Misteri Hidup (2)

Esoknya, Senin, kami berdua makin berusaha menjaga segala sesuatunya agar ‘biasa-biasa’ saja.

Ketika Isam bersiap berangkat ke Bandung seperti biasa, pamitnya juga biasa, dan aku juga mengantar kepergian dengan gaya ‘biasa’. Aku paksakan diriku bangkit dari tempat tidur, mandi, dan membantu mengawasi Ikhsan mandi seperti biasa.
Bahkan aku memaksakan diri untuk duduk di garasi dan bertukar pikiran dengan para pengawal bis sekolah Ikhsan….seperti biasa. Aku berusaha membuat Ikhsan melihat, bahwa, “Ibu baik-baik saja, nak”….

Begitu Ikhsan berangkat, aku segera naik ke tempat tidur lagi. Aku tidak mau terjadi masalah dengan luka dalam akibat operasi besarku hari Rabu lalu. Belum seminggu, bo! Aku tidak mau ada komplikasi. Aku mau segera pulih, segera bisa lincah, agar keluarga kecilku, bisa menjalankan kehidupan yang penuh misteri ini, dengan ‘biasa-biasa’ saja…

Tapi aku segera komunikasi dengan kepala Sekolah Ikhsan, dengan guru kelas Ikhsan… Aku butuh bantuan..
Ternyata oh ternyata.
Kepala Sekolah Ikhsan yang juga baru diopname, punya cerita sama. Putrinya, dewasa autistik, juga menampilkan luapan emosi ketika ibunya masuk rumah sakit. Bahkan ia sampai menangis tersedu di sekolah. Alamaaakkkkk….

Siang harinya, cerita dari guru Ikhsan memperkuat dugaan kami, bahwa ia memang sedang sangat galau dengan berbagai hal yang terjadi di rumah kami selama sebulan dua bulan terakhir ini…

IMG-20150706-WA0013 - Copy

IMG-20150706-WA0012 - Copy

Aku harus menata sikap, menata diri, dan menata kata.

Harus tetap konsisten status pemulihan dan tidak banyak gerak, tetapi memberikan kesan “biasa-biasa” saja kepada Ikhsan.
Ya ampun! Bagaimana mungkin?

Misteri hidup …

Keluarga dengan anak autistik seperti kami, dari hari ke hari mendapat anugerah ‘misteri’ dari Allah swt.

Bagi kami, anak kami tetap sebuah misteri. Apalagi Ikhsan tidak bisa bicara. Jangankan bercakap-cakap, ketika memerlukan sesuatu atau merasakan sesuatu, seringkali ia hanya menggunakan isyarat atau emosinya untuk mengungkapkan isi hati.
Bagi dia, kami dan dunia di sekelilingnya, mungkin lebih kental lagi misterinya. Begitu banyak pertanyaan tampak berkecamuk dalam benaknya dia, dan kami yang bertahun-tahun berbagi kehidupan bersama, makin dapat mengenali tanda-tanda yang ia tampilkan melalui mimik wajah, isyarat, gerak tangan, suara, ataupun perilaku kebiasaan dan rutinitas.

Begitu juga saat ini, sesudah aku pulang dari Rumah Sakit dan harus menjalani masa pemulihan di rumah.

Kalau operasi besar, yang namanya masa pemulihan ya artinya banyak berbaring di tempat tidur. Mengurangi kegiatan, bergerak dengan lambat, sedapat mungkin tidak banyak duduk apalagi berjalan .. Sesudah banyak berguru kepada mereka-mereka yang sudah menjalani masa pemulihan seperti aku, sepertinya setidaknya selama 2-3 minggu yang akan datang aku lebih baik tidak banyak berjalan. Maka aku diskusi dengan Isam, dan memutuskan untuk menyewa kursi roda selama sebulan.

Kursi roda tiba saat Ikhsan tidak di rumah. Sabtu siang, ia sedang les piano dilanjutkan les lukis, diantar supir sekolah ..
Aku tidak menjelaskan kepadanya bahwa akan ada kursi roda, bahwa ibu akan duduk di kursi roda selama beberapa minggu, bahwa ini semua sementara, dan berbagai penjelasan lainnya. Kesalahan fatal.

