Hidup ini untuk disyukuri…

ENGLISH??

Posted by: dyah puspita on: May 23, 2009

Ini anak remaja blagu, makin hari makin blagu *senyum bangga mode on*

Pikir-pikir, apa dia mau nandingin emaknya ya? LIhat aja. Beberapa minggu ini, udah mulai belajar piano dan komputer biar bisa ketik 10 jari. Yang paling ‘hip’ sekarang…belajar bahasa Inggris. Emaknya banget ‘kan?

Tadi, selagi aku workshop (sigh) di UPH Karawaci … ada sms dari dia.

“friday 22 mei 2009 eat bakso shopping” — aku tanya, ’sama siapa?’
“ibu ida like bakso?” —-tsah, udah pake tanda tanya…. aku bilang, ‘ikhsan ask’..

“ibu ida silent” —-ta’elaaaaa….. blagu banget yak….

beberapa menit kemudian: “ibu ida angry ikhsan lari lari tertawa” — duh, ikhsan banget.
Aku jawab, “ikhsan no run, no tertawa” (duh, bahasa inggrisnya DP kacau balau…hahaha… )

“help ikhsan” —- lho?
“ibu ida angry” —- SUKURIN ! bandel sih.
“nanti ibu ida mau pergi?” —- pertanyaan anak cemas mode on…. hahahahaaaaa…. aku jawab “kalau angry mungkin tidak mau. ikhsan say sorry”

“ikhsan mau ibu ida smile” —- sms ini aku forward ke gurunya, dan gurunya (dengan tetep muka datar karena lagi sebel sama anak ku) sms aku “hahaha…dari tadi bandel, ida marahin aja terus ida diemin… ida ancem aja kalo gak mau pergi.. terus dia langsung diem dan ngajak becanda supaya ida ketawa… hm..pingin smile? hayo, traktir!” —- dan aku jawab sms ibu ida gini “bilang aja ke dia, pingin tau reaksinya”

beberapa menit kemudian, ini yang aku terima dari Ikhsan: Ibu ida mau 1 mangkuk bakso dan 1 gelas es teler bagaimana?

Hahahaaaaa…. aku jawab, “uang ikhsan berapa? cukup?”
Dia jawab ‘1 mangkuk bakso saja tidak 1 gelas es teler minum sosro saja’

(kata gurunya, ikhsan lihat2 dompet dulu sebelum jawab sambil berpikir…terus dia tanya jawab sama gurunya, dan jawab ‘ya’ untuk pertanyaan “ibu ida 1 mangkuk bakso?”…dan jawab ‘tidak’ untuk “1 gelas es teler”….terus waktu ibu ida tanya, “ibu ida minum apa dong?”…dia jawab ’sosro’..)

SMS terakhir yang membuat aku senyum sampai sekarang: ibu ida smile ikhsan happy..

Duh, indahnya komunikasi bagi kami orangtua anak autistik. Alhamdulillah Allah, atas berkat Mu ini.

*terharu*

what’s in a name?

Posted by: dyah puspita on: May 17, 2009

Kata-kata tersebut terlintas aja di benak sesudah denger orang manggil aku dengan istilah yang tidak lazim.
Huh?

Iya.

Dari lahir, kami-kami 5 bersaudara selalu dapat nama lengkap dari papahku, dan nama panggilan dari ibuku. Nama lengkapku dirancang penuh perasaan oleh papahku: Dyah Puspita Asih … Dyah – anak perempuan, Puspita – bunga, Asih -kasih sayang.
Ceritanya, aku kan produk orangtua karena terpisah jarak akibat tugas. Lha wong rencananya kakak ku lah si bungsu, eh, mbrojol lagi satu perempuan ini…
Belakangan nama Asih jarang aku pakai, alasan kepraktisan aja. Jadi kalau ada yang nyebut namaku DPA atau Dyah Puspita Asih, pasti mereka berasal dari lingkungan ja-dul deh (zaman sebelum aku masuk UI dulu)….

