Potret kenyataan (2)

Kalau siangnya berhadapan dengan satu keluarga yang terjebak dalam lingkaran sistim pendidikan negara kita yang acak adut, lebih siang lagi, aku dihadapkan pada potret kenyataan lain yang membuat aku terharu.

Ceritanya, mau beli kanvas buat remaja pelukis di rumah.
Untuk menekan pengeluaran, belinya harus di Jatinegara, di sebuah toko yang memang menjual peralatan melukis dengan harga miring.
Gak dapet parkir di depan toko..jadi parkir agak jauh lalu berjalan kaki menyusuri kaki lima.
Udah pernah ke daerah Jatinegara?
Daerah dekat rumahku itu, potret kehidupan menengah ke bawah yang sarat dengan perjuangan untuk hidup. Pedagang kaki lima tersebar dengan berbagai dagangannya yang beraneka. Buku, peralatan untuk rumah, obat kuat, tanaman, ayam, makanan, kacamata, dan entah apalagi.

Satu jenis yang kemarin menarik perhatian aku, adalah buku.
Buku bekas ternyata banyak dijual di kaki lima sepanjang jalan jatinegara itu, dan kemarin peennnyyyuuuhhhh banget sama ibu-ibu muda berbaju kumuh dengan bersimbah peluh membawa dompet kumal. Ada apa sih?
Ohhhhh…mereka mencari buku untuk anak masing-masing!!
Duh, aku terharu deh.
Meski mungkin sehari-hari terbelit pengeluaran yang tidak sedikit dengan penghasilan terbatas, tapi para ibu berusaha keras mencukupi kebutuhan pendidikan putra-putri mereka dengan mencari di pasar buku bekas ini. Mereka bawa buku dari perpustakaan anaknya sebagai contoh karena takut salah. Mereka bawa catatan panjang dari sekolah. Sebagian pulang dengan wajah puas dan berseri membawa satu kantong plastik penuh buku (bekas)… sebagian pulang dengan wajah hampa tapi penuh harap karena diberitahu harus mencari kemana…..

Luar biasa.

Melangkah masuk ke toko buku ber-AC untuk membeli kanvas, aku dihadapkan pada potret lain.
PENUH juga.
Haduh.
tapi pemandangan dan percakapan yang kudengar, agak berbeda.
Kali ini lebih ke “krayon yang paling lengkap, ada?”.. “buku sketch yang paling…”… dan sejuta ‘paling’ lainnya.
Oh, ini potret kelompok menengah ke atas. Tapi dengan porsi yang sama = perhatian kepada kebutuhan anak, dan ingin memberikan yang terbaik.

Alhamdulillah aku masih bertemu orangtua di tempat-tempat ini, dan bukan sekedar pengasuh atau pembantu seperti yang biasanya aku jumpai dimana-mana. “(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s