Bersyukur (3)

Sesudah semua urusan umroh rapih, perjalanan masih diresapi, kesan dan pesan masih hangat di dada ….cobaan dan ujian mulai muncul.

Seperti kebanyakan orang lain, aku berangkat umroh berbekal obat-obatan untuk menunda datang bulan. Sayang bukan, kalau sudah jauh-jauh dan mahal-mahal sampai sana lalu tidak bisa beribadah total karena datangnya si tamu bulanan… Entah apakah karena obat itu atau memang sudah waktunya, yang jelas ketika pada akhirnya tamu bulanan tiba di tengah bulan Mei, rasa sakit di perut bawah, datang tanpa permisi dan tanpa ampun.

Rasa sakit itu bahkan terus bertahan meski tamu bulanan sudah pulang.
Mulailah kunjungan ke rumah sakit dilakukan lagi. Dokter penyakit dalam langganan, bingung … Aku bukan pasien yang cengeng, maka ketika aku datang tengah malam dengan sangat kesakitan, dia tahu, aku tidak mengada-ada…
Itu lah awal berminggu-minggu didera rasa sakit …berpindah dokter … sampai akhirnya diketahui bahwa sumber segalanya memang sudah lama sekali ada dalam diriku. Sudah belasan tahun…

Maju mundur, diskusi serius, ke sana ke mari bawa hasil CT scan untuk bahas hasil macam-macam….akhirnya kami sepakat, buang saja penyakit itu. Sampai ke akar, bila mungkin. Tapi itu berarti, operasi besar …resikonya? Aduh, mak.

Sesudah semua hasil tes persiapan menunjukkan aku bisa menjalani operasi, maka persiapan demi persiapan dilaksanakan lagi.
Tim Densus disiapkan.
Kali ini, tidak seheboh bulan April, karena kami masih bisa dijangkau dan tidak ada perbedaan waktu di antara kami.

Masuk rumah sakit Selasa 30 Juni sore, operasi dilakukan Rabu 1 Juli pagi.
Ketegangan menghadapi operasi, tidak terperi. Segala hal mungkin terjadi, bukan? Bisa saja malam ini adalah malam terakhir, bukan? Pasrah, tawakal, dan berserah, bukan hanya di mulut…tapi harus sungguh-sungguh dari dalam hati.

Alhamdulillah, proses berjalan lancar… Hanya satu malam kesakitan sangat sampai empat macam painkiller masuk tubuhku (tanpa guna).. Jumat 3 Juli siang, kami sudah menuju rumah.. Pemulihan di rumah tentu akan sangat lebih menyenangkan, terutama untuk yang jaga aku.

Selagi di rumah sakit, berbagai kejadian membukakan mata, bahwa:

1) menjaga diri sendiri sama pentingnya dengan menjaga keselamatan dan kesehatan anak kita yang autistik…
Kesehatan, asuransi kesehatan, penting diupayakan … Dan itu, tidak mudah !

2) melatih kemandirian anak
Itu adalah aspek yang paling penting. Bukan akademis atau kemampuan bicara, tapi mampu mengurus diri sendiri.
Kita selalu harus menyiapkan anak untuk bisa hidup baik, selamat, sejahtera, meski kita orangtuanya tidak bisa menjaganya (karena pergi atau karena sakit).
Kan ada babysitternya.
Kan ada kakaknya.

Percaya deh.
Ketika anak makin besar, tidak mudah punya ‘orang’ untuk bekerja di rumah kita …dan kakak/adik yang kita minta untuk menjaga dia, pasti sudah punya kegiatan/kehidupan yang menyita waktu serta perhatiannya juga.
Maka, kemandirian adalah hal penting untuk dicapai. Dan itu perlu tahunan!

3) melatih TIM untuk membantu mengawasi TKP selagi kita tidak ada

Tim ini, tidak harus orang yang kita gaji bulanan. Bisa periodik saja. Sesekali kita minta datang ke rumah, mengawasi, dan atau menginap, saat orangtua harus pergi.
Alhamdulillah…ada guru Ikhsan, guru RBT, office girl RBT, supir bis sekolah, sampai ke tukang yang bisa kami minta datang membantu mengawasi TKP.
Kok, mengawasi TKP?
Iya lah. Anaknya gak perlu diawasi. TKP nya aja. Aman gak, dapur? Ada makanan kah? Kalau tidak ada, bagaimana menyiasatinya. Pintu gerbang sudah digembok? Air nyala? Tidur, semua aman? Dan, kalau ada apa apa, tahu bagaimana mengontak kami.
Bagian “mengontak” kami itu sepertinya masih sulit dilakukan Ikhsan. Karena meski ia sudah lumayan mampu, ia tidak merasa perlu untuk berkomunikasi dengan kami. Itu sebabnya kami belum berani meninggalkan dia seorang diri di rumah. Entah sampai kapan…

Ketika seluruh proses operasi sudah selesai dan aku menjalankan pemulihan di rumah, tiduran ….ternyata masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk membuat Ikhsan menjadi “lebih baik” lagi menyongsong masa depannya.

Tidak apa.

Kami yakin, Allah akan bantu hambaNya yang berusaha keras.

Alhamdulillah wa Syukurillah….

One thought on “Bersyukur (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s