Menata hati

Orangtua yang memiliki anak autistik atau masalah perkembangan lain, biasanya fokus pada mengejar ketertinggalan (apapun itu) ketika anak masih balita dan masih usia sekolah.

Sejalan dengan waktu, fokus penanganan berpindah ke masalah akademis. Akan bersekolah dimana, bagaimana kemampuannya, sudah bisa keterampilan apa, bisa ikuti pelajaran atau tidak … sampai ke … bakatnya apa ya..

Sudah sejak lama sekali, fokus penanganan buah hatiku, adalah pada, bagaimana ia kelak ketika aku sudah tidak berada dalam satu dimensi waktu dengannya… Ia harus bisa nyaman dan senang. Entah dengan siapa nanti ia tinggal. Biarpun sudah direncanakan secara matang pun, Allah biasanya punya rencana yang masih kita rasakan sebagai misteri .. Maka aku fokus pada, bagaimana ia bisa mengurus keperluannya sendiri, sesuai standard yang kami ajarkan, kami contohkan, kami perjuangkan dari hari ke hari.

Yang menarik, sesama orangtua kadang ada yang berpikiran seperti aku, seringkali juga tidak.

Beberapa waktu lalu, salah satu klien ku bercerita, betapa selama ini rasa galau dan sesak bergelayut di dada setiap membaca cerita orang yang anaknya sebaya. Ada yang bercerita sudah berkuliah di sana, sudah mencapai kemampuan anu, bahkan ada yang sudah akan menikahkan anaknya. “Sementara saya? Aduh. Rasanya ….. ”

Ketika ia berkata begitu, istrinya diam dan menatap. Wajahnya juga sayu. Putra mereka baru berusia menjelang 15 tahun, tapi sepertinya mereka berdua berusia nyaris sebaya dengan aku. Maka tentunya, teman-teman mereka ya kurang lebih seperti teman-teman saya: anaknya berkuliah, lulus, masuk S2, menikah, bahkan sudah memberikan cucu.  Aku tidak bisa berkata-kata ketika sang bapak mengatakan itu. Aku tahu, apapun yang aku katakan, tidak akan dapat mengurangi kekecewaan dan sesak di dadanya ….

Sesudah mereka pulang, aku mau tidak mau ya merenung juga.

Susah jadi orangtua dengan anak autistik. Apalagi kalau anaknya cuma satu, anak tunggal. Seringkali, kita dihadapkan pada situasi canggung ketika orang lain dengan gegap gempita menceritakan keberadaan anaknya, keberhasilan, pencapaian dan apalagi lah namanya. Seringkali juga, kita terpaksa menyaksikan kegembiraan keluarga lain yang sedang menikmati hidup, sementara kita para keluarga dengan anak berkebutuhan khusus ini, setiap hari masih juga berkutat dengan ‘besok gimana’…

Maka, keterampilan ‘menata hati’ menjadi sesuatu yang mutlak dipelajari.

Bagaimana tidak.

Bisa babak belur kita kalau terus menerus ‘ba-per’ setiap melihat keberhasilan orang lain. Lha gimana? Takdir dan rezeki kan sudah diatur dari sananya … Sang Maha kan serba tahu mana yang terbaik untuk kita. Mosok terus kita selalu galau, sesak, stres dan tertekan melihat keberhasilan orang lain. Kalau itu yang kita lakukan, kita gak akan bersyukur dong atas apapun yang Allah berikan kepada kita?

Ish.

Dosa itu !

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s