Hidup tidak selalu indah (1)

Ketika ada teman menyampaikan bahwa suami temanku, ayah temannya Ikhsan, wafat, terkesiap rasanya. Ayah si P ini, setahu aku, sehat. Justru ibunya P yang sakit-sakitan. Lalu, bagaimana anak-anak sepeninggal ayahnya. Bagaimana si ibu yang sakit, melanjutkan hidup bersama anak remajanya yang berkebutuhan khusus?

Tidak mampu menjawab semua itu, berangkatlah aku dan Ikhsan ke Serpong, ke tempat tinggal temanku. Jauh? Ya.

Sepanjang perjalanan, Ikhsan duduk diam di sebelahku. Tertib.

Ketika tol tampak macet, ia juga tetap tertib. Tidak berulah sama sekali. Ia hanya tampak tersenyum ketika aku bilang “nanti begitu ada SPBU, Ikhsan ke toilet ya”. Dan itu aku jalankan begitu aku lihat ada SPBU sekeluar dari tol Serpong. Ia ke toilet sendiri. Ia tiba di mobil, ganti aku yang ke toilet ….dan Ikhsan duduk baik sendiri di dalam mobil yang mesinnya menyala.

Di rumah mendiang, Ikhsan berjalan hilir mudik. Tetamu menatap kepadanya dengan nanar. Ia, yang tinggi besar dan berwajah rupawan (ehm), jelas tampak tidak lazim karena mengeluarkan bunyi-bunyian dan bertepuk tangan sambil mondar-mandir. Mulanya aku diamkan, tetapi ketika ia tampak makin eksplorasi, aku ajak ia duduk di luar. Tidak lama. Sekitar 15 menit. Lalu kami beranjak dari situ, dan lagi-lagi, aku tawari untuk makan (dan ia setuju).

Sepulang dari perjalanan hari itu, aku jelas, lelah. Ia, tidak.  Tapi, ia tertib. Padahal pulangnya tidak lewat tol sehingga berputar-putar lewat Tanah Kusir, Pondok Indah, Sudirman, sebelum akhirnya tiba di Rawamangun. Sampai rumah, ia juga tertib tetap duduk sampai aku beri tanda padanya untuk boleh turun dari mobil. Ia lalu masuk rumah, dan terdengar masuk kamar mandi. Mandi lagi, ganti baju rumah, dan bersantai. Semua dilakukannya sendiri, sehingga aku pun sesudah beres parkir mobil di garasi, bisa bersantai.

Hidup ini tidak selalu indah. Ketika ayah atau pasangan hidup mendadak wafat, tentu saja rasanya dunia berhenti berputar. Tapi tidak ada gunanya bermuram durja berkepanjangan, karena anak pasti menunggu kita bertindak.  Bertindak, memberi arahan, membuat rencana baru, memberi penjelasan …..

Tidak pernah ada yang menjanjikan kita, bahwa hidup kita akan selalu indah dan selalu mulus. Berserah diri, menjadi sesuatu yang mutlak rasanya.

Sesudah menghabiskan seharian hanya berdua bersama Ikhsan, bepergian jarak jauh, tanpa masalah yang berarti, dada ini sesak rasanya. Terharu. Bangga. Senang. Teringat betapa hari-hari kami begitu sulit, karena ia begitu sulit. Betapa semua harus kami lalui jungkir balik, naik turun rollercoaster. Alhamdulillah, roller-coaster bisa berhenti sejenak saat ini, dan rasanya kami sedang naik wahana ‘Istana Anak-Anak’….

Apa yang akan terjadi kelak, tidak akan ada yang tahu.

Setidaknya, kami tahu, kami harus terus belajar pasrah. Ikhlas. Tapi terus berusaha keras mempersiapkan Ikhsan untuk bisa berdiri sendiri, memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan. Allah Maha, maka kami serahkan hidup ini kembali kepada rencanaNya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s