Nah, mustinya kan jadinya aku dipanggilnya Ita, dong?
Kan mamah kasi nama panggilannya itu. Ah, sapa bilang. Ngayal. Nih, panggilanku macem2.

diahpus = SD
Lho? iya. Di kelas ku dulu, di SD Perguruan Cikini, ada 2 Dyah dan 2 Ita. Dyah Irawati, anak satunya, anak menteri (Ir. Sutami) jaman itu..jadi dia yang berhak dipanggil Dyah. (Hahaha). Ita yang satunya, Ita Laksmini, udah masuk SD itu dari kelas 1, sementara aku, masuk dari kelas 3…. Jadi yaaaaa… aku dipanggil DiahPus. Maka, kalau jaman sekarang ada yang manggil DiahPus, berarti, dia berasal dari aku jaman jahiliyah, eh, salah, jaman SD.

Nama lain yang te-o-pe adalah Ita “bulu”.
Kenapa? Haiya…karena tanganku berbulu.
Ini sih, dari SMP udah lancar. Kan banyak yang namanya Ita. Ita sapa? gitu orang nanya. Ita ‘bulu’…pasti orang tau yang mana.
Julukan ini terusnya disingkat jadi Ta’Be *ta-bulu–tepatnya*

Kadang (karena iseng) orang mengasosiasikan aku dengan ‘pasangan’ (cinta monyet) waktu SMP-SMA. Gak usah disebutin namanya ya. Ntar orangnya pada ge-er. Hehe.. Yang jelas, pas reuni, kalo tuker2an nomer telpon, ada aja yang iseng masukin nama ku dengan “Ita-Y” atau “Ita-D” seperti jaman dulu. Cape deeee…

Nah, akhir2 ini, berkembang lagi panggilan lain, Ita-autis.
Buset.
Ini sih jelas karena aku bergelut dibidang itu. Jadi kalo di lingkungan psikologi, bingung mencirikan aku, biasanya pada nyebutnya begitu. Soalnya kalo disebutnya Dyah Puspita belum tentu pada tahu. Gak segitu ngetopnya sih dulu. :p

Di rumah, semenjak ada keponakan pada lahir dan susah nyebut nama sesungguhnya, muncul sebutan baru: Tatah = tante Ita.
Ini panggilan udah bertahan selama 33 tahunan lah…sejak keponakan pertama lahir. Alhasil suami para keponakan juga panggilnya sama, dan anak-anak keponakan (cucu, ya?) panggilnya jadi “eyang Tatah”. Hahahaaa…

Selain nama-nama itu, ada lagi sebutan untuk aku: DePe. Dari Dyah Puspita, inisialnya.
Sebenernya aku suka dengan sebutan ini, tapi akhir2 ini lumayan bete. Lah suka diasosiasikan sama Dewi Persik. Males dong!! :p

Sesudah aku kuliah lagi di tahun 2007 dan ternyata termasuk yang ter-sepuh di dalem kelas/angkatan, maka muncul panggilan, “Mbah”, atau “Eyang”.
Itu juga dipakai oleh para rekan sesama orangtua yang ngeledekin…bayangin, apa gak jatoh merek nih, dari jauh diteriakin, “eyaaaannggggg”. Tsah.

Selain itu, di LIA, temen2 dengan bebas merdeka kasih panggilan macem2.
Ada yang EmDi (dari Mbak Di), atau malahan sering dipendekin aja: em. Haiya.
Yang tahu nama kecilku, bakalan bilang, “mbak it”, atau, dipendekin juga dengan “mbak I”.

Ada juga terapis yang manggil aku dengan “bu it”.
oia ada istri sepupu yang manggil aku “bude”, “bude it”, “mbak it”

Nah.
Bener kan, cocok kalo aku sering inget kalimat “what’s in a name?” ……

Ita, Dyah, Diahpus, Bulu, Ta’be, Tatah, Eyang Tatah, Bude It, Mbak It, Mbak I, Emdi, Mbak Dy….

Tauk ah.
Yang penting, si Ikhsan anakku tahu, bahwa aku, selalu akan menjadi “ibu Ita”nya tersayang.

:)

Rahasia Hidup?

