Setapak lagi maju (2)

Ke rumah guru …

“Ikhsan bosan rumah” — itu adalah kalimat yang sering dikirimkan Ikhsan kepada ku akhir-akhir ini. Aduh, sedihnya.

Ya, memang bosan. Ia di rumah terus, kecuali ada kesempatan pergi dengan ibu atau keluarga lain, jalan kemana saja. Sejak selesai dari mandiga di tahun 2008, ia praktis lebih banyak homeschooling, dan ia berada di usia dimana ia ingin eksplorasi dunia. Maka, ia bosan. Wajar sekali.

Lalu, pada suatu hari, ia ajukan ide canggih: “Besok ibu ida tidak perlu cipinang”.
“Ada apa?”
“Ikhsan taksi ke rumah ibu Ida”

Ta’elaaaaa….gaya! Mentang2 udah bisa naik taxi sendiri! (Dia tidak tahu bahwa ada panitia pengantar dan panitia penjemput setiapkali ia akan bepergian…). Aku segera menghubungi dua gurunya: Ida dan Oji, lalu meminta mereka membuatkan cerita khusus mengenai “aman-tidak aman”, dan “hak-serta-kewajiban” agar ia tahu bahwa ia tidak saja berhak untuk berjalan-jalan, tetapi juga punya kewajiban untuk dilaksanakan… Aku juga minta mereka menjelaskan prosedur bepergian dengan berbagai kendaraan umum, sehingga ia paham bahwa kalau tidak ada uang, tidak bisa (duh, takut banget euy dia jalan-jalan sendirian tanpa pamit…huhuhuhu….).

Lalu aku coba tawar: “rumah ibu Ida jauh, taksi mahal” dan, Ikhsan punya solusi jitu “Ibu antar sedikit terus ikhsan taksi”. Wow, cemerlang !

Aku sempat sangat bingung.
Di satu sisi aku ingin anakku mandiri, tapi di sisi lain aku sangat mencemaskan keselamatannya. Akhirnya sesudah mempertimbangkan berbagai hal, aku memberanikan diri untuk mengatur segala sesuatunya. Bukan hal mudah. Sama sekali tidak mudah… Apalagi aku sedang harus berada di pusat kota waktu itu, sementara ia ngotot betul untuk pergi ke rumah gurunya di Depok.

Akhirnya, kami bersiap-siap.

Aku sewa supir untuk hari itu. Khusus. Karena trayeknya adalah: Cipinang, Depok, Salemba, Depok, Sudirman. Tidak mungkin rasanya aku mondar-mandir sendirian.

Aku atur dengan gurunya, dan aku antar Ikhsan ke pintu kampus UI untuk mencari Blue Bird. Ketika akhirnya bertemu, aku bincang dengan supirnya, minta nomer hape, dan meminta Ikhsan pindah dari mobil ke taksi. Pada saat yang sama aku telpon gurunya, lalu memberikan nomer hape pak supir kepadanya agar mereka berkordinasi untuk bertemu.

Duh, rasanya jantung pindah ke kaki ketika meninggalkan kampus UI dan melepaskan Ikhsan di tangan supir taxi yang aku tidak kenal, lalu membayangkan ia berduaan menuju gurunya (yang akan menemui mereka di MargoCity Mal Depok). Rasanya tidak karuan ketika tahu bahwa gurunya terhambat gara-gara ban motornya kempes sehingga harus ditambal dulu. Tapi aku selalu ingat, untuk menitipkan Ikhsan kepada Sang Maha Pencipta. Dan aku hanya menunggu pasrah sampai mendapatkan kabar bahwa Ikhsan sudah bertemu dengan gurunya, si Ibu Ida, di MargoCity Mal. Ketika akhirnya kabar itu sampai, rasanya lega bukan kepalang, dan penantian yang rasanya lama betul (padahal paling lama 15 menit) menjadi terlupakan.

Aku tidak dapat kabar apa pun dari Ikhsan hari itu, kecuali dua sms:
“ikhsan study rumah ibu ida makan kacang minum teh manis”. Yang aku jawab dengan “rumah ibu Ida jauh?”…dan dijawab Ikhsan singkat “jauh enak”.

Belakangan baru aku tahu dari gurunya, bahwa Ikhsan melakukan beberapa hal di rumah ibu ida:
-Keliling seluruh rumah begitu pertama kali sampai. Eksplorasi. Dan segera menunaikan kewajiban begitu bertemu dengan toilet
– Mengangguk yakin ketika ditawari “ikhsan mau minum teh?” dan tidak menolak ketika diperintahkan “bikin aja teh sendiri!”….mengambil kantong teh, meletakkan di gelas, diberi air panas dan menambahkan air biasa ketika air terlalu panas, mengambil gula dan mengaduk sebelum akhirnya menikmati teh manis buatan sendiri *suksesnya didikan guru-guru Mandiga🙂
– Mengangguk yakin ketika ditawari “mau kacang enak”…lalu gembira menerima suguhan kacang dari gurunya… membawanya ke meja belajar, dan mulai mengerjakan soal dalam bahasa Inggris sambil menikmati suasana.
– Bosan, ia lalu eksplorasi, dan menemukan teras. Menarik kursi, duduk…lalu masuk ke dalam, ambil mangkok berisikan kacang, dan duduk-duduk lagi… Dan akhirnya sekitar jam 11 siang (aduh, panas, lah, san!) mengajak gurunya jalan-jalan ke sekeliling rumah untuk melihat-lihat. Sesudah itu ia mengajak gurunya menonton TV, tetap sambil ngemil…sampai akhirnya ia mendengar azan dan merasa lapar….. segera memberi tanda kepada guru bahwaa….aku lapar, niihhhh —sehingga membuat gurunya bergegas bersiap mengajak Ikhsan jalan keluar kompleks untuk cari taksi menuju mal terdekat.

Pada waktu ia sedang berhandai-handai di rumah gurunya, aku sedang di belahan kota yang lain, berusaha fokus dan berserah diri sambil percaya kepada gurunya.

Begitu acara selesai, bergegas aku sms gurunya “otw ke depok”…dan menuju MargoCity Mal.. tempat pertemuan dengan ikhsan. Ternyata mereka berubah haluan. Di taksi, gurunya bertanya kepada Ikhsan, mau makan apa… dan karena ia menjawab “AW” maka tujuan beralih ke Detos. Depok Town Square. Tidak masalah, aku segera juga menuju ke sana… Lalu ia makan bersama gurunya, sementara aku makan di tempat lain, dan pada akhirnya kami bertemu, berpisah dengan guru, dan Ikhsan mengantar aku ke SCBD-Pacific Place, karena aku akan bertemu teman-teman lama…

Ikhsan lalu kemana? Ia pulang sendiri bersama supir sewaan, yang baru ia temui hari itu.

Bisa? Ya bisa dong! Ikhsan, gitu lho

One thought on “Setapak lagi maju (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s