The phone call.

SMS itu bunyinya ‘khas’.
Menyapa apa kabar. Menanyakan gimana si Ikhsan, kerjaan, dan lain sebagainya.
Lalu, karena sudah lama tidak bersapa lalu tiba-tiba kontak, biasanya disusul dengan sederetan kata penjelasan kenapa tidak pernah menyapa.. Dan akhirnya, minta kesempatan tukar pikiran, kirim PIN BB atau minta waktu untuk telpon ke rumah.

Selalu begitu.

Kali ini juga.

Teman yang sudah lamaaaa sekali tidak berkabar, tiba-tiba minta waktu berhandai-handai. Dan malam hari itu, mengalirlah segala kata darinya.
Anaknya yang dulu kalau kukunjungi selalu menyapa dengan menyebut hari dan tanggal terakhir bertemu (buset dah), sudah semester 6, dan akan harus ‘magang’. Maka hebohlah si ibu dan si anak. Magang? Ngapain? Dimana? Melakukan apa? Lalu kalau ada masalah, bagaimana? Kalau tidak diterima lingkungannya, jadi harus apa? dan sejuta lagi pertanyaan…

Ah, selalu begitu.

Seberapa pun kondisi si anak, mau sejago apa, mau lulus dari mana pun, pasti ketika akan menghadapi hal baru, timbul sejuta kekhawatiran.. Sama juga dengan aku dan Ikhsan-ku.

Hm.
Jadi mikir.
Kalau memang begitu sulitnya berada di antara masyarakat yang memang tidak ramah terhadap DBK (dewasa berkebutuhan khusus), buat apa dong rebutan dapat tempat di sekolah terkeren dan dapat ijazah teryahud??

*belum ada jawaban pasti karena judulnya ya hipotesa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s