Begitu tiba dari les, tanpa banyak penjelasan pula, Ikhsan diajak Isam untuk menjenguk Eyang (ibu dari Isam) di Cinangka, Pondok Cabe. Berangkat pk. 16.15, ketika Magrib mereka masih di sekitar Cinere. Masih jauh. Menurut Isam, Ikhsan sempat gelisah. Ya. Aku tahu. Bahkan ketika akan berangkat, ia seakan tidak paham, kenapa ibu tidak ikut, kenapa ibu tidak mengantar ke pagar, kenapa ibu berbaring terus … Kenapa??

Malamnya, ia gelisah dan sempat marah-marah berteriak-teriak tidak bisa tidur. Persis seperti Jumat malam, malam pertama aku tidur di rumah. Jumat malam, lebih parah lagi. Ikhsan sama sekali tidak mau berbaring di sebelahku, padahal itu adalah kebiasaan kami yang sangat kami nikmati biasanya.. Ia bahkan hanya melirik aku beberapa kali tapi tidak mau menatapku berkepanjangan..

Minggu siang, dalam upaya ‘membuat kehidupan tidak banyak berubah bagi Ikhsan’, kami bersiap pergi ke supermarket besar dekat rumah.

Kursi roda dipakai.
Sayangnya, aku tidak memberikan penjelasan apapun kepada Ikhsan. Aku dan Isam sibuk sekali mengatur diri sendiri (dan mengatur Ikhsan) agar segalanya lancar. Agak sulit, mengingat aku tidak bisa bantu Isam sama sekali dan hanya menatap dari atas kursi roda. Sesuatu yang luar biasa berbeda dari kebiasaan, mengingat aku biasanya justru yang menjadi motor dalam keluarga kecilku ini..

Setiba di tempat, Isam parkir, lalu meminta Ikhsan menunggu di luar mobil.
Gerakanku lambat. Pelan. Hati-hati.
Isam membuka kursi roda, juga pelan dan hati-hati.
Mendadak Ikhsan berteriak sekencang-kencangnya, dan bersiap berlari sekencang-kencangnya ke arah supermarket tersebut, bersiap meninggalkan kami. Ekspresi wajahnya sulit digambarkan. Marah, kesal, bingung, cemas, semua bercampur menjadi satu.
Aku terkesiap.
Isam terhenyak sedetik sebelum berteriak menyuruh Ikhsan diam.
Aku berseru, meminta Ikhsan masuk mobil menenangkan diri. Semua orang di sekitar kami, menatap nanar dan bingung.
Jangankan kalian, aku juga bingung. Bingung. Sedih. Panik. Cemas. Lalu merasa sangat bersalah ….mau nangis rasanya.

Aku dan Isam berpandangan, bertukar pikiran dengan cepat. What’s next?
Aku tahu, Ikhsan galau. Darimana aku tahu? Rona wajahnya, tidak bisa menyembunyikan kegalauan hatinya.

Mendadak aku terhenyak.
Astaga!
Jangan-jangan dia ingat almarhumah ibuku !
*Sedikit catatan kilas balik … Ikhsan tinggal bersama ku dan ibu ku dalam satu rumah selama nyaris 14 tahun sebelum ibuku ‘mendadak sontak’ pergi meninggalkan rumah tanpa diberi kesempatan berpamitan kepada Ikhsan dan aku. Ikhsan menjadi saksi mata mundurnya kesehatan ibuku, dari yang gagah perkasa berjalan kesana kemari bepergian bertiga, sampai akhirnya menggunakan walker, lalu kursi roda, dan akhirnya tidak meninggalkan tempat tidur sama sekali …sampai akhirnya wafat di usia 88 tahun 10 bulan.
Bahwa Ikhsan tidak pernah diberi pemahaman kenapa Uti tidak bersama Ikhsan lagi ….hal tersebut tidak akan pernah dapat dikoreksi. Kenapa? Karena bagi Ikhsan (dan teman-temannya yang autistik), apapun yang sudah berlalu, sudah sulit dipahami. Sudah tidak kasat mata, kan?

