Pengalaman di hari Sabtu kelabu (3)

“San, ke toko buku yuk!”
Sejak kecil, aku tidak pernah berani berharap bahwa Ikhsan akan bisa membaca atau menulis, apalagi bisa ‘menikmati’ buku. Kondisi ‘kekentalan’ autisme nya membuat aku tidak berani berharap banyak. Bukan hal yang mudah meredupkan harapan terhadap anak. Semua orangtua yang anaknya autis, pasti tahu rasanya seperti apa memikirkan perkataan orang seperti ini: “jangan berharap terlalu banyak untuk masa depannya”. Sakit banget. Apalagi untuk aku, yang sedari kecil dididik ayah ku untuk senang membaca, selalu diberitahu “buku itu jendela dunia”… Duh, sedih rasanya kalau inget jaman dulu…
Maka ketika di usia 10 tahun Ikhsan bisa baca paragraf, mengerti cerita, menyukai buku, dan selalu (S.E.L.A.L.U) senang diajak ke toko buku…rasanya gimanaaaaa gitu … *senyum*

Hari ini, kami juga menuju toko buku di pertokoan itu.
Eh, ternyata sudah beralih manajemen menjadi toko buku terkemuka G**me*** .. Ikhsan senang luar biasa. Kelihatan senyumnya makin lebar… Dan, aku juga senang. Karena biasanya ia akan pilih-pilih sendiri, bongkar-bongkar segala rupa sendiri, sementara aku juga bisa urusin diri sendiri.

Ah. Hari ini berbeda.

Tiba-tiba aku didatangi satpam perempuan.
Tanpa priambul dia langsung menyapa “Bu, maaf. Itu cucunya ya?” (eh, minta ditabok!).
“Itu anak saya”.
“Maaf tapi seluruh toko kami penuh oleh ludahnya.”
Ha? Ludah?? Seluruh toko?? Ciyus, luh?
Aku bengong dan menatap ke arah Ikhsan yang sedang sibuk membenahi buku di rak. Di sekitar kaki dan daerah dimana dia melangkah, memang ada tetesan (pay attention here: tetesan. TETESAN). Tetesan warna hitam. Kok?? Apa itu?
Karena si satpam masih berdiri di samping ku, aku nengok ke dia dan bilang “terus? Saya disuruh apa? Keluar??” *tensi meninggi…nafas mulai harus ditahan supaya tidak tersengal

Si Satpam baru mikir kayaknya. Terus dia dengan santai bilang “sepertinya itu keluar dari tasnya”. Dan aku lihat, begitu keadaannya. Tas Ikhsan aku buka, dan aku ambil gelas take out dari pizzahut berisi koka-kola. Bocor. Padahal dia sudah pakai plastic tambahan. Makanya menetes, tes-tes-tes dari tas ikhsan kemanapun dia pergi. Aku ambil, aku buang. Selesai. Si satpam menghilang dan berusaha memberikan tas kresek plastic kepada aku, yang aku hanya tatap tajam saja.

Masalah selesai?
Oh, belum.
Aku diam sekitar 30 hitungan dan berpikir keras.
Aku sangat murka. Bisa-bisanya bilang “ludah” dan “mengotori toko kami”.
Apakah akan mengatakan begitu juga kalau tetesan itu keluar dari tas seorang bapak-bapak dengan rambut klimis atau nona muda berbau harum? Apa mengatakan begitu karena yang dilihat adalah Ikhsan, dewasa autistik yang bersuara riang di saat hati sedang gembira, dan sering menjilat telapak tangan saat terlalu excited?

Belum selesai 30 hitungan, aku melihat si Satpam bersibuk diri bersama seorang tukang pel toko itu, mengepel dan mengipasi lantai… dengan gerakan yang gegap gempita seolah toko itu abis kena banjir dan sedang dibersihkan.
Maka aku datangi seorang pegawai disitu dan minta ketemu dengan manager atau supervisor toko. Ia bergegas menelpon ke dalam, dan aku diminta duduk.

