Posted by: dyah puspita on: February 2, 2010
Hari ini lagi kena tulah, harus ngurusin mobil seharian. Bener-bener seharian sampai semua hal terhenti. Udah gitu saking buru-buru kepingin urusan selesai, berangkat ke bengkel tanpa bawa kerjaan atau bacaan. Biarpun udah ditemenin sama BB, teteup aja pikiran kesana kemari …merenung…sehingga akhirnya mbludak (eh, mbludak pake ‘ka’ atau pake ‘ge’ sih? …Ratih, help!)…dan tertumpah dalam bentuk tulisan (as always).
Begini.
Ada dua kejadian.
Pertama.
Diminta jadi pembicara sebuah acara, konferensi lah ibaratnya. Aku diminta ngomong di salah satu sesi paralel. Banyak pembicara dari Singapore, terus ada satu dari Thailand, satu dari Vietnam, satu dari Amerika. Banyak juga pembicara dari Ameriki, eh, indonesia gitu.
Yang membuat aku ‘rada’ gak sreg adalah bahwa semua materi (termasuk CV) harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Termasuk materi presentasi. Padahal, peserta kebanyakan dari Indonesia, dong, secara ini kan diadakan di jakarta gitu. Artinya, yang dari LN ya si pembicara-pembicara itu.
Aku mulai terganggu.
Ini kan Indonesia, ya? Oke lah kalau banyak orang dari mancanegara, tapi peserta kan dari Indon? Kalau niatnya mau sharing, bukannya harus memastikan isi materi sampai kepada para peserta, ya? Jadi aku sampaikan di imel ku (sambil ngirim CV bahasa Inggris), ‘aneh’ bahwa aku diwajibkan berbahasa Inggris di depan mayoritas bangsa Indonesia, presentasi di Indonesia.
Aku ‘makin’ merasa ada yang gak lucu ketika si boss penyelenggara kirim imel panjang ngejelasin alasan kenapa pakai bahasa pengantar bahasa Indonesia pada acara itu.
Bukannya aku malahan sreg, jadi makin bingung karena ada klausa “kami sebagai penyelenggara merasa tidak dapat menterjemahkan istilah-istilah yang disampaikan oleh para pembicara tersebut”.
Ajegile buset.
Tersinggung deh, aku.
Istilah apaan, sih? Lha wong ini ajang presentasi tentang pendidikan. Bahasa Inggris. Tentang pendidikan. Seberapa canggih sih, istilah yang dipakai? Perasaan, banyak deh, orang pintar di sekitar kita yang bisa menterjemahkan slides2 para pembicara ke dalam bahasa Indonesia. Duh… kalau aku nengok ke kanan di meja guru tempat ngajar di LIA Pramuka, ada sosok si R.NR si bawel yang pintarnya minta ampun. Nengok ke kiri, di meja panjang deket komputer, pasti ada the guys (Mr. GF, pak Bnd..dll) belum lagi yang di luar sana (ada Ratih, Sita, Kenny, Erna…)..penuh deh ini komputer kalo dipake nulisin nama-nama orang2 yang bisa!..
Sebagai pribumi yang menjalani pendidikan dari SD sampai S2 di Indo (gak pernah TK !) dan punya nilai TOEFL 6xx (sendiri, gak bertiga !!), lulus S2 dari UI juga predikatnya gak malu2in …tersinggung lah aku baca klausa seperti itu. Hidih…
Maka aku balas dengan sopan (tapi nafsu) sambil kasi usulan, kenapa gak bikin dalam dua bahasa sih? Tarok aja dua laptop, dua LCD, dan dua layar… yang kiri bahasa Inggris, yang kanan bahasa Indon. Win-win solution. Everybody happy.
Aku sampe bilang ke itu boss, aku udah berkali-kali melakukan penterjemahan nonstop live langsung di tempat ketika mendampingi pembicara dari AS, juga berkali-kali menterjemahkan slides dari bahasa asing ke bahasa indon. Semata-mata karena aku BANGGA menjadi bangsa Indonesia, dan BANGGA pada bahasa Indonesia…
Gak tahu deh, nanti pelaksanaannya kayak apa.
Aku sih, niat. Mau kasih slides dalam dua bahasa. Aku juga akan presentasi dalam dua bahasa. Gonta ganti. Inggris-Indonesia. Itu sih, masalah kecciiiilllll…. Wek!
Kejadian ke dua.
Tadi tiba-tiba ditelpon temen yang bilang kalau ada ibu-ibu (anaknya autis) menelpon khusus utk tanya, “gosipnya ibu Ita itu tidak ada sertifikasinya untuk assesmen anak autis, ya? terapis-terapis anak saya yang bilang”… Marahlah temenku itu.
Terus telpon aku.
Marahkah aku? Hm. Bengong. Sebel. Tersinggung. Bengong lagi. Geleng-geleng..terus senyum.
Bener-bener deh. Sertifikasi apa yang dibicarakan disini? Bahwa sudah ikut kursus di salah satu lembaga yang dibuat oleh seorang pribadi, yang belajar di UCLA, tapi terus menghilang tanpa kesan meninggalkan lembaga itu begitu saja? Sertifikat itu, yang dibicarakan?
Yak ampyun, buuuuuu….