Aku dan Isam segera menduga, Ikhsan sangat terguncang melihat ibunya yang biasanya lincah bergerak kesana kemari, perintah kesana kemari, menjadi motor segala kegiatan …mendadak menjadi begitu rapuh dan tidak berdaya … Bukan tidak mungkin ia takut bahwa aku akan seperti ibuku …

Dengan segera, kami berusaha menyiasati keadaan.
Aku berusaha keras menjadi aku yang biasa. Bersikap seolah tidak ada masalah sama sekali, menahan raut wajah agar tidak mencerminkan sakit atau lemah. Di supermarket itu, kami arahkan ia untuk sigap kesana kemari membantu kami. Lalu, aku temani ia makan siang. Aku mengobrol biasa sambil mengusap punggungnya, mencoba menjelaskan bahwa aku (Insya Allah) menggunakan kursi roda hanya sementara saja. Tanpa menghiraukan reaksinya, aku terus mendongeng menceritakan banyak hal …sesuatu yang selama ini selalu aku kerjakan.

transmart, lunch - Minggu 5 Juli 2015

Ketika ia sudah selesai makan dan pergi menjauh ….Isam bertanya, “kamu gak cerita sama dia?”
Dan aku akhirnya mengakui bahwa aku pun mengalami kesulitan menceritakan keadaan diriku sendiri… Kesalahan fatal ke dua …

Maka….kami menyusun rencana lanjutan *to be continued*

Bersyukur (3)

Sesudah semua urusan umroh rapih, perjalanan masih diresapi, kesan dan pesan masih hangat di dada ….cobaan dan ujian mulai muncul.

Seperti kebanyakan orang lain, aku berangkat umroh berbekal obat-obatan untuk menunda datang bulan. Sayang bukan, kalau sudah jauh-jauh dan mahal-mahal sampai sana lalu tidak bisa beribadah total karena datangnya si tamu bulanan… Entah apakah karena obat itu atau memang sudah waktunya, yang jelas ketika pada akhirnya tamu bulanan tiba di tengah bulan Mei, rasa sakit di perut bawah, datang tanpa permisi dan tanpa ampun.

Rasa sakit itu bahkan terus bertahan meski tamu bulanan sudah pulang.
Mulailah kunjungan ke rumah sakit dilakukan lagi. Dokter penyakit dalam langganan, bingung … Aku bukan pasien yang cengeng, maka ketika aku datang tengah malam dengan sangat kesakitan, dia tahu, aku tidak mengada-ada…
Itu lah awal berminggu-minggu didera rasa sakit …berpindah dokter … sampai akhirnya diketahui bahwa sumber segalanya memang sudah lama sekali ada dalam diriku. Sudah belasan tahun…

Maju mundur, diskusi serius, ke sana ke mari bawa hasil CT scan untuk bahas hasil macam-macam….akhirnya kami sepakat, buang saja penyakit itu. Sampai ke akar, bila mungkin. Tapi itu berarti, operasi besar …resikonya? Aduh, mak.

Sesudah semua hasil tes persiapan menunjukkan aku bisa menjalani operasi, maka persiapan demi persiapan dilaksanakan lagi.
Tim Densus disiapkan.
Kali ini, tidak seheboh bulan April, karena kami masih bisa dijangkau dan tidak ada perbedaan waktu di antara kami.

Masuk rumah sakit Selasa 30 Juni sore, operasi dilakukan Rabu 1 Juli pagi.
Ketegangan menghadapi operasi, tidak terperi. Segala hal mungkin terjadi, bukan? Bisa saja malam ini adalah malam terakhir, bukan? Pasrah, tawakal, dan berserah, bukan hanya di mulut…tapi harus sungguh-sungguh dari dalam hati.

Alhamdulillah, proses berjalan lancar… Hanya satu malam kesakitan sangat sampai empat macam painkiller masuk tubuhku (tanpa guna).. Jumat 3 Juli siang, kami sudah menuju rumah.. Pemulihan di rumah tentu akan sangat lebih menyenangkan, terutama untuk yang jaga aku.

Selagi di rumah sakit, berbagai kejadian membukakan mata, bahwa:

1) menjaga diri sendiri sama pentingnya dengan menjaga keselamatan dan kesehatan anak kita yang autistik…
Kesehatan, asuransi kesehatan, penting diupayakan … Dan itu, tidak mudah !

2) melatih kemandirian anak
Itu adalah aspek yang paling penting. Bukan akademis atau kemampuan bicara, tapi mampu mengurus diri sendiri.
Kita selalu harus menyiapkan anak untuk bisa hidup baik, selamat, sejahtera, meski kita orangtuanya tidak bisa menjaganya (karena pergi atau karena sakit).
Kan ada babysitternya.
Kan ada kakaknya.

