rasanya seperti ditusuk-tusuk…

Entah mengapa, akhir-akhir ini rasanya kok lelah lahir batin. Mungkin karena sebulan puasa, lalu dua minggu terakhir kerja bakti di rumah berperan multiple sebagai tukang cuci, koki, supir, penjaga anak, pelatih, guru, perawat, bersih-bersih…dan…mahasiswa.
Begitu asisten dateng, udah langsung masuk ke peran sulit sebagai mahasiswa yang harus menaklukkan tugas aneka rupa dan menghadapi dosen yang aneka rupa juga (masa ada yang ‘jiper’ ngliat gw? ada yang ‘grogi’ karena udah kenal dari gw masih kelas 1 SMP… dan ada yang bolak balik menghina kami dengan kata-kata “kalian ini bisa apa nanti kalau sudah lulus?”).

Maka.
Atas nama kelelahan mental itu.
Ketika ada komentar yang ‘kurang nyaman’ tentang bunyi-bunyi yang dikeluarkan ikhsan … rasanya dunia mau runtuh.
Kejadiannya sederhana.
Lagi telpon-telponan sama temen dekat. Udah kenal lama banget, tapi dia gak pernah ketemu Ikhsan. Jadi ketika dia lagi telpon dan Ikhsan teriak, dia tanya, “suara apa itu? suara d****ie?”. Segera aku tutup telpon, dan aku terjerembab di tempat tidur, telungkup tersedu sedan.

Lho? Kenapa?
I don’t know.
It just broke my heart aja.

Mungkin kalau orang lain yang ngomong, atau mungkin kalau kata-kata itu sampai ke telinga pada saat mental lagi kuat, reaksi gak seperti ini. Tapi yaaaa… rasanya aku manusia biasa deh. Maka hancurlah hatiku.

Aku gak marah, gak dendam. Sama sekali gak.
Masalahnya sederhana kok. Orang itu, dan orang-orang lain, tidak pernah ketemu Ikhsan dan teman-temannya sehingga tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘autis’ itu…
But, still.

Seperti yang aku tulis di sms ku ke temen-baik-ku itu: “U broke my heart. Hurts. To the core of my soul”

Hiks.

On the other hand, without meeting this person face-to-face, how would we know that he can not talk and just produces sounds (loud ones) instead ??

Whatever lah.
This is going to happen for the rest of my life, kayaknya.
Whatever situation happens to me, whatever comments people give me, I still love him with all my heart.
Itu tidak akan berubah.

10 thoughts on “rasanya seperti ditusuk-tusuk…

  1. Ibu Ita membaca cerita ini aku ikutan nangis bu..aku terharu tenyata perasaan itu pernah dan masih sering aku alami juga bu…padahal seharusnya seperti kita who have been through this for so long seharusnya sudah nggak di tahap se sensitif itu lagi ya Bu..?!..Selama disini aku merasa ‘nyaman’ sedikit lah bu karena disini kebanyakan orang sudah tau autis,,,kalaupun tak tau autis tapi dengan melihat Axel yg sering bersuara-suara aneh aja mereka yg dengar dan melihat sudah sadar bahwa anakku itu cacat…nah sekarang aku kembali was-was bu ini mau pulang ke indonesia bulan depan selama 3 minggu, ketemu seluruh keluarga besar dan teman2..mereka belum pernah lihat axel seperti sekarang ..karena sebelumnya axel itu hanya ‘diam’ ..entahlah ..mudah-mudahan mental kami sekeluarga yg sudah siap akan bisa mengatasi komentar2 yg mungkin ada dan menusuk hati seperti yg ibu Ita rasakan…Selalu minta kekuatan dari Tuhan ya Bu…kita saling mendukung Bu…..semoga Ibu Ita sekarang sudah tenang dan bersemangat kembali…Salam…

  2. Maknya Hanif says:

    Bu Ita, rasanya ikut ketusuk juga, sumpah.
    Sing sabar yo Bu. Benar mungkin karena lagi capek ya jd sensiy banget.
    Wkt Hanif belum verbal juga keluar suara yg tdk wajar. Sekarang yg masih sering keluar suara spt anak kecil main mobil2an. Tetangga dan keluarga besar alhamdulillah sudah mafhum, tp kalo tamu2 baru, melihat dng pandangan yg gitu deh… Saya merem aja, sekalian aja kampanya autis.
    Saya percaya kok, Bu Ita bisa lalui semua, everything gonna be fine..
    Salam,
    Yuyun

  3. Terimakasih buat Ibu Ita yang udah share pengalaman pribadinya buat pengunjung semua.

    Pengalaman Ibu Ita cukup memberi inspirasi buat kami.

    Ayo… kita saling mendoakan bu…

    Oh.. iya.. sebelum komentar ini diakhiri, kami juga titip salam buat Iksan…

  4. Kapan-kapan main lagi ke Palangka Raya bu… Banyak saudara di Palangka Raya yang memerlukan bantuan & dorongan motifasi dari Ibu

    Ditunggu ya Bu Ita kedatangannya lagi di Bumi Isen Mulang

    Sukses buat Bu Ita🙂

  5. deean says:

    Sepertinya seiring bertambah gedenya Farrel, hal ini akan jadi bagian hari2ku, Bu Ita.
    Mudah2an Allah memberi kita kekuatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s