Pilih, atau, Tidak Pilih ?

Kali ini, bukan ‘to be’ or ‘not to be’…tapi… ‘pilih’ atau ‘tidak pilih’.

(Sigh).

Ikhsan, menjelang 18 tahun…sudah berbulan-bulan minta teman belajar, ‘kan? Susah payah ibunya kesana kemari bertanya, ada kah anak yang tidak mau sekolah formal tapi mau belajar dan berteman?? Yuk ke rumah yukkkkk…

Akhirnya, datanglah gadis kecil 9 tahun ke rumah bersama ibunya, mau coba belajar 1x seminggu.

Ibunya Ikhsan kasih tahu gurunya dong. Cerita, apa saja yang harus disiapkan supaya sesi belajar bersama di hari Kamis bisa lancar. Ternyata dinding benar2 bertelinga (dan bermuka jerawatan). Ada yang nguping!!

Maka, terjadilah percakapan ini hari ini:

“Kapan teman belajar?”
‘kamis 22 januari 2009’
“laki laki perempuan”
‘perempuan’
“cantik pintar”
‘ikhsan tidak boleh pilih teman’
“ikhsan mau pilih”
‘tidak boleh’
“cantik pintar tidak berisi” (maksudnya: tidak berisik)
‘tidak pilih’
“harus pilih”
—-ibunya mulai bete—–
‘TIDAK. Ibu marah’
“ikhsan harus pilih”
‘TIDAK HARUS’
“rumah cipinang harus pintar”

Haalllaaaaaahhhhhhh…..

Entah darimana datang pendapat di pikiran Ikhsan, bahwa yang okeh adalah kalau orang itu, pintar.
Dia pasang standard: cantik dan pintar. Itu yang okeh.
Pintar aja tapi gak cantik, hmmm…kurang okeh. Cantik saja tapi tidak pintar? Ah, males ahhhhh…

Kalau udah gini, I don’t know what to feel.
Musti bangga, atau terharu, atau puyeng, atau bingung, atau kesel?

Ah.
Bangga aja deh.

I love him anyway.

Muah, anakku. I love you just the way you are.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s