what’s going on?

Hari ini lagi kena tulah, harus ngurusin mobil seharian. Bener-bener seharian sampai semua hal terhenti. Udah gitu saking buru-buru kepingin urusan selesai, berangkat ke bengkel tanpa bawa kerjaan atau bacaan. Biarpun udah ditemenin sama BB, teteup aja pikiran kesana kemari …merenung…sehingga akhirnya mbludak (eh, mbludak pake ‘ka’ atau pake ‘ge’ sih? …Ratih, help!)…dan tertumpah dalam bentuk tulisan (as always).

Begini.
Ada dua kejadian.

Pertama.
Diminta jadi pembicara sebuah acara, konferensi lah ibaratnya. Aku diminta ngomong di salah satu sesi paralel. Banyak pembicara dari Singapore, terus ada satu dari Thailand, satu dari Vietnam, satu dari Amerika. Banyak juga pembicara dari Ameriki, eh, indonesia gitu.
Yang membuat aku ‘rada’ gak sreg adalah bahwa semua materi (termasuk CV) harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Termasuk materi presentasi. Padahal, peserta kebanyakan dari Indonesia, dong, secara ini kan diadakan di jakarta gitu. Artinya, yang dari LN ya si pembicara-pembicara itu.

Aku mulai terganggu.
Ini kan Indonesia, ya? Oke lah kalau banyak orang dari mancanegara, tapi peserta kan dari Indon? Kalau niatnya mau sharing, bukannya harus memastikan isi materi sampai kepada para peserta, ya? Jadi aku sampaikan di imel ku (sambil ngirim CV bahasa Inggris), ‘aneh’ bahwa aku diwajibkan berbahasa Inggris di depan mayoritas bangsa Indonesia, presentasi di Indonesia.

Aku ‘makin’ merasa ada yang gak lucu ketika si boss penyelenggara kirim imel panjang ngejelasin alasan kenapa pakai bahasa pengantar bahasa Indonesia pada acara itu.
Bukannya aku malahan sreg, jadi makin bingung karena ada klausa “kami sebagai penyelenggara merasa tidak dapat menterjemahkan istilah-istilah yang disampaikan oleh para pembicara tersebut”.
Ajegile buset.
Tersinggung deh, aku.

Istilah apaan, sih? Lha wong ini ajang presentasi tentang pendidikan. Bahasa Inggris. Tentang pendidikan. Seberapa canggih sih, istilah yang dipakai? Perasaan, banyak deh, orang pintar di sekitar kita yang bisa menterjemahkan slides2 para pembicara ke dalam bahasa Indonesia. Duh… kalau aku nengok ke kanan di meja guru tempat ngajar di LIA Pramuka, ada sosok si R.NR si bawel yang pintarnya minta ampun. Nengok ke kiri, di meja panjang deket komputer, pasti ada the guys (Mr. GF, pak Bnd..dll) belum lagi yang di luar sana (ada Ratih, Sita, Kenny, Erna…)..penuh deh ini komputer kalo dipake nulisin nama-nama orang2 yang bisa!..
Sebagai pribumi yang menjalani pendidikan dari SD sampai S2 di Indo (gak pernah TK !) dan punya nilai TOEFL 6xx (sendiri, gak bertiga !!), lulus S2 dari UI juga predikatnya gak malu2in …tersinggung lah aku baca klausa seperti itu. Hidih…

Maka aku balas dengan sopan (tapi nafsu) sambil kasi usulan, kenapa gak bikin dalam dua bahasa sih? Tarok aja dua laptop, dua LCD, dan dua layar… yang kiri bahasa Inggris, yang kanan bahasa Indon. Win-win solution. Everybody happy.
Aku sampe bilang ke itu boss, aku udah berkali-kali melakukan penterjemahan nonstop live langsung di tempat ketika mendampingi pembicara dari AS, juga berkali-kali menterjemahkan slides dari bahasa asing ke bahasa indon. Semata-mata karena aku BANGGA menjadi bangsa Indonesia, dan BANGGA pada bahasa Indonesia…
Gak tahu deh, nanti pelaksanaannya kayak apa.
Aku sih, niat. Mau kasih slides dalam dua bahasa. Aku juga akan presentasi dalam dua bahasa. Gonta ganti. Inggris-Indonesia. Itu sih, masalah kecciiiilllll…. Wek!

