Ketika ia punya mau (2)

Kejadian minggu lalu, berulang kemarin.

Kami menikmati hari libur nasional, bersantai di rumah sambil tetap bekerja. Ikhsan sudah sejak siang gelisah dan menunjuk lemari, dengan ekspresi bertanya. Cara khasnya mengajak kami bepergian, dengan memberitahu “aku ganti baju, ya?”. Akhirnya ketika hari sudah sore, pergilah kami bertiga ke mal terdekat.

Seperti biasa, kami mengikuti kemana langkah Ikhsan menuju. Bila kami bepergian tanpa agenda seperti hari ini, semua mengikuti saja kemana ia akan melangkah. Berbeda bila memang sudah ada agenda mencari sesuatu, maka ia harus mengikuti agenda tersebut.

Pertama masuk mal, Ikhsan melangkah ke sana kemari, dan kami segera tahu, ia mencari toilet. Aku yang melihat ATM, segera berhenti karena ada yang perlu dilakukan. Maka terpisahlah kami. Ketika terpisah itu, ternyata sesudah dari toilet, bapak melihat ada outlet menjual sandal jepit berukuran besar. Peristiwa langka. Maka bapak segera membeli, dan ketika kami bertemu, bilang “buat dia berenang…jarang kan yang ukuran besar”. Bilangnya ke aku. Tapi ada sepasang telinga yang menyimak (rupanya).

Sesudah pergi ke Gramedia dan makan malam, kami menuju mobil, tapi aku mampir Ace Hardware. Mendadak Ikhsan menghilang. Kemana? Bapak sudah mengeluh. Aduh, kemana sih, dia…. Beberapa menit kemudian, Ikhsan muncul, dan di tangannya sudah memegang sesuatu. Apa? Oh, ternyata, kacamata renang!  Oooooo, dia minta dibelikan! *dan bapak complain lagi “kenapa dia gak tulis atau ketik sih, kalau minta”  … hehee..

Di Ace, kacamata yang dijual, hanya untuk anak-anak. Di Karfur juga begitu. Ya sudah, terpaksa kami naik lagi, cari toko khusus peralatan sport. Maka ia dibelikan kacamata renang dewasa, dan topi renang  (Bapak bilang, pak Yatno gurunya kan pakai kacamata dan topi renang).

Wow, mukanya cerah sekali. Langkahnya khas, menunjukkan ia senang dapat kacamata baru dan topi renang…

Dalam pembahasan Bapak dan aku malamnya, sepertinya ia teringat akan kebutuhannya ketika bapak bahas sandal jepit berukuran besar untuk berenang. Bisa jadi ia ingat dan berpikir, ih, aku kan perlu kacamata renang. Bagian yang membuat aku senang luar biasa adalah, ia tahu, dimana ia bisa mendapatkannya. Kalau ada mau, kaaannnn……

 

Hari Kamis, keesokan harinya, ia sudah sibuk ambil celana renang dan kasih ke bapak. Padahal renangnya hari Jumat. Woy, salah hari!

Ah, rupanya ia sudah tidak sabar ingin mencoba peralatan renangnya… Malamnya pun ia sulit tidur, bisa jadi karena terbayang-bayang akan berenang keesokan harinya.

 

 

IMG-20160311-WA0000

 

Meski belum terbiasa dan berulangkali dilepasnya, hari itu ia berenang dengan peralatan lengkap seperti pak guru. Ih, Ikhsan. Kamu keren.

#proudofyoualways

 

3 thoughts on “Ketika ia punya mau (2)

  1. R.Aryo Seto Isa - Oyke - Anindhita says:

    Apakhabarnys mbak ita, masih ingat Anindhita waktu Mandiga masih di Gunawarman, Boleh Oyke 0812-9075519 menghubungi mbak ita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s