Kilas balik: the biggest decision in 2012 (1)

Di tahun 2011, aku sempat mengelola tiga lembaga sekaligus.

Mandiga, sudah sejak 2000 adalah ‘my baby’. Dari belum berwujud, sampai akhirnya menjadi ‘remaja’ sekarang ini, melalui berbagai perjuangan sesuai perkembangan pada umumnya. Naik turun, suka duka, mudah sulit, seperti hidup pada umumnya.

Lalu Maret 2011, seorang owner sebuah lembaga yang bergerak di bidang perkembangan anak, mendadak muncul di ruang tamu rumah ku, sepulangnya dari luar kota, dan memintaku untuk berpikir serius membantunya ‘menyelamatkan’ sebuah sekolah khusus yang menjadi korban perpecahan owner ini dalam kerjasama dengan pihak Singapore. Waktu itu aku sedang persiapan menjelang acara kolosal Walk for Autism – Asean Autism Network, sehingga aku meminta waktu untuk berpikir.
Sesudah berpikir sungguh-sungguh, dan didasari keinginan untuk membantu, maka tawaran tersebut aku terima, di pertengahan April 2011. Aku menjadi Manajer Akademis di lembaga tersebut, mengurusi sekolah dan tempat terapi, sekaligus membentuk divisi terapi perilaku yang belum terbentuk kala itu. Lokasi lembaga ini adalah di sekitar Kayu Putih-PuloMas-KelapaGading.

Pada waktu bersamaan, aku sedang menggodok sebuah proyek besar. Sekolah Lanjutan untuk anak remaja-dewasa autistik. Untuk Ikhsan-ku.

Proyek besar yang kemudian diberi nama Lentera Asa ini, mulai beroperasi Juli 2011. Lokasi? Ciangsana-Cibubur. Dan ini merupakan awal yang luar biasa bagi perkembangan Ikhsan-ku di usianya yang ke 20. Di LenSa aku ‘hanya’ bertindak sebagai konseptor, penggagas, sekaligus Konsultan yang mendukung penuh perjuangan Kepala Sekolah mengarungi hari demi hari mengelola sekolah ini… Tidak mudah, tapi tetap, bisa dikelola dengan baik…

Mulanya–meski sangat stres dan lelah — tiga proyek ini berjalan dengan baik.
Jadwalku padat, 2x seminggu ke Mandiga, 2-3x seminggu ke lembaga di KayuPutih/PuloMas, dan sesekali dalam sebulan, diminta ke Cibubur untuk mengawasi atau memberikan pelatihan/bimbingan. Melelahkan.

Tapi melelahkan secara fisik tidak lah mengganggu, dibandingkan melelahkan secara psikis.

Ha? Maksudnya?

—tobecontinued—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s