Misteri hidup …

Keluarga dengan anak autistik seperti kami, dari hari ke hari mendapat anugerah ‘misteri’ dari Allah swt.

Bagi kami, anak kami tetap sebuah misteri. Apalagi Ikhsan tidak bisa bicara. Jangankan bercakap-cakap, ketika memerlukan sesuatu atau merasakan sesuatu, seringkali ia hanya menggunakan isyarat atau emosinya untuk mengungkapkan isi hati.
Bagi dia, kami dan dunia di sekelilingnya, mungkin lebih kental lagi misterinya. Begitu banyak pertanyaan tampak berkecamuk dalam benaknya dia, dan kami yang bertahun-tahun berbagi kehidupan bersama, makin dapat mengenali tanda-tanda yang ia tampilkan melalui mimik wajah, isyarat, gerak tangan, suara, ataupun perilaku kebiasaan dan rutinitas.

Begitu juga saat ini, sesudah aku pulang dari Rumah Sakit dan harus menjalani masa pemulihan di rumah.

Kalau operasi besar, yang namanya masa pemulihan ya artinya banyak berbaring di tempat tidur. Mengurangi kegiatan, bergerak dengan lambat, sedapat mungkin tidak banyak duduk apalagi berjalan .. Sesudah banyak berguru kepada mereka-mereka yang sudah menjalani masa pemulihan seperti aku, sepertinya setidaknya selama 2-3 minggu yang akan datang aku lebih baik tidak banyak berjalan. Maka aku diskusi dengan Isam, dan memutuskan untuk menyewa kursi roda selama sebulan.

Kursi roda tiba saat Ikhsan tidak di rumah. Sabtu siang, ia sedang les piano dilanjutkan les lukis, diantar supir sekolah ..
Aku tidak menjelaskan kepadanya bahwa akan ada kursi roda, bahwa ibu akan duduk di kursi roda selama beberapa minggu, bahwa ini semua sementara, dan berbagai penjelasan lainnya. Kesalahan fatal.

Begitu tiba dari les, tanpa banyak penjelasan pula, Ikhsan diajak Isam untuk menjenguk Eyang (ibu dari Isam) di Cinangka, Pondok Cabe. Berangkat pk. 16.15, ketika Magrib mereka masih di sekitar Cinere. Masih jauh. Menurut Isam, Ikhsan sempat gelisah. Ya. Aku tahu. Bahkan ketika akan berangkat, ia seakan tidak paham, kenapa ibu tidak ikut, kenapa ibu tidak mengantar ke pagar, kenapa ibu berbaring terus … Kenapa??

Malamnya, ia gelisah dan sempat marah-marah berteriak-teriak tidak bisa tidur. Persis seperti Jumat malam, malam pertama aku tidur di rumah. Jumat malam, lebih parah lagi. Ikhsan sama sekali tidak mau berbaring di sebelahku, padahal itu adalah kebiasaan kami yang sangat kami nikmati biasanya.. Ia bahkan hanya melirik aku beberapa kali tapi tidak mau menatapku berkepanjangan..

Minggu siang, dalam upaya ‘membuat kehidupan tidak banyak berubah bagi Ikhsan’, kami bersiap pergi ke supermarket besar dekat rumah.

Kursi roda dipakai.
Sayangnya, aku tidak memberikan penjelasan apapun kepada Ikhsan. Aku dan Isam sibuk sekali mengatur diri sendiri (dan mengatur Ikhsan) agar segalanya lancar. Agak sulit, mengingat aku tidak bisa bantu Isam sama sekali dan hanya menatap dari atas kursi roda. Sesuatu yang luar biasa berbeda dari kebiasaan, mengingat aku biasanya justru yang menjadi motor dalam keluarga kecilku ini..

Setiba di tempat, Isam parkir, lalu meminta Ikhsan menunggu di luar mobil.
Gerakanku lambat. Pelan. Hati-hati.
Isam membuka kursi roda, juga pelan dan hati-hati.
Mendadak Ikhsan berteriak sekencang-kencangnya, dan bersiap berlari sekencang-kencangnya ke arah supermarket tersebut, bersiap meninggalkan kami. Ekspresi wajahnya sulit digambarkan. Marah, kesal, bingung, cemas, semua bercampur menjadi satu.
Aku terkesiap.
Isam terhenyak sedetik sebelum berteriak menyuruh Ikhsan diam.
Aku berseru, meminta Ikhsan masuk mobil menenangkan diri. Semua orang di sekitar kami, menatap nanar dan bingung.
Jangankan kalian, aku juga bingung. Bingung. Sedih. Panik. Cemas. Lalu merasa sangat bersalah ….mau nangis rasanya.

Aku dan Isam berpandangan, bertukar pikiran dengan cepat. What’s next?
Aku tahu, Ikhsan galau. Darimana aku tahu? Rona wajahnya, tidak bisa menyembunyikan kegalauan hatinya.

Mendadak aku terhenyak.
Astaga!
Jangan-jangan dia ingat almarhumah ibuku !
*Sedikit catatan kilas balik … Ikhsan tinggal bersama ku dan ibu ku dalam satu rumah selama nyaris 14 tahun sebelum ibuku ‘mendadak sontak’ pergi meninggalkan rumah tanpa diberi kesempatan berpamitan kepada Ikhsan dan aku. Ikhsan menjadi saksi mata mundurnya kesehatan ibuku, dari yang gagah perkasa berjalan kesana kemari bepergian bertiga, sampai akhirnya menggunakan walker, lalu kursi roda, dan akhirnya tidak meninggalkan tempat tidur sama sekali …sampai akhirnya wafat di usia 88 tahun 10 bulan.
Bahwa Ikhsan tidak pernah diberi pemahaman kenapa Uti tidak bersama Ikhsan lagi ….hal tersebut tidak akan pernah dapat dikoreksi. Kenapa? Karena bagi Ikhsan (dan teman-temannya yang autistik), apapun yang sudah berlalu, sudah sulit dipahami. Sudah tidak kasat mata, kan?

Aku dan Isam segera menduga, Ikhsan sangat terguncang melihat ibunya yang biasanya lincah bergerak kesana kemari, perintah kesana kemari, menjadi motor segala kegiatan …mendadak menjadi begitu rapuh dan tidak berdaya … Bukan tidak mungkin ia takut bahwa aku akan seperti ibuku …

Dengan segera, kami berusaha menyiasati keadaan.
Aku berusaha keras menjadi aku yang biasa. Bersikap seolah tidak ada masalah sama sekali, menahan raut wajah agar tidak mencerminkan sakit atau lemah. Di supermarket itu, kami arahkan ia untuk sigap kesana kemari membantu kami. Lalu, aku temani ia makan siang. Aku mengobrol biasa sambil mengusap punggungnya, mencoba menjelaskan bahwa aku (Insya Allah) menggunakan kursi roda hanya sementara saja. Tanpa menghiraukan reaksinya, aku terus mendongeng menceritakan banyak hal …sesuatu yang selama ini selalu aku kerjakan.

transmart, lunch - Minggu 5 Juli 2015

Ketika ia sudah selesai makan dan pergi menjauh ….Isam bertanya, “kamu gak cerita sama dia?”
Dan aku akhirnya mengakui bahwa aku pun mengalami kesulitan menceritakan keadaan diriku sendiri… Kesalahan fatal ke dua …

Maka….kami menyusun rencana lanjutan *to be continued*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s