih si Ikhsan.. Baiklah.

Siapa kira, menuju dan dari toilet, melewati restoran A&W. Siapa bilang Ikhsan hanya lewat saja? Tentu saja ia mau mampir. Baiklah.

Sambil makan, ia sibuk garuk-garuk kepala. Kami, yang juga kelaparan, sibuk juga dong. Sibuk makan dan sibuk cerita.

Khawatir hari menjadi terlalu siang, selesai makan, aku segera bergegas mendorong rombongan untuk kembali ke mobil dan pindah ke Mangga Dua Square. Beberapa menit kemudian, ketika mobil belum keluar dari tempat parkir, Ikhsan sibuk membalikkan badan menengok ke kursi belakang dan meraih tas ku. Celingak-celinguk, ia mencari-cari sesuatu. Salahnya aku, aku tidak langsung merespons dengan tepat. Aku hanya bertanya, ada apa? Gak ada, gak ada.

Aku perlu beberapa menit untuk tersadar, berkomunikasi dengannya. Maka aku ketik di tabletku, “Cari apa” dan Ikhsan mengetik di sebelahnya, ‘topi’.

Oh. Dia cari topinya!

Maka bapak dan ibu sibuk bertanya-tanya, tadi topinya terakhir dia pakai dimana ya? Aku tahu pasti, keluar dari toilet, ia masih pakai. Tapi di restoran, apakah ia pakai? Kesimpulan sementara, tentunya kita harus kembali ke restoran untuk mencari tahu. Lha, sudah sampai jalan besar!  Sambil tetap melaju menuju Mangga Dua Square, aku mengetik lagi di tablet “topi hilang… mungkin ketinggalan di A&W”… Wajah Ikhsan tidak puas, gelisah, tapi ia tidak berusaha mencari lagi. Ia berusaha duduk diam, meski berulangkali membalikkan badan untuk mencari topinya itu.

Singkat cerita, urusanku di Mangga Dua Square sudah selesai, kami masuk mobil lagi. Dengan tegas, Ikhsan menunjuk ke depan. Ke arah Mangga Dua Mal. “Oh, kamu mau kembali ke tempat tadi?”. Dan ia tegas menjawab “iya”. Bapak dan Ibu sigap berunding lagi, akan langkah selanjutnya. Ya sudah, kita kembali lagi. Pembelajarannya adalah: kalau ketinggalan barang kita di tempat umum, kemungkinannya dua: masih ada, atau sudah hilang. Let’s go.

Di Mangga Dua Mal, aku temani Ikhsan turun dari mobil, berjalan menuju resto tersebut. Aku tiba duluan. Dan benar, topi bertengger dengan nikmatnya di salah satu kursi. Hohohoho, ketemu!  Ikhsan tersenyum sangat lebar, memakai topi di kepala, dan melangkah dengan cara sangat khas yang mengekspresikan perasaan senangnya.

Tuh, kalau ada mau, dia berkomunikasi.

 

#proudofyoualways

Jpeg

Jpeg

 

 

Misteri Hidup (2)

Esoknya, Senin, kami berdua makin berusaha menjaga segala sesuatunya agar ‘biasa-biasa’ saja.

Ketika Isam bersiap berangkat ke Bandung seperti biasa, pamitnya juga biasa, dan aku juga mengantar kepergian dengan gaya ‘biasa’. Aku paksakan diriku bangkit dari tempat tidur, mandi, dan membantu mengawasi Ikhsan mandi seperti biasa.
Bahkan aku memaksakan diri untuk duduk di garasi dan bertukar pikiran dengan para pengawal bis sekolah Ikhsan….seperti biasa. Aku berusaha membuat Ikhsan melihat, bahwa, “Ibu baik-baik saja, nak”….

Begitu Ikhsan berangkat, aku segera naik ke tempat tidur lagi. Aku tidak mau terjadi masalah dengan luka dalam akibat operasi besarku hari Rabu lalu. Belum seminggu, bo! Aku tidak mau ada komplikasi. Aku mau segera pulih, segera bisa lincah, agar keluarga kecilku, bisa menjalankan kehidupan yang penuh misteri ini, dengan ‘biasa-biasa’ saja…

Tapi aku segera komunikasi dengan kepala Sekolah Ikhsan, dengan guru kelas Ikhsan… Aku butuh bantuan..
Ternyata oh ternyata.
Kepala Sekolah Ikhsan yang juga baru diopname, punya cerita sama. Putrinya, dewasa autistik, juga menampilkan luapan emosi ketika ibunya masuk rumah sakit. Bahkan ia sampai menangis tersedu di sekolah. Alamaaakkkkk….

