Fakta berbicara

Sikhsan-depan

belakang2uka atau tidak, makin banyak di sekeliling aku rasanya.
Orangtua yang (akhirnya) mengakui bahwa anaknya autistik, atau bukan autistik tetapi berkebutuhan khusus. Kalau yang seumuran dengan aku sih, ya emang dari dulu sudah bersama-sama… Tapi yang orangtuanya sudah pantas jadi keponakan aku, bahkan pantas jadi anak aku … duuhhh… terpaksa deh, mengakui juga.

Yang menarik, dari sekian banyak cerita yang beredar di mailing list atau di status-status, sangat berkaitan dengan usia. Mereka yang anaknya masih baru di bawah 3 tahun, masih heboh cari tempat terapi yang ‘pas’. Atau, masih heboh cari dokter ini atau dokter itu. Belanja lah. Belanja diagnosis, belanjaa suplemen, belanja nasihat… (gak janji juga dikerjain atau enggak)…
Mereka yang anaknya sudah menjelang 5-6 tahun, panik cari sekolah atau tempat belajar yang intensif. Setiap hari. Kalau perlu, ditambah sampai sore. Ada yang malahan sampai malam. Hadeeehhh, lupa kalau anaknya butuh ‘main’ dan ‘bengong’ ya? Emangnya kita gak pake acara ‘bengong’ di depan tivi tapi gak tahu lagi nonton apa? (eh, itu cuma aku ya?? hihihiiii).

Nah, mereka yang anaknya sudah menjelang usia belasan tahun…atau bahkan yang sudah belasan tahun, mulai deh. Melolong-lolong. Menangis tersedu. Bukan, bukan anaknya yang menangis. Biasanya ibunya (terang-terangan) dan bapaknya (sembunyi-sembunyi). Kenapa?? (yang nanya, biasanya anaknya masih kecil. Haha).

Fakta berbicara, anak autis (dan kebutuhan khusus lainnya) ketika menjelang remaja, menjadi jauh lebih sulit.
Ha?
Sulit??
Sulit gimana?? Sekarang aja sudah sulit?! (begitu mungkin sebagian pembaca berseru).

Sebetulnya yaaaa…sama dengan anak lain yang menjelang remaja di seluruh dunia. Mereka semua menjadi ‘sulit’ bukan main. Kita sepertinya berhadapan dengan individu yang datang dari planet lain. Yang tidak paham bahasa kita. Yang seperti tidak pernah dididik sama sekali. Yang tiba-tiba punya ide kreatif untuk begini atau begitu.

Bagian yang paling sulit buat kita para orangtua ‘anak khusus’ ini adalah, sudah berkebutuhan khusus, remaja pula. Sulitnya dobel.
Eh, maap. Ada lagi. Kalau remaja ‘biasa’, kan mereka berhenti berulah ketika menjelang dewasa. Di usia 20an gitu, atau akhir belasan lah. Nah, anak-anak kita yang remaja itu, memangnya kapan bisa dibilang dewasa? Secara usia dan fisik, memang kelihatan sudah dewasa. Umur 17 tahun, sudah berhak punya KTP, kan? Sudah dewasa ..katanya. Tapi dari sudut sikap, pikiran, pendapat, kelakuan…emangnya otomatis jadi dewasa gitu?

Huhuhuhuuuuuuu….

Maka…wahai bapak ibu sekalian yang putra-putrinya menjelang remaja dan sudah remaja… yang autistik terutama… bersiaplah.
Bila putra/putri Anda masih usia sekolah, siapkan mereka untuk jadi remaja yang mandiri dan bertanggung jawab. Bukan hanya secara akademis tetapi justru yang paling penting, secara non-akademis. Sehari-hari bisa mengurus dirinya sendiri. Bisa membantu di rumah. Terlibat dalam kegiatan sehari-hari secara operasional. Dan terutama, harus bisa diatur. Harus patuh. Tertib.