Aku sih, gak pernah punya sertifikat ini atau itu (eh, salah…punya banyak ! tapi gak tahu dimana, karena cuma aku tumpuk aja di satu map dan aku lempar ke dalam salah satu lemari) karena hidup ku sebagai Psikolog yang berkecimpung di dunia anak berkebutuhan khusus, hidup ku sebagai ibu anak autistik, hidup ku sebagai guru bahasa inggris, hidup ku sebagai konsultan…tidak ditentukan ‘kasta’nya oleh sertifikat tapi oleh ‘bukti kerja nyata’.
Lagipula, aku paling tidak sreg hanya menggunakan satu metode penanganan kalau mengurusi anak. Gila apa. Lha wong individu itu begitu kompleks, kebutuhannya begitu beragam, masa hanya diatasi dengan satu metode? Gak mungkin laahhhh….
Biarin deh, kalau ibu itu (dan mungkin orangtua-orangtua lain) meragukan kemampuan aku. Gak papa. Toh hasil akhirnya, hanya Allah swt saja yang tahu.
Aku cuma ketawa aja kalau ingat betapa para terapis yang ber-sertifikasi itu, sudah pada pernah ketemu aku, dan gelagapan gak bisa jawab pertanyaan2 aku yang sangat mendasar. Lha wong mereka karbitan dan hanya ‘go by the book’ sementara aku justru ditempa oleh lingkungan dan lapangan yang… duuuhhh…. warakadah dot com.
Kesimpulan dari dua kejadian itu?
Sedih.
Ternyata dunia pendidikan Indonesia masih sangat ditentukan oleh ‘label’.
Label sertifikat, label ‘asing’.
Dimana kebanggaan sebagai bangsa Indonesia?
Dimana penilaian obyektif atas hasil karya?
Sepertinya kalau tidak berani menentang keadaan, tidak akan ada yang berubah.
Aku tidak mau negara ku begini terus, maka, aku memutuskan untuk menentang kebiasaan seperti itu.
Aku bangga menjadi seseorang sebagai hasil karya pendidikan nasional, tapi dengan hasil internasional!
*on second thought, sertifikat aku, si Ikhsan, bukan? :p
Eh…barusan ada sms, dan itu menjadi sms penutup hari yang memberikan kesan haru menyenangkan. “Mbak Ika udah selesai baca buku Tatah semua”..gitu kata Citra keponakan ku di sms nya. Kenapa aku terharu? Mbak Ika itu, pengasuhnya Senja. Dan dia, bisa tertarik baca dua buku hasil karya ku. Padahal dia tidak ada kepentingan dengan autisme. Dia ‘cuma’ pengasuh, tapi justru tertarik dengan nilai-nilai yang tersirat dalam semua pengalaman2 ku mengasuh Ikhsan-ku !
Ah, Mbak Ika… Kau bukti bahwa upaya kita semua sebagai bangsa Indonesia yang bangga berbahasa Indonesia, masih sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat di pelosok. I feel so honored, mbak Ika. ![]()
Deekkk (Citra), makasi udah sharing my book(s) –plural!– with your nanny. TOP.
Posted by: dyah puspita on: September 4, 2009
Di Plaza Semanggi…aku giring dia ke Gramedia. Langsung deh dia ngilang. Tauk ah. Capek.
Ketemu lagi dia udah celingak-celinguk periksa-periksa…”ibu beli apa?”…waktu tahu aku beli kanvas, tempat cat, dan tempat ID baru, dia senyum-senyum…
Sesudah itu aku tanya, “Ikhsan mau makan?”…dia diam….seperti berpikir….dan lalu melangkah tegas ke…. Pizza Hut. Hehe… Makan dah dia, dan aku? Capek lah yaw…
Beberapa hal yang masuk ke dalam pemikiran sekarang, adalah:
1. Selalu periksa perlengkapan sehari sebelumnya.
Ada beberapa ketololan yang terjadi.
- ID Ikhsan, nomer telponnya salah total semua. Kan telpon aku ganti? Nah, disitu belum diganti !! Alhasil, kalau sampai dia hilang (amit-amit jabang bayi) ya gak bakalan ketemu kan??
- Batre tustel, abis. Persis sebelum berangkat. (sigh)
2. Selalu bawa peta busway di tas, atau setidaknya, hafal mati sebelum berangkat.
Jadi, tidak perlu terjadi ketololan seperti aku : turun di Matraman padahal mustinya di Dukuh Atas. Hehe…
3. Sedapat mungkin tidak melakukan perjalanan naik busway keliling Jakarta pada waktu bulan puasa.
They don’t match.
As simple as that. (Cuwapek hoy!).
4. Berdoa sepanjang perjalanan agar semua orang berpakaian sopan dan tidak peduli pada suara-suara yang dikeluarkan anak-anak kita.
Tahun lalu, Ikhsan juga ajak aku jalan-jalan naik busway. Tapi tahun lalu, ada insiden. Di salah satu koridor, naik perempuan berbaju cihuy, dan duduk di sebelah aku (yang duduk di sebelah Ikhsan). Ikhsan berulangkali senyum menengok ke arah dada berbaju cihuy tersebut, dan setiap dilarang hanya tersenyum menoleh ke arah lain untuk kemudian segera menengok kembali menjarah pemandangan tersebut…
Tahun ini, alhamdulillah…semua orang berbaju sopan. Sigh.
