Respek

Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna kata ‘respek’ adalah rasa hormat, menaruh kehormatan.
Sementara menurut Merriam-Webster Dictionary, respect, dijabarkan dengan
: a feeling of admiring someone or something that is good, valuable, important, etc.
: a feeling or understanding that someone or something is important, serious, etc., and should be treated in an appropriate way
: a particular way of thinking about or looking at something

Nah, kalau menurut pemahamanku, jadinya, ya…respek bisa dianggap berkaitan dengan ‘menghargai’ dan memperlakukan sesuatu serta seseorang dengan sepantasnya. Kalau tidak bersikap sepantasnya, jadi ya, bisa diartikan, tidak menghargai. Bisa juga dianggap, merendahkan.

Kenapa kok tiba-tiba angkat topik ini?

Tergugah (dan terganggu, sebenarnya) oleh beberapa kejadian di sekitar akhir-akhir ini. Bahkan ada yang sudah lama terjadi, berulang, berkali-kali, tetapi tidak ada perubahan.

Kejadian yang terjadi langsung padaku, misal…ketika aku mengadakan seminar, presentasi, pertemuan atau apa lah namanya. Lalu, yang hadir, sibuk bicara sendiri. Benar-benar sibuk (baca = berulangkali, terus menerus) bicara sendiri, sehingga kadang, seperti ada lebih dari satu pembicara pada menit yang sama.
Bagian yang bikin kkkeeezzaaalll adalah: kalau kita bahas kasus ‘bicara’ pada individu autistik, ya beneran bicara sendiri. Tapi kalau bukan individu autistik, kasus ‘bicara’ pastinya kan ajak orang lain untuk bicara. Jadi, ada dua hadirin pada acara saya (saya yang undang, dia yang datang, statusnya adalah tamu) heboh berbicara pada saat saya (yang undang karena ada yang perlu disampaikan) justru sedang membahas sesuatu dan hadirin lain menyimak.

Kemarin, di meja makan, topik ini jadi materi diskusi mendalam antara aku dan Sam.
Apa ya yang menyebabkan orang ini terus menerus melakukan hal ini …. berkali-kali….hampir di setiap kesempatan.

Bolehkah aku, pak, melakukan ini dan itu? Aku menahan diri banget nih, pak, untuk tidak berdiri lalu menunjuk muka orang itu dan berkata “kamu sepertinya mau mengatakan sesuatu, bagaimana kalau kamu berdiri di depan dan gantikan saya”. Gak boleh, kan? Kasar, kan??
Lalu bapak usul, “bagaimana kalau kamu tengok ke arah orang itu dan bilang apakah ada yang ingin disampaikan kepada hadirin, bu … contoh di rumah, mungkin” … Ah, bapak. Saya akan dicap ‘kasar’ pula.
Lalu bapak diam. Berpikir.

Kalau dulu, ya, pak. Ketika aku ngajar anak SMP/SMA, aku bisa datangi anak itu dan bilang “maybe it is better that you move to that chair” (sambil nunjuk kursi yang jauuhhhh dari teman-temannya). Lalu kalau anak itu gak mau, aku tinggal tunjuk kursi itu dan pintu sambil bilang “i give you two choices, move to that chair or go out through that door”….
SUKSES untuk membuat siswa yang bicara pada saat aku mengajar, untuk diam dan menyimak.
Tapi, pak… Ini kan bukan murid. Bukan anak SMP atau SMA. Ini kan, katanya, manusia dewasa! Udah punya anak pula. Duh….
Gimana anaknya akan bersikap respek kepada orang lain kalau orangtuanya tidak memberikan contoh bagaimana harus bersikap respek?? *Bapak mukanya berkerut tanda pusing*

Bolehkah aku, pak, panggil dia secara pribadi dan bilang terus terang bahwa, aku gak suka itu terjadi berulangkali. Kalau gak dikasih tahu secara langsung, bisa jadi orang itu memang tidak paham bahwa itu sangat mengganggu. SANGAT MENGGANGGU.
Bapak diam. Mikir.
Lalu bapak bilang, “memang mengganggu, apalagi satu ruangan benar-benar memerlukan untuk datang menyimak, benar-benar meluangkan waktu untuk mendengar dan mencerna apapun yang kamu mau sampaikan. Dan materi yang kamu sampaikan, itu sangat tepat dan perlu” …. Ah, si bapak. Masih gak kasih solusi.
Terus bapak ngeluh, “jadi pelik, ya”. Iya, PELIK banget, karena aku MENAHAN DIRI banget …. Aku tahu aku BENAR, tapi aku harus menahan diri untuk tidak mempertahankan yang benar.

Tahu gak, pak.
Kalau dulu, kemungkinan untuk aku panggil orang dan aku kasih tahu itu, besar. Karena aku hasratnya masih besar untuk membantu orang agar lebih baik.
Sekarang? Aku udah males.
Dulu, kalau ada kasir atau resepsionis, atau pekerja kurang pas kerjanya, aku akan luangkan waktu untuk kasih tahu baik-baik. Supaya dia menjadi lebih baik di kemudian hari. Demi dia. Kalau perlu, saya kasih tahu bossnya supaya tahu, apa yang harus diperbaiki. Kan kita pengguna jasa. Free of charge consultation, ibaratnya. Demi mereka.

Tapi sesudah reaksi ‘boss’ ke aku malahan kayak ‘upset’ dan ‘annoyed’ …. aku memutuskan untuk berhenti melakukannya. Apalagi ada kalimat dari keluarga si boss yang bilang “ya jangan pakai jasa kami kalau gak suka”. Waks. Gitu, toh?
Makanya aku gak pernah pakai jasa mereka lagi, kan? Aku beralih ke tempat lain.
Judulnya, aku abaikan saja lah … Bodo amat kalau pada akhirnya mereka tidak menjadi lebih baik dan yang error masih tetap error…. Auk ah lap.

