Sebuah awal dari serangkaian pencapaian …. (1)

Juni 2012 menjadi awal (lagi) dari sebuah langkah besar.

 

Sesudah bertahun-tahun menyewakan kepada orang lain, pavilyun sebelah akhirnya dipergunakan untuk keperluan keluarga. Atas sepengetahuan keluarga, tentunya.

Dipakai untuk apa?

 

Untuk mewujudkan mimpi dan harapan ku.

 

Jadi, gini.

 

Sedari Ikhsan, pangeran ku, masih balita, masalah hidup yang aku hadapi adalah bagaimana membantu Ikhsan untuk dapat mengurus dirinya sendiri. Mulai dari toileting, berpakaian, makan, sampai mandi dan membereskan berbagai keperluannya. Gampang? Tentu tidak.

Urusan toileting nya aja nih…hadeeuhuhhh…. sampai umur 6 tahun ia masih mengompol dan seakan ‘tidak sadar’ pada apa yang terjadi. Bahkan ia sampai perlu menjalani penanganan ‘alternatif’ agar pada akhirnya bisa menjalani ‘latihan toileting’ … Bayangkan. Anaknya tinggi besar, maka ketika berusia 6 tahun ia harus pakai pampers karena belum bisa ke toilet secara mandiri, maka ia sudah pakai ukuran S dewasa !

 

Sesudah itu, masalah makan menjadi kendala. Sampai usia 10 tahun ia masih disuapi. Memang sih, semua makanan masuk. Nasi dan lauk. Tapi, masa disuapi, sih? Kan dia makin besar??

Maka usia 10 tahun, aku mencanangkan agar ia makan sendiri. Agak sulit, tapi pada akhirnya sukses meski ia dengan tegas menyampaikan (dengan caranya sendiri) bahwa ia tidak suka dan tidak mau makan nasi karena “lengket dan tidak enak”. Sampai sekarang.

 

Bila dikilas balik, sepertinya satu hal yang membuat hidup kami sekeluarga saat ini “nyaman” adalah fakta bahwa Ikhsan mandiri dan komunikatif, serta tertata perilakunya, dan luas pengetahuannya. Ingin sekali aku membuat begitu banyak anak balita lain meraih hal yang sama. Ingin sekali aku membantu orangtuanya meraih hal seperti itu, sementara mereka harus bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga…  

 

Berkaca pada pengalaman-pengalaman ku itu, rasanya tidak rela melihat anak-anak dengan kebutuhan khusus, hanya diperhatikan masalah terapi nya saja oleh orangtua. Mereka mengantarkan anaknya dari satu tempat terapi ke tempat terapi lain, tapi tidak  memperhatikan dan tidak menangani urusan kemandirian anak. Sudah usia 5 tahun, masih pakai pampers. Masih disuapi. Masih ngedot. Tidak makan nasi tapi makan bubur blender. Ow, ow, owwwww….

Yang lebih membuat aku terkesiap adalah ucapan salah satu kordinator terapis di sebuah tempat terapi terkemuka di bilangan Jakarta Timur: “memangnya kami ini babysitter, harus mengurusi hal-hal seperti itu?”. Ow, ow, owwwww….

 

 

Aku  lalu tuangkan mimpi ku dalam bentuk diskusi. Siapa lagi yang aku ajak diskusi pertama kalau bukan suamiku. 

Ia hanya tersenyum, dan mengajak aku membahas semua detil yang akan muncul begitu aku mulai “menjalankan” usaha ini. Langkah berikut adalah, lapor kepada semua kakak tentang rencana menggunakan sebagian rumah keluarga untuk wujudkan mimpiku. Alhamdulillah, semua mendukung. Mereka senang bahwa “rumah papah akan dipakai untuk tujuan positif dan Insya Allah berkah karena untuk menolong orang lain”..

 

Maka mulailah hari-hari, minggu-minggu persiapan.

Aku tidak bisa tidur pulas.

Stres berat.

Rasanya kok tidak ada titik terang. Rasanya kok susah sekali mewujudkan. Maklum, hanya bermodalkan semangat dan tekad! Tidak ada yang lain…

Belum lagi ocehan-ocehan orang-orang dari berbagai sumber yang menuduh ku melakukan ini demi …. *demi apa?

 

Senin 18 Juni 2012, pada saat libur sekolah, Rumah Belajar Tata resmi mulai beroperasi.

Masih skala kecil sekali. Hanya satu guru full-timer dan satu guru part-timer. Bertiga kami keluar masuk pasar membeli berbagai  perlengkapan yang kami perlukan pada hari-hari awal. Bertiga kami siapkan alat bantu mengajar. Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak. Alhamdulillah ada satu-dua-tiga orangtua mempercayakan putra-putrinya untuk kami kelola. Alhamdulillah celotehan dan suara anak-anak ini membuat hari-hari makin ceria. 

 

Kini sudah minggu ke dua.

Anak-anak sudah terbiasa dengan rutinitas. Mereka dengan mudah adaptasi dan mengikuti tuntutan serta pengarahan.

Mulai terlihat masalah baru: orangtua ada yang kurang disiplin. Datang terlambat 2 jam, atau bahkan tidak datang sama sekali. Ow, ow owwww…

Sesuatu yang sangat membuat aku gelisah, karena orangtua ini tidak sadar betapa waktu adalah sangat berharga ketika menangani anak berkebutuhan khusus.

Yang menyenangkan, sudah ada satu kelompok guru yang berkumpul untuk belajar di hari Sabtu lalu. Itu mimpi ku juga. Bahwa pada akhirnya guru memiliki keterampilan mengelola dan menangani anak-anak berkebutuhan khusus, yang masih sarat dengan aneka masalah.

 

Terimalah persembahan kami, Rumah Belajar Tata.

Sebuah wadah untuk belajar. Siapa saja bisa belajar. Anak, orangtua, guru, terapis. Semua bisa belajar…

Mau belajar apa? Yuk. Belajar bersama kami…

 

Mimpi ku, harapan ku.

Ya Allah bantu aku mewujudkan mimpi ku ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s