Kalau suara suara yang dikeluarkan Ikhsan dalam bentuk senandung berbagai lagu…ya otomatis dilihatin orang lah.. Tapi seperti biasa, ibunya kan punya cara jitu untuk membuat orang-orang berhenti menatap.
Cara jitu apa?
“San, diam nak. Dilihatin orang tuh”….dan orang-orang yang ngliatin, langsung cepet2 buang muka. Malu. Ketahuan ngliatin. Hehe….
5. Selalu usahakan untuk tidak makan sembarangan sedari sehari sebelum perjalanan bersama anak autis.
Aku kan punya penyakit pencernaan. Kalau ada ingredient yang ‘aneh’, pastinya perut berontak. Nah, semalemnya buk-ber sama temen, makan makanan Jepang. sausnya mungkin ada cuka atau apa lah.. sehingga pada saat naik turun tangga busway yang begitu tinggi dan panjang, ususku dalam keadaan makin kram makin kram sehingga perut melilit amit-amit jabang bayi…
Gak boleh!
Pendamping anak autis di jalan raya, gak boleh gak sehat !!
6. Selalu siapkan peraturan segambreng sebelum berangkat. Lengkap dengan ultimatum konsekuensi maksimal. Works !

So…gimana jadinya?
Perbaiki kesalahan dan kekeliruan yang terjadi. Buat persiapan lebih matang.
Next time better…
Harus dong. Siapa yang tidak senang melihat wajah dia yang sumringah terus menerus dari sebelum berangkat sampai jauh sesudah ia pulang?? Itu reward yang tidak terhingga lah !
Posted by: dyah puspita on: September 4, 2009
Hari ini hari Kamis, 3 September 2009.
Seperti biasanya..kalau kita tidak perlu ada di tempat lain pagi-pagi hari, tentu kita enggan betul bangun pagi.. Maka, itu terjadi pula pada aku. Sukses? Tentu saja tidak. Lha wong ada yang ingat kalau ini hari kamis!
To make the story short… akhirnya kami berangkat sekitar pk. 09:00 lewat.
Dari rumah mampir ke kantor YAI dulu, numpang foto2…pake baju kembar. Terus, BAJAJ ! here we come. Disitu udah ketawa terus tuh si penumpang geda. Tujuan pertama: halte busway pemuda.
Busway 1 : naik busway koridor Pulogadung ke arah dalam kota…. Di persimpangan Matraman, bingung. Hm, terus gak, turun gak.. dan ditengah keraguan itu, aku mengambil keputusan mendadak yang dodolibret. “Turun, san”.. Halah… Error. Lha wong mau ke Dukuh Atas, kok turun di Matraman… ![]()
Yowis, pindah ke jurusan Ancol. Untuk pindah, naik turun tangga dulu dong….
Busway 2: menuju Ancol. Ikhsan celingak celinguk.. Lain nih jurusannya dari biasanya. Senyum mengembang… Aku sudah mulai ditanya orang, “Bu, anaknya?”… hehe… Iye, kenape emange, bang?
Ikhsan bersenandung lumayan keras tuh sepanjang perjalanan. dilihatin orang? Ya iya laaaahhhhh…. masa iya iya donnggg….
Sukses? Enggak. Busway koridor ini, di Senen transit, jadi musti pindah semua… Turun laggeeeee…., naik turun jembatan lageeee….
Busway 3: antri panjang dari atas tangga sampai akhirnya bisa sampai ke busway koridor Senen-Harmoni.. Udah setengah stres waktu tahu harus antri. Bisa gak, bisa gak, berulah gak berulah gak..
Ternyata jawabannya sederhana: gaaaakkkk… Hehe…
Sukses? Jawaban sama: gggaaaakkkk….
Soalnya busway ini, di Harmoni, transit lagi !!! TTUUURRRUUNNN LLAAGGGEEEE….naek turun jemnbatan lageeee….. Ooohhh,, nnnooo….gettting olddd neeehhh….
Busway 4: naik yang jurusan Harmoni Blok M. Yes. This is going to be the last and correct one towards our destination.
Halte Bendungan Hilir, ajak ikhsan cepet2 turun. Dia ketawa gembira. Kenapa? Kan tahu bahwa gak jauh lagi ada “plaza semanggi”… huwenak toh, mantep toh?
*sementara ibunya udah teler dot com…


Posted by: dyah puspita on: September 4, 2009
Kalimat itu dulunya hanya terasa ‘cliche’ saja.
Gampang soalnya ngomong gitu. Ngerjainnya kan setengah matek, apalagi kalau Anda menjalani hidup penuh dengan perjuangan bersama putra tunggal yang autistik dan tidak bisa bicara, boro2 sekolah di sekolah reguler…
Tapi, dua hari ini rasanya luar biasa. Kelelahan berusaha tidak terasa lagi, sudah lupa!
