Mereka punya perasaan….

Hari ini sangat melelahkan untuk aku.

Pagi, ke RBT, ada ‘a true baby’ jelas-jelas autistik (2 tahun 9 bulan) dan nangis jejeritan karena selain ini hari pertama, dia dapat minuman yang aneh bin ajaib (oalaaahhh)…. lalu ada anak usia 8 tahun yang badannya tebal hampir 50cm, belum tertata dan merobek semua majalah yang ada di RBT…

Sesudah selesai dengan dua orang itu, saya bergegas ke sekolah Ikhsan karena ada tamu dari Bandung. Mau belajar, ceritanya… Pulang dari sana, saya lelap di mobil, dan sampai rumah merasa sangat tidak enak badan…

 

Maka, ikhsan dikirim les piano sendiri, dengan supir (yang jarang ketemu dia karena statusnya supir tidak permanen). Belum juga terlelap, sudah ada bbm dari guru Ikhsan di Kelapa Gading:

 

 

kak Marieska (guru piano): “Tante, ikhsan datang les marah-marah, sampai pukul kepala. Ada apa?”

aku: —wah, tadi berangkat baik-baik saja…coba saya tanya supir —-

supir:  “di mobil makan jagung bu, gak ada masalah”. 

ibu: “Oke, kak Marieska, tolong tanya Ikhsan, pakai pilihan jawaban. Lalu kasih tahu dia, kalau mau terus belajar, tidak boleh marah. Kalau mau marah, pulang saja…

 

 

Hasilnya??

 

-pembelajaran bagi supir, supaya tetap ajak bicara penumpangnya meski ia autistik…karena kalau tidak diajak bicara, ia merasa diabaikan🙂

“Edwin, Ikhsan marah karena di mobil tidak diajak bicara…mungkin dia merasa diabaikan. Jadi, nanti waktu dia pulang, Edwin bilang gini aja: ikhsan tadi les ya…yuk kita pulang … tapi aku diem ya…soalnya kan aku lagi nyupir”🙂

 

-pembelajaran bagi guru musik, supaya tetap tegas dan kasih prasyarat perilaku kepada dewasa autistik ku…mau disini, harus baik.

“Ikhsan mau belajar, harus tertib dan tenang. Kalau marah-marah, Ikhsan pulang saja”

 

-pembelajaran bagi ibunya, bahwa teknik komunikasi dan penanganan harus disebarluaskan kepada siapa saja, tanpa kenal lelah

 

-pembelajaran bagi Ikhsan, bahwa kalau perilaku tidak ditata, orang lain tidak mau urusan sama dia*sampai rumah dikuliahi habis2an oleh ibunya

 

 

 

Pesan khusus kepada semua orangtua dan  guru maupun keluarga yang bersinggungan dengan masalah autisme, komunitas ini tidak beda dengan kita. 

Mereka punya perasaan.

Mereka punya hati.

 

Dalam perilaku Anda, bayangkan Anda yang dikenai perlakuan. Kira-kira, Anda mau kah diperlakukan seperti itu?

Hati-hati.ImageImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s