Kilas balik: the big leap in 2012 (2)

Which brings to the big leap that seems to change my life….

Kilas balik, sepanjang bulan Mei, persis sesudah acara Walk for Autism selesai, aku didera masalah domestik secara beruntun. Diawali dengan dirawatnya perawat ibuku sehingga aku harus dengan cepat mencari pengganti. Saking mendesak maka tentu saja pekerja yang kuperoleh cenderung ‘asal’. Aku hitung dalam kurun 4  minggu aku berganti tenaga pekerja nyaris 5 orang …dengan masa kerja antara 2 hari sampai 20 hari, bahkan yang terakhir, hanya 1 jam di rumahku sudah aku suruh pergi.

Aku bahkan sempat semalaman mengurusi ibuku seorang diri, sementara Sam suamiku harus cepat-cepat datang dari Serpong karena aku butuh seseorang untuk membantu mengawasi Ikhsan. Bukan hal yang mudah, meski juga bukan hal yang tidak mungkin. Satu hal yang menguatkan aku adalah pemikiran: “aku ada karena ibuku dulu mengurusi aku, menyuapi, menggantikan aku baju, mengapa aku tidak mau melakukannya untuk beliau sekarang?”.

Alhamdulillah akhirnya masalah domestik ini tuntas di awal bulan Juni. Sebulan penuh aku berjibaku masalah domestik. Aku harus masak untuk Ikhsan, menyambut kedatangannya, sementara harus mengawasi kinerja “orang baru” yang mengurusi ibu ku yang sudah renta.

Pada saat dihadapkan pada masalah-masalah domestik itu, aku seperti tersadarkan bahwa  aku makin dibutuhkan kehadiranku di rumah.
Makin dewasanya Ikhsan tidak membuat segalanya makin mudah. Memang ia – alhamdulillah- sudah bisa mengurusi dirinya sendiri. Tapi bagaimanapun, ia perlu orang lain untuk urusan makanan dan keselamatannya di rumah, dan justru hal tersebut sulit diperoleh sekarang karena orang sudah cenderung ‘takut’ bekerja di rumahku…

Maka di tengah kegalauanku ‘kehilangan’ pekerjaan di lembaga yang aku tinggalkan tersebut, pagi-pagi aku terbangun dengan pemikiran ‘nekad’. Aku bangunkan bapak, “pak, kenapa aku tidak kelola saja sebuah lembaga untuk anak-anak”.
Alhamdulillah bapak yang sangat sabar dan sayang pada kami ini,  bisa tenang menghadapi cetusan-cetusan ide ku, dan mengajak ku untuk berpikir secara obyektif …. mengajakku duduk tenang dan membahas semuanya secara runut..

Singkat cerita, aku memberanikan untuk menindak-lanjuti ide di pagi buta itu.
Persis sesudah Mandiga libur, aku mulai kegiatan di pavilyun rumah ku, dalam bentuk sebuah pusat belajar, dengan nama Rumah Belajar Tata.

Kenapa Rumah Belajar ?
Kenapa pula diberi nama Rumah Belajar Tata?

Sederhana.
Aku senang mengajar.
Aku senang sekali bila banyak pihak memahami pakem-pakem yang kuyakini penting dalam hidup anak berkebutuhan khusus. Aku yakin mereka harus mandiri, harus bisa urus diri sendiri, sementara harus tetap mengejar potensi terbaiknya. Aku prihatin melihat banyak orangtua hanya fokus pada memberikan terapi tetapi terlena dengan masalah toileting, makan, sampai berpakaian. Anak-anak ini harus dibantu penuh, masih pakai pampers meski sudah mau masuk SD, dan sering tidak bisa makan makanan padat karena tidak dilatih….
Aku juga senang sekali bila para guru makin terampil mengurusi anak-anak ini, para orangtua makin konsisten dan tega menjalankan berbagai dasar pemikiran penanganan anak-anak ini, sehingga pada akhirnya anak-anak berkembang remaja dewasa dengan masalah minimal, mudah diatur, mudah ditata sehingga keluarga bisa hidup optimal.

Tata?

Ah, karena menggunakan rumah keluarga besar, maka aku teringat nama kecil yang dipakai dalam keluarga besar Cipinang: Tatah.  Panggilan yang dipopulerkan oleh keponakan-keponakan ku dulu ketika belum bisa bicara lancar, mereka memanggilku Tatah sebagai singkatan untuk “tante Ita”.
Nama itu terus melekat pada ku, bahkan pada ‘cucu-cucu’ yang adalah anak-anak para keponakan ku. Mereka menyebut ku “eyang tatah”.

Maka, karena aku juga ingin semua anak ini menjadi anak yang ‘ter-tata’ dan aku menggunakan rumah keluarga yang mengenalku sebagai Tatah, maka dengan ringan aku sebut Rumah Belajar ku menjadi, Rumah Belajar Tata.

Rumah Belajar Tata sudah beroperasi sejak Senin 18 Juni 2012, dengan 3 siswa. Alhamdulillah dibantu satu guru fulltime dan satu guru partime, kami jalankan hari-hari awal ini dengan penuh debar semangat. Aku sudah jalankan satu kali kelompok Guru Belajar, dimana sekitar 15 guru dari beberapa lembaga (ada yang dari Solo dan Karawang!) duduk bersama untuk belajar ‘bagaimana menjalankan konseling bersama anak autistik’.
Aku sudah praktek (lagi) sebagai psikolog, membantu orangtua anak berkebutuhan khusus menemukan jalan keluar dari kerumitan permasalahan penanganan anak-anak sehari-hari.

Kini kami fokus berusaha menjelaskan kepada lingkungan apa yang sedang kami upayakan ini. Bukan sesuatu yang muluk rasanya kalau aku ingin lebih banyak orang paham bagaimana menolong anak-anak ini dan keluarganya. Aku juga ingin lebih banyak orangtua tahu bagaimana menangani anak-anak mereka.

Bekerja di rumah memungkinkan aku mengawasi penanganan ibu ku, mengurusi kebutuhan Ikhsan-ku, dan pada saat yang sama, Insya Allah, menyebar ilmu dan mengupayakan perbaikan dalam kehidupan keluarga dengan anak autistik.

Insya Allah kita semua menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, lindungi kami.

2 thoughts on “Kilas balik: the big leap in 2012 (2)

  1. Risti says:

    Hai mbak Dyah…
    Salam kenal ya… Aku Risti, mommy dr Naraya (20mo). Aku seneng dan setuju bgt dgn pemikiran mbak bahwa anak autis hrs mandiri dan mengejar potensinya. Anakku memang bkn autis tetapi kerabatku ada yg autis dan aku prihatin krn anak tersebut msh sangat bergantung sm ortunya…pingin bs bantu tp ga tau caranya..
    Pengen deh mbak bs gabung di Rumah Belajar Tata biar aku jg bs bantu anak autis lainnya utk mandiri seperti anak2 lainnya..

    Sukses terus utk Rumah Belajarnya mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s