Cemas..

Autism, dan berbagai masalah kesulitan belajar dan gangguan perkembangan anak, sudah lama jadi bagian dari hidupku. Ya sesudah Ikhsan pasti memang ditetapkan (oleh aku) sebagai individu autistik sesuai berbagai gejala yang ia tampilkan, aku mau tidak mau mempelajari makin mendalam berbagai ciri dan ilmu tentang itu.

Sejak beberapa tahun terakhir, aku juga praktek psikologi yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus. Jadinya banyak sekali ketemu orangtua yang bercerita dan berkisah serta berkeluh kesah tentang putra/putrinya yang tentu saja punya aneka masalah (ya kalau gak punya masalah, masa dateng ke aku?). Salah satu fakta yang menarik (yang pertama diutarakan oleh dr. Melly, ketua yayasan autisma indonesia dan dr. Hardiono, dokter syaraf anak senior) adalah bahwa sebagian komunitas anak bermasalah itu, perkembangan motorik ketika di bawah satu tahun tidak biasa. Apanya yang tidak biasa? Merangkak. Sebagian tidak merangkak sama sekali ! Langsung dari duduk, coba-coba berdiri, dan lalu belajar berjalan. Tidak jarang malah bukan jalan tapi langsung lari.

Yang merangkak pun, kadang ada yang cirinya ‘khas’. Yaitu, kaki menapak ke lantai, bukannya merangkak dengan lutut.
Yang langsung lari tadi itu, malahan sebagian dikomentari begini oleh orangtuanya, “dia langsung lari, dan sejak lari, sampai sekarang gak bisa diem, bu… hiperaktifnya ampun-ampunan”. (dan si anak sudah umur 8 tahun waktu ibunya ngomong).

Hal serupa ternyata juga dialami oleh keponakan ku, si Widi.
Masa-masa di SD rupanya lumayan ‘kelam’ karena banyak permasalahan di kelas. Ibunya sempat harus membawa ke Suryakanti, lembaga khusus untuk anak berkebutuhan khusus di Bandung. Sempat disarankan untuk terapi, karena konsentrasi Widi gak bagus. Waktu itu, diagnosis malahan ADD (attention deficit disorder) karena Widi susah sekali fokus dan cenderung jadi satpam, mondar-mandir. Motoriknya gak bagus…jadi ya harus diterapi itu tadi.

Masalah yang mulanya tidak masuk dalam pemikiran ku (kan ikhsan udah jelas autis, kan Widi udah keluar dari permasalahan dan sudah jadi S1)….eehhh, terpaksa musti dipikirin lagi. Lho, kenapa?
Senja.
Iya.

Sudah sejak kedua keponakan aku itu hamil, aku sudah cemas.
Ya gimana dong. Aku kan udah ngalamin susahnya punya anak bermasalah. Ya jelas aku gak mau orang-orang yang sangat aku sayangi, harus melalui hal yang sama. Gak mau! Makanya aku cemas.. Kenapa sih kok cemas? Belum ada penelitian yang mengatakan ini itu sih tentang generasi kedua sesudah ada anak autis dalam keluarga. Yang sudah jelas, bahwa kalau ada anak autis dalam keluarga, anak lain bisa 15% punya masalah juga…meski gak harus autis. Udah gitu, di keluarga besar aku, kan juga udah jelas ada 3 sepupu aku yang anaknya autis juga. Semua dari garis keluarga besar ibu ku. Jadi yaaaa…memang aku cemas, itu aku akui.

Sehubungan dengan kecemasan itu, aku jadi banyak baca dong .. Dan memang, disarankan untuk supaya merangsang anak-anak merangkak sebanyak mungkin sewaktu mereka masih 8-11 bulan. Gunanya supaya sinyal-sinyal otak, aktif. Seperti brain-gym gitu lah. Gerakan merangkak kan susah! Kaki ditekuk, gerak ke depan yang kanan, sementara tangan yang kanan yang di depan, lalu bergantian. Itu harus fokus untuk bisa mencapai target tertentu. Bisa dibayangkan, bayi yang berusaha mencapai mainan tertentu yang menarik, yang diletakkan nun jauh di depannya dia, harus menggerakkan berapa juta simpul syaraf di otaknya, coba? Nah, latihan ini yang seharusnya digalakkan. Ya supaya simpul syaraf di otak aktif. (nemu kok, beberapa link di google yang bahas masalah crawling dalam milestone development).

Maafin Eyang Tatah yang pencemas ini, ya, Senja. Kamu kepingin jalan, ya? Duh, ntar aja deeehhh… Kamu kan baru 9 bulan… Merangkak aja dulu deeehhhh….
Yang membingungkan kami semua adalah, anaknya maunya jalan. Jadi gimana dong? Apa ya terus diiket supaya mau duduk? Apa ya terus menerus dilarang?

Hm.
Mungkin yang paling bijak adalah, “memancing” dengan menggelindingkan berbagai mainan sehingga ia turun lalu merangkak untuk mengambil.
Eh, jadi inget. Anak2 cerebral palsy dan anak2 autis sekarang lagi digalakkan untuk crawling, patterning dan berbagai hal lain (yang gerakannya adalah gerakan bayi) untuk dilakukan agar otaknya aktif. Dan itu diterapkan meski anak sudah berusia belasan tahun sekalipun !! (metodenya namanya Glenn Domann… sudah terbukti untuk anak-anak Cerebral Palsy memang).

Selebihnya? Ya tentu selalu berdoa supaya Senja-Ibu dan Dada dijauhkan dari masalah. Juga Pelangi-BG dan yayah, supaya juga dijauhkan dari masalah…. apapun bentuknya. Amin.

One thought on “Cemas..

  1. hani says:

    Widi selain merangkak dengan kaki menapak, pertama jalan adalah lari.
    Inget banget, karena tertarik timbangan warna kuning. Tahu2 berdiri dan lari.
    Jalannya bahu agak mengangkat, mungkin untuk keseimbangan. Kapan2 dikirim fotonya.
    Sayangnya, informasi bahwa bayi harus merangkak dengan benar kagak ada waktu itu.
    Baru tahu kalau ada hubungan terlalu cepat jalan dengan konsentrasi, waktu Widi kelas 3 SD, atau 8 tahunan gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s