Hidup tidak selalu indah (2)

Mendadak dapat berita itu.

Ada anak yang diduga autistik, ditinggalkan keluarganya di gereja Kathedral. Terlihat jelas dalam video cctv, betapa sepasang orangtua, diduga kakek-nenek anak ini, tampak meninggalkan anak ini di halaman parkir, lengkap dengan tas pakaian.

Begitu berita muncul ke permukaan dan beredar di dunia maya, berbagai dugaan simpang siur bermunculan. Peredaran berita yang bertujuan untuk mencari keluarga anak ini, bergeser menjadi sejuta pertanyaan dan pengadilan. Seolah semua orang boleh berkomentar dan menjadi hakim atas kehidupan anak ini.

Ah.

Sebaiknya kita berusaha menahan diri. Belum tentu juga kakek-neneknya itu jahat. Kita tidak tahu, anak ini berperilaku seperti apa sehari-hari. Banyak anak autistik sulit dikendalikan. Bisa mengamuk setiap saat, tidak bisa diam, sulit tidur sehingga bangun tengah malam dan bertahan terjaga bisa sampai nyaris 20 jam. Sulit makan, atau, makan tanpa bisa dikendalikan. Belum lagi ada yang destruktif, atau, menyerang siap saja  di sekitarnya. Membuang barang, merusak lingkungan, dan entah apa lagi.

Sesulit itu?

Ya.

Bayangkan, Anda adalah kakek-nenek seorang anak autistik usia sekitar 10 tahun yang sedang mengalami perubahan hormonal sehingga sering uring-uringan. Belum tentu kakek-nenek ini pernah tinggal 24 jam bersama anak ini sejak kecil. Apakah Anda sebagai kakek atau nenek, siap menghadapi situasi sulit seperti yang dijabarkan di atas? Hehe… belum tentu, bukan? Bahwa kakek-nenek meninggalkan anak ini di sebuah gereja, jelas menunjukkan, mereka bukan orang jahat. Mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi. Barangkali.

Lalu, semua orang sibuk bahas. Orangtuanya. Kemana mereka. Kenapa dititipkan di kakek-neneknya. Kenapa tidak ada yang bertanggung jawab. Dan seterusnya. Seolah semua orang punya kewajiban untuk memberikan komentar (jarang yang positif) tentang pasangan orangtuanya. Padahal, tidak ada satupun dari penonton yang pernah tinggal bersama mereka satu keluarga.

Sebagai seorang ibu yang anaknya sudah berusia 26 tahun dan melalui 15 tahun di antaranya sebagai orangtua tunggal, saya, bisa jelas-jelas mengatakan “hidup ini tidak selalu indah, ketika kita sendiri dengan anak autistik berusia 10 tahun”.

Pasti ada alasan, mengapa terjadi semua ini. Penting diingat, kita tidak berhak, tidak punya kemampuan apalagi wewenang, untuk menjadi hakim bagi keluarga anak ini. Kita bukan siapa-siapa. Kita juga tidak tahu apa-apa.

Apapun alasannya, harusnya fokus pada solusi “bagaimana memberikan kehidupan lebih baik bagi anak ini” ….

#Alhamdulillah anak sudah ditangani dengan baik, aman, nyaman. Keluarga sudah bisa ditemukan berkat berita yang gencar di dunia maya dalam beberapa hari ini. Bersyukur, itu penting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s