Cita-citaku…

Sewaktu aku kecil, aku punya cita-cita untuk buka penitipan anak. Ha? Iya. Penitipan anak. Penitipan untuk anak-anak yang kurang beruntung, yang butuh perawatan khusus dan perhatian ekstra dari lingkungan terdekat untuk bisa berkembang ‘sehat’ baik fisik maupun mental. Itu sudah ada di pikiran aku sejak aku masih SD atau SMP gitu.
Ibu aku tahu tuh, cita-citaku itu. Beliau juga tahu how much I love children. Nah, ternyata aku kekeuh kepingin sekolah Psikologi. Padahal gak dikasi ama orangtua tuh, waktu itu. Mereka inginnya aku jadi dokter (alamaakkk…) atau kalau gak mau, ya jadi apoteker atau ahli kimia deh..Soalnya “katanya”, nilai-nilai aku di rapor kan bagus (ehm). Tapi entah kenapa, aku kok gak suka ya? Gak kebayang kalau aku jadi dokter betapa mengerikannya hidup aku harus berurusan sama darah, suntikan dan berbagai penyakit lainnya yang bikin serem.

Begitu aku ternyata keterima di Psikologi UI, aku ya berusaha keras untuk lulus dong. Lha wong kepingin sendiri. Alhamdulillah akhirnya selesai, tapi kerjanya gak ada hubungannya ama anak-anak! The first five years aku kerjanya urusan recruitment, selection, bahkan headhunter! Dan yang paling bikin gak enak adalah aku harus mecat-mecatin karyawan gara-gara manajemen perusahaan yang error. Wadoh…aku banting haluan lah, akhirnya menekuni bidang yang aku suka: mengajar.

Hah? Mengajar? Iya. Sewaktu masih mahasiswa, aku kan udah jadi guru. Guru piano sih…dan murid-muridnya kecil-kecil, lucu-lucu..yang menggemaskan gitu.. Nah sewaktu aku bete urusan kerjaan di perusahaan (dan anakku bermasalah), aku akhirnya memutuskan untuk berusaha jadi guru bahasa Inggris. Ikutan tes, lulus. Ikutan training, lulus. Akhirnya jadi deh, guru bahasa Inggris di LIA. Malah sempet jadi supervisor segala! Tapi lagi-lagi…masih belum berhenti disini. Kesehatan aku terganggu, dan aku juga dapet tawaran untuk bekerja di dunia yang aku suka, yaitu dunia anak-anak. Tawaran apaan? Iya. Tawaran untuk bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak autis di sebuah sekolah yang baru mau akan dibuka. Anakku jadi bisa sekolah disitu secara bebas biaya kalau aku mau. Ya mau, dwongs… Kalau aku gak mau, begok namanya

Jadi sekarang…cita-citaku untuk bekerja di lingkungan yang bergelimang anak-anak, tercapai sudah. Setiap hari aku berurusan dengan anak-anak. Segala bentuk dan rupa, deh!

Nah, untuk mewujudkan ‘idealisme’ aku membantu anak-anak autistik meraih kualitas hidup yang makin baik, aku didukung oleh sekumpulan “orang-orang hebat”. Mereka adalah guru dan staf sekolah Mandiga. Kenapa aku sebut mereka “orang hebat” ? Ya hebat lah…. Mereka gigih setiap hari berjibaku memperjuangkan perbaikan bagi anak-anak..padahal, gak gampang lho!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s