Siang harinya, cerita dari guru Ikhsan memperkuat dugaan kami, bahwa ia memang sedang sangat galau dengan berbagai hal yang terjadi di rumah kami selama sebulan dua bulan terakhir ini…

IMG-20150706-WA0013 - Copy

IMG-20150706-WA0012 - Copy

Aku harus menata sikap, menata diri, dan menata kata.

Harus tetap konsisten status pemulihan dan tidak banyak gerak, tetapi memberikan kesan “biasa-biasa” saja kepada Ikhsan.
Ya ampun! Bagaimana mungkin?

Misteri hidup …

Keluarga dengan anak autistik seperti kami, dari hari ke hari mendapat anugerah ‘misteri’ dari Allah swt.

Bagi kami, anak kami tetap sebuah misteri. Apalagi Ikhsan tidak bisa bicara. Jangankan bercakap-cakap, ketika memerlukan sesuatu atau merasakan sesuatu, seringkali ia hanya menggunakan isyarat atau emosinya untuk mengungkapkan isi hati.
Bagi dia, kami dan dunia di sekelilingnya, mungkin lebih kental lagi misterinya. Begitu banyak pertanyaan tampak berkecamuk dalam benaknya dia, dan kami yang bertahun-tahun berbagi kehidupan bersama, makin dapat mengenali tanda-tanda yang ia tampilkan melalui mimik wajah, isyarat, gerak tangan, suara, ataupun perilaku kebiasaan dan rutinitas.

Begitu juga saat ini, sesudah aku pulang dari Rumah Sakit dan harus menjalani masa pemulihan di rumah.

Kalau operasi besar, yang namanya masa pemulihan ya artinya banyak berbaring di tempat tidur. Mengurangi kegiatan, bergerak dengan lambat, sedapat mungkin tidak banyak duduk apalagi berjalan .. Sesudah banyak berguru kepada mereka-mereka yang sudah menjalani masa pemulihan seperti aku, sepertinya setidaknya selama 2-3 minggu yang akan datang aku lebih baik tidak banyak berjalan. Maka aku diskusi dengan Isam, dan memutuskan untuk menyewa kursi roda selama sebulan.

Kursi roda tiba saat Ikhsan tidak di rumah. Sabtu siang, ia sedang les piano dilanjutkan les lukis, diantar supir sekolah ..
Aku tidak menjelaskan kepadanya bahwa akan ada kursi roda, bahwa ibu akan duduk di kursi roda selama beberapa minggu, bahwa ini semua sementara, dan berbagai penjelasan lainnya. Kesalahan fatal.

Begitu tiba dari les, tanpa banyak penjelasan pula, Ikhsan diajak Isam untuk menjenguk Eyang (ibu dari Isam) di Cinangka, Pondok Cabe. Berangkat pk. 16.15, ketika Magrib mereka masih di sekitar Cinere. Masih jauh. Menurut Isam, Ikhsan sempat gelisah. Ya. Aku tahu. Bahkan ketika akan berangkat, ia seakan tidak paham, kenapa ibu tidak ikut, kenapa ibu tidak mengantar ke pagar, kenapa ibu berbaring terus … Kenapa??

Malamnya, ia gelisah dan sempat marah-marah berteriak-teriak tidak bisa tidur. Persis seperti Jumat malam, malam pertama aku tidur di rumah. Jumat malam, lebih parah lagi. Ikhsan sama sekali tidak mau berbaring di sebelahku, padahal itu adalah kebiasaan kami yang sangat kami nikmati biasanya.. Ia bahkan hanya melirik aku beberapa kali tapi tidak mau menatapku berkepanjangan..

Minggu siang, dalam upaya ‘membuat kehidupan tidak banyak berubah bagi Ikhsan’, kami bersiap pergi ke supermarket besar dekat rumah.