Kejadian ke dua.

Tadi tiba-tiba ditelpon temen yang bilang kalau ada ibu-ibu (anaknya autis) menelpon khusus utk tanya, “gosipnya ibu Ita itu tidak ada sertifikasinya untuk assesmen anak autis, ya? terapis-terapis anak saya yang bilang”… Marahlah temenku itu.
Terus telpon aku.

Marahkah aku? Hm. Bengong. Sebel. Tersinggung. Bengong lagi. Geleng-geleng..terus senyum.

Bener-bener deh. Sertifikasi apa yang dibicarakan disini? Bahwa sudah ikut kursus di salah satu lembaga yang dibuat oleh seorang pribadi, yang belajar di UCLA, tapi terus menghilang tanpa kesan meninggalkan lembaga itu begitu saja? Sertifikat itu, yang dibicarakan?
Yak ampyun, buuuuuu….

Aku sih, gak pernah punya sertifikat ini atau itu (eh, salah…punya banyak ! tapi gak tahu dimana, karena cuma aku tumpuk aja di satu map dan aku lempar ke dalam salah satu lemari) karena hidup ku sebagai Psikolog yang berkecimpung di dunia anak berkebutuhan khusus, hidup ku sebagai ibu anak autistik, hidup ku sebagai guru bahasa inggris, hidup ku sebagai konsultan…tidak ditentukan ‘kasta’nya oleh sertifikat tapi oleh ‘bukti kerja nyata’.
Lagipula, aku paling tidak sreg hanya menggunakan satu metode penanganan kalau mengurusi anak. Gila apa. Lha wong individu itu begitu kompleks, kebutuhannya begitu beragam, masa hanya diatasi dengan satu metode? Gak mungkin laahhhh….

Biarin deh, kalau ibu itu (dan mungkin orangtua-orangtua lain) meragukan kemampuan aku. Gak papa. Toh hasil akhirnya, hanya Allah swt saja yang tahu.
Aku cuma ketawa aja kalau ingat betapa para terapis yang ber-sertifikasi itu, sudah pada pernah ketemu aku, dan gelagapan gak bisa jawab pertanyaan2 aku yang sangat mendasar. Lha wong mereka karbitan dan hanya ‘go by the book’ sementara aku justru ditempa oleh lingkungan dan lapangan yang… duuuhhh…. warakadah dot com.

Kesimpulan dari dua kejadian itu?
Sedih.

Ternyata dunia pendidikan Indonesia masih sangat ditentukan oleh ‘label’.
Label sertifikat, label ‘asing’.

Dimana kebanggaan sebagai bangsa Indonesia?
Dimana penilaian obyektif atas hasil karya?

Sepertinya kalau tidak berani menentang keadaan, tidak akan ada yang berubah.
Aku tidak mau negara ku begini terus, maka, aku memutuskan untuk menentang kebiasaan seperti itu.

Aku bangga menjadi seseorang sebagai hasil karya pendidikan nasional, tapi dengan hasil internasional!

*on second thought, sertifikat aku, si Ikhsan, bukan? :p

Eh…barusan ada sms, dan itu menjadi sms penutup hari yang memberikan kesan haru menyenangkan. “Mbak Ika udah selesai baca buku Tatah semua”..gitu kata Citra keponakan ku di sms nya. Kenapa aku terharu? Mbak Ika itu, pengasuhnya Senja. Dan dia, bisa tertarik baca dua buku hasil karya ku. Padahal dia tidak ada kepentingan dengan autisme. Dia ‘cuma’ pengasuh, tapi justru tertarik dengan nilai-nilai yang tersirat dalam semua pengalaman2 ku mengasuh Ikhsan-ku !
Ah, Mbak Ika… Kau bukti bahwa upaya kita semua sebagai bangsa Indonesia yang bangga berbahasa Indonesia, masih sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat di pelosok. I feel so honored, mbak Ika.🙂
Deekkk (Citra), makasi udah sharing my book(s) –plural!– with your nanny. TOP.

2 thoughts on “what’s going on?

  1. Anto says:

    Ibu, kok nggak nulis lagi sih ? sibuk ?

    Dari anto & Istri ( dua duanya mantan LIA ) tapi mungkin hanya anto yang mantan murid yang meminta tolong di foto in bersama teman teman sekelas di tangga gedung LIA pramuka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s