Posted by: dyah puspita on: May 2, 2009

Beberapa kali dalam beberapa tahun ini, banyak sekali kejadian-kejadian yang bikin aku pusing tujuh keliling…
Gak bisa dijabarkan satu per satu, tapi kalau kilas balik, rasanya semua memang harus terjadi. Atau sebetulnya, aku yang berusaha mencari hal positif dari semua peristiwa ya?

Ah.
Gak tahu.

Nah, sekarang ini, mulai lagi terjadi beberapa peristiwa yang, tetap sebuah tanda tanya.
Cuma bisa berharap dan berdoa, semoga semua ini ada hikmahnya di kemudian hari. Apapun itu…

Kalau sudah remaja…

Posted by: dyah puspita on: April 15, 2009

“cinta apa?”

seperti biasa…sms ikhsan hampir selalu membuat aku terbelalak.

Tsk. Darimanaaaaa coba?
Ternyata itu ‘hp nyanyi’ yang dia peroleh dari ayahnya, membuat dia ter-expose pada berbagai lagu masa kini yang sungguh2 sarat dengan kata2 cinta.
Gak tau bener atau enggak, aku jawab gini, “cinta itu perasaan sayang”.
“ikhsan boleh cinta?” ———- boleh tapi tidak paksa.
“ikhsan sudah besar” ——– iya.
“sudah besar boleh cinta” —- boleh tapi tidak paksa (haiya)

Aku tanya aja (iseng) — Ikhsan cinta siapa?
BINGUNG, BINGUNG, BINGUNG …. dia kasi hapenya ke gurunya. Gurunya terus nerangin panajng pendek.

Ikhsan sms aku lagi, “ikhsan cantik pintar cinta”
“Ikhsan cari”
“ibu Ita cari” ——– tidak bisa, susah
“tolong” ——- oh, NOOO

Alhasil, kini kami (ibu Ita dan ibu Ida) harus berputar akal mensiasati kalimat-kalimat “cantik pintar cinta cewe cari” ….

halah.

Hikmah dari ‘makanyaaaaa…. ‘ :)

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Sesudah kejadian yang aku bertengkar abis2an sama remajaku di tengah malam dan berakhir dengan cara yang sangat sensasional *rahasia*, aku beberapa kali ngurut dada aja ngadepin dia.
Sudut pandang rada berubah.
Yang tadinya “he is a fine young man” menjadi “alamaaaakkkk… he is still a handful”

Sudah selesai?

Pret.

Hari ini, kejadian lagi, membuat sudut pandang aku berbalik lagi.

1) ada temen belajar juga kan. Perempuan, 27 tahun, bicara, autistik. Sukses?
Ya enggak lah.
Lha secara dia ini senang dapat perhatian, jadi maunya ganggu ikhsan dengan cara-cara yang brutal = pukul, sobek soal (dan Ikhsan sangat sedih melihat soal nya disobek-sobek), coret kerjaan Ikhsan, hapus kerjaan Ikhsan, kasih tipp ex di lengan Ikhsan… dan yang paling “gubrak” : nyerang gurunya Ikhsan, tarik jilbab, cubit, dan lalu, pukul kepala Ikhsan.

Laporan guru itu tentu aku catat dong.
Alhamdulillah aku lagi di rumah. Bingung lihat ada sesosok ‘Monas’ di pintu kamar padahal he is supposed to study di depan. Aku ke depan. Ada gurunya, ada temannya, tapi Ikhsan mondar-mandir. Maka, melaporlah sang guru.
Lalu, aku tanya ke temannya, apa yang dia mau? Ini kehadiran ke dua. Masih ‘trial’ session.
Eeehhh…ini anak gak bisa dibilangin, sampe dorong2an karena gak mau duduk dan maunya ngedatengin ikhsan (God knows what for). Saking hebohnya dorong2an, tau2 bunyi PRAANNNGGGG (kaca jendela gw pecah kena kursi dia).

