‘autism is my middle name’ – part 2

Dalam rangka bulan peduli autisme, selain iklan layanan masyarakat, ada aja media cetak yang menerbitkan artikel tentang autisme dan keluarganya.
Gak tau kenapa, kok aku lagi, aku lagi yang diwawancara. Apa karena aku yang berani cablak tentang kondisi autisme, atau karena aku semangat, atau karena peran aku yang ‘multi’ ? Kan aku selain jadi ibunya Ikhsan, aku juga jadi psikolog, pengelola sekolah, pelatih pula. Mungkin…

Tapi apapun, rasanya ironis banget kalau diinget.
Pas weekend panjang kemarin itu, selain Ikhsan di-shoot untuk iklan layanan masyarakat, aku juga diwawancara untuk artikel media indonesia. pake foto2 lah sama ikhsan gitu. Nah, besoknya, sabtu malemnya (wawancara sabtu pagi) Ikhsan panas tinggi. Jadi hari Minggu aku memberanikan diri untuk ambil darah dia di rumah sakit.

Huhuhu… Begini nih, prosesnya…

Tadi nekad bawa anak (eh, gak pantes dibilang anak!) umur 17 tahun
periksa darah di lab RS deket rumah.
Udah pake pemberitahuan sebelumnya, udah dibujuk. Udah dikasi
pengertian bahwa ikhsan sakit, harus periksa darah. Bawa balakurawa 2
pembantu dan 1 keponakan laki.

Koperatif?
huh. Ngayal.

Dari pertama masuk pintu RS udah tereak2…ngebangunin mayat di rumah
sakit… duduk gak mau deket pintu lab. Begitu dipanggil “ikhsan”
…dia pura2 budeg. Malah duduk di lantai sambil tereak2.
Perjuangan berat akhirnya masuk ke dalam ruangan lab. Selesai? Huh, ngayal.
Dia duduk lagi guling2an di lantai, tereak2. Setengah mati membuat dia
berdiri, malahan lari ke dalam ruangan lab. Tereak2 lagi, tarik2an,
guling2an… Terus dia lari duduk di kursi yang beroda, yang buat
ambil darah. Huh. Mantri udah dateng. Petugas lab ada dua cewek siaga.
Huh.
Aku tarik aja sekursi-kursinya mendekat ke tempat tidur tempat buat
ambil darah. Dia akhirnya naik ke tempat tidur. Mau, karena ibunya
dengan bengis bilang “HARUS. KITA TIDAK PULANG SAMPAI IKHSAN AMBIL
DARAHNYA.” (haduh… mati aku, begitu mungkin pikir Ikhsan… bodo
amat… lha wong aku udah bayar 435ribu !! masa pulang??? itu duit???
HUHUHUHU)…

Begitu dia naik ke tempat tidur, aku naik ke dada dia. Satu pembantu
megangin kakinya, satu pembantu megangin kepalanya, keponakan dan
mantri dan satu petugas perempuan megangin SATU TANGAN yang mau
diambil darahnya itu. Duh, sempet berontak sampai aku hampir jatoh
dari tempat tidur yang tinggi itu !!!

—hasil darah masih mau didiskusikan sama dokternya Senin sore… in the meantime aku harus uber2 dia terus untuk minum yang banyak supaya bisa ngelawan panas en ngencerin darah…

Sayang pas ambil darah gak ada yang shooting. Tuh, baru gambaran sesungguhnya keluarga dengan anak/individu autistik. Problematikanya kayak apa, nah itu baru kelihatan…

Huhuhuhuu….beteeee….

One thought on “‘autism is my middle name’ – part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s