Biarpun Ikhsan sudah terapi dari umur 3 tahun, sudah mulai sekolah khusus umur 9 tahun, dengan segala up and downs yang tidak bisa diceritakan lagi saking melelahkannya…. tidak pernah bisa diramalkan hasil akhirnya karena terlalu banyak faktor yang menentukan. Jadi saya hanya bisa berusaha, berusaha, berusaha, berusahaaaaa…teeerrrruuuussss diseling rasa depresi-putus asa-lelah lahir batin.
Hari Selasa:
“ikhsan mau naik busway kamis”…. ooohhh…. sigap aku balas “boleh, mau sama siapa?”
“ibu ita mau?” —– duuhhh….luar biasa, dia mengajak aku !! Luar biasa ! Lalu aku tanya “Luthfi ikut?” (L adalah teman dia belajar, yang berisiknya bukan main, hiper nya bukan main)
“tidak” — wadoh. Gimana dong? Kan Kamis temen mu dan guru mu dateng??
“rabu study kamis tidak jumat study kamis ikhsan mau pergi busway ibu ita” — dia atur jadwal !!! biasanya guru datang selasa-rabu-kamis (plus temannya di selasa-kamis), dia ganti jadi selasa-rabu-jumat.
Kenapa aku senang?
Hari Kamis biasanya aku tidak kemana-mana…urus urusan domestik dan janji2… dan Ikhsan menyesuaikan semua jadwalnya agar cocok dengan saya, karena… ingin pergi dengan saya !!
Ibu mana yang tidak akan melompat kegirangan diajak jalan-jalan oleh putra tunggalnya yang autistik??
Maka…hari ini (Rabu) aku tegaskan lagi: besok kamis ikhsan busway? — tegas dia jawab “ya”
sama ibu ita? — dia jawab lagi “ya”
berangkat 8:30 ya? — jawab lagi “ya”
Ibu ida?? (aku tanya gurunya).. dia jawab “ibu ida jumat study”… Oohhh.. dia sudah atur dengan gurunya ! Luar biasa…
Tapi, hal yang paling menyenangkan untuk aku adalah sms berikutnya yang datang jam 11 tadi.
“Ikhsan bisa tulis bacaan basmallah” —- HAAA???
“tulis arab doa”
Aku hanya bisa menahan tangis haru dan menjawab sms dengan “PINTAR!”.
Sesampai di rumah, aku bergegas melihat buku pelajarannya…dan…BENAR…ada tulisan huruf arab: Basmallah dan Hamdallah.
plus, catatan gurunya: tidak ada yang dibantu, semua sendiri, sesudah lihat guru menulis di papan tulis.
Alhamdulilllah, ya Allah…
Terima kasih memberikan semangat hidup di saat hambaMu ini sedang merasa terpuruk dan lelah luar biasa..
*senyum bangga terharu senang*
Posted by: dyah puspita on: September 4, 2009
Beberapa minggu ini hp communicator jadul ikhsan error sampai akhirnya bener2 gak ada apa2nya di LCDnya. Berangkatlah aku ke itc kuningan. Mau tuker sama yang ‘less jadul’…
Sempet sms ke ayahnya Ikhsan, nanya, apakah hp kado ayah untuk ikhsan, boleh ‘dilipat’ untuk nambah ongkos tuker tambah hp jadul ke hp ‘less jadul’. Jawaban ayah Ikhsan “terserah kamu”.
Kesalahan terbesar ku adalah, tidak tanya ke yang punya hp, which is Ikhsan.
Sesudah bolak-balik ke itc, akhirnya Rabu 19 Agustus 2009, aku ke mandiga meninggalkan ikhsan dengan hp communicator 9300 (less jadul) utnuk komunikasi.
What happened?
Dia celingak celinguk kesana kemari dan menolak komunikasi pakai hp communicator 9300. Nah lho.
Maka terjadilah percakapan berikut…lewat sms tentu saja.
“mana hp ikhsan?” —- (jawab aku: hp ikhsan ada)
“ikhsan tidak suka” — (nah lho? …langsung telpon gurunya, “da, tanyain dong.. ada apa??”)… Maka gurunya membuat serangkaian pertanyaan kenapa Ikhsan bete dan gak suka hp barunya.
Sesudah dia bercakap dengan gurunya (media tanya jawab ‘ya’ / ‘tidak’ dan pilihan jawaban)… terbongkarlah keadaan sesungguhnya:
“mana hp ayah” — (dia cari hp kado ayahnya, Nokia 3110 classic yang aku ‘lipat’ …)
“ikhsan mau hp ayah” …
“marah ibu tidak ijin”
“jual pinjam harus ijin”
“Ikhsan tidak suka ibu ita tidak ijin bilang”
Duuuhhhh…. I feel sosooooooo baaaddddd deeeehhhhhhh…. (hiks).
Tambah lagi, Unie, temen di kantor bilang, “nah elo.. ngajarin dia permisi, elo sendiri gak permisi!”… Terus guru2 semua pada geleng2… “yak ampun, mbak… dalem banget ya dia?”…
Dari dulu aku memang mengajarkan Ikhsan bahwa barang kepunyaan orang tidak boleh semaunya dia apa-apakan. Harus minta ijin. Harus siap tidak diizinkan… Eh, kok ya, aku malahan gak izin ke dia waktu mau jual hp dia??