Kembali ke ‘hadirin’ yang bicara ramai di saat aku sedang mengadakan pertemuan, seminar dan lainnya … menurut aku, itu sih dimaknai dengan tidak menghormati atau tidak respek. Bukan hanya kepada pengundang yang sedang menyampaikan informasi, tetapi juga kepada orang lain yang hadir di tempat yang sama !

Dulu, karena aku cukup peduli, aku mungkin akan memberitahu dia dari hati ke hati bahwa apa yang dilakukannya, membuat dia dicap tidak respek. Sekarang, aku sudah tidak mau buang energi.

Jadi …gimana?
Apakah next time dia aku undang lagi, sesudah ada peristiwa tidak menyenangkan berulangkali dan aku tidak boleh melakukan apa-apa meski aku sangat terganggu?
Masuk akal, gak?
Kita undang orang ke rumah kita, dengan aturan kita …. lalu orang itu semena-mena. Kita undang lagi, gak?? Hayo. Coba dipikir??

Apakah dia, aku perbolehkan berada di rumah aku di kemudian hari??? Hehe, di dunia ini tidak ada yang otomatis lho !

Itu, kasus satu.
Lalu, kasus-kasus lain, ada kah? Ya ada lah.
Saya gak tahu orang lain, tapi rasanya saya dibesarkan dengan instruksi ketat untuk ‘menghormati yang lebih tua’, ‘menghormati orang lain’ siapapun itu.
Seringkali aku seakan melanggar itu ketika aku merasa harus menyampaikan apa yang aku rasa dan aku lihat. ‘Rem’ku blong, kata Papah dulu. Prosesnya terus menerus aku usahakan membaik ….
Sekarang, ‘rem’ aku pasang ganda bahkan triple. Kemarin juga aku bilang ke bapak, sekarang ‘rem’ ku untuk membantu orang lain lebih baik, berlipat ganda, pak. Aku gak mau lagi kasih tahu orang, apa yang terjadi. Hanya orang-orang khusus, orang-orang tertentu, inner circle, yang masih aku colek terus terang dari hati ke hati aku kasih tahu untuk begini or begitu. Tetap dengan satu keyakinan, aku harus bilang tapi kalau dia gak mau dibilangin maka next time aku gak bilangin lagi ….aku bilang karena aku peduli …
Eh, si bapak, as usual, komentar (yang bikin aku mikir): tapi, kamu kepikiran gak? nanti terus, serangannya ke dalam …berlarut-larut, lalu kamu sakit?
Maka diskusi mendalam terjadi lagi. “aku berhenti koreksi orang-orang yang aku temui, bapak ngeh, nggak?”
‘Lha ini, kejadian yang terjadi baru aja, dalem banget kayaknya kena ke kamu? Kamu bisa let go, gak’.
“Kalau yang ini, kan masih materi diskusi…tapi, kalau yang kemarin-kemarin udah kejadian, bapak gak tahu, kan?”

Bapak diem, mikir. Terus ngangguk. “Iya, aku gak tahu”.

Yowis, jadi, ketika ada orang-orang yang aku pikir adalah ‘teman’ lalu melakukan hal yang sangat tidak pantas atau tidak sesuai tapi berbalik marah-marah ketika kelakuannya mendapatkan masukan, ya langsung aku anggap ‘bukan teman’. Apalagi kalau terus, menyerang aku dalam tulisan atau perkataan. Sikap manis, tapi nyerang, ngatain. Waduh. Jelas dia gak respek aku. Lah masak aku musti respek dia?? *geleng-geleng*

Respek, sifatnya jadi mutual. Timbal-balik.
Seperti kata-kata bagus yang pernah aku temui di salah satu prof-pic teman. “Do good then good things come to you”.
Bener banget.
Kita berbuat baik, maka, Insya Allah, hal baik akan menghampiri.
Respek juga gitu. Hargai, dan hormati orang lain, maka, Insya Allah, hal sama akan kembali kepada kita.
Tapi, kan, mbak … ‘do good’ bisa juga berarti ‘memberitahu atau memberi masukan kepada orang yang sudah salah’. Iya, benar. Tujuannya kan ya ‘good’. Masalahnya, kalau terus ganjarannya adalah kita dikatain, gimana? Habis itu malah terjadi lagi, terjadi lagi, diulang perilaku ‘merendahkan orang lain’ …yang bikin kita bacanya geleng-geleng bahkan masuk ke kategori “malu banget” atas perilaku itu …. Mendingan kita diam dong.

Ibaratnya…kalau kita sudah jelas-jelas gak dihargai dan diperlakukan sepantasnya, ya gak berarti kita harus diam saja, kan?

Saya gak cari ribut. Tapi kalau situ jual, saya beli *ada yang inget, omongan siapa iniiiiii?*

Keputusanku tentang orang yang bicara terus ketika diundang ke pertemuan ku, apa?
Kita lihat saja.
Terjadi lagi?
Ya, pasti ada konsekuensi lah … Emangnya aku apaan, diinjak-injak kayak keset.

*ya, saya masih geram*

Bisa masuk kategori ‘kurang ajar’ soalnya, selain dianggap ‘tidak respek’.

Oh ya, double kezzel, ketika udah mau bubaran, orang itu datang ke kita dan nanya hal-hal yang tadi sudah disampaikan. Kalau anak kecil udah aku jewer dan aku bilang “makanya jangan ngobrol kalau lagi diterangin!”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s