Ketika ia punya mau … (1)

Memiliki anak autis, hampir selalu masalah terbesar setiap hari adalah komunikasi. Kalaupun anak sudah mampu berkomunikasi, dengan cara apapun, pada akhirnya keinginan untuk berkomunikasi menjadi kendala. Bila ia tidak merasa perlu, maka ia juga tidak berusaha berkomunikasi.

Ikhsan juga begitu. Susah payah diajarkan berkomunikasi melalui sistem pertukaran gambar, mengetik, memilih jawaban, menulis kata, sampai sistem chatting segala cara mulai dari Yahoo Messenger, sms sampai Whatsapp…. Ia bisa semua. Tapi, apakah ia berinisiatif berkomunikasi? Belum tentu….

Dugaanku, memang ia (atau mereka) aktif berinisiatif berkomunikasi, hanya bila ia merasa perlu.

Seperti pada hari itu.

Kami bertiga pergi ke Mangga Dua. Maksudnya mau cari kantor service merk tertentu, untuk perbaiki tablet ku … Info dari web, tempatnya di Mangga Dua Mal. Maka kami ke sana. Sampai sana, Ikhsan langsung sibuk ke Indo Maret, belanja. Sibuk. Kan ada mau. Sambil ia belanja, aku tanya-tanya ke sana kemari, ternyata kantor service yang aku cari sudah pindah ke Mangga Dua Square. Beda tempat. Beda beberapa kilometer… Aku lapor ke Bapak, tapi bapak mengingatkan, ke toilet dulu nih si Ikhsan.. Baiklah.

Siapa kira, menuju dan dari toilet, melewati restoran A&W. Siapa bilang Ikhsan hanya lewat saja? Tentu saja ia mau mampir. Baiklah.

Sambil makan, ia sibuk garuk-garuk kepala. Kami, yang juga kelaparan, sibuk juga dong. Sibuk makan dan sibuk cerita.

Khawatir hari menjadi terlalu siang, selesai makan, aku segera bergegas mendorong rombongan untuk kembali ke mobil dan pindah ke Mangga Dua Square. Beberapa menit kemudian, ketika mobil belum keluar dari tempat parkir, Ikhsan sibuk membalikkan badan menengok ke kursi belakang dan meraih tas ku. Celingak-celinguk, ia mencari-cari sesuatu. Salahnya aku, aku tidak langsung merespons dengan tepat. Aku hanya bertanya, ada apa? Gak ada, gak ada.

Aku perlu beberapa menit untuk tersadar, berkomunikasi dengannya. Maka aku ketik di tabletku, “Cari apa” dan Ikhsan mengetik di sebelahnya, ‘topi’.

Oh. Dia cari topinya!

Maka bapak dan ibu sibuk bertanya-tanya, tadi topinya terakhir dia pakai dimana ya? Aku tahu pasti, keluar dari toilet, ia masih pakai. Tapi di restoran, apakah ia pakai? Kesimpulan sementara, tentunya kita harus kembali ke restoran untuk mencari tahu. Lha, sudah sampai jalan besar!  Sambil tetap melaju menuju Mangga Dua Square, aku mengetik lagi di tablet “topi hilang… mungkin ketinggalan di A&W”… Wajah Ikhsan tidak puas, gelisah, tapi ia tidak berusaha mencari lagi. Ia berusaha duduk diam, meski berulangkali membalikkan badan untuk mencari topinya itu.

Singkat cerita, urusanku di Mangga Dua Square sudah selesai, kami masuk mobil lagi. Dengan tegas, Ikhsan menunjuk ke depan. Ke arah Mangga Dua Mal. “Oh, kamu mau kembali ke tempat tadi?”. Dan ia tegas menjawab “iya”. Bapak dan Ibu sigap berunding lagi, akan langkah selanjutnya. Ya sudah, kita kembali lagi. Pembelajarannya adalah: kalau ketinggalan barang kita di tempat umum, kemungkinannya dua: masih ada, atau sudah hilang. Let’s go.

Di Mangga Dua Mal, aku temani Ikhsan turun dari mobil, berjalan menuju resto tersebut. Aku tiba duluan. Dan benar, topi bertengger dengan nikmatnya di salah satu kursi. Hohohoho, ketemu!  Ikhsan tersenyum sangat lebar, memakai topi di kepala, dan melangkah dengan cara sangat khas yang mengekspresikan perasaan senangnya.

Tuh, kalau ada mau, dia berkomunikasi.

 

#proudofyoualways

Jpeg

Jpeg

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s