Ikhsan mukanya bingung. Senyum. Tapi bingung. Ya iya lah. Dia kan hatinya lembut (seperti ibunya… hey, kalo situ gak setuju, diem aja ngapah), jadi tidak suka kekerasan (nah, ini bener, persis seperti ibunya). Maka Ikhsan senang sekali ketika dengar penjelasan ibunya bahwa anak ini ditelponkan taxi, lalu tidak boleh lagi belajar sama ikhsan karena kerjanya menyakiti orang lain. Ibunya juga ngomong ke pengasuh anak ini di depan Ikhsan. jadi Ikhsan tahu, bahwa ibu sungguh-sungguh.

Duh.
Sudah?
Pret!

2) Masalah hape.
Malem2 sms-an sama gurunya, bisa gak ya, si Ikhsan diajarin pake hp biasa. Kalo dia mau dan bisa, mau dibeliin aja hp esia lah, atau apa lah… jadi gak tergantung yang QWERTY gitu (Dit, elo lihat deh keyboard laptop atawa komputer eloh…deretan paling atas, kan QWERTY susunannya? payah dah, preman serpong).

Ehhh…tau2, tadi, ada sms masuk ke hp aku dari hp gurunya (hp dia kan masih rusak).
“ikhsan mau hp esia”
Yiiiipppeeee….. rupanya dia merasa sudah paham meski masih diingatkan. Dan dia bilang “susah, tapi mau belajar”.

Sudut pandang berubah lagi.
He is not that handful.
He is full of promises.
And…. he is a very kind young man.
Bahkan ketika diserang oleh teman itu, dia hanya mengeluh sakit dan menghindar tetapi tidak memukul kembali. Bahkan ketika ia sedang sangat marah kepada aku, dia tidak memukul sama sekali.

Love you. Muah, muah, muah…

Makanyaaaa….. *huh*

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Aku lagi ‘nulis’ buat tugas kuliah. Ceritanya, topik utama adalah ya si remaja-remaja autistik ini. Kok?
Ya kan lihat sehari-hari betapa makin bikin keriting bikin ubanan deh urusan sama mereka.
Jadinya bertebaran buku-buku di kamarku, bacaan-bacaan, semua tentang ‘mereka’…dan jelas, pikiran aku penuh sama permasalahan remaja. Selagi ngetik ngebut nulis itu, aku sempet mikir “aduh, syukur ya, remaja aku gak segitu repotnya”.

Benarkah?
Huh. Sok tahu.

1) Sabtu kemarin kan kuliah, terus pergi. Kemana? Hidih, mau tahu aja. :)
2) Pulang minggu, masih usaha nulis. Gak kelar. Dadakan ditelpon temen yang anaknya (autis) dirawat karena DB. Udah nangis-nangis. Aku berusaha menenangkan, sambil janji besok pasti dateng.
3) Bangun senin pagi, ada yang ‘nagih’ ajak jalan2. Oke deh. Pergi jalan2 bentar. Pulang, dilempar daster dan handuk sama si remaja itu tadi (disuruh ganti baju cuci muka, dengan perkataan lain: STAY AT HOME!). Gak berapa lama ditelpon sama temen yang anaknya dirawat itu. Yo wis, aku ke rumkit di kelapagading… disana sampe sore. Sampe rumah, cuwapek, tapi berusaha nulis terus. Teteup topik sama. Remaja autistik yang membingungkan (!). Kecapekan, tidur.

4) Selasa seharian ke mandiga, dilanjutkan mengajar sampe jam 9 malam.

Sampai rumah, langsung berusaha memperbaiki hape yang kata gurunya “memorynya penuh”.
Selagi berusaha keras, ada remaja heboh buka2 mulut lihat sariawan, diobatin gak mau.

Tiba-tiba….melolong-lolong lah anakku. Ha? Ada apa? Diajak komunikasi gak mau, ditanya biasa gak mau, disuruh diam gak mau… huhuhuhuhu…. maka, terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi *sensor*…. (dan ibunya sangat menyesal).

Sesudah akhirnya lolongan berhenti (dilarang bertanya the how) jam 1 pagi, tidurlah semua.

