Perasaan (2)

Kejadian di hari sebelumnya, ternyata berbekas pada anakku.

Hari ini, Kamis 30 September 2010, pagi-pagi aku sudah pergi. Mau membereskan STNK yang sudah kadaluwarsa. Lalu ambil tiket Garuda karena mau ke Pekanbaru. Lalu melakukan beberapa transaksi di ATM terdekat, dan belanja keperluan rumah.

Sebelum sampai di SamSat, aku sudah sms Ida, “Ix belum bangun waktu aku pergi. Kalau malas mandi, maap lahir batin aja deh”🙂

Maka, ketika mendadak ada sms dari Ikhsan, aku cukup kaget.
“Ibu ita dimana” — rupanya, bu Ida bertanya kepada Ikhsan “San, Ibu ke Mandiga? Kok gak ada? Biasanya Kamis ada di rumah”.
Pertanyaan Ibu Ida sepertinya membuat Ikhsan juga bertanya-tanya, eh, ibuku, kemana ya??

“Ibu di kantor pesawat Garuda, ambil tiket. Sekarang mau beli sayur untuk Ikhsan dan Uti. Ikhsan mau oleh-oleh?”
“Mau lay kue enak”
“Lays? Boleh. Ibu belikan ya. Ikhsan belajar baik sama ibu Ida ya”
“Ibu Ida baik kasih lays juga” — hahaha… mau kasi reward buat gurunya ya?
Oke. Ibu masih di Bank
SMS berikut membuat aku langsung tercekat: “Ikhsan love ibu”
Aduh, anakku… ALhamdulillah. Ibu Ita love Ikhsan
“Love selamanya”
“Iya. Betul. Ibu love Ikhsan selamanya” —kalau gak inget ada di tempat umum, aku udah duduk di lantai dan menangis tersengguk-sengguk…
“Ikhsan bahagia”
“Ikhsan bahagia, ibu bahagia juga” —- nangis deh. Peduli amat dilihatin orang!
“Ya” — hahaha, lempeng dot com… namanya juga autistik🙂

Sambil antri di kasir, aku lalu merenung… apa ya, yang membuat ia berujar seperti itu. Ujarannya tidak lazim. Ujarannya, mewakili perasaannya yang terdalam. Sesuatu yang sangat sulit dicapai individu autistik. Jangankan berujar, mengenali perasaannya sendiri saja, sering sangat-sangat sulit. Ikhsan mampu mengenali perasaannya, dan mampu mengungkapkannya secara tepat, dengan kata-kata yang pas…meski tata bahasanya tidak lah rumit atau kompleks.

Aku lalu berpikir, apakah ini semua berakar dari perasaan senangnya dengan reaksi aku terhadap kejadian kemarin? apakah ia merasa senang karena merasa dipahami?

Aku tidak tahu.
Aku juga tidak perlu tahu, rasanya.
Yang jelas, aku akan mengulangi lagi kelak, ketika ia memiliki masalah. Aku tidak akan menghakimi, tetapi mencari akar permasalahannya dulu, baru bertindak seobyektif mungkin tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa ‘pasti’ dia lah yang keliru.
Kejadian kemarin mengajarkan kami semua sebuah pembelajaran sederhana tapi sangat mendalam: individu autistik memiliki perasaan… sama seperti kita, mereka ingin dihargai kemampuannya, tidak ingin diremehkan.

Aduh, anakku. Pepatah “don’t judge the book by its cover” sangat tepat menggambarkan dirimu.

Ibu Ita loves Ikhsan, selamanya…

*nangisssssssss tapi sangat bahagia

One thought on “Perasaan (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s