Tantangan dalam perjuangan

Perjuangan, dengan judul apapun, selalu sarat emosi.
Emosi sangat bervariasi mulai dari semangat, sedih, frustrasi, khawatir, gembira luar biasa, sampai ke… murka saking marahnya.

Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, semua emosi rasanya jadi teman sejati setiap hari. Padahal, kondisi fisik aku, mengharuskan aku untuk ‘tidak stres’ dan ‘tidak emosional’. Nasihat bodoh, ya? (knowing me, getttooooo)…
Jadi tentu saja segala sepak terjang perjuangan yang sarat emosi mau tidak mau mempengaruhi kesehatan. Alhamdulillah tidak mempengaruhi kinerja dan prestasi di masyarakat, karena selalu ada pendampingan dari orang-orang terdekat (termasuk psikiater langganan dan apotek dekat rumah..hehe).

Kita kilas balik aja ya.

Kali ini, bicara tentang Ikhsan ku saja deh. (Lha kalau ngomongin perjuangan aku di dunia ku yang ‘unik’ ini, kan pastinya kaya-raya dengan informasi….kalau tidak dibatasi, bisa berseri-seri dong…).

Ikhsan, sejak usia 3 tahun senang mewarna.
Hidupnya menjadi ‘kaya’ karena ‘warna’ — ini bukan kiasan, karena memang dia sangat cinta pada warna. Kegiatan mewarnai sudah mewarnai hidup kami yang berwarna-warni (halah).
Coret-coret yang tidak jelas khas anak autis, pada akhirnya berkembang dengan bimbingan ibu Santi dan mas Rimbi, sehingga akhirnya dia bisa mengatakan bahwa “ikhsan dewasa mandiri kerja lukis”.

Membanggakan?
Jelas.

Peristiwa terakhir yang membanggakan dan membuat aku tercekat di depan hadirin ketika presentasi pada acara Seminar Expo hari ke dua (Minggu 18 April 2010) adalah fakta bahwa lukisan BURUNG CONDOR yang dipamerkan di lantai satu gedung graha sucofindo, dibeli seorang teman .. Bangga dan terharu, karena justru beberapa hari sebelumnya Ikhsan memproklamirkan bahwa dia dewasa mandiri karena sudah bekerja sebagai pelukis ….

Teman yang juga seorang ayah gadis cilik autistik ini memang sering membeli lukisan. Tapi tentu saja bukan tanpa selera. Jadi ketika ia mengirim pesan sms Sabtu malam bahwa ia akan membeli lukisan itu, aku rasanya seperti tidak percaya.
Hari Minggu transaksi dilakukan, didokumentasikan, dan aku seperti punya hutang: membuka buku tabungan khusus untuk Ikhsan Priatama. Rasanya itu sudah kewajiban: membuka tabungan atas nama dirinya sendiri, untuk belajar mengelola keuangan, terutama karena kami bukan orang kaya sehingga harus bijak mengatur pemasukan dan pengeluaran…

Akhirnya, aku titip kepada gurunya.
Kami membuat rencana bahwa pada hari ini (Rabu, 28 April 2010), ia akan naik bajaj menuju bank cabang pembantu di seberang TipTop Rawamangun, untuk membuka rekening. Uang sudah siap. Jumlahnya jauh di atas jumlah minimum. KTP sudah masuk ke dalam dompet, dompet masuk ke dalam tas. Lengkap dengan HP-nya, yang juga sudah dicharge. Rapi jali deh.

Aku senewen.
Ini peristiwa besar dalam hidup kami.
Anakku, autistik non-verbal dan tidak bisa bersekolah, akan membuka buku tabungan atas nama dirinya untuk menampung penghasilan-penghasilannya. Aduh, serasa khayal. *masih berlinang membayangkan

Aku telpon, ternyata guru dan Ikhsan sudah dalam perjalanan ke bank tersebut. Okeh. “Ikhsan senang sekali, bu”. Ya iya laaaahhhhh.. Peristiwa ini juga sudah ia tunggu-tunggu sedari semalam, sesudah ia dengan bangga sms aku jam 11 siang “besok rabu 28 April 2010 ikhsan mau ke bca belajar menabung”.

Beberapa menit kemudian, guru nya menelpon.
“Gak boleh, mbak”.
“HA? Karena??” —- kan udah bawa KTP, kan anaknya bisa tanda-tangan, kan bawa uang
“Harus sama orangtua atau walinya. aku udah nerangin bahwa aku gurunya, tetep gak boleh”.
Lalu Ikhsan dan gurunya menyeberang ke TipTop, belanja-belanja, dan (ini sangat membuat aku trenyuh dan ingin menangis) Ikhsan menolak naik bajaj karena ingin menyeberang ke bank itu lagi (‘kan belum nabung, bu???”)… Alhamdulillah Ikhsan bisa diberi pengertian dan mereka pulang.

