Bersyukur.. (1)

Beberapa bulan terakhir ini, rasanya seperti dikejar-kejar kalender.

Sejak Januari lalu, kesibukan rasanya luar biasa. Januari adalah bulan bermakna untuk keluarga kami, karena pada bulan itu lah, Ikhsan berulangtahun. Di tahun 2015 ini, usianya sudah 24 tahun. Sudah dewasa. Tapi karena ia autistik, tentu makna ‘dewasa’ menjadi sangat berbeda.
Bulan Februari, bulan penting, karena salah satu keponakanku, menikah. Tentu kami tersita perhatian ke acara tersebut, karena rangkaian acaranya memang lumayan banyak. Bagiku, acara itu menjadi menegangkan bukan karena acaranya atau pengantinnya, tapi lebih karena aku harus bertemu orang-orang yang masuk kategori ‘enggan untuk ditemui’. Malesin, bahasa gaulnya.

Tapi justru di bulan februari itu, aku sempat bercakap-cakap dengan bapak. Membahas situasi domestik, keuangan, perencanaan… Sampai ke diskusi, ‘mungkinkah kita pergi haji?’. Masalah yang sangat mengganjal adalah bahwa kami kemungkinan besar harus pergi sebagai jamaah ‘khusus’ yang pergi dalam waktu sesingkat mungkin. Bukan sok-sokan tapi lebih karena mengkhawatirkan Ikhsan. Sementara itu, program ‘khusus’ nilai nominalnya tidak main-main, setidaknya untuk kami. Selain itu, aku juga mengkhawatirkan kondisi fisikku.. Akankah aku berada pada kondisi oke manakala giliran kami tiba kelak…bukankah waktu giliran itu bisa mencapai 10 tahun? Duuhh…
Akhirnya Bapak mengusulkan supaya aku cari travel yang ‘cocok’ dari sudut biaya, waktu, jumlah peserta dan rancangan kegiatan .. Tentu semua dilakukan dengan harap cemas, takut gak jadi !

Maret tiba, waktu dan perhatian tersita untuk mengurusi tiga unit lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Lentera Asa Peduli Autisme, yang semua di bawah pengelolaanku. Mengurusi Rumah Belajar Tata, baik balita maupun usia sekolah, sudah cukup menyita perhatian. Apalagi, beredar wacana kemungkinan pengunduran diri salah seorang kordinator yang sudah sangat handal, sangat bisa dipasrahi macam-macam. Duh, serasa satu tanganku mau diputus paksa. Tapi gimana lagi? Masa anak orang mau kita ikat?? Selain mengurusi RBT, aku harus mondar-mandir ke Lentera Asa, mendampingi mereka sesudah Penanggung Jawabnya hengkang tidak tahan terhadap tuntutan pekerjaan (yang lama tidak dijamahnya). Apalagi, Maret itu, kita semua bersiap menghadapi acara penting Yayasan: Konser ‘Kita Bisa’.

Konser?
Apa itu?

Iya.
Aku bercita-cita memberikan wadah dan kesempatan untuk semua anak-anak di RBT dan Lensa, untuk ‘unjuk kebolehan’ untuk ‘menjadi diri sendiri’. Maka dikemaslah acara setengah hari untuk mereka. Dan itu akan diadakan di akhir bulan April. Tentu Maret menjadi bulan penuh persiapan. Mulai dari seragam guru, gerakan siswa, shooting siswa, videoklip siswa, sumbangan acara para guru (dimana aku terlibat)… Ddduuuuhhhh… otak rasanya berceceran.

Di tengah persiapan itu, aku terus menerus mencari informasi dari beberapa teman dekat, untuk bisa memilih travel yang ciamik … Akhirnya aku memilih memakai NurTaqiPutri. Kelompoknya kecil, pimpinannya adik kelas di SMA, temanku sudah memakai jasanya beberapa kali. Sip. Sudah ‘tap’ untuk tengah buan Mei. Sip.

Maret selesai, tiba lah bulan April. Bulan Peduli Autis.
Ah, tanggal 2 April kami sempat ikut ke Monas. Kesannya tidak menyenangkan, karena ikhsan sempat ‘lenyap’ dari pandanganku dan itu membuatku sangat panik. Bagaimana tidak. Monas di malam hari. Gelap gulita. Ya Allah, ikhsan, kamu dimana?
Pengalaman menegangkan dan sangat tidak menyenangkan …karena disitulah aku tertampar dengan fakta bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang yang peduli pada saat aku adalah ‘seseorang’ dan tidak peduli ketika aku bukan siapa-siapa. Alhamdulillah Ikhsan kutemukan sendiri, dan kami pulang dengan perasaan galau. Basah kuyup karena hujan, dan hati luka. Dalam.

April tanggal 6 ketika aku berulangtahun, bapak menyempatkan diri menemani aku mencari kantor NurTaqiPutri untuk menyerahkan berkas. DOR! kami dikagetkan dengan berita bahwa keberangkatan tanggal 18 Mei mungkin dibatalkan karena kurang peserta. Sebaliknya, ada rombongan yang berangkat tanggal 2 Mei. WHAT ! Sebentar lagi ! Haduh, bagaimana? Masa bilang ‘tidak’ ??
Akhirnya dengan mengucap ‘bismillah’, kami iya-kan untuk memajukan keberangkatan menjadi tanggal 2 Mei.

Aku kembali fokus pada menyiapkan acara Konser.
Mendekati hari H, makin banyak hal yang harus dibenahi.
Sukses kah acaranya?
Sepertinya sih, iya…mengingat beberapa guru meminta aku untuk ‘rutin’ ya, bu …🙂

Acara Konser selesai, kami fokus pada persiapan keberangkatan…yang ternyata …maju ke tanggal 30 April ! Ulang Tahun Bapak !

Ya Allah, indah sekali hadiahMu.

Bagian paling penting dan genting tentunya adalah menyiapkan tim yang akan dititipi Ikhsan…
Haduh.
Bagaimana ini?
Di rumah tidak ada pembantu sama sekali.

Jadi?

*to be continued*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s