Setapak lagi maju (4)

Sudah lama aku bermimpi, anakku yang cuma satu ini, yang autistik dan tidak bisa bicara ini, menjadi anak Allah yang kembali kepadaNya dalam arti: paham makna agama.

Agak muluk rasanya, mengingat agama merupakan sesuatu yang abstrak sifatnya.
Tapi…bukan aku namanya kalau berhenti sebelum mencoba (hehe)…

Maka ketika berbulan-bulan aku satu kelas dengan sosok ini, aku bisa melihat bahwa di balik perangainya yang jadi bulan-bulanan kami (termasuk aku!) di kelas…tersembunyi pribadi yang cocok untuk menjadi panutan anakku: dewasa, bertanggung jawab, Islami, dan yang pasti, laki (halah).

Sepotong sms aku kirim kepadanya beberapa bulan lalu, “Ji, bantuin gw dong ajarin Ikhsan konsep jadi dewasa….sekali seminggu, ya, ji.. Bisa?”.
Seperti biasa, jawabannya santai “buat mbak Ita, apa sih yang gak bisa”. Lebay, kan?

Alhamdulillah, rasanya di awang-awang ketika aku sedang mengajar di sebuah sekolah inklusi di Pamulang, aku mendapat sms dari sosok ini
“guwe baru datang, Ikhsan langsung minta pergi, maksa, guwe tulis “hari ini tidak pergi kita belajar”.. Ikhsan marah, pergi ke kamar sambil nyubit neneknya dan ngambek.
Guwe bilang: “kalau gak belajar pak Oji pulang”.
Eh, Ikhsan langsung pergi ke kelas, belajar tentang hak dan kewajiban. Ia praktek wudhu dan sholat pakai sarung. Ada fotonya ntar guwe kirim via facebook”.

Luar biasa !

Pak Oji, gitu llloooohhhhhh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s