Percaya deh.
Ketika anak makin besar, tidak mudah punya ‘orang’ untuk bekerja di rumah kita …dan kakak/adik yang kita minta untuk menjaga dia, pasti sudah punya kegiatan/kehidupan yang menyita waktu serta perhatiannya juga.
Maka, kemandirian adalah hal penting untuk dicapai. Dan itu perlu tahunan!

3) melatih TIM untuk membantu mengawasi TKP selagi kita tidak ada

Tim ini, tidak harus orang yang kita gaji bulanan. Bisa periodik saja. Sesekali kita minta datang ke rumah, mengawasi, dan atau menginap, saat orangtua harus pergi.
Alhamdulillah…ada guru Ikhsan, guru RBT, office girl RBT, supir bis sekolah, sampai ke tukang yang bisa kami minta datang membantu mengawasi TKP.
Kok, mengawasi TKP?
Iya lah. Anaknya gak perlu diawasi. TKP nya aja. Aman gak, dapur? Ada makanan kah? Kalau tidak ada, bagaimana menyiasatinya. Pintu gerbang sudah digembok? Air nyala? Tidur, semua aman? Dan, kalau ada apa apa, tahu bagaimana mengontak kami.
Bagian “mengontak” kami itu sepertinya masih sulit dilakukan Ikhsan. Karena meski ia sudah lumayan mampu, ia tidak merasa perlu untuk berkomunikasi dengan kami. Itu sebabnya kami belum berani meninggalkan dia seorang diri di rumah. Entah sampai kapan…

Ketika seluruh proses operasi sudah selesai dan aku menjalankan pemulihan di rumah, tiduran ….ternyata masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk membuat Ikhsan menjadi “lebih baik” lagi menyongsong masa depannya.

Tidak apa.

Kami yakin, Allah akan bantu hambaNya yang berusaha keras.

Alhamdulillah wa Syukurillah….

Bersyukur (2)

Sesudah Konser “Kita Bisa” sukses dilaksanakan pada Sabtu 25 April … tanpa sempat bebenah atau beberes, kami sudah harus memenuhi jadwal persiapan-persiapan.
Manasik di tanggal 26 April, sudah pasti membuat Ikhsan sendirian di rumah. Memang, maUmmi, pembantu yang biasa ada di rumah, sudah berhenti bekerja karena renta sejak beberapa bulan lalu. Biasanya semua bisa teratasi tapi kali ini kami butuh bantuan dari luar rumah…dan itu yang mulai harus dicobakan…

Mulai Minggu, ketika kami pergi, Ikhsan sendiri di rumah, tapi ada pak Bambang, salah satu gurunya, untuk datang ke rumah. Untuk apa? Jaga TKP.
Memastikan Ikhsan aman, dapur aman, dan tidak terjadi hal-hal di luar rencana…
Selain pak Bambang, kami siapkan juga pak Mawar (tukang yang biasa membenahi rumah), bu Uwie (guru di Rumah Belajar Tata), Indri (office girl di RBT), Eka (supir bis sekolah) untuk menjadi ‘tim Densus’ yang bergantign jaga di rumah saat kami pergi umroh selama total 10 hari…

jadwal jaga ikhsan umroh_2-001

Ketika hari keberangkatan tiba, 30 April 2015, Ikhsan sedang menginap di sekolahnya.
Maka..kami mampir ke Cibubur dulu untuk pamit, baru meluncur langsung ke bandara…

Luar biasa, Ikhsan baik baik saja, tidak ada kejadian luar biasa, dan seluruh tim, benar-benar bekerja sama dengan sangat baik.

Allah Maha Baik.
Allah Maha Kuasa.

Tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali bersyukur, bersyukur dan bersyukur.
Alhamdulillah Wa Syukurillah …

IMG-20150501-WA0006IMG-20150505-WA0000

Bersyukur.. (1)

Beberapa bulan terakhir ini, rasanya seperti dikejar-kejar kalender.

Sejak Januari lalu, kesibukan rasanya luar biasa. Januari adalah bulan bermakna untuk keluarga kami, karena pada bulan itu lah, Ikhsan berulangtahun. Di tahun 2015 ini, usianya sudah 24 tahun. Sudah dewasa. Tapi karena ia autistik, tentu makna ‘dewasa’ menjadi sangat berbeda.
Bulan Februari, bulan penting, karena salah satu keponakanku, menikah. Tentu kami tersita perhatian ke acara tersebut, karena rangkaian acaranya memang lumayan banyak. Bagiku, acara itu menjadi menegangkan bukan karena acaranya atau pengantinnya, tapi lebih karena aku harus bertemu orang-orang yang masuk kategori ‘enggan untuk ditemui’. Malesin, bahasa gaulnya.

