Pengalaman luar biasa (3)

PERSIAPAN adalah segalanya…
Terutama, bila kita adalah orangtua dengan anak berkebutuhan khusus.
Persiapan adalah WAJIB hukumnya…

Berarti aku berangkat tanggal 7 Februari tengah malam, dengan tujuan bekerja, tetapi membawa perlengkapan untuk negara bermusim dingin (suhu 10-15 derajat) di Qatar…dan perlengkapan untuk rencana ibadah umroh di negara bermusim panas di Mekkah dan Madinah. Aku sama sekali tidak punya perlengkapan untuk umroh. Busana muslim ku terbatas, apalagi hisab, pakaian wajib di sana.

Baru aku ancang-ancang untuk belanja, sahabatku terkasih yang dimuliakan hatinya sudah menyiapkan satu koper sarat perlengkapan umroh dan diantarkannya sendiri ke Mandiga. Luar biasa berkah Allah… Fitri ku tercinta nan cantik juga menyiapkan sejuta kisi-kisi untuk aku jalankan selama beribadah… Semua tentu kucatat dengan seksama, karena ia sudah berkali-kali menjalankan ritual ibadah-ibadah tersebut. Bahkan detil kecil seperti ‘krim muka apa yang harus kamu beli’ aku catat dengan teliti.. Mulai lah aku mengumpulkan pakaian dingin, pakaian umroh, materi mengajar, alat peraga, buku-buku untuk aku sumbangkan…..
Masalah terbesar adalah ketika kami mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk Ikhsan. Langkah pertama tentu saja menjelaskan kepadanya bahwa ibu akan pergi bekerja. Dan bahwa ibu ada rencana beribadah. Mulanya ia tenang.

Keadaan berubah ketika ia menatap kalender dan memperhatikan penjelasan gurunya dengan lebih seksama. Raut mukanya berubah ketika ia berhasil mencerna makna “berangkat tanggal 7, pulang mungkin tanggal 24”. LAMA ! Maka ia segera sms aku, “ibu tidak boleh pergi, ikhsan akan sepi hati”. Hancur hati ku.
Aduh, bagaimana ini??

Tujuan hidup ku selalu kan hanya satu: senyum Ikhsan.
Bagaimana pula tujuan hidup ku itu akan tercapai bila ia bahkan tidak merasa nyaman ditinggal dalam waktu lama? Bagaimana ia mengurus dirinya sendiri tanpa pengawasanku? Lalu, bagaimana pula dengan kegiatan ia les piano yang biasanya harus aku antar? Kalau yang lain kan memang dilaksanakan di rumah, tetapi kalau les piano dan bepergian, kan selalu dengan aku. Masa semua terhenti selama aku pergi? Masa ia tidak pernah pergi? Masa ia harus bosan di rumah? Lalu bagaimana dengan keperluannya yang biasanya menjadi tanggung jawab ku untuk menyediakan? Semua hal berkecamuk dalam benak, ketika aku menatap kalender. .. Hm. Banyak yang harus dipersiapkan nih?!

Maka, aku mulai menyusun daftar, apa saja yang biasanya menjadi tanggung jawabku, dan siapa yang bisa menggantikan peran serta tugas ku selama aku tidak ada. Ah, ternyata tidak serumit itu!
1) Belanja. Aku luangkan satu jam untuk mengajari si mbak-ku yang baru untuk belajar naik angkot ke tiptop, lalu aku ajari belanja di sana. Paham? Good. Berarti, dia bisa mengambil alih tugas ku bila pada suatu ketika bahan baku di rumah sudah berkurang dan tidak tersedia di tukang sayur keliling. Sip. Done!

2) Mengantar Ikhsan les. Hm. Diskusi dengan guru yang biasa datang ke rumah. Bisa kah datang satu hari tambahan, tetapi tidak untuk mengajar melainkan untuk menemani les dan mengajarkan ikhsan mengatur pengeluaran (bayar taksi, jajan, lihat kembalian, bayar uang sekolah les). Bisa? Alhamdulillah… Done!