Kursi roda dipakai.
Sayangnya, aku tidak memberikan penjelasan apapun kepada Ikhsan. Aku dan Isam sibuk sekali mengatur diri sendiri (dan mengatur Ikhsan) agar segalanya lancar. Agak sulit, mengingat aku tidak bisa bantu Isam sama sekali dan hanya menatap dari atas kursi roda. Sesuatu yang luar biasa berbeda dari kebiasaan, mengingat aku biasanya justru yang menjadi motor dalam keluarga kecilku ini..

Setiba di tempat, Isam parkir, lalu meminta Ikhsan menunggu di luar mobil.
Gerakanku lambat. Pelan. Hati-hati.
Isam membuka kursi roda, juga pelan dan hati-hati.
Mendadak Ikhsan berteriak sekencang-kencangnya, dan bersiap berlari sekencang-kencangnya ke arah supermarket tersebut, bersiap meninggalkan kami. Ekspresi wajahnya sulit digambarkan. Marah, kesal, bingung, cemas, semua bercampur menjadi satu.
Aku terkesiap.
Isam terhenyak sedetik sebelum berteriak menyuruh Ikhsan diam.
Aku berseru, meminta Ikhsan masuk mobil menenangkan diri. Semua orang di sekitar kami, menatap nanar dan bingung.
Jangankan kalian, aku juga bingung. Bingung. Sedih. Panik. Cemas. Lalu merasa sangat bersalah ….mau nangis rasanya.

Aku dan Isam berpandangan, bertukar pikiran dengan cepat. What’s next?
Aku tahu, Ikhsan galau. Darimana aku tahu? Rona wajahnya, tidak bisa menyembunyikan kegalauan hatinya.

Mendadak aku terhenyak.
Astaga!
Jangan-jangan dia ingat almarhumah ibuku !
*Sedikit catatan kilas balik … Ikhsan tinggal bersama ku dan ibu ku dalam satu rumah selama nyaris 14 tahun sebelum ibuku ‘mendadak sontak’ pergi meninggalkan rumah tanpa diberi kesempatan berpamitan kepada Ikhsan dan aku. Ikhsan menjadi saksi mata mundurnya kesehatan ibuku, dari yang gagah perkasa berjalan kesana kemari bepergian bertiga, sampai akhirnya menggunakan walker, lalu kursi roda, dan akhirnya tidak meninggalkan tempat tidur sama sekali …sampai akhirnya wafat di usia 88 tahun 10 bulan.
Bahwa Ikhsan tidak pernah diberi pemahaman kenapa Uti tidak bersama Ikhsan lagi ….hal tersebut tidak akan pernah dapat dikoreksi. Kenapa? Karena bagi Ikhsan (dan teman-temannya yang autistik), apapun yang sudah berlalu, sudah sulit dipahami. Sudah tidak kasat mata, kan?

Aku dan Isam segera menduga, Ikhsan sangat terguncang melihat ibunya yang biasanya lincah bergerak kesana kemari, perintah kesana kemari, menjadi motor segala kegiatan …mendadak menjadi begitu rapuh dan tidak berdaya … Bukan tidak mungkin ia takut bahwa aku akan seperti ibuku …

Dengan segera, kami berusaha menyiasati keadaan.
Aku berusaha keras menjadi aku yang biasa. Bersikap seolah tidak ada masalah sama sekali, menahan raut wajah agar tidak mencerminkan sakit atau lemah. Di supermarket itu, kami arahkan ia untuk sigap kesana kemari membantu kami. Lalu, aku temani ia makan siang. Aku mengobrol biasa sambil mengusap punggungnya, mencoba menjelaskan bahwa aku (Insya Allah) menggunakan kursi roda hanya sementara saja. Tanpa menghiraukan reaksinya, aku terus mendongeng menceritakan banyak hal …sesuatu yang selama ini selalu aku kerjakan.

transmart, lunch - Minggu 5 Juli 2015

Ketika ia sudah selesai makan dan pergi menjauh ….Isam bertanya, “kamu gak cerita sama dia?”
Dan aku akhirnya mengakui bahwa aku pun mengalami kesulitan menceritakan keadaan diriku sendiri… Kesalahan fatal ke dua …

Maka….kami menyusun rencana lanjutan *to be continued*