Tapi justru di bulan februari itu, aku sempat bercakap-cakap dengan bapak. Membahas situasi domestik, keuangan, perencanaan… Sampai ke diskusi, ‘mungkinkah kita pergi haji?’. Masalah yang sangat mengganjal adalah bahwa kami kemungkinan besar harus pergi sebagai jamaah ‘khusus’ yang pergi dalam waktu sesingkat mungkin. Bukan sok-sokan tapi lebih karena mengkhawatirkan Ikhsan. Sementara itu, program ‘khusus’ nilai nominalnya tidak main-main, setidaknya untuk kami. Selain itu, aku juga mengkhawatirkan kondisi fisikku.. Akankah aku berada pada kondisi oke manakala giliran kami tiba kelak…bukankah waktu giliran itu bisa mencapai 10 tahun? Duuhh…
Akhirnya Bapak mengusulkan supaya aku cari travel yang ‘cocok’ dari sudut biaya, waktu, jumlah peserta dan rancangan kegiatan .. Tentu semua dilakukan dengan harap cemas, takut gak jadi !

Maret tiba, waktu dan perhatian tersita untuk mengurusi tiga unit lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Lentera Asa Peduli Autisme, yang semua di bawah pengelolaanku. Mengurusi Rumah Belajar Tata, baik balita maupun usia sekolah, sudah cukup menyita perhatian. Apalagi, beredar wacana kemungkinan pengunduran diri salah seorang kordinator yang sudah sangat handal, sangat bisa dipasrahi macam-macam. Duh, serasa satu tanganku mau diputus paksa. Tapi gimana lagi? Masa anak orang mau kita ikat?? Selain mengurusi RBT, aku harus mondar-mandir ke Lentera Asa, mendampingi mereka sesudah Penanggung Jawabnya hengkang tidak tahan terhadap tuntutan pekerjaan (yang lama tidak dijamahnya). Apalagi, Maret itu, kita semua bersiap menghadapi acara penting Yayasan: Konser ‘Kita Bisa’.

Konser?
Apa itu?

Iya.
Aku bercita-cita memberikan wadah dan kesempatan untuk semua anak-anak di RBT dan Lensa, untuk ‘unjuk kebolehan’ untuk ‘menjadi diri sendiri’. Maka dikemaslah acara setengah hari untuk mereka. Dan itu akan diadakan di akhir bulan April. Tentu Maret menjadi bulan penuh persiapan. Mulai dari seragam guru, gerakan siswa, shooting siswa, videoklip siswa, sumbangan acara para guru (dimana aku terlibat)… Ddduuuuhhhh… otak rasanya berceceran.

Di tengah persiapan itu, aku terus menerus mencari informasi dari beberapa teman dekat, untuk bisa memilih travel yang ciamik … Akhirnya aku memilih memakai NurTaqiPutri. Kelompoknya kecil, pimpinannya adik kelas di SMA, temanku sudah memakai jasanya beberapa kali. Sip. Sudah ‘tap’ untuk tengah buan Mei. Sip.

Maret selesai, tiba lah bulan April. Bulan Peduli Autis.
Ah, tanggal 2 April kami sempat ikut ke Monas. Kesannya tidak menyenangkan, karena ikhsan sempat ‘lenyap’ dari pandanganku dan itu membuatku sangat panik. Bagaimana tidak. Monas di malam hari. Gelap gulita. Ya Allah, ikhsan, kamu dimana?
Pengalaman menegangkan dan sangat tidak menyenangkan …karena disitulah aku tertampar dengan fakta bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang yang peduli pada saat aku adalah ‘seseorang’ dan tidak peduli ketika aku bukan siapa-siapa. Alhamdulillah Ikhsan kutemukan sendiri, dan kami pulang dengan perasaan galau. Basah kuyup karena hujan, dan hati luka. Dalam.