Guru ikhsan lalu sms: “LAPOR! Ikhsan marah karena ibu menjual hp dari ayah tanpa izin dulu. Ikhsan tidak marah ibu jual hp besar (comm jadul). Ikhsan mau belajar hp baru (comm baru) kalau hp ayah sudah ada lagi. Selama hp ayah tidak ada, tidak mau belajar hp baru, gak mau denger musik dari hp baru, gak mau bikin tempat buat hp baru”.
Pingin banget deh, bumi belah dua dan aku bisa masuk ke perut bumi saat itu juga…
Mixed feelings, rasanya campur aduk….
Sedih, merasa bersalah, karena sudah membuat anak sendiri upset…. sebel karena dia tidak mau mengerti bahwa hp ayah toh juga tidak selalu dipakai dan bisa dibuat menjadi uang…. tapi senang karena artinya perasaan dan pengertian Ikhsan sudah berkembang dengan pesat !
Senang, karena, hasil didikan aku, berbekas banget di dia! Aduh, alhamdulillah….
Sesudah itu beruntun lah sms ikhsan terus menerus…yang membuat ibunya makin ingin masuk ke perut bumi…
“mana hp ayah” ….. (nanti siang ibu beli lagi )
“jam” …. (mampuz gw… jam 3)
“janji” … (iya)
“ikhsan senang” (Ibu senang kalau ikhsan senang)
“ikhsan sayang ibu ita” ….. (huuuaaaaaa….. nangis beneran …..)
“marah hp jual tidak ijin”… (huuuaaaaa.a… nangis tambah kenceng…..)…
Akhirnya, siang itu, aku tergopoh-gopoh pulang untuk tarok barang2 di rumah… Pas sampai rumah, mata Ikhsan menyelidik, memeriksa, apakah ibu Ita membawa benda yang ia inginkan…
Aku jujur, “ibu belum beli, sekarang mau pergi beli. Jangan marah ya”..
Aku lalu ke dokter gigi dulu, kan mau cabut gigi (GILAK, SAKIT BANGET…dannnn… MAHAL BANGET!).. Nunggu dipanggil dokter, rasanya gak sabar. Takut gak sempet beli hp soalnya. Takut sampai rumah gak bawa barang itu soalnya…
Sambil terkaing-kaing sakit rahang, pergi ke cempaka mas untuk beli hape persis seperti yang aku jual kemarin. (Duh, emak2 ini satu… mau untung jadi buntung deh)…
Pulang malam, ke kamar ikhsan sambil bawa hp dia. Dia yang setengah mengantuk, hanya senyum…
Besok paginya, jam 5 lewat, dia ke kamar ku, ambil hp dari meja, dan dibawanya ke kamar belajar. Dan ketika gurunya datang, sepanjang 3 jam belajar, dia mendengarkan berbagai lagu di hp nya itu.. Kalau lagunya dia suka, volume dikerasin, kalau lagunya biasa-biasa saja, dikecilin lagi… Dan itu semua ia lakukan sambil tersenyum.
Ah, anakku…. senyum mu itu yang mahal harganya.
Ibu Ita sayang Ikhsan (begitu aku bisikkan di telinganya sambil mencium pipinya lembut…dan dia senyum).
*lega karena sudah berhasil membuat dia tidak marah lagi*
Posted by: dyah puspita on: July 26, 2009
Pagi-pagi kemarin, aku juga dihadapkan pada potret kenyataan yang ‘khas’ keluarga dengan anak special needs. Bukan SELALU begini, tapi sering aku temui.
Keluarga ini datang dengan formulir yang sarat data….
Anak tampak masih sangat autistik meski sudah berusia menjelang 6 tahun, terbatas kontak lingkungan, belum bereaksi terhadap pembicaraan, masih sangat sulit adaptasi bahkan tidak berhasil masuk ke dalam rumah ku karena menjerit-jerit ketakutan di tempat baru, belum bisa berkomunikasi kecuali tarik-tarik tangan orangtua..
Orangtua datang dengan pertanyaan “bagaimana caranya supaya tahun depan anak saya bisa masuk SD reguler”….
Duh, pertanyaan yang ‘dalem’ banget.
Mulailah seorang DP (seperti biasanya) melakukan ‘bedah data’.
Semua ditanyain.
Perkembangan waktu hamil, waktu bayi, waktu batita. Penanganan gangguan autismenya, penanganan di rumah. Kebiasaan. Macem2 lah.
Ibu (apalagi bapak) tidak bisa jawab ketika pertanyaan mengenai “pada saat terapi, belajar apa?”.
Ibu makin pucat ketika saya tanya, “kemampuan anak ini dalam hal ini dan itu..sampai mana?” (kan anaknya gak bisa diperiksa karena akhirnya dibawa ke mobil untuk ditenangkan).
Ibu bengong ketika saya bilang, “ya udah deh, saya lihat catatan sehari-hari dari terapisnya aja kalau ibu sulit menjawab”…. Bengong, karena…..dia gak punya catatan itu..
Yak ampyuuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn….
Anak melewatkan 5-6 hari dalam seminggu bersama terapis dan guru di sekolah, dan orangtua tidak tahu apa yang terjadi bersama mereka???
Untung pagi itu saya cukup waras sehingga mampu menahan diri untuk tidak menangis keras-keras di depan mereka. >_<
Mulailah saya bicara kepada mereka mengenai 'persyaratan untuk masuk SD … apalagi SD reguler'.