Tiba-tiba ada sms dari Ikhsan “Ikhsan mau bank”
Aku bilang “nanti dengan ibu”
Dia jawab “ikhsan dewasa mau menabung” (MAKES SENSE, my dear son!).
Aku segera membalas: “bank bilang harus dengan orangtua, dan Ibu Ita adalah orangtua Ikhsan”.

Sesudah makan siang bersama para guru mandiga, aku segera menyeberangi kemacetan untuk tiba di rumah menjemput Ikhsan. Langsung pergi lagi sesudah ambil tas dia dan copy kartu keluarga (sapa tahu diminta???).

Aku langsung ke CS. Lalu bilang “kami mau buka rekening”.
CS menjawab “ini harus dengan pengampu, ya, bu”
Aku : “apa itu? jelaskan dong? Kan Anda CS.”
CS diam. Lalu tanya, “ada KTP?”
Aku bilang ke Ikhsan, “ambil dompet. buka. ambil KTP. kasihkan”…dikerjakan dengan tertib.
CS memegangi KTP beberapa saat, lalu tanya hal-hal sebagai berikut:
– “bisa tanda-tangan?” ————————– bisa. LIhat saja disitu. Ada ‘kan?
– “sekolahnya sudah selesai?” ————– sudah.
– “sekarang kerja apa?” ————– LHO? APakah ini penting ???
– “saya harus menanyakan data” ———— ITU DATANYA. KTP, ‘kan??
(sekarang aku tanya kalian deh, memangnya kalau kita buka rekening, ditanya, kerja apa???).

dan aku bilang ke Ikhsan, “Ikhsan sabar ya, kita lagi berjuang. Kita harus memperjuangkan, bahwa special needs boleh pakai haknya, buka rekening”….dan Ikhsan duduk sambil menyanyi-nyanyi..

CS “ini harus dengan pengampu” —- aku tanya, “artinya?”
CS “harus dengan KTP ibu juga” —–aku tanya, “karena? alasannya?”
Dan CS speechless. Karena memang, tidak ada alasan. Lha wong anakku 19 tahun, punya KTP, mampu melakukan tanda-tangan, punya uang, dan mengerti ketika dijelaskan untuk jaga KTP dan ATM-nya.

CS tidak bisa berbuat lain selain ambil form.
Dan dia bilang “saya bantu ya, ibu?” —– aku tanya, “emangnya biasanya gimana?” —sambil ambil ballpoint pribadi dan mulai mengisi form sampai bagian yang tidak perlu aku isi.

Lalu, CS mengajukan pertanyaan yang membuat aku marah meledak: “ini berarti uangnya dari orangtua ya?”.
Aku bicara dengan suara sangat pelan tapi sarat emosi (sampai sesak nafas saking marahnya):
“Eh, sorry ya. Dengan bangga saya bisa bilang, ini uangnya dia sendiri. Penghasilan sendiri. Justru karena dia sudah bisa bekerja sendiri, maka dia mau buka rekening sendiri. You should be ashamed of yourself. Dari tadi Anda sudah ‘nge-judge’ seseorang dari penampilan. Anda mempertanyakan sekolahnya, pekerjaannya, bisa atau tidak tanda-tangan…. Keterlaluan. Anda harusnya minta ampun pada Yang Maha Pencipta!”
CS kaget. Aku yakin sebetulnya dia sudah mau ngacir pulang.. (dan mungkin stres berat begitu aku pergi) tapi karena gak ada yang gantiin, maka dia tetap bertahan.
Dan aku berulangkali bilang “keterlaluan. Saya akan tulis ini !”

KENAPA AKU MURKA?
Tidak ada alasan menolak Ikhsan.
Dia bawa KTP, dia bisa tanda-tangan. Dia punya uang.
Dari mana uang itu datangnya, woy, itu urusan dia!
Daaaannnn langsung mengambil kesimpulan bahwa DIA TIDAK AKAN BISA PUNYA PENGHASILAN SENDIRI dengan bilang “jadi uangnya dari orangtua ya?” itu adalah penghinaan untuk perjuangan aku bagi semua anak autistik di Indonesia yang ingin (dan bisa) hidup berdikari.
Apa iya, CS berhak bilang “Ini uangnya dari suami, ya, Bu?” ketika di hadapannya duduk ibu-ibu setengah baya dengan penampilan sederhana. WOY. Gw punya usaha catering di 20 kota besar, tauk! — bisa, dong???

Semua prosedur sesudah itu dilalui seperti orang lain pada umumnya.
Ikhsan harus tanda-tangan.
No problem.
Aku jelaskan dulu untuk mencoba meniru tanda-tangannya di KTP. Tentu saja Ikhsan bisa. Itu ‘kan training Mandiga !
Lalu Ikhsan diminta tanda-tangan form. Ada dua kotak. Yang satu pakai materai, dan ini error pada saat dikerjakan. Hasil tanda-tangannya terlalu kecil, dan semuanya di dalam materai. Maka aku ambil pinsil, lalu aku biuat kotak di dalam materai, dimana 50% di materai dan 50% di luar materai. Lalu aku bilang ke Ikhsan, “tanda-tangan di dalam sini ya…” —dan … berhasil.

