Potret kenyataan (1)

Kemarin dan hari ini, entah kenapa, rasanya kok aku dihadapkan pada sebuah potret yang sudah lama aku rasakan dan tidak aku sukai. Iya, aku sangat tidak suka pada potret ini.

Potret apa?

Potret ‘dunia pendidikan masa kini di republik tercinta kita’.
Orangtua heboh banget ngejar yang namanya akademis. Segitu hebohnya ngejar sampai-sampai lupa esensi punya anak itu, apa.

Bayangin aja, sepasang orangtua, jumpalitan selama nyaris 5 tahun untuk punya anak. Segala pengobatan dijalankan. Minum obat 15 macem sehari selama 2 tahun, operasi karena ada perlengketan, perawatan entah apa … yang kalau istilahnya si bapak “perawatan hardware dan software”.. hehe..
Sesudah 4,5 tahun, alhamdulillah, dapet anak, kembar 3 (satu wafat), dan 2 tahun kemudian, dapet lagi kembar. Kembar pertama perempuan-perempuan, kembar ke dua, laki-laki.
Kenapa cari aku? Emangnya aku jago ngurusin kembar? Hehe.. Enggak. Karena si kembar perempuan, anak nomer dua, mengalami kesulitan di sekolah (SD kelas 2). Gak bisa ngikutin pelajaran. Lho, ada apa?
Halah.
Lahir 1,8 kg di minggu ke 32, perkembangan motorik terlambat (dari tidur ke duduk, perlu upaya luar biasa tapi tidak terapi, dan baru bisa duduk menjelang umur 18 bulan…berdiri umur 24 bulan)… tapi masuk TK yang pas TK B disuruh menggambar lalu membuat cerita (ditulis dalam bentuk kalimat!) tentang gambar itu.
Halah, halah, halaaahhhhh…..

Sesudah puas membahas perkembangan si nomer 2, akhirnya merembet ke nomer 3-4 yang juga sekolah di TK yang sama, dan mungkin akan masuk ke SD yang sama dengan nomer 1-2. SD itu, jadi ajang omelan si ayah dan si ibu, karena anak rasanya diteken abis2an supaya perform. Alhasil, baru juga SD kelas 2, si nomer 2 ini les pelajaran setiap malam (jam 6-8). SETIAP MALAM ! Senin sampai Jumat.
Bahkan si nomer 3-4, dua kali seminggu sudah les baca-tulis supaya bisa masuk SD. Haiyaaa.. kelas TK B itu, umur berapa sih?? 5-6 tahun? Huhuhuhu….

Si Ibu, bekerja setiap hari, pulang jam 8-9 malam… si ayah, wirausaha, bisa di rumah pagi, tapi kalau pergi dari sore, bisa pulang jam 1 pagi.
WADOH !!

Maka, keluarlah jurus sakti DP ….bertanya…. “Bu, tujuan ibu punya anak dulu itu, apa?”
Diam.
Wajah berubah.
DP tanya lagi…suara halus…. “Sudah susah payah nyaris 5 tahun, dapat 4 anak cantik sehat, lalu diapakan?”
Wajah makin berlipat.
DP bicara lagi pelan, “sepuluh tahun lagi, tidak ada yang peduli karir kita seperti apa, tapi sepuluh tahun lagi, anak-anak sudah remaja dan sudah punya kehidupan sendiri…. kapan bapak dan ibu akan membina kedekatan dengan mereka kalau tidak sekarang?”

Nah.
Tuh.
Pecah deh.
HUaaaaaa…. >_< … berdirilah DP ambil sekotak tisu untuk ibu.

Baru lah si ibu curhat, bahwa selama ini dia sudah merasa ada yang 'salah' dalam hidup dia. Kok punya anak buah tapi musti pulang malem juga… kok gak bisa ngobrol sama anak kecuali di telpon… udah gitu, tiga anak mendominasi percakapan sementara anak nomer 2 yang agak lambat akhirnya tidak pernah bisa ngobrol sama dia.
Baru lah si ibu cerita, kalau si bapak, sering ngenyek anak2nya yang tidak bisa memenuhi permintaan dia. Baru lah si bapak membela diri… Baru lah terbongkar bahwa ada juga masalah komunikasi diantara bapak dan ibu.

Si Bapak yang sangat perhatian pada anak-anaknya, bercerita, bahwa ia ingin sekali punya kesempatan memberikan apa yang ia alami dulu = sekolah sampai jam 12-1 lalu belajar dari pengalaman dan malam hari rutin belajar biasa di rumah.
Sekarang ini, kok anak-anak kalau tidak les, gak bisa kejar ketinggalan di sekolah, sementara kalau dilihat, pelajaran di sekolahnya ya minta ampun gitu lho….

Alhasil, terjadilah diskusi mendalam mengenai beberapa hal pokok dalam hidup:
1. Untuk apa kita punya anak kalau anak hanya sibuk berinteraksi dengan guru les dan tidak dengan kita
2. Untuk apa anak digojlok pelajaran yang toh tidak terpakai nantinya? Pelajaran yang justru menjauhkan anak dari pembelajaran sesungguhnya yaitu pengalaman hidup…
3. Untuk apa kita hidup kalau anak sendiri tidak terurus dengan baik?…apalagi…mereka berusaha keras mendapatkan anak-anak ini…

Ibu pulang dengan segepok PR. Cari sekolah lain dengan mendatangi, bukan mendengarkan promosi. Usahakan pulang sore pada hari tertentu kalau tidak mungkin setiap hari. Belajar berkomunikasi dengan positif kepada anak .. Teguhkan iman komitmen sediakan waktu intensif berinteraksi dengan anak setiap harinya.
Bapak pulang dengan sederet titah. Siap-siap pindahin anak-anak di tahun ajaran yang akan datang, ramai-ramai …jadi…uang pangkal yang muawahal … Belajar berkomunikasi dengan positif kepada anak. teguhkan iman untuk komitmen sediakan waktu bersama salah satu anak setiap hari, intensif interaksi.

Si Bapak sambil pakai sepatu, sempat ngomelin istrinya. "Ngapain siiihhh pake nangis2…".
Duh, dasar laki. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s