Pengalaman di hari Sabtu kelabu (1)

Hari ini, pagi-pagi sudah bersiap antar Ikhsan ke dokter gigi langganan di Panglima Polim. Sudah ada rencana, kalau ditinggal bapak ngantor nanti, Ikhsan dan ibu akan jalan-jalan. Entah kemana, tergantung kondisi.

Kok tergantung kondisi?
Ah, sudah lama aku berhenti berusaha menjadi orang yang tahan banting dan mampu melakukan segalanya. Sudah lama sekali aku mengakui keterbatasan diri sebagai ibu anak autis. Jadi selalu ada klausa “kalau jadi, aku akan ajak Ikhsan untuk …. Tapi kalau gak kuat, gak jadi..”.

Mulai deh, perjuangan.
Datang, ruang tunggu sudah ramai. Banyak orang.
Tiba-tiba ada remaja keluar dari satu ruangan, diikuti oleh ibu berambut ubanan yang matanya sekejap terbelalak melihataku (seperti kaget ?). Aku sudah menduga bahwa tentunya mereka adalah salah satu dari kami (ibu dan anak special). Betul saja.
Akhirnya setelah lewat beberapa kali, ibu itu menyapa aku dengan berkata “lupa ya.. saya ‘anu’ yang dulu sama-sama ibu ‘itu’ di ‘tempat sana’..” dan meluncurlah sederetan nama yang merupakan kenalan lama sejak dulu.. Ah, dia teman lama! Senangnya.. *kami dadah-dadah dan senyum sambil berpisah ketika aku akhirnya masuk ruang periksa dan ia ke arah kasir untuk membayar

Di dalam ruang periksa, tumben, Ikhsan tidak sekoperatif biasanya. Beberapa kali kejadian dia menggeleng-geleng lalu sempat memerosotkan diri supaya menjauh dari dokter giginya. Kebayang gak sih kalau disuruh narik-narik badan setinggi 1.95m seberat 75kg supaya naik ke atas kursi dokter gigi? Oh, maap. Gak usah ya. Cukup dengan suara ‘khas ibu DP’ dong “Ikhsan, N.A.I.K. Kita tidak pulang sebelum ini selesai!”… dan naiklah dia meski dengan ekspresi yang tidak ikhlas. Sambil menunggui dia ‘ditangani’ dokter giginya, aku memberitahu Ikhsan “Kamu kan sudah tahu, ini gara-gara kamu tidak menurut. Sudah disuruh gosok gigi, tidak mau. Ya sudah, tahan. Memang tidak enak. Tidak ada yang bilang kalau dibersihkan gigi dari karang itu akan enak. Gak enak! Tapi harus. HARUS.” —dan aku sesudah itu mengobrol dengan dokter giginya karena kebetulan kerabat. *ini yang bikin bête, kayaknya. 🙂

Sudah?
Belum.
Sesudah bayar dan bikin perjanjian berikutnya, aku tanya Ikhsan, “mau pulang atau jalan-jalan”… dia menunjuk ‘pulang’.
Aku tanya lagi, “mau naik bis, kereta api, atau taksi”. Dia tunjuk bis. Hm.
Aku tanya lagi, “mau mampir mal / toko buku / makan”… dan dia (seperti yang kuduga karena sudah jam 12 kurang) tunjuk kata ‘makan’. Dan dengan mantap dia tulis ‘pizzahut’… Oooooo… baiklah.

Taksi !
Alhamdulillah supirnya senyum-senyum saja. Baik hati sepertinya. Terus senyum ketika Ikhsan dengan semena-mena buang angin secara bersuara dan mantap. *tepok jidat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s