Pengalaman luar biasa (2)

SABAR itu, ikhlas dan pasrah.

Pertama, visa.
Sejak awal, visa kedatangan diatur agar aku datang sebagai tamu undangan KBRI Qatar. Suatu kehormatan, karena tidak semua orang datang sebagai undangan. Belakangan aku baru tahu, mendapatkan visa sebagai undangan pun bukan hal mudah. Teman-temanku di Doha harus berulangkali mencari ‘jalur’ agar pada akhirnya mendapatkan kertas pernyataan mengundang, yang kemudian menjadi bekal mengurus visa kedatangan. Visa sudah oke. Tiket dan jadwal sudah oke. Lalu?

Keinginan untuk umroh…. Visa ternyata harus yang berlaku untuk ‘re-entry’ karena kan kalau umroh berarti aku keluar negara itu, untuk lalu masuk lagi. Masalah baru. Untuk mengurus visa re-entry, bisa perlu waktu sampai satu minggu…jadi kalau mau berangkat umroh tanggal 15-16 Februari (sesudah tugas konsul 18 klien, 1 seminar dan 3 workshop selesai) maka harus datang sejak tanggal 8 Februari ! Sementara itu, jadwal umroh, sedikitnya 6-8 hari. Jadi? Aku harus meninggalkan ikhsan dari tanggal 7 dan kembali tanggal 24 Februari ?? Hampir sebulan ?? Lalu bagaimana pekerjaan ku? Ibu ku? Rumah? Adduuhhhhh…kepala mau meledak rasanya!

Fakta baru ini, aku terima justru selagi aku berjalan masuk ke dalam kelas untuk mengajar. Alhasil, sambil memberikan instruksi kepada siswa2ku untuk begini dan begitu…aku sibuk YM dengan Eli.. Ia minta aku memberikan jawaban saat itu juga, karena tiket yang sudah OK untuk 10-15 akan segera diubah menjadi 7-15Februari.

Tidak ada waktu untuk panik. Dengan segera aku membuat satu sms yang aku kirim ke tiga orang kunci: atasan ku di Mandiga, kakak ku, dan pendamping Ikhsan. Atasan ku, penting…kalau tidak ada izin, bagaimana pula aku meninggalkan pekerjaan dan anak2 yang menjadi tanggung jawabku?? Kakak ku, penting…bagaimana nasib ibu ku kalau kakak ku juga punya jadwal kerja keluar kota atau keluar negeri? Pendamping Ikhsan, lebih penting lagi…bagaimana pula anak ku kalau ia tidak ada yang menemani? Aduh, rasanya jantung berdegup tidak ada jeda…

Alhamdulillah, tiga sms jawaban sangat positif. Semua mendukung langkah ku. Sehingga dalam waktu singkat aku segera menjawab Eli “GO”…dan tiket diubah.
Masalah selesai? Tentu tidak..
Malam itu juga aku menghadap atasan ku (yang lain lagi) di tempat mengajar, dan menyampaikan bahwa aku akan absen setidaknya 5x. BIla tidak diizinkan, maka aku harus ‘drop’ kelas-kelas ku, tetapi bila diizinkan, aku harus cari guru pengganti. Alhamdulillah, izin dengan segera keluar, asalkan aku cari guru pengganti… Kembali jari menari, dan dalam waktu singkat kuperoleh dua guru menggantikan aku. Malam itu juga aku sampaikan ke dua kelas ku bahwa aku akan absen setidaknya tiga minggu untuk tugas dan rencana ibadah. Alhamdulillah, mereka ikhlas melepas meski dengan embel-embel “oleh-oleh, ya, Mam…”..

Masalah selesai? Belum….

-to be continued-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s