Perasaan … (1)

Sudah beberapa hari ini Ikhsan berulah. Tidak mau koperatif belajar. Ada saja alasannya. Yang menolak teman baru lah, yang mau belajar sendiri saja lah, yang sudah pintar lah, sudah ini sudah itu….dan selalu diawali dengan proses bangun tidur dan mandi yang sangat lama.

Bagi aku pribadi sih, menghadapi remaja usia 19 tahun yang malas mandi, rasanya hal yang lumrah. Kalau diingat-ingat sih, waktu aku umur segitu, temen-temenku juga pada gak rajin mandi. Kan waktu itu aku udah kuliah tingkat 2, teman-teman (Eridanus, Yosi penceng, apalagi Erlangga…) rasanya tidak tampil bersih-wangi-berbajurapi. Enggak. Modelnya yang, kalau inget gw mandi kalau enggak yaaaa maap lahir batin lah yaw🙂

Maka ketika Ikhsan makin hari makin ogah-ogahan bangun pagi, makin masa bodo atau lama banget kalau mandi, tidak menjadi beban pikiranku sama sekali.
Lain halnya dengan ibuku (8 Oktober yad akan menjadi 85 tahun). Beliau maunya semua serba ‘sempurna’, sehingga menghadapi cucu yang ogah mandi rasanya dunia sudah berhenti berputar…

Hampir setiap hari terdengar pertanyaan “Ikhsan sudah mandi?” dari meja makan, dimana Uti duduk (eyang putri). Atau, ada sms dari ibu Ida (guru Ikhsan) yang berbunyi “sampai cip abg itu belum mandi😦 “. Aku sih, nyengir aja. Abis mau gimana lagi…

Tapi ternyata, ada yang memendam perasaan.
Mau tahu? Simak ya, baik-baik.

Rabu, 29 September 2010.
SMS dari Ikhsan: “ibu ida marah sebab ikhsan cubit”
(pada saat yang sama ada sms dari ibu Ida:”Laki dws tiba2 marah2, teriak, nangis lalu nyubit aku. Huhuhuhuhu….sakitttt). ADDUHH!
Aku jawab Ikhsan: “alasan ikhsan cubit?”
“Kesal hati”
“Kesal hati pada siapa?”
“Uti”
Alasan kesal hati?”
“Tidak percaya Ikhsan dewasa bisa”
“Uti memang salah. Tapi Ikhsan kalau kesal kepada Uti, tidak cubit Ibu Ida. Ikhsan harus minta maaf kepada ibu Ida”
“Ya Ikhsan salah”
“Kalau kesal sama Uti, Ikhsan sms Ibu. Kan Ibu Ida tidak salah. Kasihan ibu Ida”
“Ikhsan sudah maaf”
“Supaya Uti tidak bikin kesal, Ikhsan mandi tidak lama”
Tidak atur.
“Nanti ibu bicara dengan Uti supaya tidak atur laki dewasa. Oke?”
Ya.

(sigh, beres)…
Sorenya, ketika aku sudah sampai di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah menghampiri ibu ku yang sudah renta. Dan dengan suara yang (harus) keras supaya terdengar baik oleh ibu ku, Ikhsan dan semua orang di rumah, aku mengatakan “Mah, Ikhsan tadi marah”… Ketika aku sudah peroleh perhatian penuh dari ibuku, aku menceritakan rentetan sms Ikhsan kepada aku tadi siang. Aku lihat dengan ekor mataku, ikhsan mondar-mandir tetapi menyimak. Otaknya tampak menyerap semua informasi. Dan matanya berbinar ketika ibuku berseru “Ikhsan, Uti minta maaf ya” (dengan suaranya yang sudah bergetar). Dan Ikhsan mendatangi Uti-nya, lalu mencium ubun-ubun Uti.
Perdamaian sudah diperoleh…

Sudah selesaikah cerita?
Ternyata, belum…

*kenapa ya ada air mata menggenang di pelupuk mata ku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s