"Kemampuan yang harus ada pada anak untuk bisa hidup mandiri".
"Kemungkinan yang bisa diraih bila penanganan intensif, konsisten, kontinu sejak dini"
Dan…keluarlah pernyataan dari orangtua, "kami pikir kalau terapi terus menerus maka anak kami itu akan sembuh dan tidak autis lagi".
Ganti aku deh yang bengong.
Apa boleh buat.
Itu lah potret kenyataan yang harus aku hadapi.
Sedih sih. Tapi aku harus berbuat apa lagi?? Rasanya kegiatan autism awareness sudah lumayan giat nih, rasanya nulis tentang autis sudah lumayan sering, rasanya sharing tentang my own experiences juga tidak terkira… but still…. "(
Anyway, ibu pulang dengan setumpuk PR juga. Inti PR nya adalah: kalau ibu dan bapak ingin dibantu dengan tatacara menangani anak sehari-hari …beri saya data tentang apa yang bisa ia lakukan, tapi data yang bukan bersifat angka. Deskriptif. Data yang bisa dianalisa untuk dapat sampai pada kesimpulan.
Sigh.
Posted by: dyah puspita on: July 26, 2009
Kalau siangnya berhadapan dengan satu keluarga yang terjebak dalam lingkaran sistim pendidikan negara kita yang acak adut, lebih siang lagi, aku dihadapkan pada potret kenyataan lain yang membuat aku terharu.
Ceritanya, mau beli kanvas buat remaja pelukis di rumah.
Untuk menekan pengeluaran, belinya harus di Jatinegara, di sebuah toko yang memang menjual peralatan melukis dengan harga miring.
Gak dapet parkir di depan toko..jadi parkir agak jauh lalu berjalan kaki menyusuri kaki lima.
Udah pernah ke daerah Jatinegara?
Daerah dekat rumahku itu, potret kehidupan menengah ke bawah yang sarat dengan perjuangan untuk hidup. Pedagang kaki lima tersebar dengan berbagai dagangannya yang beraneka. Buku, peralatan untuk rumah, obat kuat, tanaman, ayam, makanan, kacamata, dan entah apalagi.
Satu jenis yang kemarin menarik perhatian aku, adalah buku.
Buku bekas ternyata banyak dijual di kaki lima sepanjang jalan jatinegara itu, dan kemarin peennnyyyuuuhhhh banget sama ibu-ibu muda berbaju kumuh dengan bersimbah peluh membawa dompet kumal. Ada apa sih?
Ohhhhh…mereka mencari buku untuk anak masing-masing!!
Duh, aku terharu deh.
Meski mungkin sehari-hari terbelit pengeluaran yang tidak sedikit dengan penghasilan terbatas, tapi para ibu berusaha keras mencukupi kebutuhan pendidikan putra-putri mereka dengan mencari di pasar buku bekas ini. Mereka bawa buku dari perpustakaan anaknya sebagai contoh karena takut salah. Mereka bawa catatan panjang dari sekolah. Sebagian pulang dengan wajah puas dan berseri membawa satu kantong plastik penuh buku (bekas)… sebagian pulang dengan wajah hampa tapi penuh harap karena diberitahu harus mencari kemana…..
Luar biasa.
Melangkah masuk ke toko buku ber-AC untuk membeli kanvas, aku dihadapkan pada potret lain.
PENUH juga.
Haduh.
tapi pemandangan dan percakapan yang kudengar, agak berbeda.
Kali ini lebih ke “krayon yang paling lengkap, ada?”.. “buku sketch yang paling…”… dan sejuta ‘paling’ lainnya.
Oh, ini potret kelompok menengah ke atas. Tapi dengan porsi yang sama = perhatian kepada kebutuhan anak, dan ingin memberikan yang terbaik.
Alhamdulillah aku masih bertemu orangtua di tempat-tempat ini, dan bukan sekedar pengasuh atau pembantu seperti yang biasanya aku jumpai dimana-mana. “(
Posted by: dyah puspita on: July 26, 2009
Kemarin dan hari ini, entah kenapa, rasanya kok aku dihadapkan pada sebuah potret yang sudah lama aku rasakan dan tidak aku sukai. Iya, aku sangat tidak suka pada potret ini.
Potret apa?
Potret ‘dunia pendidikan masa kini di republik tercinta kita’.
Orangtua heboh banget ngejar yang namanya akademis. Segitu hebohnya ngejar sampai-sampai lupa esensi punya anak itu, apa.
Bayangin aja, sepasang orangtua, jumpalitan selama nyaris 5 tahun untuk punya anak. Segala pengobatan dijalankan. Minum obat 15 macem sehari selama 2 tahun, operasi karena ada perlengketan, perawatan entah apa … yang kalau istilahnya si bapak “perawatan hardware dan software”.. hehe..
Sesudah 4,5 tahun, alhamdulillah, dapet anak, kembar 3 (satu wafat), dan 2 tahun kemudian, dapet lagi kembar. Kembar pertama perempuan-perempuan, kembar ke dua, laki-laki.
