Peduli. Kepedulian.

Kata-kata yang abstrak. Batasannya pun, abstrak.

Bagaimana mengajarkan individu untuk peduli, dan memiliki kepedulian?

SULIT.

Mungkin, dengan terus menerus mengingatkan untuk “memikirkan kepentingan orang banyak”. Misal, ketika akan makan malam. Mengajak anak membantu menyiapkan nasi untuk satu keluarga, lauk untuk satu keluarga, peralatan makan untuk satu keluarga. Mengajak anak berpikir, bagaimana caranya membuat lauk yang tinggal beberapa potong, cukup untuk banyak orang dalam keluarga. Mengajak anak untuk berpikir, bagaimana caranya mengatur penggunaan satu mobil, untuk papah-mamah-kakak- adik dan entah siapa lagi.

Beberapa kejadian di sekitar akhir-akhir ini, membuat aku tersadar bahwa banyak sekali orang yang umurnya sudah banyak, tidak juga beranjak makin peduli lingkungan. Makin ke dalam, justru. Makin memikirkan kepentingan diri sendiri. AKU-nya makin muncul. AKU gak suka, AKU gak bisa, AKU kan harus pergi pas tanggal itu, dan sejuta AKU lainnya… AKU mau itu !

Hal yang sangat mengganggu dan merugikan.

Lalu, bagaimana?

Ah, aku akan fokus pada anak-anak dan siswa-siswa ku. Mereka akan aku ajari untuk memikirkan kepentingan orang banyak. Bertindak langsung menjaga kebersihan dan kepentingan orang banyak. Tidak boleh mementingkan diri sendiri. Tidak boleh menuntut ini atau itu. Harus peduli sekitar.

Yang sudah dewasa, itu, bagaimana?

Ih. Terserah aja. Balik badan, lebih nyaman buat aku. Hehe….

Hidup tidak selalu indah (2)

Mendadak dapat berita itu.

Ada anak yang diduga autistik, ditinggalkan keluarganya di gereja Kathedral. Terlihat jelas dalam video cctv, betapa sepasang orangtua, diduga kakek-nenek anak ini, tampak meninggalkan anak ini di halaman parkir, lengkap dengan tas pakaian.

Begitu berita muncul ke permukaan dan beredar di dunia maya, berbagai dugaan simpang siur bermunculan. Peredaran berita yang bertujuan untuk mencari keluarga anak ini, bergeser menjadi sejuta pertanyaan dan pengadilan. Seolah semua orang boleh berkomentar dan menjadi hakim atas kehidupan anak ini.

Ah.

Sebaiknya kita berusaha menahan diri. Belum tentu juga kakek-neneknya itu jahat. Kita tidak tahu, anak ini berperilaku seperti apa sehari-hari. Banyak anak autistik sulit dikendalikan. Bisa mengamuk setiap saat, tidak bisa diam, sulit tidur sehingga bangun tengah malam dan bertahan terjaga bisa sampai nyaris 20 jam. Sulit makan, atau, makan tanpa bisa dikendalikan. Belum lagi ada yang destruktif, atau, menyerang siap saja  di sekitarnya. Membuang barang, merusak lingkungan, dan entah apa lagi.

Sesulit itu?

Ya.

Bayangkan, Anda adalah kakek-nenek seorang anak autistik usia sekitar 10 tahun yang sedang mengalami perubahan hormonal sehingga sering uring-uringan. Belum tentu kakek-nenek ini pernah tinggal 24 jam bersama anak ini sejak kecil. Apakah Anda sebagai kakek atau nenek, siap menghadapi situasi sulit seperti yang dijabarkan di atas? Hehe… belum tentu, bukan? Bahwa kakek-nenek meninggalkan anak ini di sebuah gereja, jelas menunjukkan, mereka bukan orang jahat. Mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi. Barangkali.

Lalu, semua orang sibuk bahas. Orangtuanya. Kemana mereka. Kenapa dititipkan di kakek-neneknya. Kenapa tidak ada yang bertanggung jawab. Dan seterusnya. Seolah semua orang punya kewajiban untuk memberikan komentar (jarang yang positif) tentang pasangan orangtuanya. Padahal, tidak ada satupun dari penonton yang pernah tinggal bersama mereka satu keluarga.

Sebagai seorang ibu yang anaknya sudah berusia 26 tahun dan melalui 15 tahun di antaranya sebagai orangtua tunggal, saya, bisa jelas-jelas mengatakan “hidup ini tidak selalu indah, ketika kita sendiri dengan anak autistik berusia 10 tahun”.

Pasti ada alasan, mengapa terjadi semua ini. Penting diingat, kita tidak berhak, tidak punya kemampuan apalagi wewenang, untuk menjadi hakim bagi keluarga anak ini. Kita bukan siapa-siapa. Kita juga tidak tahu apa-apa.

