Duh… ‘kasihan’…

Terjadi lagi tadi.
Teori tentang komunitas autisme, dipatahkan lagi nih, sama si Unyil ku yang setinggi Monas.
Dia memang akhir-akhir ini banyak memberikan kejutan buat ku. Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. Alhamdulillah, hari ini, masuk golongan pertama = menyenangkan.

Hari ini sesudah membantu mengasuh ‘cucu’ku si Senja di hotel Santika (ini baca di blog emaknya aja entar ah, ceritanya lebih seru kalo dari tangan emaknya), aku ke Mandiga dan segera sibuk dengan berbagai kesibukan…. Tiba-tiba ada sms dari Ikhsan yang sedang belajar di rumahcipinang.

Ikhs: ‘ibu ida sakit’ (ibu ida adalah gurunya yang 3x seminggu datang ke rumah)
Aku: ‘sakit apa?’
I: ‘pilek batuk’
A: ‘datang ke rumah cipinang?’
I: ‘ya belajar’
—aku pikir, sudah selesai nih laporannya… So… I was very surprised ketika muncul lagi sms dari dia—

A: ‘kasihan’
—aaahhhh, Ikhsan kasihan? Aduh sayangku, kamu kasihan sama gurumu yang sedang sakit, ya?—

I: ‘iya, ikhsan tidak nakal ya’
A: ‘belajar baik’
I: ‘bagus itu… ikhsan kasih tisu ke ibu ida’
A: ‘sudah’
WOW… anak baik (ini pasti nurun ibunya).

I: Ibu Ida diam sedih

–ddduuuhhh…my son is so sweetttt… deeeehhh…— sampai, kemudian, muncul sms berikutnya:

I: Kamis 27 November 2008 Ikhsan main mandiga
HALAH… mau apalagi neeeehhhh??
A: Boleh..mau apa?
I: lihat teman
JIIEEEEE….
A: Sebentar ibu tanya ibu Ida dan bibi dulu.
Nah, jawaban berikutnya sangat mengagetkan dan lumayan ‘menyebalkan’.
Ikhsan: harus mau.

Hahahahaaaaaa….

Sesudah itu aku diskusi dengan guru2 yang pegang Ikhsan anakku itu bertahun-tahun. Pertanyaan aku sederhana, “apa yang sudah aku lakukan, yang membuat Ikhsan bisa mengatakan ‘kasihan’ ketika melihat orang lain sedang sedih atau sakit…berarti, dia sudah punya empati”.
Kata guru-gurunya, “sepertinya karena Mbak Ita sering sekali memberikan contoh dan memberikan kata-kata untuk perasaan atau kejadian-kejadian di sekitar ikhsan sehingga dia mengerti. dari contoh nyata gitu lho, mbak”. Hm, makes sense.

Anyway, bytheway, busway… kalau pada anak autistik yang terkenal tidak punya rasa empati ternyata bisa diajarkan rasa empati, kenapa ya, susah betul mengajarkan empati kepada orang-orang pintar di seluruh Indonesia ini?? Wallahu alam. Terserah. I just feel happy… Muah my boy. You are splendid !

3 thoughts on “Duh… ‘kasihan’…

  1. Alhamdulillah, bahagia banget saya bacanya….. Kalo Satria anak saya, anak autistik berumur 10 tahun, kalo soal empati dia jagonya, kalo ada temannya di agca center diprompt sama terapisnya ga boleh sama dia, kalo berbuat salah dia minta maaf dengan cium tangan dan peluk2…. Mudah2an nanti bisa berkomunikasi lebih intens seperti Mas Ikhsan ya Bu…

  2. Wah… ringan aja postingannya bunda… tapi informatif banget jadi pengen nulis juga tentang penjabaran posting bunda yang satu ini.

    Perkembangan baru tuh bunda buat mematahkan teori terdahulu… mantap banget… jadi makin semangat.

    Klo bunda ada waktu review blog saya juga ya… takut ada yang keliru🙂 soalnya masih hijau di dunia autis.

    Oh.. iya… sekalian ijin mo pasang link di blog saya ke alamat blog bunda ini… boleh… ya?…ya?… ya…? boleh dong bunda….🙂

  3. sekar says:

    ..senang banget baca cerita bunda…semoga bisa jadi contoh yg “konkrit” jg buat para ortu🙂.
    salam kenal saya sekar teman fb bunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s