5) Rabu bangun pagi2 banget. Dibangunin sama remaja yang ketawa-ketawa (duh, kenapa elo melolong sih taddiiiiii???), dan minta dicium. Ya udah. Baikan.
Cepet2 buka laptop. Ngetik lagi. Ambisi = nyerahin perbaikan hari ini di depok.

Di mandiga, kerja sambil ngantuk, dapet laporan: “Ikhsan males belajar” (yang sms gurunya). Lho, kok gak sms sendiri? Telpon gurunya dong… Aaarrrggghhhh….”hape gak bisa sms nih, mbak. Gak tahu kenapa.”
Ibu berusaha memandu guru supaya memperbaiki. Ikhsan tidak sabar. Ikhsan ambil alih hape lalu dimatikan. Lho?
Guru bertanya dengan tanya jawab tertulis, seperti ini:

Ibu Ida: “ikhsan mau sms ibu?” —— tidak
Ibu Ida: “lho, tadi mau sms kok gak jadi?” —- hp rusak
Ibu Ida: “ibu ida pinjam sebentar ya, dilihat?” — tidak
Ibu Ida: “nanti tidak bisa sms ibu?” —- BELI
Ibu Ida: “ikhsan mau beli hp baru?” —- YA.

Ibu Ida: “siapa yang beli hp baru?” —- dan dia pilih AYAH (dari pilihan ayah, ibu ita, ikhsan)
Ibu Ida: “untuk siapa?” —– IKHSAN.
*HAIYAAAA… hp dia kan komunikator! mosok minta hape baru, sih? buset, buset, buset… emaknya aja gak beli blackberry! (lho, apa hubungannya yak)*

Hhhuuu…
Jadi what’s the moral of the story?

Jangan soktahu gak punya masalah deh.
Jangan pernah berpikir “aduh, untung ya gw” tapi selalu bersabda “ya Tuhan, jauhkanlah saya dari masalah seperti mereka. Lindungi kami. “

Kalo lagi CUWAPEK kayak aku semalem, jangan ngurusin anak yang lagi marah-marah deh. Diemin aja. Pasang kapas aja lah di kuping. Atau, pergi ke rumah orang lain untuk numpang tidur. Atau, check in di grand melia (*ngarep mode on*).

Jangan juga soktahu utak-atik hape kalo pengetahuan terbatas dan duit terbatas untuk beli yang baru. Jadinya kan seperti sekarang. Hp rusak, duit gak ada, anak ngambeg gak mau komunikasi.

*kalo ada yang punya hp bekas dengan keypad QWERTY, jangan ragu-ragu lho… terutama yang belum kasih hadiah Ikhsan ultah ke 18….atau, kasih hadiah ibunya juga boleh sih…bentar lagi kok* (LHO?)

-udah baikan sama anak remaja tapi teteup aja pusing tujuh keliling ngurusin hape-

AUTISM AWARENESS… forever?

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Aku praktisi psikologi, sudah banyak yang tahu.
Aku aktifis di dunia komunitas autism, juga sudah banyak yang tahu.
Aku mengajar bahasa inggris?? Hm…sepertinya belum banyak yang tahu. Padahal, profesi itu sudah aku geluti lumayan lama… dari tahun 1996-an gitu. Sempat jadi Supervisor segala, yang harus ngelatih guru gitu. Sekarang sih, partime teacher aja lah..duakali seminggu @ 2 kelas.

Ketika buku pertama terbit (Untaian Duka Taburan Mutiara) lumayan heboh tuh teman-teman yang kenal aku, termasuk guru2 yang barengan kenal aku di LIA. Kebetulan ada teman, Ratih, yang musti nulis buat textbook..Maka dia minta ijin untuk ambil sebagian materi dari buku UDTM. Begitu textbook itu beredar di komunitas LIA, heboh lagi deh. Lha wong satu bab kok ya isinya tentang Ikhsan Priatama dan ibunya… Mau tau ceritanya? Ya sana, baca aja buku textbook Intermediate 3 keluaran LIA. Hehehe.. Lesson 7 ya, “Your pain is my pain” kalau gak salah gitu judulnya.

