Pengalaman luar biasa (4)

Harus YAKIN .. HARUS.

Masalah exit permit dengan ikhsan dan masalah domestik lainnya mulai tertangani, muncul masalah baru dari Qatar.

Rencana umroh mengalami kendala.

Ada keinginan Eli untuk mengajak aku sebagai kerabat, bepergian bersama. Maka mereka mulai mengurus ‘visa family’ dari kedubes Saudi. Tidak bisa. Harus sudah tinggal di Qatar sebulan, sebelum visa family bisa keluar… Astaganagaaaaa….
Muncul kabar baru.. Kali ini dari Fajri. “Mbak, kalau ikut rombongan hamlah dari sini, mbak Ita berkenan, gak?”. Berkat didikan ayahku yang keras, aku terbiasa untuk menyesuaikan diri dengan segala keadaan.. Maka aku menjawab “mau ikut rombongan sirkus, rombongan tanjidor, pokoknya bisa sampai ke sana… aku Alhamdulillah banget”… Rupanya kawan-kawanku di Doha berusaha terus, mencari berbagai celah. Aku bingung harus bersikap bagaimana.

Sempat aku menyimpulkan bahwa, memang aku tidak diperkenankan untuk pergi beribadah sekarang. Rasanya putus asa mengikuti perubahan demi perubahan. Rasanya, kok, susaaaahhhh beeettutuulll.. Tapi ketika aku menyampaikan itu kepada salah satu orang terpenting dalam hidupku, jawabannya membuatku terkesiap, “Tah, ini belum titik. Ini masih koma. Kenapa gak coba urus visa dari sini?”… Pernyataan yang membuatku menarikan jari lagi mencari informasi visa dari Indonesia.. Aduh, fakta berbicara ‘kecut’. Di Indonesia, sebagian besar perjalanan umroh baru dibuka/dimulai di akhir Februari dan bahkan ada yang baru awal Maret! Bingung.. aku bingung..

Belum juga ada kepastian apakah aku bisa umroh atau tidak, sementara jadwal keberangkatan ke Doha makin mendekat. Masalahnya, kalau memang akan umroh, aku harus suntik meningitis (biaya tidak sedikit) dan aku harus menghadap beberapa dokter ku untuk ‘clearance’ (yang berarti, waktu dan biaya juga). Apa boleh buat. Meski belum ada kejelasan, aku putuskan untuk menghadap tim dokter ku. Anggap saja sebagai ‘laporan berkala’. Dokter mata, dokter penyakit dalam, dokter kebidanan…semua aku kunjungi untuk meminta ‘clearance’. Alhamdulillah satu per satu urusan beres….
Aku atur waktu untuk ke Halim, suntik meningitis. Aku atur diri untuk foto menggunakan hisab, karena panitia Qatar meminta untuk mengurus visa. Aku persiapkan diri dengan download berbagai informasi mengenai tata-cara umroh. Aku luangkan waktu khusus untuk belanja berbagai keperluan perlengkapan umroh, dengan tekad “anggap saja PASTI bisa”..

Aku fokus serahterima berbagai kewajiban dan tanggung jawab kepada orang lain di sekitar ku, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan Ikhsan. Aku fokus meluangkan waktu dengan Ikhsan, agar ia tidak merasa terabaikan. Mulanya semua seakan lancar, sampai Ikhsan beberapa kali melihat aku membongkar-pasang berbagai barang yang akan aku bawa dalam koper. Hampir 4x aku membongkar susunan barang yang akan aku bawa, karena memang banyak sekali. Aku akan tugas di Qatar selama nyaris 9 hari (mungkin lebih) dengan konteks menemui klien dan audiens (seminar, workshop) dalam suhu 10-14derajat celcius. Aku yang sangat tidak tahan dingin, tentu menyiapkan segala perlengkapan perang melawan dingin (yang berarti, berat dan tebal) dengan pemikiran: belum tentu bisa cuci atau kering seketika… selain itu, aku harus siapkan perlengkapan umroh di negara dengan cuaca biasa-biasa saja (tapi ada yang bilang juga, dingin karena masih musim dingin tanpa salju) dengan konteks harus semua tertutup dan bersih untuk beribadah. Tidak ada kejelasan dimana aku akan tinggal dan bagaimana jadwalnya, sehingga tentu sulit bagiku mengira-ngira jumlah baju yang harus aku bawa. Aku juga tidak tahu dimana aku akan tinggal dan apakah aku bisa mencuci… Banyak betul yang aku tidak tahu..

Karena sering melihat aku bongkar pasang koper dan melihat banyaknya barang yang aku siapkan, Ikhsan gelisah dan marah justru satu hari sebelum aku harus berangkat. Ia menuntut menyiapkan koper juga. Ia mau ikut!
Alamaaakkkk, bagaimana ini?

Menenangkan seseorang yang sedang terguncang dan marah, tidak bijak bila dilaksanakan ketika ia masih emosi. Tidak ada hasil yang dicapai, bahkan kita pun bisa terpancing emosi. Aku tahu itu. Tapi, ketika ia marah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatinya dan berbincang dengannya. Aku hanya mendapatkan ledakan amarahnya dalam bentuk teriakan dan jari yang terus menunjuk kea rah lemari pakaiannya karena ia minta aku membereskan pakaiannya. Pada akhirnya aku hanya bisa menangis tersedu-sedu, putus asa, dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku keluar dari kamar Ikhsan, dan duduk di depan televisi sambil terus menangis tersedu-sedu…

Sekitar 10menit kemudian, Ikhsan mendatangi ku, dan tiba-tiba memeluk pundak ku dan mencium keningku. Tentu saja aku makin menangis. Tapi aku lihat ekspresi wajahnya jauh lebih tenang dan ia tidak marah lagi. Ternyata tangisan ku membuatnya tersadar bahwa sikapnya sudah membuatku sangat sedih, dan hal ini membuatnya berhenti marah. Ia tidak suka aku sedih. Pada saat itu lah aku menjelaskan lagi bahwa “Ibu harus berangkat, ya, San.. Ibu kerja, dan juga Insya Allah bisa ibadah”. Dia hanya senyum…. Tapi itu sudah cukup bagiku.

Pada malam aku harus berangkat, aku ke bandara sekitar jam 21. Aku lalu shalat di bandara, dengan tekad untuk menitipkan Ikhsan dan ibuku pada Sang Pencipta. Alhamdulillah, shalat di tempat sepi di malam seperti itu, memberikan kekhidmatan tersendiri, dan aku melangkah masuk ke dalam bandara dengan kepala lebih tegak, meski tetap dengan kecemasan luar biasa dan mata sembab…
Ya Allah, aku titipkan anakku dan ibuku kepada Mu, karena hanya Engkau yang bisa menjaga mereka dari berbagai marabahaya…

-to be continued-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s