Kilas balik: the biggest decision in 2012 (2)

Lelah secara psikis, terasa ketika lingkungan baru dimana aku bergabung, tidak bisa menerima aturan dan tuntutan pekerjaan yang dicanangkan.
Pegawai lama merasa sudah nyaman dengan tatanan yang berlaku sejak dulu. Mereka enggan berubah, apalagi, perubahan tersebut mereka rasakan sebagai ‘beban’ dan bukan ‘kewajiban kepada orangtua anak yang menjadi murid mereka’.

Memangnya aku menuntut apa?
Aku menuntut dibuatnya program pendidikan dan penilaian serta pelaporan yang akurat serta obyektif untuk SETIAP siswa yang ditangani.
Bukan hal yang mudah untuk diperjuangkan.. Apalagi, pimpinan, pemilik, dan manajemen tidak mendukung langkah ku.
Sangat mengherankan…karena permintaan untuk membentuk tuntutan-tuntutan tersebut justru aku terima dari pemilik yang sudah bersusah payah datang ke rumah ku nyaris setahun sebelumnya untuk memintaku membereskan urusan ini. Tetapi ketika permintaan itu aku coba penuhi, aku tidak didukung.

Maka sesudah berpikir keras beberapa hari, bertanya kepada beberapa orang signifikan, aku memutuskan untuk “membela hati nurani” dan meninggalkan lembaga tersebut.
Kata-kata dari seorang dokter senior yang adalah kenalan lama pemilik lembaga tersebut, menjadi penguat ku saat memutuskan mengambil pilihan ini. “Kamu harus disitu? Buat apa kalau tidak dihargai?”.

Sementara suamiku, yang begitu paham diriku, hanya berkata dengan bijak: “Aku tahu kamu tidak akan menggadaikan cintamu kepada anak-anak itu”.

Ah, bukan hal yang mudah untuk mengambil keputusan ini.
Tapi hidup ini adalah pilihan….dan kita kadang dihadapkan pada pilihan yang sangat terbatas.
Memilih yang terbaik di antara keterbatasan, itu yang akhirnya aku lakukan dengan menitipkan surat pengunduran diri ke rumah pimpinan lembaga tersebut. Tidak ada kata perpisahan, tidak ada kalimat yang aku utarakan untuk menyampaikan alasan. Kecewa yang mendalam atas tidak adanya kepercayaan dan dukungan sudah membuat hatiku membatu.
Aku tidak dendam. Kala itu memang aku marah besar. Sangat marah.
Tetapi kini, aku justru  merasa bersyukur bahwa Allah sudah memberikan begitu banyak kabar-kabar yang membuatku berani mengambil keputusan besar ini…

I quit.

And I’m grateful I did what had to be done.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s