Lalu setor uang untuk ditabung, dan dengan gontai Ikhsan mengambil uangnya dari dalam tasnya dan diberikan kepada CSG (CS gemblung) itu. CSnya gak berani suruh aku ke teller (karena muka aku masih lipat 9500 dan merah maroon).
CS menjelaskan kartu ATM sudah selesai, aku diminta siapkan PIN, lalu sesudah semua selesai, Ikhsan aku perintahkan untuk menyimpan KTP, ATM dan pada akhirnya…. buku tabungan.

Ekspresi Ikhsan, luar biasa.
Dia bangga banget !
Dan kebanggaan itu nyaris terhindari ketika ada seorang CS yang dengan dodolibretnya berusaha “membatalkan keinginan Ikhsan untuk memiliki buku tabungan sendiri” hanya karena ada perilaku Ikhsan yang ‘tidak wajar’.

Ternyata, tantangan dalam perjuangan ini luar biasa.
Tidak ada habisnya.
Menguras emosi luar biasa.

Yang menarik, justru pada saat aku sedang berjuang begitu, tidak ada empati atau perhatian sama sekali dari ‘orang penting’ yang telpon aku untuk minta foto Ikhsan sedang melukis karena akan dilampirkan dalam flyer orang penting lain. Padahal, ‘orang penting’ itu katanya peduli pada perjuangan keluarga dengan anak autistik. Komentarnya cuma, “oh, lagi di BCA”…menjawab celoteh aku bahwa kami hampir ditolak dua kali ketika mau membuka rekening. Gak ada tergerak sama sekali emosinya! Haiiiyyyyaaaa…perjuangan nih yeeeee.
Lalu, orang lain yang meminta foto anakku untuk dipublikasikan itu, pernah mencerca aku dengan “kan tidak ada yang dirahasiakan?!” dengan suara keras di tengah malam di telpon, ketika aku menolak untuk dipublikasikan sedang mengajar, padahal, dia sendiri tidak pernah mau menyebutkan nama anaknya dalam kesempatan apapun … Lho, aku melindungi rahasia orang lain yang terpapar saat aku mengajar, kok situ maksa aku buka rahasia itu, sementara situ juga penuh rahasia ??? Menguras emosi, ‘kan???

Ah.
Perjuangan ini memang sarat tantangan.
Dianggap HARUS MAU, itu sudah makanan sehari-hari. Seolah tidak ada pilihan. Menjengkelkan.. Apalagi kalau tahu bahwa banyak orang lain yang sebetulnya juga bisa mengerjakan tugas itu, tapi menolak dengan sejuta alasan (antara lain, “repot” dan “sibuk”… lah, emang hidup aku, simpel dan tidak ada kegiatan???).

Dianggap HARUS TAHU, sehingga menjawab ‘tidak tahu’ seakan haram.
Dianggap “HARUS BISA”, padahal jelas, semua hal sudah dikerjakan secara merangkap sambil tetap harus menjalankan tugas sehari-hari sebagai ibu, sebagai guru, sebagai supir, sebagai bendahara, sebagai anak, sebagai pengawas…
Dianggap HARUS MENGERTI ketika orang lain dengan kurang ajarnya bertindak semena-mena tanpa respek, dan ketika disadarkan kalau salah, juga tidak berusaha minta maaf secara jantan.
Dan yang paling aneh, “HARUS SABAR” meski sudah diinjak oleh teman sendiri atau dianggap ‘tidak penting kepentingannya’. Ditusuk dari belakang..dikorbankan…padahal, katanya, memperjuangkan hal yang sama.

Dan hari ini, aku harus mengalami (lagi) kejadian tidak menyenangkan dimana anak-anak kita, belum juga apa-apa, sudah mendapatkan DISKRIMINASI tanpa alasan.

Penolakan pertama menunjukkan bahwa Ikhsan ‘ditolak’ membuka rekening karena harus dengan orangtua.
Tapi ketika datang bersama aku, si orangtua sah, para penolak Ikhsan (dan gurunya) pada kedatangan pertama, sama sekali tidak bisa menyebutkan alasan, mengapa Ikhsan tidak bisa melalui prosedur biasa untuk membuat buku tabungan.

Alhamdulillah semua sudah terlewati.
Tapi tetap, aku sadar bahwa perjuangan ini tetap akan harus dijalankan dengan peluh, air mata, kucuran darah, dan jutaan emosi silih berganti.

Insya Allah diberi kekuatan.

*PUAS sudah bicara sangat pelan tapi signifikan kepada CS untuk “BE ASHAMED OF YOURSELF ! Minta ampun pada Sang Maha Pencipta!” ..

*posted di Facebook on April 29, 2010.

2 thoughts on “Tantangan dalam perjuangan

  1. tantangan dalam hidup dalam berjaung emnag sakit tapi kalu udah berhasil sih gak negrasa tuh ya sih mau ya sih berusaha sama dengan berdoa lah yayay sih ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s