Verbal, non-verbal, verbal terbatas, non-verbal komunikatif

Istilah-istilah tersebut di atas, makin marak dibahas dalam komunitas orangtua dengan anak autistik.

Saya yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia pendidikan anak autis, kadang jengkel juga dengerin (atau baca) komentar-komentar bernada ‘sotoy’ dari orang-orang yang merasa sudah *pakar* dan mendesak (sering dengan nada keras menjurus kasar) agar orangtua berusaha keras agar anaknya bisa bicara (atau, verbal). Seolah, kalau anak tidak bisa verbal, maka habislah masa depan anak…

Masalahnya… bagaimana anak-anak ini jadinya di saat remaja-dewasa, tidak ada yang bisa tahu, kan.
Biarpun jumpalitan terapi ini itu…intensif, konsisten, tega… teteup aja… hasil akhir adalah urusan Allah swt. Well, at least, that’s my belief sih… Not necessarily everybody’s ..🙂

Anyway bytheway busway ….

Alhamdulillah sesudah berusaha keras berbelas tahun, saat ini Ikhsan Priatama, si buah hati kami yang sudah berusia 22 tahun… lumayan bisa mengungkapkan kejadian (plus perasaannya) disertai perkembangan emosi yang selaras sesuai kejadian. Bahasanya memang tidak secanggih remaja lain seusianya. Ya iya laaahhh kan dia autistik! Autisme, mencakup gangguan komunikasi, toh?

Silakan disimak berkas berikut… Ini adalah rekaman bbm-an saya dan dia siang ini. Dia di sekolah, dan saya dalam perjalanan (nyupir di toll) jam 2 siang (puanas terik). Saking kaget dan galau, saya sampai berkali-kali berhenti di pinggir toll untuk jawab bbm dia. Kalau tidaksaya lakukan, kesempatan (momentum) untuk bercakap-cakap dengan dia akan lenyap… apalagi dia juga galau dan kaget…

Sesampai di sekolah, saya wawancarai guru-guru dan Kepala Sekolah,ternyata ceritanya: dia selesai pakai laptop untuk belajar (bikin imel, attach file, tanya-jawab tentang acara weekend di rumah), karena sebel tidak lancar kerjakan soal matematika nya (gak ada hubungan sama laptop kalau yang itu), dia lempar laptop ke dalam locker —jatoh…lalu ketahuan batere lepas. Guru ambil kertas, lalu bahas kejadian, dan dia diminta lapor ke ibunya. Maka, terkirimlah pesan-pesan berantai tersebut di atas.

Perjalanan kami untuk bisa sampai ke titik ini, tidak bisa dibilang sederhana. Rumit, panjang, penuh tangis dan tantangan.. Tapi jerihpayah dia (dan saya) berbuah manis. Apakah saya berhenti di titik ini? Oh, tentu tidak. *senyum lebar

Saya mensyukuri pencapaian ini, tapi saya tidak akan berhenti mencapailebih dari hari ini, karena saya akan terus usaha sampai nafas sayaberhenti nantinya.

Selamat membaca.Semoga berkenan.
Kalau tidak berkenan, tidak masalah. Just don’t spoil this magnificent feeling of mine. I’m just proud of him. Just because he tried his best, to reach this point of life.
Are we stopping?
Of course not !

*still smiling widely*bbm1

bbm1a

bbm2a

bbm2b

bbm3a

bbm3b

bbm3c

bbm4

bbm4a

bbm4b

bbm4c

bbm4d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s