3) Kegiatan Ikhsan di luar waktu belajar. Biasanya, ia pergi denganku sesekali. Bosan, kan, di rumah terus. Ah! Ternyata ada yang mau datang secara berkala untuk menemani ikhsan dan sesekali mengajaknya pergi ke mal atau toko buku atau supermarket. Atau, sekedar menemani Ikhsan di rumah. Alhamdulillah…. Done!

4) Kesibukan Ikhsan di rumah selagi tidak ada teman… Seperti individu autistic lainnya, Ikhsan suka uring-uringan bila tidak ada hal apapun untuk dikerjakan. Biasanya aku yang mengatur agar ia selalu ada sesuatu yang menarik..misal majalah, tugas bahasa Inggris, film baru, kertas kerja, dan sebagainya. Maka aku segera ke toko buku dan koleksi 5 film Jalan Sesama terbaru, 4 buku exercises in English, beberapa coloring assignments…dan kesemuanya aku serahkan ke gurunya untuk diberikan satu per satu ke Ikhsan melalui mbak di rumah. Jadi, ia selalu ada kesibukan baru dan tidak mudah bosan. Done!

5) Membuat daftar tugas dan telpon penting, aku cetak, lalu tempelkan di dinding di rumahku.. Aku jelaskan kepada dua orang staf di rumah: suster ibuku, dan pembantuku, mana yang harus diperhatikan (telpon mana kalau gas habis, sms ke mana kalau ada masalah dengan ibu sepuh, kasih tahu siapa kalau Ikhsan ada permasalahan, kalau ada masalah di rumah seperti air mati atau telpon mati…..). Dua staf tersebut aku belikan pulsa, langsung aku transfer ke HP mereka, sehingga bilamana perlu, mereka bisa menghubungi kakak ku ataupun guru Ikhsan untuk memberitahu berbagai hal yang terjadi di rumah. Done!

6) Menyerahkan daftar nomer telpon penting bagi Ikhsan dan jadwal kegiatannya kepada beberapa orang yang akan ikut memantau kelancaran kegiatan ikhsan. Done!
7) Mencari guru pengganti di tempat aku mengajar bahasa Inggris. Done! Rapat dengan guru-guru di Mandiga, membuat sistim komunikasi menggunakan BB atau YM atau imel … Diskusi mengenai jadwal kerja dan serah terima pertanggung-jawaban dengan kordinator senior di Mandiga… Done!

8) Memberi tahu organisasi tempat aku berkiprah, bahwa aku akan ‘hilang’ selama sekitar 3 minggu dan menunjuk dua orang teman baik untuk menggantikan peran-ku dalam berhubungan dengan banyak orang di Indonesia serta peran-ku dalam korespondensi. Done!

9) Memberitahu ibu dan semua kakak-ku bahwa aku akan pergi… Hiks… DONE!

Ah…ternyata…hidup ini tidak seberat dan serumit itu kalau kita terus menggalang kerja sama dan hubungan baik dengan keluarga, kerabat, teman, sahabat, dan lingkungan kerja.
Pada akhirnya, komunikasi terbuka dengan guru-nya Ikhsan juga amat sangat membantu, karena melalui beliau lah aku bisa YM dengan Ikhsan hampir setiap ada kesempatan.. Guru ini juga melaporkan perkembangan2 peristiwa, seperti, bahwa Ikhsan ada undangan ulangtahun dan belum ada kado, bahwa di rumah cipinang katanya air mati, bahwa si mbak uangnya sudah habis, bahwa ikhsan bête karena mas Wisnu tidak jadi datang……dan berjuta ‘bahwa’ lainnya… LUAR BIASA !

Maka, Ikhsan hanya 1x marah selama aku pergi dari tanggal 7 Februari sampai 25 Februari. Marah karena apa? Karena dipaksa mandi oleh pembantu, sementara dia sedang malas, dan maunya dirayu oleh guru tercintanya. Astaganagaaaaaa …. Bagaimana selebihnya? Semua orang bilang, ia baik-baik saja, karena memang tampak tenang, tersenyum, makan dan tidur lancer, dan belajar dengan baik.

Tapi setiap ia YM atau chatting dengan ku, selalu terselip kata-kata “Ibu dimana? Ikhsan rindu”. *terharu

–to be continued—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s