Sedari pertama textbook itu dipakai, aku berhasil menghindar dari mengajar level itu. Aku senyum aja setiapkali diledekin temen2 yang bilang “ikut aku ke kelas ku dong, mbak…lagi mau ngajar tentang Ikhsan nih”. terserah, gitu aku pikir…pokoknya bukan gw yang ngajar!

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, term ini, aku dapet level itu. Jadi aku bakalan terpaksa mengajar tentang diriku sendiri ! Duh, males banget. Dari pertama mulai term (Januari) udah maleeessss banget ngebayangin lesson 7 itu.
Maka, kebetulan yang sangat indah ketika minggu lalu musti ke Makassar dan Medan. Bolos ngajar 4x berturut-turut…dengan harapan tersembunyi = lesson itu diajarin sama guru2 pengganti..jadi gw BEBAS. Kejadiannya??? Duileeeeee….gak kebayang!

Rupanya anak2 kelas ku itu, JANJIAN untuk bilang, “Belum dicover sama guru sebelumnya, mam”. Aku sampe ngotot2an (secara tadi Ruri bilang, udah dia bahas pas aku gak ada). Tapi berhubung murid2 juga ngotot, akhirnya aku yaaaai, terpaksa cover lagi dari a sampai z tentang cerita itu. Addduuuhhh… kebayang gak sih, malesnya ngomongin diri sendiri ??

Yang menarik… ternyata anak2 SMA itu, tertarik dengan topik itu. Jauh lebih tertarik daripada yang aku bayangkan. Pertanyaan2nya itu lho: “bener gak sih, mam, bahwa mereka gak boleh makan gorengan”. “Mam, katanya guru saya, anak autis punya kelebihan ya? Ada temen saya sekelas yang autis juga”… “Mam, mereka punya masa depan, gak?”… “Gak bisa disembuhin, ya?”

Murid2 ku yang SMA dan mahasiswa itu semua tidak ada yang tahu, bahwa aku sempat ingin menangis tadi. Sedih betul harus bercerita tentang “the story behind” kejadian2 dimana Ikhsan disetrum, misalnya. Atau, betapa frustrasinya orangtua yang punya anak autis. Atau, menjelaskan, bahwa, yes indeed they have a future…. padahal, aku abis dapet cerita di medan tentang individu autistik dewasa umur 30an yang bahkan tidak mau pakai baju, tidak bisa keluar kamar, dan buang air bahkan di kamar itu juga…

Jadinya tadi aku ‘autism awareness’ deh di tengah kelas…
It was a nice experience. Not an easy one, but still…an enjoyable one.

Oh ya, minggu lalu ada anak temen ku yang juga belajar di LIA, khusus bilang kalau “hari Rabu nanti dibahas ceritanya Ikhsan, lho, tanteeeee”… Hehehe… ngetop deh.

*ddduuhhh..sapah sih yang iseng kasih kelas level itu ke aku? sentimen, sentimen, sentimmmmeeennn*

sdc13643

sdc13645

you love me, you love me not, you love me… AH, YOU DO LOVE ME !

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Anak autis terkenal dengan mukanya yang “lempeng dot com”.
Gak jelas ekspresinya.

Jadi…orangtua suka “sok tahu” nebak bahwa anaknya gak ngerti bahwa anaknya gak denger bahwa anaknya gak punya perasaan dan sebagainya.

Bener?
GAK.
Keliru semua.

Yang bener: individu autistik memiliki perasaan yang sama dalamnya dengan kita semua (buat yang punya lho…hihihi), tetapi mereka tidak terampil mengekspresikan diri dengan kata-kata yang ‘pas’.

How do I know?

Gini.
Aku pagi2 udah semangat dong ke airport Medan. Semangat karena sudah bosan banget di hotel, sudah excited mau menyelundupkan pancake durian di koper, dan juga karena kepingin banget cium2 anakku semata wayang yang guantengnya tujuh turunan. Jam 7:30 udah beres urusan ama panitia, udah beres urusan ticketing, udah duduk manis di depan pintu gate. Padahal boarding baru jam 9. Biarin. SMS aja ah, ke Ikhsan. Kasih tahu bahwa nanti pas dia belajar, ibunya ada di pesawat jadi hape off. Biar gak kecewa lagi.