Selang 2 menit, keluarlah si supervisor.
Aku beritahu dia dengan nada bicara volume 4 (dengan skala 10), bahwa ada kejadian beberapa menit lalu. Dan aku jelaskan.
Dia menyimak.
Diam.
Lalu mengatakan “sepertinya ada miskomunikasi”.
Tidak meminta maaf, karena mungkin anak buahnya error.
Lalu bertanya, “maaf saya bicara dengan siapa ya”…yang aku tanggapi dengan memberikan kartu nama ku berlogo yayasan yang mewadahi kasus seperti Ikhsan.
“Ini bukan miskomunikasi. Masalahnya, Satpam Anda tidak mengemas pertanyaan dengan baik. Apa dia tidak bisa mengamati dulu sebelum menuduh?? Harusnya dia tahu bahwa tetesan itu datangnya dari tas. Dan bukan salah anak saya bahwa bungkusan dari tempat makan terkenal itu bocor. Harusnya satpam itu bertanya… ‘maaf bu, dari tas putranya seperti ada cairan’ dan bukan mengatakn ‘ludah putra ibu mengotori lantai toko kami’…”

Aku lanjut lagi tetap dengan suara volume 4 (yang membuat dia harus menyimak supaya mendengar jelas), “saya sebetulnya sangat marah. Amat sangat marah. Ini diskriminasi. Apakah hal seperti itu akan dikatakan oleh Satpam anda kalau tetesan itu keluar dari tasnya nona-nona berbau harum atau bapak-bapak muda perlente berkantung tebal? Coba Anda perhatikan anak saya, apa yang sudah ia lakukan??? Apakah lantai memang segitu kotornya sampai harus secara demonstratif dipel lalu dikipasi supaya kering?”
*kalau inget lagi, pengen nabok si Satpam rasanya.
Pas aku ngomong gitu, si Ikhsan lewat dengan polah tingkahnya yang gembira. Dan memang tidak ada tetesan apapun. Lha wong biang keroknya dari dalam tasnya sudah dibuang.

Tahu gak, si supervisor bilang apa?
“Jadi menurut ibu, itu bukan ludah?”… Astaganaga gombreng. Banyak PD (pegawai dudul) yak?

Masih sabar tuh, aku. Masih aku jawab “coba Anda lihat. Ada tetesan, gak? Kalau itu ludah, harusnya sekarang dia lewat di depan anda juga, masih ada tetesan?? Lagipula kalau ludah, masa hitam??”.
Terus si SD (supervisor dudul) sadar dan mengatakan “bu, mari mungkin lebih baik sambil duduk?”. Ah, enggak. Gw udah neg lihat elo plus para pegawai yang sotoy.

Oiya, di antara kalimat-kalimat aku, sempat aku bilang, “kalau aku lagi gak baik sih, ngapain aku ngomong panjang lebar. Tulis aja di Koran sudah terjadi diskriminasi di toko Anda. Apa iya kalau ada anak autis mondar-mandir ngejatuhin barang lalu anda akan suruh anak itu keluar?” —dan dia langsung bilang “oh, ya enggak, bu”… Halah. Pengen tahu.
Dan dia sempet nanya gini (entah tujuannya apa), “ibu apakah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya?”.. yang aku jawab “ini pertama kali dalam hidup saya. Makanya saya sangat upset. Amat sangat upset. Saya sebetulnya sudah sangat murka, tapi saya menahan diri dan meluangkan waktu bicara dengan Anda. Supaya tidak terjadi lagi, kepada siapapun”.

Ah.
Bete.
Bayar.
Ngeloyor.
Ngajak Ikhsan cari taksi.
Udah gak tahan. Udah sangat tergoda untuk datengin satpam perempuan itu dan nanya “permisi, Anda sudah berkeluarga? Sudah punya anak? Kalau belum, tolong banyak doa ya, supaya anaknya nanti lahirnya sempurna”…sangat, sangat tergoda… tapi kan katanya gak boleh….

*keinget lagi peristiwa tahunan lalu yang melibatkan teman-temanku, ketika anaknya dilarang masuk tempat main roller-coaster yang sudah berkali-kali ia naiki….hanya karena ia autistik…

Ternyata aku sudah gagal.
Bertahun-tahun bekerja keras demi sebuah ‘kepedulian’ …masih saja seperti ini…
Sedih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s