Setapak lagi maju (3)

Ikhsan mau cewe

Judul yang mengagetkan.

Seperti juga perasaan ku ketika mendapatkan sms itu hari ini. Waduh! Harus jawab apa??
Maka dengan ‘sok tenang’ aku jawab “maksud Ikhsan, apa?” —dan segeralah aku tersenyum ketika ia menjawab “cewe cantik baik pintar”… Ah, good criterion my precious son! Luar biasa…

Sambil menunggu proses penjemputan ibu hari itu, Ikhsan bertanya jawab dengan gurunya. Malam harinya, hasil tanya jawab yang tersimpan di communicator Ikhsan, aku baca dengan seksama. Luar biasa. Mengharukan. Terima kasih, ibu guru ku…🙂

“Ikhsan tadi sms ibu mau cewe?” – ya
“Cewe seperti apa?” – cantik pintar baik
“Cewe untuk apa?” -pacar
“Pacar itu apa?” -cinta
“Cinta itu apa?” -suka
“Seperti Ikhsan cinta ibu?” -tidak sama
“Ikhsan tahu pacar dari mana?” -rasa laki dewasa
“Ada yang kasih tahu atau ada yang ngajarin?” -tidak
“Mau cari cewe sendiri atau ibu Ita cari?” -tidak bisa cari
“Maksudnya, tidak bisa cari sendiri?” -ya
“Jadi ibu Ita yang cari?” -ya
“Ibu tahu kalau Ikhsan mau pacar?” -tidak
“Mau bilang ibu?” -tidak
“Kenapa?” -malu
“Sama ibu Ida tidak malu?” -tidak
“Kenapa?” -guru dan teman obrol
“memang ibu ita tidak?” -sibuk
“Ibu sibuk cari uang kan buat ikhsan?” -ya
“Ikhsan sayang kan sama ibu Ita?” -ya
“Menurut Ikhsan, Ibu Ita orangnya bagaimana?” -baik pintar sibuk suka pergi
“Ibu suka marah?” -ya.
“ Marah sama siapa?” -orang
“ Siapa?” -yang tidak baik
“ikhsan suka dimarahin Ibu?” -ya
“karena apa?” -tidak nurut

Ketika percakapan ini selesai aku baca, tidak terasa menitik sudah tetes air mata haru.
Aduh, anakku sudah dewasa. Tibalah sudah masanya. Ia mencari jati diri, peran jender, memahami perasaan dalam diri, bahkan mampu mengutarakan apa yang ia mau… dengan cara yang santun dan tertata.

Lalu, aku bersikap bagaimana?

Barangkali agak berbeda dari sebagian pembaca, aku memutuskan untuk selalu mengembalikan permasalahan jodoh, rezeki, lahir dan ajal kepada Yang Maha Kuasa. Aku tidak meminta, aku tidak memohon, aku hanya berdoa semoga Allah memudahkan. Itu saja.

Khusus untuk anakku Ikhsan, aku tidak akan meminta agar Allah mengirimkan seorang gadis cantik pintar baik kepadanya sekarang. Kenapa?

Aduh, jangankan mengurusi anak orang…. Ikhsan masih dalam tahap belum mampu mengurusi diri sendiri dengan baik. Begitu banyak tanggung jawab kemandirian yang masih harus dipelajarinya, sebelum ia boleh maju ke tahap selanjutnya, yaitu, mengurus dan bertanggung jawab atas orang lain. Aku sendiri adalah seorang perempuan, aku punya keponakan dan juga ‘cucu’ perempuan.

Aku menghargai kaumku, maka, aku menginginkan anakku yang laki-laki dewasa ini, menghargai perempuan dengan perlakuan yang manusiawi penuh penghargaan… Artinya, sebelum ia boleh meminta jodoh, ia harus mampu membuktikan kepada Allah Sang Maha Pencipta, bahwa ia akan bisa mengurusi kebutuhan dan kesejahteraan perempuan itu. Selama ia belum bisa, belum mampu, dan bahkan masih tergantung kepada orang lain, rasanya tidak pada tempatnya kalau aku, sang ibu, memohon agar anakku diberi jodoh. Biarlah Allah, Sang Maha Pencipta, yang mengatur segalanya. Aku percaya betul bahwa segala hal bisa terjadi, tapi aku lebih percaya lagi bahwa manusia hanya bisa berencana dan hanya Allah yang dapat menentukan….

Berkembanglah dewasa, anakku.
Bertanyalah, maka kami semua akan berusaha menjawab dengan baik. Kalau bisa sih, kamu sering-sering sms ibu ya. Tidak apa-apa ibu sering pingsan, itu sudah bagian dari hidup ibu. Kamu kan juga memang selalu membuat ibu pingsan dengan segala permasalahan dan kehebatan mu toh (halah)? Lebih bagus lagi, sesudah kamu buat ibu pingsan, bertanyalah kepada gurumu. Boleh ibu Ida, teman curhat-mu itu, atau nanti, ke Pak Oji juga…yang pasti tambah puyeng-hitam-keriting kalau dapat pertanyaan menjurus seperti “cari cewe cantik pintar baik dimana”.
Aku setuju bahwa kamu malu bertanya kepada ibumu, nak…. Karena uban ibumu sudah sangat banyak!

*nyengir di antara derai air mata.
merasa sudah hidup dengan berguna, setidaknya terbukti sudah menghabiskan sebagian besar waktu memberikan pemahaman hidup kepada anak sendiri, yang berkembang dewasa dengan cara yang sehat lahir batin.

*merasa sangat bahagia dan di awang-awang, karena dengan segala keterbatasan kami, Ikhsan sudah sangat paham bahwa ibunya pergi dari rumah selalu dengan satu tujuan: memberikan yang terbaik untuk lingkungan, dan pulang membawa kesejahteraan untuknya….
Ikhsan juga sangat paham bahwa ibunya memang marah, tapi hanya kepada orang-orang yang sudah tidak baik (entah sikap ataupun kata-kata).
Ia juga sangat paham bahwa kalau ibunya marah, itu semata karena perilakunya atau keengganan nya untuk patuh. Bukan karena hal apapun lainnya.

Ya Allah, terima kasih.

One thought on “Setapak lagi maju (3)

  1. setapak lebih maju lah kalu enggak lah percuam kali ya dari pada orang lani ya sih mau ya yaya setapak lebih maju dari orang binya saya kali ya sih mau ya sih yaya lah aih ya dari orang lain jagan mau kalih lagi sih yayay sya sih ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s