Apapun alasannya, harusnya fokus pada solusi “bagaimana memberikan kehidupan lebih baik bagi anak ini” ….

#Alhamdulillah anak sudah ditangani dengan baik, aman, nyaman. Keluarga sudah bisa ditemukan berkat berita yang gencar di dunia maya dalam beberapa hari ini. Bersyukur, itu penting.

Hidup tidak selalu indah (1)

Ketika ada teman menyampaikan bahwa suami temanku, ayah temannya Ikhsan, wafat, terkesiap rasanya. Ayah si P ini, setahu aku, sehat. Justru ibunya P yang sakit-sakitan. Lalu, bagaimana anak-anak sepeninggal ayahnya. Bagaimana si ibu yang sakit, melanjutkan hidup bersama anak remajanya yang berkebutuhan khusus?

Tidak mampu menjawab semua itu, berangkatlah aku dan Ikhsan ke Serpong, ke tempat tinggal temanku. Jauh? Ya.

Sepanjang perjalanan, Ikhsan duduk diam di sebelahku. Tertib.

Ketika tol tampak macet, ia juga tetap tertib. Tidak berulah sama sekali. Ia hanya tampak tersenyum ketika aku bilang “nanti begitu ada SPBU, Ikhsan ke toilet ya”. Dan itu aku jalankan begitu aku lihat ada SPBU sekeluar dari tol Serpong. Ia ke toilet sendiri. Ia tiba di mobil, ganti aku yang ke toilet ….dan Ikhsan duduk baik sendiri di dalam mobil yang mesinnya menyala.

Di rumah mendiang, Ikhsan berjalan hilir mudik. Tetamu menatap kepadanya dengan nanar. Ia, yang tinggi besar dan berwajah rupawan (ehm), jelas tampak tidak lazim karena mengeluarkan bunyi-bunyian dan bertepuk tangan sambil mondar-mandir. Mulanya aku diamkan, tetapi ketika ia tampak makin eksplorasi, aku ajak ia duduk di luar. Tidak lama. Sekitar 15 menit. Lalu kami beranjak dari situ, dan lagi-lagi, aku tawari untuk makan (dan ia setuju).

Sepulang dari perjalanan hari itu, aku jelas, lelah. Ia, tidak.  Tapi, ia tertib. Padahal pulangnya tidak lewat tol sehingga berputar-putar lewat Tanah Kusir, Pondok Indah, Sudirman, sebelum akhirnya tiba di Rawamangun. Sampai rumah, ia juga tertib tetap duduk sampai aku beri tanda padanya untuk boleh turun dari mobil. Ia lalu masuk rumah, dan terdengar masuk kamar mandi. Mandi lagi, ganti baju rumah, dan bersantai. Semua dilakukannya sendiri, sehingga aku pun sesudah beres parkir mobil di garasi, bisa bersantai.

Hidup ini tidak selalu indah. Ketika ayah atau pasangan hidup mendadak wafat, tentu saja rasanya dunia berhenti berputar. Tapi tidak ada gunanya bermuram durja berkepanjangan, karena anak pasti menunggu kita bertindak.  Bertindak, memberi arahan, membuat rencana baru, memberi penjelasan …..

Tidak pernah ada yang menjanjikan kita, bahwa hidup kita akan selalu indah dan selalu mulus. Berserah diri, menjadi sesuatu yang mutlak rasanya.

Sesudah menghabiskan seharian hanya berdua bersama Ikhsan, bepergian jarak jauh, tanpa masalah yang berarti, dada ini sesak rasanya. Terharu. Bangga. Senang. Teringat betapa hari-hari kami begitu sulit, karena ia begitu sulit. Betapa semua harus kami lalui jungkir balik, naik turun rollercoaster. Alhamdulillah, roller-coaster bisa berhenti sejenak saat ini, dan rasanya kami sedang naik wahana ‘Istana Anak-Anak’….

Apa yang akan terjadi kelak, tidak akan ada yang tahu.

Setidaknya, kami tahu, kami harus terus belajar pasrah. Ikhlas. Tapi terus berusaha keras mempersiapkan Ikhsan untuk bisa berdiri sendiri, memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan. Allah Maha, maka kami serahkan hidup ini kembali kepada rencanaNya…..

Membuat anak patuh

Setiap kali melihat pelanggaran aturan di sekitar, susah payah berusaha memahami dan mencerna, apa yang salah pada pendidikan anak ini sampai si individu tidak patuh pada aturan.

Tadi siang, mengantar Ikhsan les piano. Kegiatan yang ia sukai dan ia tunggu-tunggu. Selesai les, ia menunjuk-nunjuk ke satu arah, seolah ingin mengatakan sesuatu. Maka aku bertanya, “mau makan?”. Dan ia lirih berkata ‘iya’ –seolah sudah sangat kelaparan. Ya sudah, berhentilah kami di sebuah pertokoan untuk makan.