April tanggal 6 ketika aku berulangtahun, bapak menyempatkan diri menemani aku mencari kantor NurTaqiPutri untuk menyerahkan berkas. DOR! kami dikagetkan dengan berita bahwa keberangkatan tanggal 18 Mei mungkin dibatalkan karena kurang peserta. Sebaliknya, ada rombongan yang berangkat tanggal 2 Mei. WHAT ! Sebentar lagi ! Haduh, bagaimana? Masa bilang ‘tidak’ ??
Akhirnya dengan mengucap ‘bismillah’, kami iya-kan untuk memajukan keberangkatan menjadi tanggal 2 Mei.

Aku kembali fokus pada menyiapkan acara Konser.
Mendekati hari H, makin banyak hal yang harus dibenahi.
Sukses kah acaranya?
Sepertinya sih, iya…mengingat beberapa guru meminta aku untuk ‘rutin’ ya, bu … :)

Acara Konser selesai, kami fokus pada persiapan keberangkatan…yang ternyata …maju ke tanggal 30 April ! Ulang Tahun Bapak !

Ya Allah, indah sekali hadiahMu.

Bagian paling penting dan genting tentunya adalah menyiapkan tim yang akan dititipi Ikhsan…
Haduh.
Bagaimana ini?
Di rumah tidak ada pembantu sama sekali.

Jadi?

*to be continued*

Menatap rasa

Rasa.

Kata itu, maknanya sangat beragam.
Bisa berkaitan dengan indera pengecap, menjabarkan apa yang kita masukkan ke dalam mulut; tetapi bisa juga berkaitan dengan indera peraba, menjabarkan sensasi yang terekam oleh ujung jari.

Bisa juga, menggambarkan apa yang ada dalam hati. Lubuk terdalam. Sensasi yang terekam jauh sebelum (dan sesudah) akal atau nalar bergerak untuk berpikir….

Rasa, beragam dalam hidupku.
Berganti dengan cepat, dari indah ke buruk, dari nyaman ke sangat tidak nyaman, dari enak ke gak enak banget. Roller-coaster, wahana paling ciamik menggambarkan naik turunnya ‘rasa’ dalam hidupku. Sebenarnya mungkin sejak masa kecilku…tapi karena lahir dan dilatih untuk ‘tidak bahas hal pribadi’ jadi sepertinya tidak pernah dibahas juga (meski kalau diingat dan dikaji sekarang, pasti pengalaman masa lalu berdampak mendalam terhadap perkembangan kepribadian, kan?)

Roller-coaster itu, menjadi luar biasa rumit sejak sekitar lima tahun lalu.
Kalau menoleh ke belakang, rasanya takjub aku bisa melaluinya tetap dalam kondisi utuh baik lahir maupun batin.

Utuh?
Yakin?

Hm.

Ikhsan, dan ‘ya’ – ‘tidak’

Komunikasi itu, penting. Harus diperjuangkan. Meski, anak kita autistik dan non-verbal.

Eh, malahan harus makin diperjuangkan, deng…kalau anak kita autistik dan non-verbal. 

Seperti Ikhsan. 

Hari ini ada bbm dari gurunya “Bu, Ix sakit?”. Ha? Aku jawab sigap “kenapa? tadi berangkat sih gapapa”.

“Di kelas pegang kepala. Lalu ditanya, sakit? Iya. Sakit apa? Ikhsan jawab, ‘kepala’. Ikhsan pusing? ‘iya’ ..”

Maka aku langsung kasih tahu gurunya, tanya aja, mau minum obat gak. Kalau mau, kasih panadol biru 1,5 ya. Makasi ya. Eh, demam gak?

“Iya, bu. Mau minum obat.. Enggak bu. Gak demam”.

Duh. Bayangkan betapa pusingnya aku, manakala dia yang sudah 23 tahun dan berbadan sangat besar itu, terus menerus meraung-raung karena sakit kepala dan tidak ada yang paham apa yang ia rasakan. Atau, ditanya tapi tidak tahu harus jawab apa. Atau, ditanya tapi tidak bisa menjawab karena tidak diajari untuk menuliskan atau mengetik atau memegang simbol ‘ya’ dan ‘tidak’.

Alhamdulillah, ya Allah. Terimakasih ibu guru yang sudah banyak membantu sampai Ikhsan bisa seperti ini. 

Ikhsan, kamu keren. Love you just the way you are. *cium jauh*

 

 

 

Screen_20140317_123812

Screen_20140317_123835

Screen_20140317_123854