Pengalaman di hari Sabtu kelabu (2)

Sudah sampai di tempat tujuan. ITC Kuningan. Biar bisa beberapa hal sekaligus tercapai. Aku kan ‘master of one-stop-shopping’. Males ah pindah-pindah…
Tujuan pertama, makan dong.
Pesen. Nungguin waitressnya panjang lebar nerangin sementara dari awal aku udah bilang “minta menu delight”. Dia terus aja nerocos nerangin menu-menu baru ke Ikhsan, “ini pak…menu baru.. blablabla” dan si Ikhsan dengan sotoy-lempeng menyimak sambil senyum. Emak gak sabar. Bilang lagi, “minta menu delight”. Emak diabaikan waitress. Emak mulai menghela nafas. Waitress terus menjelaskan, sampai emak-yang-sudah-nyaris-berdiri sentuh tangan si waitress lalu melakukan tatap-mata-sempurna dan dengan suara pelan serta lambat mengatakan “minta…menu…delight”. Baru deh, aku dapet menu delight.
Lalu minta Ikhsan menunjuk apa yang dia mau. Cuma butuh kurang dari 1 menit dia sudah tunjuk spageti lada hitam, pizza beforn, garlic bread (keluh).

Makan, lancar. Cuma berantem dikit soal saos cabai dan saos tomat …
Sewaktu bayar, bon dikasih ke Ikhsan “silakan, pak”. Diabaikan oleh si ganteng yang sibuk kopek-kopek tangan. Duh, waitress… mbok ya amati seksama kasih bon ke siapa. Kalau kau berikan bon ke suamiku (andai dia ikut), aku akan berdiri dan melambaikan tangan ke si penerima bon (yang biasanya gak bawa uang). Emang enak?


Tujuan ke dua, periksa mata.
“Ikhsan, periksa mata, yuk?” dan dia tunjuk-tunjuk matanya.
Kok periksa mata?

Penasaran.
Sudah beberapa minggu ikhsan kedip-kedip terus di sekolah. Seperti yang bermasalah gitu. Mengingat bahwa aku sudah sejak usia 22 tahun berkacamata plus (inget banget deh, dulu masih kuliah di rawamangun)…maka aku ingin Ikhsan diperiksa. Sebelum berjibaku di dokter mata, coba di optic langganan dulu deh! Suruh dia intip ke komputer. Biasanya kan sudah ada perkiraan.

Oke, let’s do it.
Datang ke situ, karena langganan (setiap 3-6 bulan sekali aku ganti lensa) maka mereka siaga membantu. Sayangnya, gak semua. Ada satu pegawai yang dudul.
Ikhsan disuruh duduk ‘kan di depan komputer pemeriksa mata itu.
Karena Ikhsan tinggi besar, maka duduk di kursi biasa menjadikan posisi ‘tidak oke’: dagu jauh di atas tempat dimana ia harusnya menempelkan dagunya. Reaksi si pegawai dudul? “Wah, ketinggian!” dan dia diam saja disitu.
Aku bener-bener kepingin toyor dia. Pingin banget toyor sambil bilang “woy! Terus??? Gak bisa periksa?? Hah?”…
Untung pegawai-pegawai lain lebih ‘cerdas’ dan menyuruh PD (pegawai dudul) itu ambil kursi lain yang lebih pendek. Sempat berbantahan (hadooohhhh) sebelum akhirnya Ikhsan duduk. Aku contohkan dulu, lalu Ikhsan disuruh melakukan. Sempet ribet karena Ikhsan gak tahu (karena tidak diberitahu oleh si PD itu) sampai kapan dia harus letakkan dagunya di situ. Aku juga gak tahu, karena kan yang tahu ya si PD itu?? Akhirnya daripada Ikhsan dipegangin kepalanya lalu bête, aku hitung aja keras-keras “tungguuuuu, satu..dua…tiga…” sementara sudah ganti mata, dan sudah selesai.

Sesudah diperiksa pakai komputer ternyata hasilnya “ada minus-nya” (kanan minus 1, kiri plano cyl 0.50), maka harus check re-check dengan lihat sederetan angka atau huruf kan?? Nah, itu PD, karena memang ‘dudul’ ya langsung aja nyalain dan bengong disitu.
Untungnya aku sudah siapkan tulisan abjad di buku, jadi aku yang tunjuk ke layar dan suruh Ikhsan tunjuk di buku, abjad apa yang dia lihat. Ih, si PD bukannya terus inisiatif dia yang nunjuk ke layar, dia diem aja disitu. Yyyyyeeeeee, situ mustinya yang kerja! Masa, aku! *bête-dot-co-dot-edu

Pada tahap ini, Ikhsan lancar jaya (seperti nama bis AKAP). Ditunjuk apa aja, sekecil apa aja, random kesana kemari, jawaban dia konsisten dengan yang dia tunjuk di buku. Wah, kok??
Tapi karena ya periksa di optik, gak bisa juga kan, nanya yang lain. Misal, silindris gimana? Atau, jangan-jangan dia seperti aku, langsung plus? Dan sejuta pertanyaan lain. Begitu sudah selesai, ya sudah. Terimakasih aja, deh! Besok-besok toh aku balik lagi untuk urusan kacamata aku…

Melangkahlah Ikhsan.
Tujuan berikut?

3 thoughts on “Pengalaman di hari Sabtu kelabu (2)

  1. Reen says:

    Slamat pagi bu, beruntung sekali yaa..ikhsan memiliki ibu spt anda. Hidup kalian begitu bahagia🙂 tapi klo blh komen nih, itu si ikhsan koq pake topi pink sih bu? trs kyny topinya ky topi anak2, kan udh dewasa..beliin topi cowo yg cool donk😉 he is getting older now…

    • Selamat siang.
      Komen sih boleh saja..
      Tapi sekedar info, saya tidak pernah ‘asal’ melakukan sesuatu…apalagi untuk Ikhsan.
      Topinya SANGAT SENGAJA saya beli warna FUCHSIA (bukan pink), milihnya bareng dia di toko POLO yang pastinya gak ada produk anak-anak. Kenapa kok warna Fuchsia? Supaya dari jauh mudah dikenali, karena warnanya unik.
      Gak mungkin dia pakai topi anak-anak. Lha, kepalanya saja untuk ukuran dewasa saja sudah terlalu besar. TIDAK AKAN ada topi anak-anak yang bisa dipakai olehnya…
      Oh, jangan khawatir. Saya sangat paham bahwa dia sudah dewasa. Barangkali lebih paham daripada Anda.😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s