Di tempat makan itu, ada seorang anak usia sekitar 5-6 tahun yang sibuk bergerak ke sana kemari. Lazim, rasanya. Mana ada anak usia segitu yang justru duduk diam membaca ensiklopedi, kan? Yang menarik, ibunya anak ini, sibuk berulangkali (ya, berulangkali) bilang “no play, ya! no play!”… Kalimat yang diucapkan dengan nyaring sampai Ikhsan menoleh menatap padahal ia sedang sibuk mengunyah.

Apa permasalahannya? Anak menolak membuka mulut ketika akan disuapi neneknya. Lazim? Iya lah. Anak menolak makan, karena ingin main. Nah, ini yang jadi masalah untuk mamanya. Mama maunya, anak makan dulu semua dengan baik. Baru, sesudah itu main. Berhasil? Tidak.

Jadi, si ibu, dalam upayanya membuat si anak mengikuti aturannya, berulangkali mengancam. Mengancam, tapi tidak melakukan. “No play, ya! No play!” lalu si anak lari, bermain ini dan bermain itu. Si anak datang, disuruh makan, mengatakan “NO” dan si ibu melotot, mengatakan “SIT, you have to sit and eat first. Everybody is eating” ….tapi ketika si anak tidak duduk, yaaaa si mama tidak berdaya. Begitu terus…. Sampai, si anak menarik tangan si nenek sampai si nenek nyaris jatuh ditarik-tarik anak…dan si nenek juga jadi marah “mau jatuh ini!” dan si anak bengong… Lalu, bagaimana dengan ‘no play’ tadi?? Ah, ketika saya mengikuti Ikhsan ke supermarket di seberang tempat makan, anak itu sedang main, kok.

Sambil berjalan menjauh, saya berpikir.

Anak ini dewasanya mungkin akan jadi seseorang yang tidak paham ditegur atas kesalahannya. Tidak (mau) patuh, dan tidak (bisa) patuh, kemudian tidak paham ketika mendapatkan akibat dari perilaku tidak patuhnya tersebut. Barangkali karena ia selalu diancam, ia akan menjadi pribadi yang mengancam. Tapi tidak bertindak. Wew, sounds so familiar …..

Wah.

Hasil akhirnya, tidak menjanjikan.

Sepertinya lebih baik saya tetap fokus menjadikan anak-anak siswa kami (dan anak sendiri tentunya) untuk selalu belajar patuh pada aturan. Itu bekal bagi mereka untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya, dan pada akhirnya, menjadi yang terbaik bagi dirinya.

 

We r one package, inseparable

Setiap bertugas di luar kota dan bertemu keluarga-keluarga dengan anak autistik, Allah memberikan kesempatan emas bagiku untuk selalu mensyukuri nikmatNya.

Kali ini, tidak berbeda.

Berangkat Minggu pagi (Sabtu tidak bisa diganggu ya, kan harus siap latihan Serimpi! #halah), pulang Senin malam. Kerja maraton, tanpa jeda, boro-boro jalan-jalan, tapi selalu memberikan kesempatan untuk berpikir, mencerna, mengambil hikmah dari kejadian di sekitar.

Salah satu klien, usia sekitar 8 tahun lebih. Diantar ibu, dan Ama (=oma). Dari begitu banyak permasalahan yang dicoba dicarikan jalan keluar, si ibu dan si Ama membagikan kecemasan mereka. “Nanti bagaimana nasib anak ini … masa ikut Ama terus. Kan pada suatu ketika nanti Ama juga tidak ada” (begitu kata si ibu, yang membuat aku mulai bertanya-tanya… eh, ada kalimat yang salah nih sepertinya).

Belum sempat aku bertanya, si ibu melanjutkan “saya soalnya sudah single parent, jadi kan saya kepikiran” … disambung dengan kalimat-kalimat dari si Ama “iya, jodoh kan siapa tahu, ya… kalau nanti misalnya pindah pulau, begitu … bagaimana…. kan ya saya gak terus menerus bisa urus, saya kan juga akan gak ada … lalu anak ini bagaimana … kalau ada program yang malam, saya ikutkan juga disini”

Dan saya tercenung.

Wahai mama dan oma. Saya juga sempat single-parent lah sama si ganteng. Lama. Limabelas tahun, dari dia usia 5 tahun, sampai usia 20 tahun. Setiap ada lelaki yang ada gelagat bagaimana gitu (ehm), pastinya sudah ada kode-keras dari aku, bahwa aku ini, satu paket. Tidak terpisahkan. Pertama, dengan anak, yang autistik. Kedua, dengan ibu kandung, yang memang hidup bersama aku sejak ayahku meninggal di tahun 1997.

