Why?

Kenapa aku bete dengan pengalaman ku di hari Sabtu ini?

Sepertinya karena ‘diskriminasi’ terhadap makhluk Allah swt yang tercipta tidak seperti biasanya.

Perasaan bete seperti ini sudah muncul beberapa kali di masa silam. Misal, ketika ada pertemuan dan Ikhsan kecil (masih usia 5-6 tahun rasanya) asik di tempat tidur tanteku, lalu datang kerabat bersama suaminya ..berdiri di ambang pintu, berbisik-bisik satu sama lain, dan ketika aku masuk ruangan itu, aku melihat betapa si kerabat perempuan itu menciumi anakku seolah dia adalah anak paling malang di seluruh dunia.
Aku marah luar biasa saat itu sebetulnya. Apa apaan bisik-bisik ngrasani anakku seperti itu, ‘menonton’ di ambang pintu, lalu menciumi seperti itu. Emangnya, dia kenapa???
Tapi aku diam.
Dan diam ku bertahan sampai sekarang, ketika Ikhsan sudah berusia 22 tahun. Alhamdulillah aku tidak perlu berhadapan muka dengan orang itu, karena aku bukan orang yang bisa munafik di depan beda dengan apa yang aku rasa. Aku tidak suka anakku dibedakan, dan aku tahu, sikap orang itu tidak akan seperti itu, andai anakku tidak autistik.

Perasaan bete itu juga muncul ketika ada pertemuan dan Ikhsan duduk-duduk di sofa (waktu itu sudah usia 18 tahunan), lalu ketika aku lewat aku dengar tamu yang duduk di sofa seberang anakku membahas anakku seolah dia tidak paham dan tidak mendengar “Oh, dia bisa nyanyi ya?? bisa bersuara?”.
Penyesalan ku waktu itu adalah tidak berbalik dan berbicara kepada anakku seperti ini “Maafkan tamu itu, ya, San. Dia tidak paham bahwa Ikhsan ini, punya nalar, punya hati, dan tidak bicara karena Allah yang menciptakan begitu.. Maafkan dia ya, Nak. Dia tidak mengerti bahwa kamu paham semua perkataan dia, dan adalah sangat tidak sopan dan tidak terpuji membicarakan orang seperti itu…. Yang penting Ibu Ita sayang Ikhsan, kan”. Aku sungguh menyesal diam saja waktu itu. Akibat aku diam, dia tidak tahu bahwa dia itu sudah bertindak bodoh, sama seperti bila kita bicara di depan orang tuna rungu seperti ini “oh gak bisa denger ya, kalau kita tereak-tereak, juga gak bisa denger?? oh, kalau kita bicara biasa…bisa baca bibir kita gak dia” —bicara seperti itu kepada orang lain di depan orangnya. Nyebelin, kan?

Perasaan bete itu juga muncul ketika melihat di antara ribuan orang, Ikhsan dipegangi oleh orang seolah ketakutan kalau anakku akan “lepas kendali” bila tidak dipegangi.
Padahal, Ikhsan sedang menikmati kemampuannya untuk membawa diri dengan ciamik di antara banyak orang, sedang menikmati keterampilannya bergaul dengan banyak orang. Dan, dari jarak jauh ia diamati oleh guru serta teman-temannya… Dan, aku sangat bangga ia bisa jauh dari kami bapak ibunya tanpa harus diawasi terus menerus…
Ngapain sih, anakku dipegangi begitu?? Memangnya dia akan melakukan apa?? Bete, bete, bete.

Dan perasaan bete ini muncul lagi ketika membaca permintaan maaf dari orangtua anak autis kepada pihak ke tiga di luar sana, “mohon maaf atas sensitifitas para orangtua anak autis”.
Eh, apa-apaan minta maaf atas sensitifitas?
Justru pihak ke tiga yang harusnya minta maaf karena tidak sensitif terhadap apa yang dirasa dan dialami kami semua sebagai orangtua yang berjuang mati-matian membesarkan anak-anak agar bisa berbaur di masyarakat, diterima apa adanya tanpa dibeda-bedakan.
Kok minta maaf??

Ih, aku sih, gak akan minta maaf sudah sensitif memperjuangkan persamaan hak dan perlakuan bagi anak-anak autistik ini.
Emangnya pihak ketiga udah ngapain buat anak-anak ku ini??
Lalu, dengan minta maaf seperti itu, apakah lalu anak-anak ku ini masa depannya lebih terjamin??

Tuh, kan.
Bete lagi.

Valium beneran, nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s