Setapak lagi maju (1)

Aku sedang sangat sibuk waktu itu. Rasanya menit berlalu dengan sangat cepat, sementara tugas tidak habis-habis. Kaget juga ketika melihat agenda dan tertera disitu jadwal pertemuan Ikhsan dengan dokter giginya. Pemeriksaan rutin, tapi harus dilakukan karena ia enggan menggosok gigi dengan seksama. Satu setengah bulan sekali, Ikhsan harus menghadap dokter gigi untuk dibersihkan karang giginya sampai kinclong. Pencegahan berbagai penyakit radang gusi, yang membuatnya tidak bisa makan…

Aku langsung melihat jadwal. Waduh, janji ke dokter gigi ( di Panglima Polim, Kebayoran Baru) jam 3 siang…sementara aku harus berada di Mandiga, Mulawarman, Kebayoran Baru sampai habis makan siang. Aku tinggal di Rawamangun, yang jaraknya sekitar 45 menit bila ditempuh dengan mobil pribadi. Rasanya melelahkan sekali membayangkan jarak dan waktu yang harus ditempuh untuk mondar-mandir menjemput Ikhsan bila ia memang akan dibawa ke dokter gigi hari itu.

Tiba-tiba terbersit ide.

Ikhsan tertib. Pernah beberapa kali naik mobil bersama supir sewaan, yang dikenalnya hanya beberapa menit sebelum mereka berangkat bersama. Bagaimana bila ia dilatih untuk naik taxi sendiri dari rumah ke Mandiga?

Maka ibu jari mulai menari, mengirim sms ke sana ke mari, telpon diangkat, mulai menghubungi beberapa pihak. Beres lah sudah. Ikhsan akan naik taxi Blue Bird sendiri dari rumah ke Mandiga, taxi dipesan oleh ibu Ita, dan supir taxi diberi pengarahan oleh Tari (Staf YAI) yang juga diminta untuk mengirimkan nomer HP supir taxi kepada ibu Ita (yang segera menghubungi untuk menitipkan Ikhsan). Itu rencana awal. Agak berkembang sedikit, dengan bumbu: Eyang Putri mengantar sampai ke taxi, dan memastikan berkenalan dengan supir taxi sebelum memperbolehkan supir berangkat bersama Ikhsan (astaganaga! kasihan sekali pak supir itu ya? kikkkiiikkiik)

Sukses kah?
Tentu saja!

Aku menunggu (dengan sangat cemas sampai mondar-mandir ribuan kali ke gerbang sekolah) dan menyambut Ikhsan persis ketika taxi menepi. Aku selesaikan pembayaran, sementara ia dengan gembira berlari masuk ke Mandiga. Kenapa aku yang selesaikan pembayaran, dan bukan dia? (Karena, kalau dia sudah mampu lakukan semua sendiri, ia akan pergi terus dan aku tidak tahu dia ada dimana…. Huhuhuhu… aku takut !).

Selesaikah pengalaman dia?
Ah, mana mungkin… (to be continued)…

One thought on “Setapak lagi maju (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s