Begitu sampai di Cengkareng, aku sms dia. “Ibu sudah sampai di bandara Jakarta”.
Hm.
Kok gak dibales ya.
SMS gurunya ah, “Bos suru buka hape dwongggsssss”.

Bener. Gak berapa lama, ada sms.
“Ibu dimana”
Ibu baru naik taxi. Masih di tol. Mau ke cipinang kebembem.
“Jam?”
Mungkin 15 menit lagi.
“baju ikhsan?”
Ya ibu bawa.
“kue enak?”
Ada di koper.
“kacang enak?”
Ada juga .. (jadi curiga. sebenernya dia nungguin gw, atau nungguin oleh-oleh siiihh???)

Nah, sms berikut membuat aku menangis terharu dan terguguk-guguk deh. Bobol udah, bendungannya.
“Ikhsan kanggen ibu Ita” (double g).
Huhuhuhuhu….dia kangen sama gw….huhuhuhuhu…..

Ibu kangen sekali sama Ikhsan.

Dannnnn….ketika taxi sampai di gerbang rumah, ada Ikhsan dengan acuh tak acuh hanya senyum dari jauh.
Tersinggung kah aku?
Gak.
Aku sudah tahu isi hati terdalamnya. So, aku sudah YAKIN bahwa dia kangen aku.

Begitu semua beres, guru udah pulang, staf yayasan dapet oleh2, koper udah dibongkar, aku dengan tenang bilang ke dia, “mau jalan-jalan? yuk?”. Kaget lah dia. Semangat lah dia. Melompat lah dia.

Oh, i love you with all my heart…

*senyum terharu*

Maafkan ibumu, nak.

Posted by: dyah puspita on: March 19, 2009

Aku roadshow lagi. Itu istilah ku di komunitas kami para orangtua anak autis, setiapkali aku harus bepergian keluar kota untuk berbagi pengalaman mengajarkan berbagai hal kepada keluarga dengan anak autis.
Sesudah 4 hari di Makassar, aku pulang dalam keadaan sakit batuk parah (dan demam), beristirahat pun tidak, dua hari di Jakarta, dan berangkat lagi ke Medan. Sampai detik ini, aku masih di Medan. Agak lama sudah, berangkat Sabtu siang (pulang kuliah) dan Kamis pagi baru mau pulang.

Sedari Senin aku berusaha sms anakku, tetapi tidak berhasil. Aku pikir, karena dia tidak buka hape. Biasanya dia buka hape kalau ada gurunya.
Selasa, tetap tidak ada sms dari dia.
Aku sudah berusaha sms beberapa kali, tidak juga dapat balasan. Aku juga sms ke gurunya, tapi (heran juga) tidak dapat balasan. Tapi karena sibuk, aku segera lupa pada hal ini…

Baru pada hari Rabu pagi, terjawab lah teka-teki ini.
Ternyata, karena aku pindahkan kartu sim card halo (yang biasa aku pakai) ke handset zte, maka aku tidak terima sms apapun dari siapapun. Termasuk dari anakku. Begonya, aku kok gak bingung. Padahal, nomer celeb (ehm) seperti nomer ku, biasanya ramai hiruk pikuk dengan sms dari semua orang…..

Tadi pagi, masuk lah sms karena sim card halo aku pindah kembali ke handset Nokia.
“Ikhsan marah”
mati aku… ’sama siapa?’
“Ibu Ita”
huhuhuuhhuuu…. ‘ada apa?’
“Ibu tidak sms kabar”

Gubrak.
Mampuz.
Duh.
Aku sibuk urus anak orang, anakku tidak aku upayakan dapat kabar dari aku. Huhuhuhu… aku menyesal tidak habis-habisnya….
Cepat-cepat aku sms saja ‘maaf’.

Dia diam.
Adduuhhh…..kepingin terbang deh, pulang. Peluk dia. Minta maaf. Huhuhuhu….. udah gak konsen.

