Potret kenyataan (3)

Pagi-pagi kemarin, aku juga dihadapkan pada potret kenyataan yang ‘khas’ keluarga dengan anak special needs. Bukan SELALU begini, tapi sering aku temui.

Keluarga ini datang dengan formulir yang sarat data….
Anak tampak masih sangat autistik meski sudah berusia menjelang 6 tahun, terbatas kontak lingkungan, belum bereaksi terhadap pembicaraan, masih sangat sulit adaptasi bahkan tidak berhasil masuk ke dalam rumah ku karena menjerit-jerit ketakutan di tempat baru, belum bisa berkomunikasi kecuali tarik-tarik tangan orangtua..
Orangtua datang dengan pertanyaan “bagaimana caranya supaya tahun depan anak saya bisa masuk SD reguler”….

Duh, pertanyaan yang ‘dalem’ banget.

Mulailah seorang DP (seperti biasanya) melakukan ‘bedah data’.
Semua ditanyain.
Perkembangan waktu hamil, waktu bayi, waktu batita. Penanganan gangguan autismenya, penanganan di rumah. Kebiasaan. Macem2 lah.

Ibu (apalagi bapak) tidak bisa jawab ketika pertanyaan mengenai “pada saat terapi, belajar apa?”.
Ibu makin pucat ketika saya tanya, “kemampuan anak ini dalam hal ini dan itu..sampai mana?” (kan anaknya gak bisa diperiksa karena akhirnya dibawa ke mobil untuk ditenangkan).
Ibu bengong ketika saya bilang, “ya udah deh, saya lihat catatan sehari-hari dari terapisnya aja kalau ibu sulit menjawab”…. Bengong, karena…..dia gak punya catatan itu..

Yak ampyuuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn….
Anak melewatkan 5-6 hari dalam seminggu bersama terapis dan guru di sekolah, dan orangtua tidak tahu apa yang terjadi bersama mereka???

Untung pagi itu saya cukup waras sehingga mampu menahan diri untuk tidak menangis keras-keras di depan mereka. >_<

Mulailah saya bicara kepada mereka mengenai 'persyaratan untuk masuk SD … apalagi SD reguler'.
"Kemampuan yang harus ada pada anak untuk bisa hidup mandiri".
"Kemungkinan yang bisa diraih bila penanganan intensif, konsisten, kontinu sejak dini"

Dan…keluarlah pernyataan dari orangtua, "kami pikir kalau terapi terus menerus maka anak kami itu akan sembuh dan tidak autis lagi".
Ganti aku deh yang bengong.

Apa boleh buat.
Itu lah potret kenyataan yang harus aku hadapi.
Sedih sih. Tapi aku harus berbuat apa lagi?? Rasanya kegiatan autism awareness sudah lumayan giat nih, rasanya nulis tentang autis sudah lumayan sering, rasanya sharing tentang my own experiences juga tidak terkira… but still…. "(

Anyway, ibu pulang dengan setumpuk PR juga. Inti PR nya adalah: kalau ibu dan bapak ingin dibantu dengan tatacara menangani anak sehari-hari …beri saya data tentang apa yang bisa ia lakukan, tapi data yang bukan bersifat angka. Deskriptif. Data yang bisa dianalisa untuk dapat sampai pada kesimpulan.

Sigh.

One thought on “Potret kenyataan (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s