Oh iya.
Fakta lain, ada lagi nih.
Berhubung sudah (merasa) remaja dan mampu…biasanya ini anak-anak yang kemarin masih musti dipakaikan baju, sekarang makin sok tahu. Mereka rata-rata tidak paham bahaya, jadi belum paham akibat dari perilakunya. Perilaku apa, misal?
Perilaku “jalan-jalan semaunya sendiri menjauh dari orangtua”. Oh, itu, bakal sering terjadi. Gak mau digandeng. Gengsi duduk deket sama ibu. Senang diajak ke tempat umum sama bapak dan ibu, tapi jalannya jjjjjjaaauuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh di depan atau di belakang. Begitu bapak atau ibunya meleng 1-2 menit, wush, hilang deh si ganteng or si cantik buah hati kita itu.
Itu perilaku khas remaja sebenarnya. Mana ada sih, anak remaja yang mau terus menerus gandengan deket2 sama emak bapaknya? Pasti ada saatnya dimana mereka mau sama temen2nya, gak mau sama orangtua. Malu, ah. Gitu biasanya alasannya.
Bedanya, ini anak-anak kita, biar badannya segede pintu, sebagian besar belum bisa urus dirinya sendiri sepenuhnya. Apalagi kalau model autism nya yang ‘non-verbal’. Lah. Kalau pun kita umumkan melalui public announcement bahwa si Ikhsan dicari orangtuanya…emangnya dia terus ‘denger’ dan peduli, gitu?? Enggak lah…dia mah asik asik aja ngliatin cewek cewek cantik yang bertebaran di sekitarnya.. Atau, kalau dia panik terus ditanya oleh satpam, apa terus bisa jawab pertanyaan “namanya siapa, tinggal dimana, nomer telpon ibu bapaknya berapa” dan sebagainya.

Eeeehhhhh, jangan pingsan dulu.
Tenang, tenang.
1) buat yang memang mampu, ajarin berbagai keterampilan yang intinya “kalau terpisah dari orangtua, kamu harus melakukan apa”.
2) buat yang sepertinya tidak mampu, pakaikan kalung tanda pengenal. Nih aku lampirkan contohnya ya. Bisa print digital kok, judulnya “ID CARD” dan gak mahal… Langsung ke tempat printingnya bisa beruntung dapet 5 ribu per ID..(kalau titip aku, harganya 50 ribu per ID. wek).
3) upayakan kemandirian, ketertiban dan peningkatan kemampuan berkomunikasi pada anak-anak kita.
4) kalau ternyata beneran ‘hilang’ … Begini sistimnya: salah satu dari kelompok Anda harus berjaga di tempat terakhir putra/putri Anda terlihat (biasanya toko favorit), tempat itu adalah tempat dimana Anda terpisah dari anak-anak ini.
Nah, satu orang lagi, silakan secara sistimatis mendatangi toko-toko yang biasa ia kunjungi… Keep in touch dengan ‘penjaga base camp’.
Datangi SatPam2 yang kira-kira bisa ditanya. Kalau yang mukanya ‘dudul’, abaikan. Daripada situ murka?

5) kalau rasanya lagi gak mood dan capek, ya, jangan pergi ! Gitu aja kok repot…

Btw, saking kebiasaan, kami hampir selalu janjian pake baju apa kalo pergi bertiga. Jadi gampang pas ngobrol sama Satpam. Tinggal bilang “lihat pria setinggi pintu yang pakai baju seperti ini, pak? Dia juga pakai topi warna pink. Tinggggiiii banget, pak”…

Fakta tidak selalu menyenangkan, memang. Saya pribadi selalu punya keinginan besar untuk mentungin kepala anak saya yang setinggi pintu itu begitu dia hilang. Tapi kok ya keinginan itu lenyap begitu ketemu anaknya. Hehe..

Salam Peduli Autis !
Selamat Menyambut Tahun Baru 2014.
Semoga kehidupan kita semua dalam lindungan Allah swt. Amin.

*muah*

2 thoughts on “Fakta berbicara

  1. Nita says:

    Assalamualaikum, Ibu Dyah Salam kenal saya Nita. Saya punya anak 3 tahun 4 bln anak saya Saat ini sdng terapi perilaku n treatment makanan dr dokter krn anak saya tidak Ada contact mata klu diajak bicara n blm bs bicara klu setiap diajak bicara blm bs jawab tapi klu kosakata sdh lumayan byk yg dia bisa ucapkan. Apakah dgn pengobatan seperti itu sdh cukup n bs bicara nantinya?

    Terima ksh sebelumnya.

    Salam
    Nita

    • PEnanganan paling jitu untuk anak dengan kebutuhan khusus (apapun itu) sebetulnya adalah pendampingan terus menerus dari orangtua dan lingkungan sekitar, sesuai kebutuhan.
      Masalahnya, orangtua sering tidak paham apa kebutuhan anak pada saat tersebut. Maka ada baiknya orangtua konsultasi dengan para pakar yang terbiasa menangani kasus sejenis. Maaf atas keterlambatan membalas.
      salam,dp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s