Satu paket.

Tidak terpisahkan.

Karena aku tidak akan pernah bisa membayangkan hidup terpisah dari anakku, hanya karena aku akan menikah (lagi).

Alhamdulillah, tekadku yang bulat dan tidak terbantahkan itu, membuatku berjodoh dengan suamiku sekarang, yang luar biasa sayangnya sama anakku. Mereka punya sinergi yang menarik. Saling mengisi. Suamiku juga tidak canggung untuk memarahi bila anakku punya salah.

Apakah itu karena aku bertekad untuk tidak terpisahkan dari anakku? Tidak tahu. Yang aku tahu dan aku yakini, Allah membantu hambaNya yang berusaha keras. Dan Allah punya rencana yang (bisa saja) jauh lebih bagus daripada rencana kita. Jodoh, lahir, mati, rezeki, hanya Allah yang mengatur.

I am one package with my son.

Inseparable….

Maka aku tidak bisa memahami jalan pikiran ibu serta nenek dari anak ini. Aku juga tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi, misalkan si ibu berjodoh (lagi) lalu anak ini (seterusnya) ditinggal di rumah neneknya …sampai…… Sampai apa??

#oh, sedihnya…

Taking care ..

Semester ke dua di tahun 2016, beberapa kali kami dihadapkan pada situasi, orangtua sakit. Sakit yang parah. Berkepanjangan. Memerlukan perawatan intensif.

Berhubung kedua orangtuaku wafat melalui penurunan kesehatan berkepanjangan, aku tidak asing dengan yang namanya merawat lansia. Maka ketika suamiku bingung dihadapkan pada keadaan tersebut, tentu aku harus beri dukungan penuh dengan meyakinkan bahwa kami bisa merawat mereka.

Ayah mertua, tiga bulan bersama kami. Dari kondisi ‘korban pendarahan otak’ (entah akibat jatuh dari angkot atau jatuh dari angkot akibat pendarahan…), sampai ke ‘siap jalan-jalan kemana saja’. Pendampingan penuh 24 jam dari penjaga yang kami khusus pekerjakan. Alhamdulillah, tiga bulan saja ….kini beliau tinggal bersama anaknya yang lain.

Tidak sampai dua bulan sejak ayah mertua selesai dari perawatan kami, kini giliran ibu mertua. Lumayan parah, karena beliau ternyata sempat jatuh beberapa kali sehingga terbaring tidak berdaya beberapa minggu. Dekubitus. Parah. Tanpa panjang pikir, aku minta si bapak menjemput Eyang Putri. Semalam di rumah, aku khawatir. Kok beliau seakan kesakitan sangat? Besok bawa ke rumah sakit, ya …harus dipastikan kondisinya.

Well, I hate it when I’m right … Singkat cerita beliau melalui 4hari 3 malam di HDU (satu tingkat di bawah ICU) sebelum pindah ke kamar perawatan. Seminggu di rumah sakit, akhirnya beliau pulang ke rumah kami. Tiga bulan dengan kateter, sebelum akhirnya dilepas dan pada bulan ke lima sesudah kami jemput, barulah luka dekubitus beliau nyaris sembuh total.

Sesudah berbulan-bulan intensif merawat beliau dengan dibantu penjaga yang khusus dipekerjakan, rasanya tidak terkira melihat senyum beliau dan teguran-teguran beliau.

Semoga sehat senantiasa, ya, Eyang.

 

 

 

Berani susah ..

Bertahun-tahun hidup hanya berdua dengan Ikhsan, tidak pernah ada pilihan lain bagiku selain memikirkan kesejahteraan baginya.
Sesulit apapun situasinya. Ganti pekerjaan. Ditinggal pengasuh yang sudah belasan tahun. Pindah tempat tinggal. Membuka sekolah. Cari guru. Melatih karyawan. Apapun, ujungnya adalah, demi Ikhsan.

Maka ketika berulangkali, beberapa semester berturut-turut, terjadi banyak hal yang bertentangan dengan prinsip kami sebagai keluarga …perlahan tapi pasti kami berdua mulai mempersiapkan diri. Mempersiapkan apa?
Mempersiapkan ‘kembalinya Ikhsan’ ke dalam pengelolaan keluarga sepenuhnya.

Gak papa.
Buktinya, sudah dua minggu berlalu sejak keputusan penting itu diambil.
Semua baik-baik saja, kan?

Intinya satu.
Harus berani untuk susah.

Because we love you, Ikhsan.
Dan kami menetapkan standard tinggi untuk kenyamanan mu, lahir batin.

Selamat datang ke kehidupan ‘bekerja’ ya, Nak. Ibu tahu kamu pasti bisa.
Terimakasih banyak bapak dan all RBT-Belle(s) untuk semua dukungannya. Allah yang balas.