remaja…

 “Ta, gimana sih? Masa Ikhsan masih dipakaikan sprei dan baju Sesame Street. Kan dia sudah 10 tahun. Sudah besar!”, begitu kuingat teguran Ina bertahun-tahun lalu. Aku seperti tersengat listrik. Iya, betul juga…seharusnya Ikhsan sudah kuperkenalkan tokoh-tokoh lain yang lebih sesuai untuk usianya, sudah diminta memilih baju sendiri, sudah tidak lagi menggunakan perlengkapan yang kekanak-kanakan…Sejak teguran itu aku segera mengganti berbagai hal di rumah. Sprei, peralatan makan, tas sekolah, pakaian, sepatu, semua aku ubah…“Ta, tadi aku ajak Ikhsan ke taman. Aku gak mau gandeng dia seperti anak kecil. Tapi aku pegang lengannya seolah dia yang arahkan aku. Anakmu sudah besar, lho!”, kali ini Unie mengingatkan aku untuk memperlakukan Ikhsan seperti anak yang sudah berkembang dewasa…   Peringatan-peringatan Ina dan Unie, dua teman dekatku di Mandiga, Mandiri dan Bahagia, sekolah khusus anak autistik yang aku kelola itu, mewarnai perubahan Ikhsan dari ‘anak-anak’ menjadi ‘pra-remaja’. Aku teringat kembali kepada sudut pandang yang aku ambil bertahun-tahun lalu ketika Ikhsan pertama aku diagnosis sebagai individu autistik. Ketika itu aku sampai pada kesimpulan bahwa bila aku tidak membantunya untuk berubah, ia tidak akan berubah. Ia akan bersikap sama seperti sekarang, sampai entah kapan….

Aku lalu menetapkan banyak perubahan. Bukan saja dalam hal perlengkapan atau benda di sekitar anakku, tetapi juga dalam gaya aku menghadapinya. Aku mengubah gayaku berbicara dengannya. Aku menanamkan hal baru padanya “Ikhsan tidak boleh minta pangku lagi. Sudah besar, sudah tidak cocok lagi”. Ikhsan mulanya seperti bingung. Akan tetapi karena hal ini tidak membuat aku mengurangi intensitas percakapan dan kedekatan hubungan kami, dengan cepat Ikhsan menyesuaikan diri. Kadang ia masih datang padaku untuk minta dicium kening atau pipinya, dan itu biasanya aku penuhi dengan suka cita. Tapi selain daripada itu, sikap Ikhsan banyak sekali berubah sejalan dengan sikapku yang berubah dalam menghadapinya. Memang benar. Anak akan berubah sesuai dengan apa yang kita para orangtua terapkan. Bila kita tetap memperlakukan mereka seperti anak kecil, mereka tidak akan berkembang menjadi dewasa. Sebaliknya, bila kita mulai tanamkan berbagai tanggung jawab kepada mereka, maka mereka juga akan mengemban tanggung jawab tersebut dengan lapang dada….Ya, ungkapan berikut ini rasanya ada benarnya… Children are like wet cement. Whatever falls on them makes an impression….

*baca kelanjutan cerita dalam buku ke-dua Dyah Puspita = WARNA-WARNI KEHIDUPAN*

cover_dpn_2.jpg

3 thoughts on “remaja…

  1. minta informasi tentang autis di Pontianak, alamat yang bisa dikunjungi, siapa yang harus dikunjungi. Saya pernah ikut seminar autis dengan pembicara bu Dyah di Auditorium UNTAN Pontianak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s