Masuk lagi sms dari dia, “ibu kapan cipinang kebembem”
Oh, dia mau tanya, ibunya kapan ada di rumah.
“Besok jam 1 ibu pulang”.
Dia diam lagi.
Aku tanya, “mau oleh-oleh?” (hihihi…ngajak baikan).
Dia jawab “kue enak kacang enak baju”
Aku tanya, “baju warna apa?”
“ya baju merah bagus”
Hihihii…dia suka warna MERAH !!! Sounds so familiar, yaaakkkk….
Iseng, aku tanya, “kalau tidak merah?”
dia jawab ‘kuning’
Hohohoho…..

Siang, jam 11, aku tanya, “Ikhsan masih marah?”
Dia jawab, “tidak”. Alhamdulillah, anakku tidak pendendam.
Aku langsung sms “ikhsan baik”
Dia jawab, “ya pintar baik”

Damai di bumi.

Anakku sayang, terima kasih sudah memaafkan ibumu yang (kadang) gila kerja ini.

I love you with all my heart….in whatever condition….. just the way you are.

*lagi kangen, jadi sambil mewek*
(handset dua biji bakalan aku lego! Huh. Dendam)

Dapat teman.

Posted by: dyah puspita on: February 2, 2009

Ikhsan berbulan-bulan sms aku : “ikhan mau teman”.

Halah.
Kayak bisa beli di warung ujung jalan aja. Susah, tauk.
Apalagi, Ikhsan punya kriteria untuk teman yang sesuai untuk dia: senang belajar, pintar, tidak ribut…. dan kriteria tambahan kalau temannya perempuan: cantik.
Buset, buset,buset.

Sesudah macam-macam upaya, akhirnya ada dua kali kesempatan dimana ikhsan belajar bersama dua teman yang berbeda: Alit (teman mandiga yang sama2 sudah remaja) dan Nadya (teman baru, perempuan 9 tahun).

sdc13063

Yang menarik, Nadya ini sempat punya sejarah trauma sekolah sehingga tentu harus ada prosedur khusus supaya menjalankan adaptasi dengan tenang. Nah, hari pertama, masih teriak. Hari kedua, teriakan heboh, pakai pukul meja, dan sampai harus dievakuasi sebentar oleh ibunya ke mobil selama beberapa waktu sebelum akhirnya belajar lagi sama Ikhsan.

Ikhsan reaksinya lucu.
Dia sms aku.
“Ikhsan tidak mau teman”.
“Ada apa?”
“marah takut”
(ooohh…temannya marah, dan ikhsan takut)
“Ikhsan tidak usah takut. Kan ada ibu Ida dan ada ibunya Nadya”
“ikhsan tidak bisa belajar berisik”
(taeeelllaaaaa…..belagu)
“tidak apa-apa kan teman ikhsan masih baru”

Diiaaammmmm, lalu jam 11 lewat, ada sms dari Ikhsan “ikhsan harus sabar”. Jjiieeeee….

Kalau menurut gurunya, sesudah marah-marah heboh dan membuat keributan, pada akhirnya teman Ikhsan bisa belajar selama beberapa waktu. Ibu nya berharap bisa datang lagi minggu-minggu berikutnya. Tentu saja aku sambut dengan tangan terbuka, mengingat memang kita harus sabar dan konsisten membawa anak agar trauma hilang secara perlahan tapi pasti.

Apa faedahnya untuk Ikhsan?
Wah, faedahnya luar biasa dong! Pendewasaan, kesabaran, keikhlasan, dan berbagi. Itu tidak akan ada pembelajarannya di sekolah manapun!
Dia harus belajar mengerti dan menerima bahwa kadang orang lain perlu bantuan, dan itu memerlukan pengorbanan dari pihak dia. Tidak ada proses yang berlangsung secepat kilat. Dan yang paling penting: ketika sudah memilih sesuatu, terima konsekuensi dari pilihan itu. Pingin punya teman? Well, teman itu bermacam bentuknya. Terima, dan, syukuri.

sdc13129

sdc13131