alat bantu

Tidak ada satu pun orang di dunia ini, diciptakan sempurna.
Misal pada awalnya disangka sempurna, lamalama pasti akan menjadi tidak sempurna juga lahh…

Kalau sudah mengalami kesulitan dalam banyak hal, alhamdulillah, kita semua dikaruniai ‘akal’ untuk mencari jalan keluar mengatasi permasalahan kita. Alat bantu, ada macam-macam disekitar kita.

Tidak bisa jalan karena cenderung limbung? Don’t worry…

Sulit bicara, tapi bisa berkomunikasi dan bisa baca-tulis dan mengetik?

Nah…buat aku, alat bantu paling mujarab akhir-akhir ini, ada beberapa.
Tanpa yang ini, buset dah…rasanya LUMPUH !

Tanpa yang ini, huhuhuhu…panik. Lha wong semua data ada disini.

Nah, kalau yang ini dua, harus. Maklum. Faktor “U” sekarang dominan, jadi kalau klien berganti-ganti di depanku, sementara harus bikin laporan, yaaaaa musti direkam dan dipotret dong biar gak ketuker?


Tapi kalau lagi gak kerja (atau kadang juga sambil kerja sih), pasti kita semua butuh hiburan dong. Nah, siapa sih yang gak cari-cari benda ini???

Alat bantu?
Siapa takut!

2 thoughts on “alat bantu

  1. ai says:

    Ass..met puasa u bu dyah.., saya seri bu biasa dipanggil ai. sebelumnya sy mau bilang, buku ibu warna-warni kehidupan kerenn..bgt. kadang saya sampai terharu dengan semua perjuangan ibu sebagai ibu, dan sebagai orang yang sangat dibutuhkan masyarakat banyak. wow..malah ok main piano, klasik lagi..kagum u bu dyah..(like wonder women)
    Tapi jadi malu, sy bisa-bisa nya gak tau ibu yang nama nya ibu dyah waktu sy pernah ke mandiga taon lalu (maluu…) sampai ibu ke medan seminar bareng ibu adriana, btw, semua yang ibu tulis tentang ihsan dan mandiga bener2 bacaan yang gak membosankan. saya baru tau tentang autis wkt 2 tahun ini, waktu saya ngajar di tk, dan disana juga menerima anak yang berkebutuhan khusus, sakin tertariknya saya sampai mengambil skripsi tentang autis. tapi saya benar2 kesulitan dengan teori2 tentang verbal anak autis. saya mohon reverensi buku dari ibu..
    Mungkin ibu tidak ingat sy, tapi waktu orang tua murid saya(saya guru pendamping) yang bernama “hana” konseling dengan ibu di home schoolling-medan saya ikut. saya kaget dengan spontanitas cara didik ibu waktu membuang kue yang diambil hana wkt itu, tidak ada sedikitpun celah untuk dia berperilaku buruk, saya rasa saya gagal bu u jadi guru pendamping, karena aturan yang saya buat gak konsisten di jalankan di rumah. saya juga tidak bisa pelan-pelan meninggalkan murid saya dan hanya bisa mengawasi dia, karena dia sangat tergantung orang lain. saya bingung apa yang harus saya lakukan lagi. Semua saran ibu waktu konseling jg tidak ada yang dijalankan. saran untuk pindah sekolah juga tidak ada kelanjutan. Mohon saran ibu lagi untuk saya bisa lebih baik mengajar.
    thanks bu dyah untuk tetap berbagi ilmu…

  2. Hai, Ai…
    Aduh, saya mah, ibu biasa. Bisa meledak juga, bisa inkonsisten juga. Biasa-biasa aja lah pokoknya.
    Kalau tentang murid kamu, jangan kecil hati. Saya sih gak terlalu heran bahwa usulan saya bisa aja gak dijalanin. Itu sudah biasa. Mau bilang apa. Yang penting, kamu jangan lupa bahwa orangtua yang harus pegang peranan. Kamu sendiri sebagai guru pendamping dia, tetapkan aturan yang kamu pikir benar. Biar nanti anaknya yang memilah, bersikap bagaimana kepada siapa. Pengalaman saya sih, kalau kita konsisten dan jelas aturannya, anak mudah kita atur. Sebaliknya, kalau kita gak jelas maunya apa, anak juga susah diatur. Nah, kamu mauu punya murid seperti apa?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s