Hajatan Negara (finale)

Pagi jam 6kurang udah dibangunin sama anak yang sibuk nunjuk2 lemarinya minta dikasih izin pake baju bagus. Yeeee… situ mandi aja belom! (sambil teteup ngotot merem dong, ibunya).
Jam 6:30 kedengeran berisik di meja makan, ibu ku, keponakan ku, anak ku…semua sibuk mengunyah. Ah, artinya aku juga musti melek nih (*gak rela dot com*).
Jam 7-an akhirnya ikhsan mandi, tapi teteup dengan baju rumah. Sibuk cuci rambut, keringin rambut, dan ibunya berhasil bilang “gosok gigi yang bersih, kalau tidak, ibu tidak mau pemilu” (hahahaaa…).

Jam 8 lewat, bangunin ibu, “yok, pergi sekarang aja lah”.
Keputusan kurang bijak ketika jam 8:45 sampai di TPS. Panitia error sampe ibu DP ngomel panjang pendek. Kenapa?
Gini.
Datang, ceritanya kan mendaftar. Bawa formulir. Kasih. Diterima. Udah. Lho? Kok gitu aja??
Sementara di sebelah nona manis yang menerima formulir, ada seorang lelaki muda pegang nomer.
Sesudah berdiri berpanas2 sekitar 10 menit (sambil ngliatin ibu ku, 84 tahun dengan walker) yang duduk di lapangan basket…aku tanya dong, “itu nomer dikasihnya kapan??”… dijawab oleh lelaki itu “nanti dipanggil”. Ha?
Ajegile buset dah.
Sementara dari dalem, orang manggil nama untuk masuk nyontreng, dan di pintu hansip manggil nama untuk ambil nomer. Abis ambil nomer, silakan bengong lagi sampe dipanggil lagi. Begok, kan??
Sebelum DP ngomel, ada bapak2 ngomel: ‘kalau panggil, sebutin nomer dong! supaya kita tahu!!’. Rasain.

Sesudah beberapa lama (20menit kayaknya) nunggu di lapangan basket, baru deh, si lelaki pemegang nomer itu ngedatengin kita (karena ada yang negor mengkale, kok ibu ku yang jelas setengah mati gak diduluin) untuk suruh duluan. Baru nomer 140-an, tapi ibuku yang nomer 166 disuruh duluan. Tau gak, tadinya aku gak otomatis dipanggil juga. Aku kan nomer 167. Ibu ku sampe cemas, “kamu, gak dipanggil juga??”…baru aku bersuara (dengan keras, khas DPA) “ya harus dong, nanti mamah gimana di dalem??”. Begok, kwadrat dong.
Sambil ngawasin ibuku, aku cepet2 nyontreng juga. Sempet nyaris lupa nyelupin jari ke tinta tuh, aku.. saking sibuk jadi ‘chaperone’ ngurusin ibu.

Pulang.
Begitu ibu ku sudah turun di rumah, lagi aku awasin untuk jalan ke teras dengan aman, eh, ada remaja udah siap mau naik mobil. Buset deh. Udah semangat 45, bok!

Ya sudah, here we go.
Sepanjang jalan kasih petuah, “sabar tunggu, ya”. “tidak berisik, ya”… Does that work? Ya jelas enggak dong! Gilak apa. Huh. Ya gak sabar, dong. Ya nyanyi2 happy birthday to you, dong. Gimana sih? (hiks). Terus? Dilihatin orang? Ya iya laaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh. (Duuuhhh…. siapa sih yang nanya tuh?).

Gimana prosesnya?
Sukses dong.
Kan udah latihan.
Kan bawa icon dan visualisasi.
Ibunya tapi sempet tolol. Bawa handycam, ceritanya mau nyorot. Eh, sempet lupa neken ‘record’…jadi ada bagian yang gak kerekam. Yakh, maap lahir batin aja lah. (hihihi)…

Yang mau lihat fotonya, lihat di fb aja ya. hihihihi….

Duh, I am a proud citizen of Indonesia, deh!
SDC10336

2 thoughts on “Hajatan Negara (finale)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s