Kenapa cari aku? Emangnya aku jago ngurusin kembar? Hehe.. Enggak. Karena si kembar perempuan, anak nomer dua, mengalami kesulitan di sekolah (SD kelas 2). Gak bisa ngikutin pelajaran. Lho, ada apa?
Halah.
Lahir 1,8 kg di minggu ke 32, perkembangan motorik terlambat (dari tidur ke duduk, perlu upaya luar biasa tapi tidak terapi, dan baru bisa duduk menjelang umur 18 bulan…berdiri umur 24 bulan)… tapi masuk TK yang pas TK B disuruh menggambar lalu membuat cerita (ditulis dalam bentuk kalimat!) tentang gambar itu.
Halah, halah, halaaahhhhh…..
Sesudah puas membahas perkembangan si nomer 2, akhirnya merembet ke nomer 3-4 yang juga sekolah di TK yang sama, dan mungkin akan masuk ke SD yang sama dengan nomer 1-2. SD itu, jadi ajang omelan si ayah dan si ibu, karena anak rasanya diteken abis2an supaya perform. Alhasil, baru juga SD kelas 2, si nomer 2 ini les pelajaran setiap malam (jam 6-8). SETIAP MALAM ! Senin sampai Jumat.
Bahkan si nomer 3-4, dua kali seminggu sudah les baca-tulis supaya bisa masuk SD. Haiyaaa.. kelas TK B itu, umur berapa sih?? 5-6 tahun? Huhuhuhu….
Si Ibu, bekerja setiap hari, pulang jam 8-9 malam… si ayah, wirausaha, bisa di rumah pagi, tapi kalau pergi dari sore, bisa pulang jam 1 pagi.
WADOH !!
Maka, keluarlah jurus sakti DP ….bertanya…. “Bu, tujuan ibu punya anak dulu itu, apa?”
Diam.
Wajah berubah.
DP tanya lagi…suara halus…. “Sudah susah payah nyaris 5 tahun, dapat 4 anak cantik sehat, lalu diapakan?”
Wajah makin berlipat.
DP bicara lagi pelan, “sepuluh tahun lagi, tidak ada yang peduli karir kita seperti apa, tapi sepuluh tahun lagi, anak-anak sudah remaja dan sudah punya kehidupan sendiri…. kapan bapak dan ibu akan membina kedekatan dengan mereka kalau tidak sekarang?”
Nah.
Tuh.
Pecah deh.
HUaaaaaa…. >_< … berdirilah DP ambil sekotak tisu untuk ibu.
Baru lah si ibu curhat, bahwa selama ini dia sudah merasa ada yang 'salah' dalam hidup dia. Kok punya anak buah tapi musti pulang malem juga… kok gak bisa ngobrol sama anak kecuali di telpon… udah gitu, tiga anak mendominasi percakapan sementara anak nomer 2 yang agak lambat akhirnya tidak pernah bisa ngobrol sama dia.
Baru lah si ibu cerita, kalau si bapak, sering ngenyek anak2nya yang tidak bisa memenuhi permintaan dia. Baru lah si bapak membela diri… Baru lah terbongkar bahwa ada juga masalah komunikasi diantara bapak dan ibu.
Si Bapak yang sangat perhatian pada anak-anaknya, bercerita, bahwa ia ingin sekali punya kesempatan memberikan apa yang ia alami dulu = sekolah sampai jam 12-1 lalu belajar dari pengalaman dan malam hari rutin belajar biasa di rumah.
Sekarang ini, kok anak-anak kalau tidak les, gak bisa kejar ketinggalan di sekolah, sementara kalau dilihat, pelajaran di sekolahnya ya minta ampun gitu lho….
Alhasil, terjadilah diskusi mendalam mengenai beberapa hal pokok dalam hidup:
1. Untuk apa kita punya anak kalau anak hanya sibuk berinteraksi dengan guru les dan tidak dengan kita
2. Untuk apa anak digojlok pelajaran yang toh tidak terpakai nantinya? Pelajaran yang justru menjauhkan anak dari pembelajaran sesungguhnya yaitu pengalaman hidup…
3. Untuk apa kita hidup kalau anak sendiri tidak terurus dengan baik?…apalagi…mereka berusaha keras mendapatkan anak-anak ini…
Ibu pulang dengan segepok PR. Cari sekolah lain dengan mendatangi, bukan mendengarkan promosi. Usahakan pulang sore pada hari tertentu kalau tidak mungkin setiap hari. Belajar berkomunikasi dengan positif kepada anak .. Teguhkan iman komitmen sediakan waktu intensif berinteraksi dengan anak setiap harinya.
Bapak pulang dengan sederet titah. Siap-siap pindahin anak-anak di tahun ajaran yang akan datang, ramai-ramai …jadi…uang pangkal yang muawahal … Belajar berkomunikasi dengan positif kepada anak. teguhkan iman untuk komitmen sediakan waktu bersama salah satu anak setiap hari, intensif interaksi.
Si Bapak sambil pakai sepatu, sempat ngomelin istrinya. "Ngapain siiihhh pake nangis2…".
Duh, dasar laki. Hehe..
Posted by: dyah puspita on: July 20, 2009
Aku pikir, sesudah dinyatakan lulus S2, ya udah gitu. Hidih, salah besar.
