Membuat anak patuh

Setiap kali melihat pelanggaran aturan di sekitar, susah payah berusaha memahami dan mencerna, apa yang salah pada pendidikan anak ini sampai si individu tidak patuh pada aturan.

Tadi siang, mengantar Ikhsan les piano. Kegiatan yang ia sukai dan ia tunggu-tunggu. Selesai les, ia menunjuk-nunjuk ke satu arah, seolah ingin mengatakan sesuatu. Maka aku bertanya, “mau makan?”. Dan ia lirih berkata ‘iya’ –seolah sudah sangat kelaparan. Ya sudah, berhentilah kami di sebuah pertokoan untuk makan.

Di tempat makan itu, ada seorang anak usia sekitar 5-6 tahun yang sibuk bergerak ke sana kemari. Lazim, rasanya. Mana ada anak usia segitu yang justru duduk diam membaca ensiklopedi, kan? Yang menarik, ibunya anak ini, sibuk berulangkali (ya, berulangkali) bilang “no play, ya! no play!”… Kalimat yang diucapkan dengan nyaring sampai Ikhsan menoleh menatap padahal ia sedang sibuk mengunyah.

Apa permasalahannya? Anak menolak membuka mulut ketika akan disuapi neneknya. Lazim? Iya lah. Anak menolak makan, karena ingin main. Nah, ini yang jadi masalah untuk mamanya. Mama maunya, anak makan dulu semua dengan baik. Baru, sesudah itu main. Berhasil? Tidak.

Jadi, si ibu, dalam upayanya membuat si anak mengikuti aturannya, berulangkali mengancam. Mengancam, tapi tidak melakukan. “No play, ya! No play!” lalu si anak lari, bermain ini dan bermain itu. Si anak datang, disuruh makan, mengatakan “NO” dan si ibu melotot, mengatakan “SIT, you have to sit and eat first. Everybody is eating” ….tapi ketika si anak tidak duduk, yaaaa si mama tidak berdaya. Begitu terus…. Sampai, si anak menarik tangan si nenek sampai si nenek nyaris jatuh ditarik-tarik anak…dan si nenek juga jadi marah “mau jatuh ini!” dan si anak bengong… Lalu, bagaimana dengan ‘no play’ tadi?? Ah, ketika saya mengikuti Ikhsan ke supermarket di seberang tempat makan, anak itu sedang main, kok.

Sambil berjalan menjauh, saya berpikir.

Anak ini dewasanya mungkin akan jadi seseorang yang tidak paham ditegur atas kesalahannya. Tidak (mau) patuh, dan tidak (bisa) patuh, kemudian tidak paham ketika mendapatkan akibat dari perilaku tidak patuhnya tersebut. Barangkali karena ia selalu diancam, ia akan menjadi pribadi yang mengancam. Tapi tidak bertindak. Wew, sounds so familiar …..

Wah.

Hasil akhirnya, tidak menjanjikan.

Sepertinya lebih baik saya tetap fokus menjadikan anak-anak siswa kami (dan anak sendiri tentunya) untuk selalu belajar patuh pada aturan. Itu bekal bagi mereka untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya, dan pada akhirnya, menjadi yang terbaik bagi dirinya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s