Musti ngurusin perbaikan, ngadep pembimbing, ngeprint yang rapi, ngejilid (hanya bisa di Depok dan sekitarnya!), nguber tanda-tangan para petinggi fakultas, bikin jurnal dan bentuk CD dari tugas untuk masuk TA supaya dapet surat sakti dari perpustakaan…baru deh, dapet surat tanda lulus.
Ngurusin yang begituan, menguras energi, waktu, dan uang. Maka, lumayan PENING dot com.
Pada saat lagi pening-peningnya….pas lagi nunggu ketemu pembimbing…. Ikhsan berulah lagi.
SMS kesana kemari.
Dia rupanya NGATUR acara ‘outing’ yang diikuti Ikhsan, Alit, Luthfi. Ha?
Dia sms bu Dewi (ibunya Alit), ngajak Alit supaya dateng ke Cipinang. Gagal. Lha ya iya lah, lha wong ibunya Alit baru abis operasi sinus. “Alit tidak cipinang tidak supir”…gitu lapor dia ke aku.
Aku pikir, udah selesai.
Eehhhh…enggak!
Dia punya ide lain: dia yang ke rumah Alit, buat jalan2. Dia tanya ibu Dewi “Ikhsan boleh rumah Alit?”.
Ya jelas dijawab, “tanya ibu dulu”…dia diam. Tapi terus nanya gini, “LUthfi boleh ikut?”… ya jelas dijawab, “boleh”.
Apa coba yang dilakukan si Ikhsan? Dia sms aku, “Besok pagi main rumah Alit mall bawa uang banyak”.
Waduh!
Aku bilang, “Iya, nanti ibu kasih seratus ribu”‘
Dia sms lag, “uang ikhsan ambil bibi” —- HAHAHA…. emang! Aku nyuruh bibi-nya ambil uang dari dompet ikhsan buat bayar guru gambarnya, karena ibunya LUPA ninggalin uang…. Hahaha…
Dia sms lagi, “sudah besar harus ada uang”.
Ta’elaaaaa….
Aku jawab aja, “Betul. Nanti jual lukisan supaya ada uang”.
Ehhhhh…jawab gini, “tidak jual”
Aku jawab, “kalau tidak jual, uang darimana?”
Dia jawab santai “ibu cari”.
Hidih! Anak siapa ya?
Tentu saja aku tertawa terkekeh waktu baca sms dia yang ‘apa adanya, jujur, tanpa tedeng aling-aling’.
Besoknya, pas ibunya musti ambil buku TA yang dijilid, terus berburu tanda-tangan di kampus … si anak jangkung ini jalan-jalan sama teman-temannya ke Pejaten Village mal.
Diantar, ditinggal, terus disuruh tunggu sampai jam 2, dijemput lagi.
Aduh, anakku sudah besar!
Btw, siapa bilang anak autis ‘tidak berteman?’. They do !

Posted by: dyah puspita on: July 20, 2009
Bagian paling mengharukan dari semua peristiwa hari ini adalah sms Ikhsan ke aku.
Selagi aku nunggu para dewa-dewi datang ke ruang tempat persidangan (hahaha…serem amat!), Ikhsan sibuk sms tentnag temannya yang gak dateng.
Seperti biasa, complain kan dia…
“teman tidak datang” —sabar lah sebentar juga datang
“teman mau ke mal?” —tidak hari ini, tidak ada mobil
Terus aku tanya, “mau ke mal sama Luthfi”…dia jawab lempeng “Luthfi berisik”… ta’ela kayak situ gak berisik aja.
Karena terus menerus sibuk dengan ide ini dan itu, akhirnya aku sms, “Ibu stop dulu ya. Ibu mau ujian dulu. Nanti ibu sms Ikhsan jam 11″..
Maka…ujian lah diriku.
Sesudah segala sesuatu berlangsung….jam 11, aku sms dia, “Ibu sudah lulus S2″ (dengan asumsi, gurunya nanti nerangin).
Ikhsan bales, lempeng dot com “ibu pintar”….
Duuhhhh..senangnya… (Joe saksi hidup, tuh!)
Guess what.
Sore, aku dapet sms dari gurunya, “Mbak, selamat ya…tadi numpang baca sms ikhsan”.
Aku bingung, “Lho, tadi waktu ikhsan sms, gak sama Ida?”
Jawab gurunya, “Enggak. ida lagi sama June (teman ikhsan)…jadi si Ikhsan sms sendiri, udah tulis –ibu pintar—tinggal send, ida tanya… ikhsan sms apa…terus dia kasi liat, Ida bilang, ya sudah send aja… Terus dia send. Abis itu Ida tanya lagi, memangnya ibu sms apa kok Ikhsan bilang ibu pintar? Dan dia perlihatkan lah sms ibunda itu”
Ha???
Artinya?… Berarti Ikhsan jawab sendiri dari otak dan hatinya??
Oh, my son… you are so sweet…
Maap ya, semua dosen dan teman ku di seantero dunia… kata-kata “ibu pintar” datang dari Ikhsan, means thousands of millions more valueable than anything else!!
Muah, muah… I love you, Ikhsan.
Terima kasih sudah memberi kesempatan kepada ibu untuk menjadi ibumu dari hari ke hari.
*bekerjap terharu*
Recent Comments